
...🍁🍁🍁...
"Sayang? May.." Satria menggendong Amayra yang pingsan. "Astagfirullahaladzim.." kemudian dia membawa istrinya ke dalam mobil dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, Satria sampai di rumah besar keluarganya. Dia menggendong Amayra dan langsung masuk ke dalam kamar biasa mereka tempati selama di sana.
Nilam, Cakra, Anna, Diana dan Bram juga berada di kamar itu untuk melihat kondisi Amayra. Diana dan Satria memeriksa kondisinya. Wanita itu masih belum sadarkan diri, wajahnya pucat dan dalam keadaan yang lemah.
"Kak Diana, Amayra gak apa-apa kan?" tanya Satria sambil memegang tangan istrinya yang terasa dingin. Dia menggenggam tangan itu untuk menghangatkannya.
Apa ini benar ya?. Diana membatin sambil memegang tangan Amayra. Diana memeriksa denyut nadi adik iparnya itu, di lehernya terkalung stetoskop. "Kalian tenang saja, Amayra gak apa-apa kok. Dia pingsan karena dia mengalami syok dan stress, hanya saja dia..."
Semua orang yang berada didalam kamar itu melihat ke arah Diana dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ada apa, di?" tanya Bram penasaran dengan kelanjutan dari ucapan Diana.
"Untuk memastikan, sepertinya kamu harus beli testpack..Sat." kata Diana pada Satria.
"Testpack? Apa maksud kak Diana?" tanya Satria bingung.
Nilam, Anna, Cakra dan Bram juga tak kalah bingung dengan ucapan Diana. Kenapa wanita itu membahas testpack? Bukankah dia sedang memeriksa Amayra? Lalu apa hubungannya dengan testpack?
Diana menjawab, "Hasil pemeriksaanku, Amayra sedang mengandung."
Amayra mengandung? Hamil?
Semua orang disana tercengang mendengar jawaban Diana. Dokter kandungan itu mengatakan bahwa Amayra sedang hamil. Entah kenapa belum ada raut wajah bahagia di wajah mereka begitu mendengar kabar baik itu. Pasalnya, Rey baru saja meninggal dan Amayra dinyatakan hamil.
Memang benar pasti ada hikmah dibalik musibah, namun ini begitu cepat. Mereka sampai tak bisa berkata apapun saat itu. "Sat, jaga istrimu baik-baik. Mama sama papa mau istirahat dulu," ucap Cakra pada Satria.
"Iya Pa, Ma, silahkan."
Cakra, Nilam dan Anna keluar dari kamar itu. Sementara Bram dan Diana masih berada disana. "Apa ini benar kak? Amayra sedang hamil?" tanya Satria sekali lagi pada Diana.
"Ya, setelah memeriksanya lewat denyut nadi..aku yakin bahwa Amayra lagi hamil. Tapi untuk lebih pastinya, tes saja dengan testpack atau lakukan USG." ungkap Diana pada adik iparnya itu, tentang kondisi Amayra.
"Benarkah? Tapi Amayra..dia tidak ada gejala mual-mual." Satria teringat dulu saat Amayra mengandung Rey, dia memiliki gejala mual-mual.
"Satria, apa kamu pikir semua wanita hamil memiliki gejala mual-mual? Tidak semua begitu Sat, ada juga wanita yang sedang hamil tapi dia gak keliatan sedang hamil. Bahkan ada juga yang ngidam bapaknya,"
"Maksud kamu?" Satria mendongak ke arah Diana.
__ADS_1
"Ya, ada beberapa kasus dimana ibu hamil gak ngidam kayak mual-mual gitu. Dan malah ayah bayinya yang ngidam, jadi bisa dibilang kebalikannya." Jelas Diana pada Satria tentang ibu hamil.
Satria terdiam, beberapa kejadian teringat didalam memorynya. Akhir-akhir ini dia sering mual-mual, sementara Amayra istrinya banyak makan.
Jadi mual-mualku waktu itu adalah karena aku yang ngidam?
"Baiklah, aku paham kak. Makasih penjelasannya.. tapi aku mohon pada kalian, kasih tau sama mama papa dan Anna juga. Tolong jangan dulu kasih tau ini sama Amayra ya? Biarkan Amayra tenang dulu," pinta Satria kepada Bram dan Diana untuk merahasiakan tentang kehamilan Amayra sementara waktu.
"Loh? Bukankah lebih bagus kalau kamu kasih tau dia sekarang? Dia pasti akan senang dengan kabar baik ini." Saran Bram.
"Satria benar Mas...kondisi Amayra belum stabil, lebih baik tunggu sampai dia tenang barulah beri tau kabar bahagia ini. Kalau berita baik beriringan dengan duka, tidak akan baik untuk kondisi mentalnya yang nanti akan bercampur aduk. Amayra baru saja kehilangan Rey, lebih baik menjaga hatinya dulu." Diana setuju dengan Satria untuk menyembunyikan kabar baik ini pada Amayra.
"Ya sudah. Sat, kamu jaga istri kamu...sembuhkanlah hatinya, dia pasti sangat terluka." Bram mengingatkan pada sang adik untuk menjaga adik iparnya yang baru saja kehilangan anaknya. Bram juga merasakan sakit yang sama kehilangan Rey, apalagi Amayra, ibunya.
"Ya kak, pasti." Satria tersenyum pada kedua kakaknya itu.
Kemudian Bram dan Diana keluar dari kamar adik mereka. Pintu kamar itu ditutup rapat oleh Satria. Dia masih stay menemani sang istri yang belum sadarkan diri. Dia membuka jilbab Amayra, karena wajahnya berkeringat.
