
Untuk pertama kalinya Nilam membela Amayra, dia mengatakan pada Satria kalau jadwal ospek itu tidak tentu. Ini pertama kalinya juga Nilam mendengar Satria bersuara dengan nada tinggi, menunjukkan bahwa dia marah pada Amayra. Entah karena apa.
["Ma, Satria ada operasi dulu. Kalau Amayra sudah pulang, suruh dia menelpon ku!"] Satria berpesan pada Nilam dengan suara tegas.
Anaknya sedang menangis dan dia belum pulang.
"Baiklah, kamu jangan khawatirkan Rey. Dia akan baik-baik saja.." kata Nilam mengingatkan Satria.
Kenapa Satria terdengar marah yah?
Satria langsung memutuskan sambungan telponnya karena dia ada operasi dadakan. Setiap harinya pasien berdatangan ke basecamp dan harus dia tangani dengan cepat.
Belum lama setelah Satria menelpon, Amayra pulang dengan keadaan kaki yang terpincang-pincang. "Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Nilam dan Cakra.
"Amayra ini Rey nangis, dia tidak mau minum susu formula!" Nilam langsung melaporkan apa yang terjadi pada Rey.
Mendengar Rey menangis, Amayra langsung menghampiri Rey dan menggendongnya. "Anak mama haus ya? Maafkan mama sayang," ucap Amayra merasa bersalah karena pulang terlambat. "Maafkan Mayra karena pulang terlambat pa, ma," ucap wanita itu.
Amayra langsung duduk di kursi dan menyusui anaknya, Rey pun berhenti menangis.
Amayra tidak pulang sendiri, dia bersama Diana. Diana masuk ke dalam rumah, menyapa calon ibu dan ayah mertuanya dengan sopan. "Loh? Kenapa kamu sama dokter Diana?"
"Kebetulan aku lihat Amayra di jalan, jadi sekalian saja aku antar pulang..ma, pa.." ucap Diana sambil tersenyum.
"Oh gitu, kenapa kamu pulang terlambat? Sudah berapa kali papa menelpon kamu?" tanya Nilam mengintrogasi.
"Maaf ma, hp May ketinggalan." jelas Amayra dengan wajah yang kurang baik.
"Haihh ya sudah, terus kaki kamu kenapa?" tanya Nilam dengan suara yang keras, sambil melihat ke arah kaki Amayra yang pincang.
"Gak apa-apa ma, cuma.." Amayra terlihat lesu dan lelah.
"Ma udahlah, gak lihat apa menantu mama lelah baru pulang dari ospek? Amayra kamu duduk aja sama Rey, papa ambilkan obat buat kaki kamu. Kayaknya melepuh tuh?" Cakra perhatian pada Amayra.
"Tidak usah pak, May gak apa-apa kok." Amayra merasa tidak enak hati. Dia menatap Rey yang sedang menyusu padanya. Anak itu tertidur lelap didalam dekapannya.
Ya Allah, apa yang aku lakukan? Aku sudah meninggalkan Rey yang menangis. Baru sehari saja aku pergi dan Rey sudah...Aku merasa gak enak sama mama dan papa yang udah jagain Rey.
__ADS_1
"Biar aku saja pa, aku akan ngobatin kaki Amayra.." kata Diana.
"Eh...kak Diana, gak usah kak!" tolak Amayra.
"Gak apa-apa, ini juga tugas dokter!" ucap Diana tidak keberatan. Diana membuka peralatan medis di kotak obat yang dia bawa seadanya.
"Oh ya, Satria tadi telpon.." ucap Nilam.
Amayra tercekat, dia tersenyum mengetahui Satria menelpon lagi.
Kak Satria menelpon lagi. Ini berarti sudah 4 kali dalam Minggu ini.
"Dia minta kamu menelponnya setelah kamu pulang, tapi kamu telpon dia nanti saja. Karena dia masih ada operasi," Nilam menyampaikan pesan dari Satria untuk Amayra.
"Iya ma, makasih ya ma.." Amayra tersenyum.
Di wajah lelah itu terukir senyuman bahagia. Setelah luka di kakinya di obati oleh Diana, Amayra berterimakasih pada calon kakak iparnya itu. Diana pun pulang, tepat setelah Bram baru pulang dari kantornya jadi dia tak sempat bertemu dengan Diana.
Amayra menidurkan Rey di kamarnya. Dia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat isya karena waktu sudah lewat isya sejak dia pulang ospek.
Setelah shalat isya, dengan semangat Amayra mengambil ponselnya untuk menelpon suaminya.
Tut...
Tut...
