
...πππ...
Satria terdiam mendengar ucapan ayah mertuanya yang dirasa sangat aneh. Kemudian pak Harun kembali memangilnya, "Nak? Apa kamu dengar ayah?"
"Iya ayah saya dengar," jawab Satria yang kembali fokus dan melihat ke arah Harun.
"Ayah hanya percaya sama kamu saja, tolong jaga Rey dan Amayra ya. Tolong cintai dan sayangi mereka, apalagi Rey. Meski Rey bukan anak kandung kamu, tapi tolong sayangi dia juga seperti anak kamu sendiri."
"Ayah bicara apa sih? Kenapa ayah berfikir begitu? Saya menyayangi Rey seperti anak saya sendiri, tidak ayah! Rey memang anak saya dan Amayra!" Satria tegas.
"Syukurlah alhamdulillah kalau kamu berfikir dan memiliki perasaan seperti itu. Ayah bisa tenang, janji ya pada ayah kalau kamu akan selalu menjaga Amayra dan Rey?"
"Tentu saja ayah, mereka adalah istri dan anak saya. Saya janji pada ayah, saya akan menjaga mereka dengan baik. Memberikan cinta dan kasih sayang saya untuk mereka," ucap Satria bersungguh-sungguh dengan sepenuh hatinya.
Harun melihat keteguhan di mata Satria, dia yakin bahwa menantunya tidak akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan dia kepadanya.
"Ayah yakin kamu akan menjaga kepercayaan ayah, karena itu ayah bisa tenang menitipkan Amayra dan Rey kepada kamu." ucap pak Harun seraya memegang tangan Satria, dia tersenyum pahit.
"Ayah, sebenarnya ayah kenapa? Apa ayah mau pergi ke suatu tempat?" tanya Satria menanyakan sesuatu pada Harun.
"Iya ayah memang mau pergi ke suatu tempat tapi nanti," jawab Harun masih dengan senyuman pahit yang sama.
"Mau pergi kemana ayah dan kapan perginya?" tanya Satria yang tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya.
"Nanti ayah akan kasih tau," jawab Harun lagi-lagi dengan senyuman tipis itu.
"Kalau ayah mau bepergian, nanti Satria akan mengantar ayah atau ayah bisa mengajak kami pergi juga," ucap Satria sambil tersenyum patuh.
Kami disini adalah Satria, Rey dan Amayra juga.
Harun menjawab dengan wajah sedih,"Kamu tidak akan bisa mengantar ayah atau pergi bersama ayah. Kamu jaga Amayra dan Rey saja."
Karena aku hanya akan pergi sendiri, tidak ada yang akan pergi bersamaku. Ya Allah.. tolong jaga selalu Amayra dan keluarga kecilnya.
Deg!
Hati Satria berdegup kencang mendengar jawaban Harun. Satria merasa ada yang aneh dan janggal dari percakapannya dengan Harun. Tapi apa keanehan itu?
Amayra membawa keresek besar untuk ayahnya, entah apa yang ada didalamnya. "Ayah, ini untuk ayah!" Amayra tersenyum pada ayahnya sambil menyerahkan keresek besar itu untuk ayahnya.
"Makasih ya May, tapi harusnya kamu tidak perlu repot-repot begini." Harun tersenyum.
"May sengaja buatkan ini untuk ayah, dihabiskan ya ayah.." Amayra tersenyum lembut pada ayahnya.
Harun memandangi Amayra, lalu dia mengelus lembut kepala Amayra dengan penuh kasih sayang. "Apa yang harus ayah lakukan May? Mungkin ayah tidak akan bisa melihat Rey saat dia besar nanti?"
"Ya sudah makasih ya. Satria, ayah pulang dulu ya," Harun berpamitan pada menantu dan anaknya itu.
"Biar Satria antar ya ayah," Satria menyerahkan Rey pada Amayra, dia bersiap ingin mengantar Harun ke rumahnya.
"Baiklah," jawab Harun setuju.
"May, aku pergi dulu," ucap Satria berpamitan pada istrinya.
Amayra memalingkan wajahnya dari sang suami, kemudian dia menjawab singkat. "Ya,"
Ada apa ya dengan Amayra dan Satria? Apa mereka bertengkar?
