
...🍁🍁🍁...
Apa yang kamu pikirkan Satria? Rey juga adalah anakmu. Singkirkan pikiranmu ini Satria.
Satria melangkah masuk ke dalam ruangan yang terbuka itu dimana ada Amayra, Rey dan Bram disana. Amayra terkejut melihat suaminya disana. Dia langsung menyambut Satria dan langsung meminta maaf padanya.
"Kak, maaf aku tidak bermaksud untuk berduaan dengan kak Bram." bisik Amayra pada sang suami dengan rasa bersalah.
"Berduaan? Kalian kan bertiga disini, sama Rey juga. Kalian juga gak ngapa-ngapain kan? Pintunya juga terbuka.. .Jadi jangan minta maaf padaku. Gak apa-apa May, kamu harus menenangkan rasa cemburuku ini. Kamu gak boleh kaya gini lagi May," bisik Satria sambil menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya.
"Satria aku minta maaf ya, mama yang bawa May dan Rey kesini. Kamu jangan salah paham," ucap Bram merasa bersalah karena sudah tertawa-tawa bersama Amayra tanpa sengaja.
"Gak apa-apa kak, jujur aku memang sedikit cemburu. Selama kakak tidak punya perasaan pada Amayra, aku akan tenang. Kakak gak ada perasaan apapun lagi kan?" tanya Satria sinis.
"Iya Sat, kamu tenang aja." Ucap Bram sambil tersenyum tipis.
Astagfirullah, hampir saja aku khilaf.
Setelah itu Satria pergi mengantar Amayra dan Rey kembali pulang ke rumah. Sementara itu Bram bersama Nilam di rumah sakit. Dokter
Diana mengunjunginya.
"Bagaimana keadaan anda pak Bram?" tanya Diana dengan suara dingin dan juteknya seperti biasa.
"Dokter Daniel bilang nanti sore saya sudah boleh pulang. Terimakasih ya dokter Diana, anda sudah menolong saya."
"Jika itu juga orang lain, saya pasti akan menolong." jawab Diana cuek.
"Oh begitu ya? Tapi tetap saja saya harus berterimakasih," Bram tersenyum lembut.
"Kalau anda baik-baik saja, syukurlah. Saya akan kembali bertugas," ucap Diana sambil melangkah pergi.
"Tunggu dokter jutek!" Panggil Bram pada Diana.
Diana menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, "Ya, pak Bram?"
"Tanganmu kenapa? Apa ada orang yang-" ucap Bram sambil mengarah pada pergelangan tangan Diana yang memerah dan lebam.
"Tanganku?" Diana melihat ke arah tangannya, dia baru sadar ada lebam disana.
Eh, kenapa ini? Apa kemarin karena si CEO narsis ini memegang tanganku terlalu erat?
"Katakan padaku, siapa orang bodoh yang sudah bersikap kasar pada dokter Diana?" tanya Bram mendadak sangar.
Diana langsung tertawa mendengar ucapan Bram, "Haha.. orang bodoh itu adalah anda,"
"A-Apa? Saya? Kenapa saya?" tanya Bram terpana.
"Anda yang membuat tangan saya seperti ini pak Bram," jawab Diana sambil tersenyum.
Bram tercekat tak percaya, "Be-benarkah?"
"Bapak tidak ingat, saat bapak mengigau bapak memegang tangan saya dengan erat. Jadilah begini,"
__ADS_1
"Astagfirullah, saya minta maaf dokter Diana. Saya tidak bermaksud untuk melukai anda," ucap Bram merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," jawab Diana santai.
Saat Diana sudah berjalan mencapai pintu. Bram kembali memanggilnya. "Jam 8 malam di cafe Mawar! Apa anda suka tempat itu? Katanya disana ada dessert yang sangat enak, apa anda suka yang manis-manis?"
Deg
Diana berdebar-debar mendengar pertanyaan Bram seperti ajakan kencan itu. Semalaman dia memikirkan Bram, ada perasaan aneh didalam hatinya saat berada didekat duda tampan dan tajir itu.
"Saya sangat suka," jawab Diana sambil menyembunyikan senyuman manisnya.
"Baiklah, hari Sabtu ya!" Bram tersenyum.
"Oke," jawab Diana.
Setelah makan malam itu Diana dan Bram menjadi sering bertemu. Mereka mulai menjalin kedekatan seperti sedang pendekatan. Bram dan Diana jadi sering berkomunikasi.
Namun Nilam sepertinya mulai waspada dengan kehadiran Diana. Dia pun mengorek-ngorek informasi tentang wanita yang dekat dengan anaknya itu pada orang-orang di rumah sakit.
Nilam bertanya pada orang salah, yaitu Clara. "Jadi kamu tau banyak tentang dokter Diana?" tanya Nilam penasaran.
"Ya, begitulah Bu Nilam karena dokter Diana adalah kakak kelas saya, saya tau sedikit tentang dia. Tapi kenapa Bu Nilam menanyakan ini?"
"Saya hanya ingin tau bagaimana dokter Diana di rumah sakit ini, lalu kehidupan seperti apa yang dia miliki." Nilam bertanya dengan mata tajam.
Aku tidak boleh biarkan Bram salah memilih lagi.
"Baiklah kalau ibu ingin tau tentang dokter Diana, saya akan beritahu tentangnya." Clara tersenyum menyeringai.
Clara berbisik-bisik pada Nilam, bibirnya bergerak semangat. Berkali-kali Nilam mengangguk dan menunjukkan raut wajah terkejut.
"Apa? Jadi dia adalah seorang pelakor?" Nilam ternganga terkejut.
