
Berulang kali Cakra menelpon Bram, Diana dan Satria, tapi tidak satupun dari mereka yang mengangkat telepon darinya.
Suara tangisan bayi masih terdengar, kedua bayi itu tak mau tidur meski hari sudah malam. Nilam, Lulu dan Dewi menjaga si kembar, mencoba segala cara untuk menenangkan kedua bayi itu. Dari mulai memberikannya susu formula, menimang-nimang mereka, sampai bernyanyi pun mereka lakukan agar si kembar tenang. Namun si kembar belum tenang juga.
"Pa, gimana? Udah diangkat teleponnya?" Tanya Nilam pada suaminya.
"Belum ma, apa mereka lagi gak pegang HP ya?" Cakra kebingungan, telponnya masih belum diangkat juga.
"Coba papa telepon Bima, siapa tau dia lagi disana pa!"
"Oh ya, Bima!" Cakra langsung bergerak memencet tombol panggilan yang diperuntukkan bagi Bima.
Tutt....
tuttt...
Teleponnya aktif, namun belum dijawab juga.
****
Di rumah sakit, dokter Mira, Diana dan dua orang suster sedang berada di dalam ruang UGD dan berjuang untuk menyelamatkan wanita yang belum lama melahirkan itu.
Pendarahan Amayra begitu hebat, sampai dia harus mendapatkan banyak kantong darah untuk transfusi darah ke tubuhnya. Selain kekurangan cairan, kelahiran yang prematur juga membuat keadaan Amayra semakin lemah.
Wanita itu tergolek lemah tidak berdaya, saat dokter dan suster berusaha menyelamatkannya disana. "Dokter Mira, tolong kantong darahnya lagi!"
"Baik dokter Diana," jawab dokter Mira cepat, dia mengambilkan kantong darah yang ke 5 untuk ditransfer ke dalam tubuh Amayra.
Wajah wanita itu masih pucat, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia akan siuman. Denyut jantung, suhu tubuhnya masih lemah.
__ADS_1
"Ya Allah, May...aku mohon, bertahanlah May! Kamu gak kasihan sama Satria, sama si kembar? Mereka sedang menunggu kamu, May...kamu pasti bisa!" Diana mencoba melakukan usaha maksimal untuk menyelamatkan Amayra.
Tut...Tut....Tut...
Semua orang di dalam ruangan itu akhirnya bernafas lega, ketika mendengar suara detak jantung Amayra di mesin itu mulai stabil. "Alhamdulillah dokter Diana." ucap Mira sambil menghela nafas.
"Ya, Alhamdulillah dokter Mira." Diana mengelus dada, dia tersenyum lebar penuh kelegaan.
Sekali lagi Diana dan Mira memastikan keadaan Amayra, wanita itu kini hanya beristirahat setelah perjuangannya melahirkan si kembar.
KLAK!
Begitu pintu ruang UGD itu terbuka, Satria, Bram dan Bima yang masih ada disana langsung terperanjat menatap Diana.
"Kak gimana keadaan Amayra?" Tanya Satria mencemaskan keadaan istrinya.
"Tenanglah Satria, Amayra berhasil selamat dan melewati masa kritisnya. Alhamdulillah, sekarang dia mulai stabil meski belum siuman. Tapi kamu tenang saja, saat ini dia hanya tertidur karena tubuhnya lelah." Diana menjelaskannya sambil tersenyum, seraya menenangkan Satria yang resah.
Amayra pun dipindahkan ke ruang rawat untuk sementara waktu sampai keadaannya pulih. Satria berada disampingnya, dalam hati dia tidak sabar ingin segera berkumpul bersama istri dan anak kembarnya yang baru lahir itu.
"Alhamdulillah sayang kamu udah baikan, kamu membuatku takut. Beristirahatlah sayang, kamu pasti lelah... beristirahatlah agar kamu bisa cepat bertemu dengan anak-anak kita." Kata Satria sambil tersenyum memandang istrinya yang masih tertidur itu.
Satria pun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat isya yang sempat tertunda. Dalam doanya setelah shalat, Satria meminta pada Allah SWT agar keluarganya selalu dalam keadaan sehat wal'afiyat dan terhindar dari marabahaya. Satria membacakan doanya.
"Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni‘mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn."
“Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Alquran yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, zat yang Maha Pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”
Kedua tangan Satria menyentuh wajahnya, seraya menutup doa. Dia pun kembali menemani istrinya yang sedang terbaring lemah itu, dia tidak pulang dulu ke rumah untuk melihat kedua anaknya, karena Nilam dan Cakra melarang.
__ADS_1
Mereka bersikeras meminta Satria menemani Amayra dulu di rumah sakit dan merekalah yang akan menjaga si kembar
🍁🍁🍁
Malam itu Diana dan Bram pulang ke rumah Calabria. Diana terlihat lelah setelah membantu persalinan dan menyelamatkan Amayra yang mengalami pendarahan. Belum lagi acara pesta Anna dan Ken, membuatnya semakin pusing.
Bram memahami kelelahan istrinya itu, dia pun meminta Diana untuk segera beristirahat saja di kamar. Namun, dia menolaknya karena ingin menjaga si kembar.
"Udah, kalian istirahat aja. Kalian pasti lelah seharian ini, biar mama sama papa yang jaga si kembar." Kata Nilam pada anak dan menantunya.
"Tapi pa, ma, papa mama juga lelah kan? Biar aku yang jaga si kembar."
"Gak usah, untuk malam ini kami yang akan jaga. Lagian si kembar juga udah gak rewel, nih lagi tidur di gendongannya mama." Nilam tersenyum sambil menggendong cucu perempuannya itu.
Entah kenapa hati Diana dan Bram terhenyak melihat pemandangan itu. Ada rasa di hati ingin segera memiliki momongan, tapi mereka bertanya dalam hati apakah mereka bisa? Sedangkan Bram sudah di vonis kemungkinan kecil dia tidak akan bisa punya anak.
Bram dan Diana menaiki tangga menuju ke kamar mereka, sesampainya didalam kamar, Diana langsung merebahkan dirinya diatas ranjang empuk itu. "Alhamdulillah ya mas, Amayra selamat...bayinya juga sehat."
"Iya, kamu benar sayang. Alhamdulillah segalanya berjalan lancar." Bram terdiam duduk diatas ranjang.
"Ada apa mas, wajahmu terlihat tidak baik?" Diana menyadari bahwa ada yang salah dengan raut wajah suaminya.
"Diana, niat kita yang akan mengadopsi anak... bagaimana kalau kita tidak jadi melakukannya?" Bram tiba-tiba saja membahas tentang masalah adopsi anak yang pernah dia bicarakan dengan Diana.
Diana terperanjat dan menatap ke arah suaminya, "Mas...apa maksud kamu?"
Bram menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia berkata. "Gimana kalau kita minta pada Satria dan Amayra untuk mengambil dan mengurus salah satu bayi kembarnya."
"Astagfirullah Mas!" Diana tercengang tak percaya mendengar niatan suaminya untuk mengambil salah satu bayi kembar adiknya.
__ADS_1
...****...