Harun merasa kejanggalan dari sikap Amayra pada Satria. Amayra bersikap dingin pada Satria. Harun jadi cemas.
Satria tidak nyaman dengan sikap dingin istrinya, tapi dia pasrah saja mendapatkan perlakuan seperti itu. Kata-katanya semalam memang sudah kelewatan pada Amayra.
Cup!
Tiba-tiba saja satu kecupan mendarat di kening Amayra dengan mesra. "Kak Satria.." lirihnya tersipu malu.
__ADS_1
Kak Satria apa apaan sih?
Satria memanfaatkan keadaan disaat ayah mertuanya masih berada disana.
"Aku pergi dulu ya sayang," ucapnya lembut.
"I-iya," Amayra gelagapan.
"Salam dulu dong," ucap Satria sambil menyodorkan tangannya.
Dengan ragu sambil mengerjapkan matanya, Amayra mengambil tangan Satria lalu mengecup lembut. "Assalamualaikum sayang," ucap Satria dengan senyuman manis dibibirnya.
"Waalaikumsalam," jawabnya dengan wajah masam dan memerah.
Amayra melihat kepergian ayahnya dan Satria. Dia menggendong Rey dan menyusuinya sambil duduk diatas sofa. "Uh..sayangnya mama haus ya?"
Drett...
Drett..
πΆπΆπΆ
Suara dering ponsel berbunyi terdengar tak jauh dari tempatnya duduk. "Hp siapa itu ya?"
Amayra mencari-cari asal suara itu. Dia melihat ponsel berwarna hitam diatas meja. Ponsel itu adalah ponsel suaminya, Satria dan ada panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Pasti kak Satria lupa ponselnya," gumam Amayra sambil mengambil ponsel itu. Dia kaget melihat nama Clara yang memanggil suaminya.
Clara missed call
Tak sengaja Amayra melihat panggilan tak terjawab dari Clara. Dia pun kembali meletakkan ponsel suaminya diatas meja.
Ting!
..."Kak Satria, angkat dong telponnya. Aku mau bicara"...
Ya Allah aku gak sengaja baca pesan masuknya. Tapi kenapa aku tidak nyaman saat melihat pesan masuk dari wanita lain untuk kak Satria. Apalagi pesan itu dari dokter Clara. Amayra menelan salivanya, dia mencoba menahan rasa cemburu dihatinya.
Kemudian dia hendak pergi meninggalkan ponsel suaminya disana. Namun suara pesan masuk, kembali memancing rasa penasaran Amayra.
Ting!
Wanita itu berbalik dan melihat sekilas isi pesan dari Clara. Dia tau kalau ponsel adalah benda privasi dan dia selalu menjaga privasi itu. Namun apakah ponsel sang suami termasuk ke dalam privasi?
Alangkah terkejutnya Amayra melihat sedikit pesan dari Clara. Hatinya terhenyak seolah jatuh dari gunung tertinggi, lalu tenggelam di lautan.
Sesak!
Itulah yang dirasakan Amayra saat melihat pesan masuk dari Clara. Matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia ingin membuka keseluruhan pesan itu.
..."Kak Satria aku mencintai..."...
Amayra yang menggendong Rey, mengambil kembali ponsel itu dengan tangan bergetar. Dia ingat Satria pernah mengatakan padanya kode ponsel itu.
#Flashback
"May, kirimkan foto-foto kita dong!" pinta Satria pada istrinya. Dia sedang rebahan didamping Rey sambil melihat istrinya yang disana.
"Bukannya fotonya banyak di kakak?" tanya Amayra sambil mengganti popok Rey.
"Cuma sedikit. Aku mau jadikan wallpaper," ucapnya sambil bermain ponsel.
"Ya sudah kakak ambil saja hp ku disana, aku mau membersihkan dulu Rey," jawab Amayra ramah.
"Iya deh aku ambil sendiri," Satria tersenyum sambil beranjak dari rebahan. Dia mengambil ponsel itu dan melihatnya. "Lho, kenapa gak pake password?" tanya Satria sambil melihat ponsel istrinya yang mudah dibuka tanpa kode.
__ADS_1
"Kenapa pakai password? Aku gak punya yang disembunyikan, lagian gak ada apa-apa disana," ucap Amayra sambil memakaikan celana untuk Rey.