Dengan penuh kasih sayang, Satria mengambil handuk kering, kemudian mengusap keringat di wajah sang istri. Dia menatap perut istrinya yang masih datar. Dia mendesah tak menyangka, bahwa didalam perut itu kini tertanam benihnya. Ada nyawa didalam perut Amayra dan kini adalah benihnya bersama sang istri.
Malam itu Amayra terbangun, kepalanya terasa berat. Dia beranjak duduk di atas ranjang dengan susah payah. Amayra melihat ke arah ranjang bayi milik Rey yang masih ada di kamar itu.
"Rey? Astagfirullahaladzim, aku ketiduran. Pasti Rey sudah menangis karena dia haus." Amayra dengan panik mendekati ranjang bayi itu. Namun, tak ada siapapun disana. Hanya ada bantal dan guling kecil saja.
Samar-samar terdengar suara tangisan bayi. Amayra langsung melihat ke ranjang itu.
--------
Satria berada didekat pintu kamar, dia membawa nampan yang diatasnya ada segelas susu dan sepiring nasi. "Sayang, alhamdulillah.. kamu udah bangun?" sambut Satria sambil tersenyum, dia berjalan menghampiri istrinya.
"Ssstt.. mas, jangan berisik. Rey lagi tidur Mas.." ucap Amayra pada suaminya dan meminta dia untuk diam.
Satria menyimpan nampan berisi makanan itu diatas meja dekat ranjang mereka. Dia memegang bahu Amayra. Matanya melebar melihat tingkah sang istri yang terasa aneh. "Sayang,"
"Mas, jangan berisik! Rey lagi tidur," ucap Amayra pelan-pelan berbisik pada suaminya. Dia menatap ke arah kasur bayi yang kosong ini.
Satria tercengang, dia memeluk istrinya dari belakang. "May, Rey udah gak ada. Rey udah gak ada sayang.."
Ya Allah, seharusnya aku memindahkan ranjang itu dari sini.
"Kamu ngomong apa sih, Mas? Gak ada gimana? Jelas-jelas Rey ada disini, lagi tidur... kamu gak lihat? Dia boboknya pulas banget, kan?" Amayra tersenyum sambil melihat ke arah ranjang kosong itu.
__ADS_1
"Sayang, Rey gak ada disini...Rey udah gak ada. Kamu harus ikhlas May," ucap Satria sambil menatap Amayra dengan berkaca-kaca. Amayra menepis tangan Satria yang memeluknya.
"Kamu ngomong apa sih Mas? Gak ada gimana? Jelas-jelas Rey ada disini, barusan aku dengar dia nangis..." ucap Amayra dengan tatapan tajam pada suaminya.
Apa yang dikatakan Diana memang benar. Amayra masih rapuh saat ini. Aku harus menyadarkan Amayra dan membuatnya menerima kenyataan.
"May! Rey udah meninggal.. Rey sudah tidak ada disini lagi, tadi sore Rey dimakamkan. Kita semua menyaksikan itu, Rey sudah berada disisi Allah...ditempat yang indah. Rey, sudah tiada sayang." Satria mencoba membujuk dan menyadarkan Amayra tentang Rey.
Wanita itu menangis histeris, menyanggah semua ucapan Satria bahwa Rey tidak meninggal. Rey masih ada didalam kamar itu dan dia mendengar anaknya menangis.
"Gak.. Mas! Rey ada disini, dia lagi tidur.. dia gak kemana-mana..hiks...hiks.."
"Rey udah gak ada May, istighfar May." Satria mencoba menenangkan istrinya.
Amayra yang mentalnya sedang terguncang itu, mengamuk di dalam kamar. Dia berjalan sempoyongan, mengacak-acak barang-barang disana. Bahkan ada beberapa barang-barang itu yang pecah berserakan ke lantai.
PRANG!
BRAK!
Satria terkejut, dia baru pertama kali melihat istrinya sehancur ini. Dia mencoba mendekati Amayra ditengah-tengah pecahan kaca di lantai, namun Amayra terus menjauh darinya.
"Rey masih ada...Rey masih ADA!"
"May, istighfar... istighfar..." Pinta Satria pada Amayra. "Jangan bergerak, nanti kamu terluka May!" Satria panik melihat Amayra semakin mendekat pada pecahan kaca.
"Rey..Rey.." Amayra menangis sambil memegang kepalanya. Wanita itu tidak fokus, matanya terlihat kosong.
Di lantai atas, Nilam dan Cakra keluar dari kamar mereka saat mendengar keributan dikamar bawah. "Ma, pa?" Diana melihat Cakra dan Nilam keluar dari kamarnya, bersama dengannya dan Bram yang juga keluar dari kamar mereka.
"Kalian dengan ribut-ribut juga?" tanya Cakra pada anak dan menantunya itu.
"Iya pa, Ma." jawab Bram.
Cekret..
Anna juga keluar dari kamarnya, dia terbangun karena mendengar keributan di lantai bawah. "Oma, opa? Om, Tante? Kalian dengar juga? Aku dengar suara Mayra yang menangis dan barang-barang pecah." Kata Anna cemas.
"Ayo kita lihat ke bawah pa!" Kata Nilam buru-buru.
Mereka berlima turun dari lantai atas menuju ke lantai bawah, kamar Amayra dan Satria yang berada didekat dapur. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat kamar Satria yang berantakan, bahkan ada darah dilantai.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim!!" Pekik Nilam dan semua orang terkejut.
...----*****---...