Clara mengangguk, dia kembali mengompori Nilam dengan kata-kata yang menjelekkan Diana. Karena dia tidak suka Diana selalu ikut campur dalam urusannya dengan Satria.
"Aku tidak bisa membiarkan ini! Aku tidak boleh biarkan anakku salah jalan lagi!" Nilam mendengus kesal, sepertinya dia terhasut oleh ucapan Clara. Nilam pulang dari rumah sakit dengan wajah kesal dalam keadaan berapi-api.
Clara tersenyum senang melihat Nilam kesal, "Rasain kamu Diana! Haa, ini balasan karena kamu banyak ikut campur urusanku. Jalanmu akan semakin panjang untuk menemukan jodoh, ya.. ya... pelakor sepertimu gak akan pernah bahagia. Belum apa-apa kamu sudah mendapat perhatian khusus dari calon ibu mertuamu," gumam Clara dengan senyuman sinisnya.
...*****...
2 hari telah berlalu...
Tibalah saat Satria harus menentukan pilihan dan keputusan. Setelah berunding dengan Amayra, Cakra dan Harun. Satria mengambil keputusan yang sulit.
Dia menemui Pak Ferdi, kepala rumah sakit dan mengatakan keputusannya tentang pergi ke Afrika. Dengan dukungan dan kepercayaan dari orang-orang disekitarnya, Satria mengambil pilihan sulit untuk naik ke karirnya.
"Kamu mengambil keputusan yang bagus, bapak Satria." Ferdi tersenyum bahagia sambil merobek-robek surat pengunduran diri Satria, lalu membuangnya ke tong sampah.
"Iyah pak," jawab Satria.
"Setelah perjalanan ini kamu akan di angkat menjadi dokter kepala. Saya senang kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, tenang saja kamu disana hanya dua bulan."
__ADS_1
"Iyah pak, tapi apa saya boleh meminta sesuatu pada bapak." Satria menunduk hormat.
"Apa?" Ferdi mendongak.
"Selama saya pergi ke Afrika menjadi sukarelawan, saya tidak mau satu tim dengan dokter Clara."
"Baiklah, saya terima." ucap Ferdi sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih atas kebijaksanaan bapak," Satri tersenyum senang karena permintaannya disetujui.
Harusnya ini akan membuat Amayra tenang. Aku tidak akan membuat Amayra kecewa dan sedih. Cukup satu kali saja aku membuat Amayra menangis. Setelah perjalanan ini aku akan naik menjadi dokter kepala, karirku akan cemerlang. Lalu aku tinggal mengurusi kuliah Amayra.
Satria sudah merancang kehidupannya dan Amayra untuk ke depannya. Dia bahkan sudah mengumpulkan uang untuk membantu Amayra melanjutkan pendidikannya. Meski kemungkinan besar ada beasiswa untuk Amayra, tapi biaya mengerjakan tugas, jajan, harus dibiayai sendiri.
Malam itu Satria bergegas pulang ke rumahnya, sebelum itu dia belanja dulu di supermarket. Belanja kebutuhan Rey yang sudah mulai habis. Dari mulai popok, susu, sampai kayu putih dan bedak bayi.
Sepulang dari supermarket, Satria juga mampir di toko martabak. "Pak, saya pesan martabaknya coklat keju satu bungkus, martabak telur juga satu bungkus ya, yang spesial!" ujar Satria sambil duduk di bangku panjang didepan warung martabak itu.
"Baik mas, tunggu sebentar ya." sahut pedang martabak itu ramah.
Satria duduk sambil menunggu pedagang martabak yang sedang memasak. Dia melamun.
Tak terasa sebentar lagi ramadhan akan segera tiba, ini ramadhan pertamaku bersama Amayra dan Rey. Bismillah ya Allah semoga semuanya di lancarkan.
Beberapa menit kemudian, Satria sudah membawa bungkusan martabak. Dia masuk ke dalam mobil, disana dia melihat foto Rey dan Amayra yang dia cetak dari ponselnya. Satria tersenyum memandangi foto yang menjadi penyemangatnya itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku sama Amayra dan Rey tidak pernah mengambil foto keluarga. Nanti aku akan bicara pada Amayra untuk mengambil foto bersama, sebelum aku pergi ke Afrika." ucap Satria bergumam sendiri.
15 menit kemudian, Satria kembali ke rumahnya. Dia disambut hangat oleh Amayra dan Rey yang sedang tiduran di karpet. Rey masih terbangun dan bermain. Kini Rey banyak bangun dan sering bermain.
"Rey belum tidur lagi ya?" tanya Satria heran melihat anaknya yang sekarang selalu tidur malam.
"Iya kak, Rey sering bermain sekarang. Atau mungkin dia menunggu papanya pulang," Amayra tersenyum.
"Rey yang menungguku pulang atau kamu?" ucap Satria sambil mengecup kening sang istri dengan mesra.
"Hehe,"
"Oh ya May, bulan puasa 3 hari lagi. Apa kamu dan Rey mau jalan-jalan dulu denganku?" tanya Satria.
"Jalan-jalan?"
...-----*****-----...
Hai Readers, mohon bersabar atas konflik rumah tangga yang sedang terjadi ini ya 🤫🤫🤭 percayalah akan ada hal indah menanti dibalik setiap musibah yang ada..
La tahzan innaloha ma'ana..
So, jangan lupa komen, like nya ya ❤️❤️😍
Berhubung sebentar lagi kita akan menyambut bulan puasa, author mohon maaf lahir dan batin untuk readers tersayang ❤️ semoga kita diberikan kelancaran dan kesehatan untuk menjalankan ibadah bulan puasa,🙏😊 bismillahirrahmanirrahim...
Marhaban ya ramadhan..
__ADS_1