"Walaupun gak ada apa-apa, tetap harus pakai kode dong. Takutnya ada orang jahat yang buka-buka ponsel kamu,"
"Oh gitu ya? Bukannya penjahat yang kakak?" tanya Amayra seraya menggoda suaminya.
"Haha, kamu apaan sih?" Satria terkekeh mendengar ucapan suaminya. Dia memainkan ponsel kemudian memakaikan kode di ponsel istrinya setelah dia memindahkan foto-fotonya bersama Amayra disana.
Tak lama setelah Rey tidur, Amayra menghampirinya Satria yang masih memegang ponselnya. "Kak.."
"Ya May?"
"Kakak udah shalat isya belum?" tanya istrinya.
"Udah sayang," jawab sang suami lembut.
"Ya udah bobo yuk, belum malam kan kakak harus kerja," ajak Amayra pada suaminya. Busui itu terlihat lelah dan pegal, sesekali dia merentangkan tangannya.
"Iya sayang, aku udah pake kode di hp kamu," ucapnya sambil menyimpan ponsel itu di atas meja dekat ranjang.
"Apa password-nya kak?" tanya Amayra.
"Tanggal pernikahan kita," jawabnya senang.
Amayra mengambil ponselnya dan mengecek tanggal pernikahan yang membuka hp itu. Amayra tersenyum, dia tidak percaya ternyata Satria mengingat hari pernikahan mereka. Pernikahan itu berada dalam keterpaksaan dan keadaan yang menyedihkan.
"Terus kode hp kakak apa?" tanya Amayra penasaran.
"Tebak aja," jawab Satria sambil memijat bahu istrinya pelan-pelan.
"Lho kok gitu sih? Apa kakak menyembunyikan sesuatu dari aku ya?" tanya Amayra dengan mata memicing curiga.
"Aku gak pernah menyembunyikan apapun dari kamu. Kalau gak percaya, lihat saja ponselku dan tebak password-nya,"
"Ouh..jadi kakak mau main tebak-tebakan?" ucap Amayra sambil menyetujui tantangan Satria untuk menebak kode ponsel itu. Dia melihat wallpaper di ponsel Satria, adalah foto Rey saat baru lahir.
Satria tersenyum, tangannya masih memijat lembut punggung sang istri yang seharian telah melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu. Amayra mencoba berkali-kali menebak password itu, sampai ketiga kali dia mencobanya. Akhirnya Amayra berhasil membukanya. "Berhasil?"
"Ya, tapi kenapa password-nya ulang tahunku?" tanya Amayra.
"Lho? Pertanyaan kamu aneh gitu deh, memangnya kenapa kalau ulang tahun kamu?" Satria memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang dan mesra.
Satria menjelaskan bahwa ulang tahun Amayra sangat berarti untuknya. Jadi dia menjadikan password ponselnya dengan tanggal ulang tahun Amayra, dia ingin merayakan ulang tahun Amayra nanti bila saatnya tiba.
#Endflashback
Kode ponsel Satria adalah tanggal ulang tahunnya. Dia gemas ingin melihat isi pesan itu, tapi dia takut.
Ya Allah apakah aku harus melakukan ini? Demi keutuhan keluarga kami sepertinya aku harus melihat isi pesan itu.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Amayra menghela napas, lalu dia membuka ponsel suaminya. Dia melihat pesan yang masuk lagi. Amayra kesal melihat isi pesan itu, dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Beberapa menit kemudian, Satria kembali setelah mengantar Harun. Dia membelikan mainan untuk Rey. "Eh Rey nya tidur ya? Sayang banget nih, Rey belum bisa lihat apa yang papa bawa untuk Rey." Satria tersenyum melihat bayi mungil yang tertidur lelap dipangkuan Amayra.
Wanita itu pergi begitu saja ke kamar, dia menidurkan Rey di ranjangnya. Satria mengikutinya dari belakang. "May, tadi kita mau bicara kan? Kita bicara sekarang ya," ucap Satria sambil mengajak istrinya bicara.
"Ya, kita bicara kak. Ayo kita bicara di tempat lain," ucap Amayra dengan wajah dinginnya.
...----****----...
Hai Readers! Mohon bantuannya untuk Fav, like, komen, audiobook ku juga ya β€οΈπ₯° Makasih..
__ADS_1