
...🍁🍁🍁...
Diana menyusul Bram yang sedang dalam keadaan marah itu. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan memilih bicara didalam sana.
"Mas...kita bisa periksa lagi ke rumah sakit lain, siapa tau hasil pemeriksaannya salah. Kamu jangan marah dan sedih seperti ini dulu."
"Diana, kamu bisa dengan mudahnya bicara seperti ini karena kamu tidak tahu bagaimana perasaanku!" Bram terlihat emosional, dia bahkan menangis setelah penjelasan dokter dari hasil pemeriksaan mereka. Tangan Bram gemetar hebat, dia terlihat syok dengan hasil pemeriksaan.
#FLASHBACK
1 jam yang lalu, Bram dan Diana melakukan tes kesuburan dengan dokter wanita yang memeriksanya.
"Dokter bagaimana hasil pemeriksaan kami?" tanya Diana yang tidak sabar dengan hasil pemeriksaan kesuburannya dan suaminya.
Dokter wanita itu mengambil sebuah dokumen, kemudian dia melihatnya. Disamping dokter itu ada seorang suster wanita juga.
"Hasil pemeriksaan ibu Diana sangat bagus, tidak ada masalah pada rahim, semuanya sehat dan Bu Diana termasuk subur." jelas dokter itu pada Diana.
"Alhamdulillah mas..."
"Iya sayang, Alhamdulillah."
Diana dan Bram saling melempar senyuman bahagia. Dengan hasil pemeriksaan ini maka Nilam akan bungkam dan tidak bicara macam-macam lagi pada Diana. Bram juga sudah percaya diri bahwa di baik-baik saja.
"Lalu hasil pemeriksaan pak Bramastya, ada hal yang harus saya sampaikan pada pak Bram dan Bu Diana."
Berbeda saat bicara dengan Diana, dokter itu terlihat serius dengan wajah yang membuat orang penasaran saat melihatnya. Sepertinya ada hal besar akan dikatakan dokter itu pada Bram dan Diana, dan benar saja, dokter itu mengatakan hal yang kurang baik tentang kondisi Bram.
"Maaf pak, untuk tes kesuburan bapak... sepertinya akan sulit."
"Apa maksud dokter sulit?" Bram bertanya sambil menatap tajam pada dokter wanita itu.
__ADS_1
"Setelah dilakukan pemeriksaan, bapak mengalami masalah kromosom atau hormon testosteron yang rendah." ucap dokter itu menjelaskan.
"A-apa??!" Diana terkejut mendengar hal itu dari dokternya. Intinya Bram dinyatakan mandul, akan sulit mendapatkan keturunan.
Bram terdiam belum terlalu paham dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Kemudian dokter menjelaskan lagi dengan detail tentang kondisi Bram. Bahwa penyebab mandul pria lainnya adalah dari jumlah sp*rm* yang rendah termasuk penyakit jangka panjang (seperti gagal ginjal), infeksi masa kanak-kanak (seperti gondongan), dan masalah kromosom atau hormon (seperti testosteron rendah). Bram termasuk yang terakhir dibicarakan. Kerusakan sistem reproduksi dapat menyebabkan sp*rm* rendah atau tidak ada sama sekali.
Bram terpukul mendengar penjelasan dari dokter, dia seolah mati rasa dan tidak menyangka bahwa yang salah ada pada dirinya. "Dok, ini gak mungkin... sebelumnya tubuh saya baik-baik saja. Bahkan saya pernah punya anak sebelumnya, mengapa sekarang jadi begini! Dokter jangan menipu saya yah!"
"Maaf pak, tapi hasil ini sudah akurat...saya tidak menipu bapak dan jika bapak tidak percaya, silahkan tes lagi!" kata dokter itu mulai terpancing emosi.
Demi menguatkan keyakinannya, Bram melakukan tes sekali lagi. Hasilnya tetap sama, lalu ketiga kalinya pun tetap sama.
#ENDFLASHBACK
Bram menundukkan kepala sambil menangis, dia tidak menyangka bahwa dokter memvonis dirinya mandul. Diana juga ikut menangis, di merasakan emosi batin yang dirasakan suaminya. Namun, dia tak tahu bagaimana caranya dia bisa menghibur Bram.
