
...🍀🍀🍀...
"Gila Lo ya! Kalau mau mati jangan bawa-bawa gue dong!" pria itu memaki Amayra.
Pengendara motor itu kembali melajukan motornya setelah memaki Amayra. Bukannya menolong wanita itu, dia malah pergi begitu saja.
"Ih dasar! Siapa yang seharusnya marah disini? Astagfirullah, sabar.. sabar May." Amayra mengelus dada sambil menggelengkan kepala.
Dia kembali berdiri, menepuk-nepuk roknya yang kotor akibat jatuh ke aspal. Dia merapikan baju, jilbabnya dan juga tas yang dia bawa. "Go go semangat Amayra!"
Amayra berjalan masuk ke dalam area kampus yang besar dan megah itu. Dia terkagum-kagum, tak percaya bahwa dirinya akan menjadi mahasiswi di kampus ternama di kota tersebut.
"Woah.. aku jadi mahasiswa. Sayang sekali aku gak bisa bawa Rey kesini. Rey, mama jadi mahasiswa sayang.. mama akan buat Rey bangga," gumam Amayra sambil tersenyum mengingat anaknya di rumah.
"Untuk mahasiswa baru! Kumpul semuanya di lapangan! Untuk mahasiswa baru, kumpul di lapangan sekarang! Jangan lupa pakai name tag kalian!" Seru seorang wanita ditengah lapangan, dia berbicara menggunakan pengeras suara.
Amayra buru-buru mengenakan name tag yang dia simpan didalam tas. Saat dia akan berjalan ke lapangan, dia melihat seorang wanita berambut panjang yang berlari menjatuhkan dompet didepannya.
"Eh, mbak! Ini dompetnya!" Amayra memungut dompet itu. Dia pun berjalan menuju ke lorong untuk menyusul wanita itu.
Acara pembukaan ospek sudah dimulai sedangkan Amayra masih mencari si pemilik dompet. Dia takut kalau sang pemilik dompet mencarinya. Dan benar saja, dia melihat seorang wanita cantik memakai jas kampus berwarna biru tengah mencari-cari sesuatu dilantai.
"Maaf mbak, apa mbak ini...mbak Keisha Arina?" tanya Amayra pada wanita cantik itu.
"Iya benar, kamu siapa ya?" tanya Keisha dengan kening berkerut.
"Alhamdulillah saya menemukan mbak. Ini tadi mbak menjatuhkan dompet disana," Amayra tersenyum sambil menyerahkan dompet berwarna ungu pada Keisha
Aduh aku udah telat nih.
"Oh iya, ini memang punyaku. Teri-"
"Maaf kak saya buru-buru. Assalamualaikum," ucap Amayra sambil berlari menuju ke lapangan bersama para Maba lainnya.
"Eh, dia sudah pergi aja. Padahal aku belum bilang terimakasih." Gumam Keisha sambil menyimpan dompetnya ke dalam saku jas.
Para mahasiswa baru masih berbaris di lapangan mendengarkan ceramah si ketua mahasiswa di atas panggung. Amayra berdiri di barisan paling ujung.
Seseorang dari atas panggung melihat Amayra dengan pandangan tajam. Amayra juga merasakan bahwa senior-senior yang berada diatas panggung sedang melihatnya.
Ada apa ya? Kenapa kakak senior itu melihatku? Apa karena aku terlambat?
__ADS_1
"Kamu! Yang memakai kerudung pink dusty dibarisan paling belakang, kemari!" Teriak seorang wanita dari atas panggung.
Semua calon mahasiswa baru melihat ke arahnya. Amayra berdebar ketika semua mata tertuju padanya. Lalu terlintas dipikirannya saat dulu dia pernah mendapatkan perhatian semua orang, dimana semua mata menatapnya dengan tajam. Hari itu adalah hari dimana semua orang disekolah tau Amayra hamil.
Astagfirullahaladzim, kenapa aku mengingat masa-masa itu. Tidak, itu tidak akan terjadi lagi. Bismillah ya Allah..
"Hey, kenapa kamu diam aja? Kamu dipanggil kak Chika tuh!" bisik seorang mahasiswi disebelahnya. Chika adalah ketua mahasiswa.
"Iyah, kakak itu ternyata benar-benar memanggilku." Gumam pelan Amayra.
Kedengarannya kakak itu marah.
Ibu muda satu anak itu berjalan perlahan menuju ke atas panggung. Dengan wajah polosanya dan sepasang matanya berwarna coklat dia menatap jalanan dengan berani. Meski hatinya tidak nyaman dengan tatapan semua orang padanya yang mengingatkan dia akan masa lalu di sekolahnya.
Tenanglah Amayra, disini tidak ada yang mengenal kamu. Kamu bisa, kamu bisa..
Amayra mulai membayangkan ada Satria berdiri di depannya dan memberinya semangat. "Kamu bisa May! Semangat ya May... i'll always be with you,"
Wanita itu sudah naik ke atas panggung, didepan semua orang disana. Chika meminta Amayra berdiri dan melihat semua orang di lapangan.
