Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 261. Hadiah terindah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Satria menyambut kedatangan Bima, Fania dan juga anak mereka yang baru berusia 3 tahun. Semua tamu sudah berdatangan ke rumah Calabria untuk melakukan pengajian, mereka juga memberikan selamat pada Bram dan Diana, selamat atas kehamilan Diana amanah dari Allah yang baru saja datang pada pasangan suami istri itu setelah 6 tahun lamanya belum dikaruniai anak.


"Selamat ya pak Bram, Bu Diana...semoga bayi dan ibunya sehat selalu sampai lahiran." Kata salah satu rekan bisnis Bram memberikan selamat pada Diana dan Bram.


"Aamiin, terimakasih pak Joko..." kata Bram sambil tersenyum bahagia.


Bram terus saja menempel pada Diana, dia selalu waspada dan menjaga istrinya itu. Wajar saja karena ini adalah kehamilan pertama istrinya, apalagi dokter bilang kandungan Diana lemah dan harus lebih dijaga dengan ekstra.


"Sayang, kamu mau makan apa? Apa bantalan duduknya kurang nyaman? Apa kamu haus? Mau aku bawakan minuman? Atau kamu gerah?" Bram melihat ke arah Diana dengan cemas, dia takut istrinya tidak nyaman akan sesuatu.


"Mas, bisa gak tanya nya satu-satu? Kalau mas tanyanya banyak gitu, gimana aku jawabnya?" Diana tersenyum, dia bahagia dengan perhatian suaminya dan merasa diperlakukan seperti Ratu sejak suaminya tau kalau dia sedang hamil.


"Maaf sayang, aku hanya takut kamu tidak nyaman atau-"


Diana meletakkan jari telunjuknya di bibir Bram, seraya menghentikan Bram bicara. "Mas, udah ya jangan cerewet...saat ini aku gak butuh apa-apa. Aku udah nyaman dan aku pengen mas duduk manis aja disini sama aku sambil nunggu pengajiannya mulai."


"Ya udah deh kalau kamu emang nyaman begini." Pria itu tersenyum, dia menatap istrinya dengan tatapan berseri-seri dan dia terlihat bahagia.


Keduanya bahagia karena hadiah terindah yang diberikan oleh Allah kepada mereka setelah penantian yang cukup lama. Mereka berdua duduk sambil menunggu ustad Iqbal datang untuk memimpin acara syukuran itu.


"Oh ya mas, mana ya Rey? Aku gak lihat Rey setelah dia ganti baju sama baju Kokonya. Kemana ya dia, mas?" Diana teringat pada Rey yang tidak terlihat sejak tadi.


"Oh ya, Rey tadi bilang mau shalat isya dulu. Aku akan cari dia ya, sebentar." Bram beranjak untuk mencari Rey yang tidak terlihat sejak tadi.


****


Di taman belakang rumah Calabria, Rey sedang duduk sendirian sambil memandang langit malam berbintang terlihat disana. Tanpa Rey sadari, didekat pintu ada Zayn dan Zahwa yang melihatnya.

__ADS_1


"Kakak, kenapa kak Rey menyendiri ya?" bisik Zahwa pada saudara kembarnya yang berdiri tepat disampingnya.


"Ehm---gak tau tuh, ada apa ya?" Zayn juga tidak tahu menahu kenapa Rey yang selalu berbaur kini menyendiri ketika semua orang sedang berkumpul didalam rumah.


"Kak, kita samperin kak Rey yuk? Kita ajak main kak Rey!"


"Apa menurutmu dia mau diajak main?"


"Kak Rey kan selalu mau kalau aku yang ajak main dia," Zahwa percaya diri bahwa Rey akan mendengarkannya.


Zayn tersenyum tipis."Benar juga, kamu kan adik kesayangannya,"


"Kakak jangan gitu dong, kakak juga adik kesayangannya..."


"Hem," Zayn membuang muka didepan Zahwa.


