
...🍀🍀🍀...
Bram menatap punggung Amayra, gadis yang baru saja meninggalkan dirinya. "Aku tidak akan mengakui anak itu! Aku tidak akan menyesal! Aku punya Alexis!"
Satria dan Amayra berpamitan kepada Cakra dan Nilam. Nilam terlihat cuek dan acuh seperti biasanya, namun Cakra terlihat sedih merasa kehilangan Satria. Anna juga merasakan hal yang sama, karena dia sudah tinggal bersama Amayra selama dua bulan lebih dan sudah terbiasa ada Amayra disana.
Amayra selalu membantunya mengerjakan Pr sekolah dan mereka selalu belajar bersama di setiap kesempatan. Kini Amayra akan tinggal bersama Satria berdua saja di rumah baru mereka.
"Om, tidak bisakah om menarik kembali keputusan om? Jangan pindah ya, aku gak mau Mayra pergi, om.." Anna memohon pada Satria agar tidak pergi dari rumah itu, matanya berkaca-kaca.
Wanita hamil itu hanya diam saja dengan wajah merah nya, dia merasa deg degan karena dia akan tinggal berdua dengan Satria.
"An, kamu tenang saja. Kita gak akan pergi selamanya, kalau kamu mau ketemu sama Amayra, kamu tinggal pergi ke rumah om." Satria tersenyum pada Anna sambil menepuk kepala nya dengan lembut.
"Ya sudah deh, kalau kalian perlu bantuan. Kalian hubungi saja aku! Aku juga bisa nemenin Mayra di rumah kalau kak Satria lagi sibuk di rumah sakit!" Anna tersenyum pada Amayra.
"Iya, nanti om akan butuh bantuan kamu," jawab Satria.
"Satria, apa kamu sudah punya tempat tinggal? Dimana kalian akan tinggal? Kasih tau papa.." tanya Cakra pada anaknya.
"Sudah ada pa," jawab Satria menenangkan.
Nilam yang tadi diam saja duduk di kursi, tiba-tiba saja mendekati Satria dan Cakra, di mendelik sinis pada suami dan anak tirinya itu, "Kalian gak usah berakting deh di depanku, pasti papa sudah menyiapkan rumah untuk Satria dan menantu kesayangan papa ini. Papa juga pasti kasih uang yang banyak kan pada Satria?" Nilam masih nyinyir pada Satria.
"Ma! Kenapa sih mama nyinyir terus? Papa gak pernah kasih uang sama Satria, dan setiap papa mau kasih uang.. Satria selalu menolaknya," Cakra memberikan penjelasan pada Nilam.
Ya, selama ini Satria adalah anak yang mandiri. Dia sekolah dengan uangnya sendiri, karena dia mendapatkan beasiswa full sampai selesai kuliah kedokteran. Tidak pernah dia meminta uang pada papa dan mama nya kecuali disaat terdesak. Bahkan saat tinggal di luar negeri, Satria sudah hidup mandiri dan berjuang seorang diri. Tanpa bantuan Nilam ataupun Cakra. Tidak seperti Bram yang selalu dimanja oleh Nilam, dan keinginan nya selalu dipenuhi.
"Alah! Memangnya aku akan percaya akal akalan papa? Papa selalu saja membela Satria dibandingkan Bram, anak kita!" Nilam terus memancing pertengkaran dan emosi suaminya.
Bahkan sampai akhir pun, mama tidak pernah menyayangi ku, tidak sedikit pun. Satria sakit hati dengan sikap Nilam, terlebih lagi saat dia sudah tau kalau Nilam hanyalah ibu tirinya.
Cakra berusaha menahan emosinya, dia menghela napas dan menganggap ucapan Nilam hanyalah angin lalu saja.
__ADS_1
"Satria, tolong jangan dimasukan ke hati ya omongan mama kamu," ucap Cakra pada Satria.
Satria mendekati Nilam dan mengambil tangan Nilam, Satria mencium tangan Nilam dengan lembut. "Gak apa-apa pa. Ma, Satria pergi dulu ya.. mama jaga diri mama baik-baik, sehat selalu. Terimakasih selama ini mama sudah membesarkan Satria."
Nilam menarik tangannya dengan cepat, dia membuang muka secepat kilat. Satria hanya tersenyum pahit menerima perlakuan Nilam. "Terimakasih ma, mama sudah membesarkan Satria.. walau sebenarnya hati mama sakit dan berat melihat Satria selama ini, karena Satria adalah anak dari istri kedua papa," ucap Satria tulus berterimakasih pada Nilam.
Tangan Nilam bergetar, dia membalikkan badannya seolah tak peduli dengan kehadiran Satria. Matanya berkaca-kaca, air mata menggenang dibawah mata wanita paruh baya itu.