"Mas..."
Ya Allah, harus bagaimana aku menenangkan mas Bram. Hatinya pasti sangat terluka dengan semua kenyataan ini.
"Mas...kamu ngomong apa sih?!"
"Benar, ini adalah karma... aku diberi penyakit seperti ini karena karma. Dulu aku sangat jahat pada Amayra sedang hamil, ketika Rey berada di dalam kandungan. Aku meninggalkan mereka begitu saja, tidak mengakui bahwa Rey adalah anakku...aku bahkan hampir membuat Amayra keguguran saat itu. Aku pria jahat berlumur dosa, tidak heran Allah memberikan balasan seperti ini! Aku terkena karma, ini karma Diana!" Bram teringat semua dosa sebelum dia bertobat menjadi manusia yang lebih baik.
Betapa dzalimnya dia pada Amayra dan bayinya saat itu. Kabur tanpa bertanggungjawab, membuat Amayra menanggung semuanya seorang diri. Dia sadar akan karma menantinya.
"Mas...jangan bicara seperti itu..hiks.." Diana mencoba menghibur suaminya yang sedang tertekan itu.
"Meski aku sudah berubah dan bertaubat, balasnya masih tetap ada...Diana...aku harus bagaimana."
Pria itu bersandar menumpahkan semua kesedihannya pada tubuh sang istri yang memeluknya dengan hangat. Diana menepuk-nepuk punggung Bram seraya menenangkannya. Dia mengusulkan masih ada cara lain untuk mempunyai anak dan Bram tidak boleh menyerah.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Setelah hati Bram sedikit lebih tenang, Diana dan suaminya kembali ke rumah Calabria. Nilam sudah menunggu di sofa ruang tengah, dengan wajah sinisnya. Cakra juga ada disana karena dia takut istrinya akan bicara macam-macam. Selain Cakra dan Nilam, Amayra dan juga Satria sedang berada diruang tengah.
"Kak Diana, kak Bram? Kalian sudah pulang?" sambut Amayra hangat kepada kakak dan kakak iparnya itu.
Wajah Diana dan Bram terlihat kurang baik, kedua mata pasangan suami-istri itu memerah dan sembab.
"Jadi kalian sudah pulang? Gimana hasil pemeriksaannya? Bram, Diana?" Nilam langsung menanyakan hasil pemeriksaan medis menantu dan anaknya itu.
"Gak ada masalah apapun kok ma, kami baik-baik saja." kata Diana sambil tersenyum.
Aku harus menutupi keadaan mas Bram, karena saat ini mas Bram sedang tidak baik.
"Heh, benaran baik-baik saja? Terus kenapa wajah kalian begitu?" Tanya Nilam sambil tersenyum sinis menelisik wajah kedua orang yang baru saja pulang itu.
"Gak ada apa-apa Ma!" kata Bram tegas.
"Diana, segera bercerai dari anak saya!" Nilam berkata dengan tegas.
Semua orang disana tercengang mendengarnya. Cakra sampai bertanya kenapa istrinya bicara begitu pada Diana dan dia marah. "Pa, udah papa diam saja! Ini demi penerus perusahaan Calabria, Diana dan Bram harus bercerai, lalu mama akan mencarikan menantu baru untuk anak kita yang sempurna."
"MA! Ucapan mama ini sudah keterlaluan!" Bentak Bram emosi pada ibunya.
Amayra dan Satria tercengang mendengar pertengkaran besar itu.
"Cukup Bram! Sudah terbukti kan kalau Diana itu mandul, tidak bisa memberikan keturunan...lalu untuk apa wanita tidak berguna ini masih menjadi istri kamu!" Bentak Nilam pada menantunya.
"Mama! Diana tidak mandul! Aku yang MANDUL , bukan DIANA!" dengan berat Bram mengakui didepan semua orang disana bahwa dialah yang mandul, bukan istrinya.
Nilam, Cakra, Diana, Amayra dan Satria tercengang mendengar pengakuan Bram yang emosional itu. Diana bahkan sampai menangis karena dia tau bahwa Bram sangat ingin menyembunyikan tentang keadaannya.
__ADS_1
Nilamlah yang paling syok diantara semua orang disana.
...****...