Zahwa mendekati Rey perlahan-lahan, dia bermaksud untuk menggodanya dengan mengagetkan Rey. Saat Zahwa akan menyentuh bahu Rey, anak laki-laki itu berkata. "Zahwa, Zayn, kakak tau kalian disitu." Rey bicara tanpa menoleh kebelakang.


"Bau kalian tercium dari sini," Rey tersenyum tipis, sambil melihat ke arah Zahwa dan Zayn.


"Kakak ini suka bercanda deh, hehe." Zahwa tersenyum tidak percaya ucapan Rey.


"Masa iya kakak bisa cium bau kami? Memangnya kami bau apa?" Zayn menoleh ke arah Rey, menatap kakaknya itu dengan kedua mata polos.


"Bau bau mau jahil sama kakak!" Rey mencubit kedua hidung Zayn dan Zahwa.


"Aduh duh...kakak!" Zayn dan Zahwa mengeluh kesakitan.


Zayn dan Zahwa pun bertanya ada apa dengan Rey? Kenapa Rey menyendiri disana? Rey menjawab bahwa dia sedang melihat bintang-bintang di langit. Kemudian Zahwa dan Zayn mengajak Rey masuk ke dalam, akan tetapi anak itu menolak dan dia masih mau sendirian disana.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Bram datang ke taman belakang dan melihat Rey bersama si kembar disana. "Rey, Zahwa, Zayn? Kalian ada disini?"


"Iya om, kami lihat kak Rey lagi sendirian jadi kami samperin deh kak Rey!" Jelas Zahwa pada omnya itu.


Tatapan Bram tertuju pada Rey yang menunjukkan kesedihan. 'Rey kenapa ya?'


"Zahwa, Zayn, kalian dicariin papa sama mama kalian."


"Ya udah om, aku sama Zahwa masuk ke dalam duluan ya," kata Zayn sambil tersenyum.


Dia dan adiknya lalu masuk kembali ke dalam rumah. Kini di taman belakang itu hanya ada Bram dan Rey saja. Bram duduk disamping Rey, dia melihat ada kegalauan di wajah putranya itu. "Rey ada apa nak? Kamu kelihatan sedih dan banyak pikiran. Akhir-akhir ini, papa perhatikan kamu jadi pendiam dan sering menyendiri. Apa kamu ada masalah di sekolah, nak?" Bram bertanya dengan penuh perhatian pada Rey, dia juga menepuk bahu Rey.


"Tidak ada apa-apa pa," jawab Rey sembari menggelengkan kepalanya.


"Papa yakin ada apa-apa, ayo dong cerita sama papa. Ah---atau kamu lagi marah sama papa dan mama?" Bram menarik kesimpulan seperti itu, karena akhir-akhir ini Rey seperti menjauh dari Bram dan Diana.


Rey menoleh ke arah papanya, matanya melebar. "Nggak pa! Rey gak marah kok sama papa dan mama,"


"Terus kenapa akhir-akhir ini kamu seperti menjauh dari papa dan mama. Apa kamu ada salah padamu, nak?" Pria itu menundukkan kepalanya, merasa bersalah.


Rey tidak enak hati melihat papanya seperti itu, dia pun menjelaskan bahwa Rey tidak marah pada Diana dan Bram melainkan karena ada hal yang lain.


"Hal lain apa itu Rey? Bisa kamu katakan pada papa?"


Anak ini, apa sih yang membuatnya sedih sedemikian rupa? Apa ada sesuatu?


"Pa..." Rey menundukkan kepalanya dengan tidak percaya diri. "Papa dan mama tidak akan membuangku, kan?" Rey takut dengan jawaban yang akan diberikan oleh Bram kepadanya.


Jadi ini yang membuat Rey galau, oh aku paham kenapa Rey seperti ini. Dia takut kalau aku dan Diana akan membuangnya setelah Diana hamil. Ya Allah Rey, kenapa kamu berpikir begitu? Kamu adalah anak kami! Anak pertama kami!. Bram tercengang dengan pertanyaan yang terlontar dari Rey padanya. Ternyata ini yang membuat Rey resah.

__ADS_1


...****...


__ADS_2