"Assalamualaikum pa, ma.. jaga kesehatan ya." Amayra memberi salam kepada Nilam dan Cakra dengan sopan.
Mereka berdua meninggalkan rumah itu dan pergi ke rumah baru membawa barang mereka seadanya. Amayra terus menghela napas di sepanjang perjalanan itu, Satria heran melihat nya.
"Huhh.. haahh.."
Aku akan tinggal dengan kak Satria berdua saja? Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?
"Ada apa? Apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Satria sesekali menoleh ke arah Amayra, dengan tangan yang masih memegang setir kemudi.
"Ah! Enggak kok, eng-enggak apa-apa kak!" Jawabnya cepat.
"Ah..iya.. eh enggak kok enggak!" Amayra menjawab nya dengan gugup. Dia menjadi gelagapan entah kenapa.
"Seperti nya kamu gak baik-baik saja. Nanti aku akan hubungi temanku yang bekerja di bagian psikologi, untuk memeriksa kamu," Satria menyarankan.
"Ti-tidak usah, aku tidak apa-apa!"
"Kalau kamu gak apa-apa, mungkin kah bayinya kenapa-napa?" tanya Satria sambil melihat ke arah perut yang masih datar itu.
"Ba-bayinya juga baik-baik saja!"
Satria semakin aneh melihat gelagat Amayra yang tiba-tiba saja gugup. Apalagi ketika Satria melihat ada keringat di wajah Amayra bercucuran. Satria berinisiatif menyalakan AC, karena dia berfikir kalau Amayra kegerahan. Perjalanan menuju ke rumah baru mereka juga cukup jauh dari rumah Calabria.
Siang itu mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana, berlantai dua dan cat nya berwarna biru langit. Rumah itu di ujung kompleks perumahan di dekat rumah sakit tempat Satria bekerja. Amayra takjub melihat rumah barunya itu, namun dia juga melihat tanaman tidak terawat di halaman depan rumah.
__ADS_1
Amayra yang sangat mencintai tanaman, dia membayangkan rumah impiannya di penuhi oleh bunga dan apotik hidup. Sama seperti saat dia menghidupkan rumah Calabria dengan merawat tanaman yang ada disana.
Jika aku rawat sedikit tanaman di halaman rumah ini, pasti akan lebih indah.
"Ini rumah siapa kak?" tanya Amayra sambil menoleh ke arah suaminya.
"Rumahku, masih nyicil sih. Tinggal satu tahun lagi, lunas kok." Satria terlihat malu-malu saat menjawab rumah itu adalah cicilan.
"Kakak nyicil rumah? Pakai uang sendiri? Apa papa Cakra tau?" tanya Amayra kagum dengan suaminya.
"Ah.. iya pakai uang sendiri, dulu aku kerja paruh waktu sambil kuliah. Dan Alhamdulillah aku bisa menyicil rumah ini," ucap Satria sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kak." Amayra tersenyum bangga pada suaminya yang bisa hidup mandiri dan menyicil rumah dengan uangnya sendiri.
Satria dan Amayra masuk ke dalam rumah itu, di dalamnya sudah ada beberapa furniture seadanya. Amayra langsung mengambil sapu dan membersihkan rumah yang belum pernah ditempati itu. Satria juga membantunya membersihkan rumah dan mengepel.
Amayra awalnya tak percaya kalau Satria bisa melakukan pekerjaan rumah. Tapi ternyata Satria cukup mahir melakukan nya. Satria berkata bahwa dia pernah bekerja di restoran cepat saji, pabrik, dan kedai kopi saat berada di luar negri ketika dia menempuh pendidikan S1 dan S2 nya. Amayra semakin kagum mendengar cerita suaminya.
"May, kamu tunggu disini ya. Aku buatkan kamu minuman dulu."
"Eh, gak usah kak! Biar aku saja yang buat!"
"Kamu pasti lelah, gak apa-apa. Aku saja yang buat." Satria tersenyum lembut, dia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi ke dapur.
Selagi Satria pergi ke dapur, Amayra mengambil kemoceng, dia hendak membersihkan kaca yang berdebu dan tidak terlihat nyaman dipandang oleh matanya.
"Aduh! Tinggi juga ya, aku gak sampai!" Amayra berjinjit, sambil mengarahkan kemoceng nya ke arah debu kaca diatas pintu rumah. Namun ia kesulitan menggapai nya.
Akhirnya dia mengambil kursi dan naik ke atas kursi. Setelah selesai membersihkan debu, Amayra berniat turun dari kursi itu pelan-pelan. Tak sengaja rok panjangnya terinjak dan membuat tubuhnya oleng jatuh ke bawah.
"Akhhhhhh!!"
Aku jatuh!
__ADS_1
...---***---...