"Waalaikumsalam kak," Amayra tersenyum dengan suara lembut dia menjawab salam Satria.
["Kamu baru pulang?"]
"Tadi habis magrib aku pulang kak, maaf baru telpon kakak.. tadi aku habis shalat sama tidurin Rey dulu," jelas Amayra pada suaminya.
["Di kampus, asyik banget kayaknya ya?"]
"Alhamdulillah...tapi kenapa kakak tanya nya gitu?" ucap Amayra bertanya karena merasa ada yang aneh dengan nada suara suaminya.
["Asyik banget ya sampai kamu lupa waktu pulang? Apa kamu lupa ada anak kita di rumah?"] tanya Satria dengan suara yang ketus.
"Kak, tadi emang aku pulang agak sore. Jadwal ospeknya tidak tentu.. jadi-"
__ADS_1
["Harusnya kamu kabarin orang rumah dong kalau kamu akan pulang terlambat. Ngapain kamu punya hp kalau buat dianggurin?"] tanya Satria sarkas.
"Aku lupa gak bawa hp kak, hp ku tertinggal di kamar. Maaf kak, aku tidak akan mengulanginya lagi.." Amayra menyesali kesalahannya yang tidak membawa ponsel dan tidak mengabari orang rumah.
["Apapun alasannya aku gak suka ya kamu tidak bertanggungjawab seperti ini. Selain kuliah kamu juga punya tanggungjawab untuk Rey, jangan lupa itu May! Kamu tidak boleh ceroboh seperti ini, kecerobohan kamu bisa buat Rey kenapa-napa!"]
Amayra terdiam dibentak oleh suaminya. Ini pertama kalinya dia dibentak oleh Satria, perkataan Satria yang mengatakan seolah dirinya lupa akan Rey dan tidak bertanggungjawab. Perlahan masuk ke dalam hatinya, tanpa sadar dia yang sedang lelah jadi sensitif lalu menangis.
Kak Satria menelpon ku cuma buat marah-marah? Aku pikir dia akan mengatakan kalau dia rindu padaku, tapi...
"Iya kak, maafkan aku. Aku akan bawa hp ku lain kali, aku tidak akan lupa tanggungjawab ku sebagai ibu, kok.." Amayra menyeka air matanya.
["Bagus, ingatlah kalau Rey adalah prioritas kamu! Aku akan memaafkan kamu kali ini, tapi lain jangan ulangi. Selalu angkat telpon ku, karena aku tidak bisa sering menelepon kamu.." ] Ucap Satria tegas.
"Iya kak, insyaallah.." jawab Amayra sambil tersenyum pahit.
Ya Allah kenapa aku merasa kalau kak Satria semakin jauh dariku, sama seperti jarak kami yang jauh.
["Ya sudah, aku ada kerjaan lain. Jaga Rey baik-baik dan jaga dirimu juga," ] kata Satria dengan suara datar, tidak lembut seperti biasanya.
"Iya kak, kakak juga jaga kesehatan dan jangan lupa-"
Tutttt... tuttt....
Belum sempat mengucapkan kalimat berikutnya. Sambungan telpon mereka sudah terputus. "Ah.. aku bahkan belum mengucapkan salam, pasti sinyal disana jelek makanya terputus," wanita itu tersenyum pahit, dia selalu berpikir husnadzan atas segala sesuatu.
Beratnya hubungan jarak jauh ini, membuat Amayra merasa asing terhadap Satria. Memang seperti kata orang kalau hubungan LDR tanpa melihat satu sama lain dan bertemu itu memang cukup berat. Untuk yang pacaran saja berat apalagi untuk pasangan suami istri.
Amayra termenung sendirian duduk diatas ranjang, setelah dia bicara dengan suaminya hatinya bukan merasa nyaman, malah sebaliknya.
...****...
Di Afrika sana, Satria juga gelisah. Dia ingin segera pulang dan menghilangkan segala pikiran buruk tentang istrinya.
"Astagfirullahaladzim, kenapa aku malah marah seperti itu pada Mayra? Apa salahnya sehingga aku marah seperti itu? Padahal aku jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk menelpon dia.. tapi aku malah begini Ya Allah.. aku ingin segera pulang, satu bulan lagi.. hanya tinggal satu bulan lagi..." Satria memegang kepalanya dengan gusar.
"Dokter Satria, ayo kita cek pasien. Ini jadwal kita mengecek pasien!" ajak seorang dokter, rekan tim Satria.
"Baik dokter Erlan," ucap Satria sambil tersenyum.
__ADS_1
Satria kembali mengerjakan tugasnya seperti biasa ditengah badai yang kapan saja bisa menerpa.
...---****----...