
...🍀🍀🍀...
Foto-foto Satria dan Clara yang terlihat seperti sedang melakukan itu tersebar di internet. Kekuatan media sosial memang kuat, sampai bisa menggemparkan dunia.
"May.. ini gak benar kan? Pak dokter gak mungkin begini.." Lisa tak percaya bahwa Satria akan melakukan hal seperti yang ada didalam foto.
"Itu gak benar, pasti ada kesalahpahaman." Jawab Amayra yang percaya pada suaminya. Dia tidak ragu pada Satria dan tetap tenang diluar.
Kenapa bisa ada foto seperti ini? Apa yang terjadi pada Mas Satria dan Clara? Foto ini diambil di Afrika.
"May.. sudah aku duga ini gak benar." Lisa tersenyum seraya menenangkan Amayra.
Cinta Amayra pasti sangat dalam pada suaminya, dia bahkan tetap terlihat tenang disaat seperti ini. Dia sangat percaya sama suaminya.
Tangan Amayra memegang erat tas gendongnya dengan gemas, ketenangan hatinya mulai terusik. Tapi dia tetap berusaha terlihat tenang diluar.
Jadi ini sebabnya semua orang bersikap aneh saat melihatku. Ini pasti ulah dokter Clara, dia kan selalu mencoba menggoda Mas Satria.
"Udah yuk Lis, kita masuk kelas." Ajaknya pada Lisa.
"Iyah, ayo May." Jawab Lisa sambil tersenyum.
Hari itu Amayra tidak fokus kuliah karena dia memikirkan tentang foto suaminya yang tersebar luas di media sosial. Yang membuatnya tidak tenang adalah kenapa Satria tidak bicara apapun kepadanya tentang foto itu.
Bukankah mereka sudah berjanji untuk saling percaya dan terbuka satu sama lain dalam masalah sekecil apapun itu?
Sepulang dari kelasnya, Amayra langsung buru-buru pulang. Telinganya panas dengan ucapan orang-orang di kampusnya. Dia tidak tahan ingin bicara dengan Satria suaminya.
__ADS_1
Sebelum itu, Amayra menghubungi dulu Dewi untuk menjaga Rey lebih lama dan Amayra akan pergi ke rumah sakit dengan memakai taksi.
"Mas, aku harus mendapatkan penjelasan dari kamu." ucap Amayra sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
Sesampainya di depan rumah sakit, Amayra segera masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat ada polisi di dekat ruangan dokter bedah. "Ada apa ya, kok banyak polisi disini?" gumam Amayra keheranan melihat ada 5 orang polisi yang berada disana.
Beberapa dokter dan suster juga berkerumun disana. Polisi polisi itu rupanya mendatangi ruangan dokter Candra. Dokter Candra juga berada disana, wajahnya terlihat tenang saat berhadapan dengan polisi itu. Dibelakang si polisi, ada Satria dan juga Sandy.
"Ada apa ini? Kenapa kalian datang ke ruangan saya?" Tanya Candra dengan kening berkerut, terlebih lagi polisi itu menatap tajam ke arahnya.
"Apa benar bapak adalah dokter Candra Wiryawan?" Tanya seorang polisi dengan wajah dinginnya.
"Benar..itu saya? Tapi kenapa kalian ada disini?" Candra mulai menaikkan suaranya.
"Anda, ikut kami ke kantor polisi!" Seru Polisi sambil menunjukkan surat penahanan pada Candra.
Candra menatap ke arah Sandy dengan sinis. Sandy berada disamping Satria.
Sialan! Apa anak itu yang sudah melaporkanku?
"Anda telah melakukan kelalaian dalam operasi alm. bapak Harun Nugraha sehingga menyebabkan bapak Harun meninggal dunia."
Amayra yang mendengar namanya disebut, langsung syok dan terdiam disana. "Ayah meninggal karena kesalahan operasi?"
"Sa-saya tidak melakukan itu!" Sangkal Candra. "Saya adalah dokter terbaik dan sudah senior, di rumah sakit ini. Saya tidak pernah gagal sekalipun dalam operasi, kalian pasti salah!" Candra tidak terima ditangkap oleh polisi.
"Maaf pak, tapi sudah ada buktinya. Bapak harus ikut dengan kami ke kantor polisi," ucap si polisi itu yang lalu memborgol kedua tangan Candra.
__ADS_1
"I-ini pasti salah! Lepaskan saya pak...saya tidak bersalah. Dokter Sandy itu lah yang salah, bukan saya.." ucap Candra menuduh Sandy.
"Mari kita bicara saja di kantor polisi ya pak," ucap Polisi itu sambil memegang tangan Candra.
"Tidak! Saya tidak bersalah!" Teriak Candra tetap menyangkal kelakuannya sampai akhir.
Satria merasa miris dengan Candra yang sama sekali tidak merasa bersalah atas kematian ayah mertuanya yang disebabkan oleh dirinya. Satria melihat Candra diseret oleh polisi, didepan semua orang disana.
"Dokter Sandy saya sangat berterimakasih. Jika bukan karena bantuan dokter Sandy saya tidak akan bisa mengungkap kebenaran," ucap Satria pada Sandy.
"Iya dokter, saya juga minta maaf karena saya baru mengatakannya sekarang." Ucap dokter Sandy merasa bersalah.
"Tidak apa, anda sangat berani. Terimakasih," Satria tersenyum.
"Tapi dokter Satria, bukannya itu istri dokter?" Tanya Sandy seraya menunjukan kebelakang Satria, bahwa ada Amayra disana.
Satria membalikkan badannya, dia melihat Amayra berdiri mematung sambil menangis. Wanita itu membutuhkan banyak penjelasan saat ini.
"Mayra?"
...----****----...
Hai Readers, author mau up lagi.. tapi komen, like dan gift nya dulu dong❤️❤️ bagi yang punya..
Mohon jangan sampai unfav, 😎 author lagi coba bereskan konflik satu persatu. Kalau ceritnya gak ada konflik gak seru kan ya..
Sabar ya, nanti juga uwu😉
__ADS_1
Makasih🙏