"Kalian para mahasiswa baru, perhatikan ini baik-baik. Wanita ini adalah contoh ketidakdisiplinan, sudah terlambat tidak meminta maaf, dia berani masuk ke dalam barisan tanpa tau malu. Kampus kita adalah kampus yang terkenal dengan sistem disiplin, saya harap kalian semua mengikuti semua aturan di kampus ini!" Chika bukan hanya marah, tapi dia mempermalukan Amayra disana.
"Hah? Apa-apaan kamu? Sudah salah malah nyolot!" Chika melotot pada Amayra.
"Jika kedisiplinan adalah yang terpenting di kampus ini, lalu kenapa hanya saya yang dipermalukan dan dihukum. Kenapa pria yang baru saja datang itu tidak di hukum dan malah duduk duduk di kursi?" ucap Amayra seraya melirik pada seorang pria yang duduk di kursi belakang lapangan dengan santai.
"Dia.. dia itu..dia itu bukan mahasiswa baru!" Seru Chika menyangkal.
Kenapa si Ken ada disitu? Chika menatap pria yang sedang berteduh dibawah pohon itu.
"Bukan mahasiswa baru? Jelas-jelas dia pakai name tag, apa dia bukan mahasiswa baru?" ucap Amayra sambil melihat name tag terpasang di tubuh pria itu. "Berarti kakak juga harus menghukumnya, biar adil kan?"
Aku tidak boleh ditindas, aku harus kuat. Kak Satria sudah berpesan padaku kalau aku aku harus menjadi wanita yang kuat dan berani.
Astaga! Menyebalkan sekali wanita sok alim ini.
Chika tidak bisa berkutik ketika semua orang mulai menatapnya. Akhirnya dia menghukum Amayra dan pria bernama Ken itu.
"Chika, Lo apa-apaan sih? Emangnya kenapa gue harus dihukum, hah?" tanya Ken. Pria dengan wajah tampan dan menjadi sorotan mahasiswa baru disana. Padahal dia adalah mahasiswa lama yang sempat berhenti kuliah karena alasan tertentu.
"Udah deh Lo, jangan banyak bacot. Jangan malu-maluin gue! Lo harus ciptakan image bagus di kampus ini, mau Lo di keluarin lagi?" kata Chika pada Ken.
__ADS_1
Ken menatap Amayra dengan sinis, dia melihat gadis itu sedang menjalankan hukuman dari Chika. Amayra mengambil sampah di lapangan, sementara mahasiswa lain berada di dalam kelas untuk acara ospek lainnya.
"Oh jadi Lo yang buat gue dihukum," Ken menatap sinis pada Amayra.
"Maaf bukan saya, tapi kamu sendiri. Kamu kan sudah terlambat dan tidak ikut berbaris. Jadi jangan salahkan saya," ucap Amayra pada Ken menjelaskan bahwa ini bukan salahnya.
"Hah! Sombong banget Lo, gara-gara Lo gue telat! Kalau aja Lo gak ngehalangin jalan, gue pasti gak bakal telat,"
Amayra mengacuhkan Ken, dia tidak mau banyak bicara dan emosi di hari pertamanya di kampus.
Bukannya mengerjakan hukuman, Ken malah menganggu Amayra dan mengacak-acak sampah yang sudah dibereskannya. "Kamu tuh ya! Bukannya bantuin, malah kayak gini?" Amayra menatap kesal pada Ken.
Pria itu malah tersenyum sinis, dia menendang sampah itu dengan sengaja.
"Astagfirullahaladzim, terkutuklah kamu!" Amayra mulai terpancing emosi.
"Nih beresin nih, beresin.." Ken menendang sampah itu sambil tertawa-tawa seperti anak kecil.
"Hah, kekanakan sekali!" Gumam Amayra tak percaya.
Ken malah tersenyum bahagia melihat wanita didepannya itu marah-marah.
...****...
Di basecamp Zimbabwe, Afrika. Satria sedang istirahat setelah shalat subuh. Dia duduk di salah satu ranjang pasien, tangannya masih berlumuran darah pasien yang baru saja dia operasi. Dia membersihkan tangannya, kemudian dia berniat menelpon sang istri.
"Hari ini Amayra, ke kampus. Aku harus semangatin dia!"
Ketika dia membuka ponselnya, Clara datang ke basecamp nya sambil membawa makanan. "Kak Satria,"
"Clara? Ngapain kamu kesini lagi? Camp kamu jauh dari sini.."
Dia masih saja terus mendekatiku, padahal base camp kami berbeda desa.
"Aku bawakan makanan untuk kakak," ucap Clara ramah.
"Bawa pergi saja," Satria mengangkat ponselnya ke telinga, dia menelpon Amayra. Namun tidak ada jawaban dari istrinya, tidak hanya satu kali. Dia menelpon lagi istrinya, tapi tidak ada jawaban.
"Kenapa kak? Gak diangkat lagi ya?" tanya Clara memanasi.
...----****----+...
__ADS_1