
...πππ...
Bram berjalan sempoyongan mendekati Amayra, setelah perkataan nya mengejutkan pasangan suami itu dan memancing amarah Satria.
Tangan Bram memegang tangan Amayra, dengan cepat Amayra menepisnya. "Dia mabuk kak, seperti nya dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya," Amayra menatap tajam dan sinis pada Bram.
"Ikut aku Amayra!"
"Kakak jangan keterlaluan ya! Amayra itu istriku!" Satria mendorong kakak nya dengan kesal
"Istri kamu? Hey, wanita yang kamu sebut sebagai istrimu itu adalah ibu dari anakku! Anakku, Satria! Dan dia juga adalah wanita ku!" Bram berusaha berdiri sendiri setelah Satria mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Tanpa tau malu kata-kata itu meluncur dari mulutnya.
Satria terhenyak mendengar fakta yang dikatakan oleh Bram, memang benar Amayra sedang mengandung anak kakaknya.
"Amayra, apa kamu mau bersamanya?" Satria menoleh ke arah sang istri dengan tajam. Ada rasa tidak percaya diri di matanya saat melontarkan pertanyaan itu.
"Apa maksud pertanyaan kakak?" Amayra sedikit tersinggung dengan pertanyaan Satria.
"Aku tanya, apa kamu mau bersama kak Bram?" tanya Satria tegas.
"Tidak!"Jawabnya tegas tanpa jeda dan keraguan. Dia mantap memilih sang suami, daripada memilih pria yang sudah mengambil mahkota nya.
"Lalu kamu pilih siapa?" tanya Satria lagi.
"Aku mencintai suamiku dan aku akan selalu memilihnya!" Amayra menatap Satria penuh perasaan.
Satria tersenyum tipis, terlihat kelegaan di dalam wajahnya. Setelah mendengar jawaban sang istri, Satria menghampiri Bram dan menyeret kakak nya keluar rumah dalam keadaan hujan deras.
"Kakak dengar itu, dia memilih aku dan tidak mau bersama kakak! Tidak penting siapa ayah bayi nya, aku lah sekarang dan selamanya suami dan ayah dari bayi yang dikandung istriku! Apa kakak paham?" Satria menatap Bram dengan tegas, meyakinkan Bram dimana posisinya saat ini. Bahwa dia sudah terlambat untuk menyesal.
Bram terhasut amarah, dia memukul adiknya dan mengumpat, "Brengsek kamu Satria!"
Satria langsung terjengkang kebelakang saat pukulan keras Bram mendarat di wajahnya. Amayra panik melihat kedua pria yang saling adu pukul itu, dia berusaha menghentikan keduanya yang berkelahi. Mereka berkelahi ditengah hujan.
"Hentikan! Hentikan! Cukup!" Teriak Amayra kepada suami dan kakak iparnya. Tidak ada siapapun yang lewat saat itu, dia tidak tahu mau minta bantuan pada siapa. Sampai seorang pria paruh baya datang dengan patung berwarna merah yang dipegangnya.
__ADS_1
Ayah? Mengapa ayah ada disini?
Pria itu menghentikan perkelahian Bram dan Satria. "Hei! Kalian kenapa?" tanya Harun kepada menantu dan kakak ipar dari putrinya itu.
"Kebetulan bapak ada disini, saya ingin memberitahukan kebenaran kepada bapak," ucap Bram sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Pria itu tersenyum menyeringai, dengan tatapan tajam mengarah pada Satria dan Amayra seolah mengancam mereka.
Apa yang mau dikatakan oleh pak Bram kepada ayah?
"Ayah! Kak Satria, pak Bram, masuklah dulu! Hari sedang hujan!" Seru Amayra pada ketiga pria yang masih berada di tengah hujan itu.
Ketiga nya masuk ke dalam rumah, Amayra buru-buru mengambilkan handuk untuk ayah dan juga suaminya. Setelah Bram dan Satria berganti baju, Harun meminta kedua pria itu untuk duduk di sofa. Harun ingin mengintrogasi mereka, apa yang membuat adik kakak itu berkelahi penuh emosi ditengah hujan.
Sementara itu Amayra menyeduh kopi dan teh untuk ketiga pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu.
"Ada apa dengan kalian? Apa yang membuat kalian berkelahi seperti itu?" tanya Harun dengan menajamkan pandanga pada dua pria yang duduk di seberang nya.
Bram dan Satria masih terdiam dalam amarah. "Nak Bram, bukankah kamu bilang kalau ada kebenaran yang ingin kamu sampaikan kepada saya?" tanya Harun langsung merujuk pada pertanyaan itu.
Seperti diberikan kesempatan oleh Harun, Bram mendongakkan kepalanya ke arah Harun. Dia bersiap mengatakan kebenaran yang disembunyikan oleh semua orang tentang Amayra.
Baiklah, ini saat mengatakan kebenaran bahwa aku adalah ayah bayi yang dikandung oleh Amayra.
"Baik, katakan lah apa yang mau kamu bicarakan dengan saya?" tanya Harun sambil menatap ke arah Bram.
Satria juga menantikan apa yang dikatakan oleh Bram, dia sudah menebak kebenaran apa yang akan disampaikan oleh Bram pada Harun. Pasti tentang ayah bayi Amayra, Satria merasa tidak apa-apa jika Bram mau membongkarnya.
"Sebenarnya saya adalah ayah dari bayi yang di kandung oleh Amayra," ucap Bram.
Seperti dugaan ku, kakak akan mengatakannya untuk merebut Amayra dariku. Satria menengok ke arah Bram, memang sudah seharusnya kebenaran terungkap.
Ucapan Bram membuat Harun terkejut sampai dia terperanjat beranjak dari tempat duduknya. Matanya menyala menatap tajam ke arah pria brengsek itu. "Apa apaan ini? Apa kamu bercanda? Ayah dari bayi yang dikandung putri saya adalah Satria, bukan?" tanya Harun yang ditujukan pada Satria dan Bram.
Di dalam pembicaraan yang panas itu, Amayra datang membawa nampan yang diatasnya ada tiga gelas. Dia menyimpan tiga gelas itu ke atas meja, wajahnya terlihat tegang melihat sang ayah. Amayra sudah mendengar pengakuan Bram.
"Amayra, coba jelaskan apa maksud semua ini?" Harun menatap putrinya, berusaha menerka apa yang terjadi.
__ADS_1
"Maafkan May, ayah. Sebenarnya yang dikatakan pak Bram memang benar, pak Bram adalah ayah bayi ini," Amayra mengatakan kebenaran itu dengan berat hati.
Ayah pasti sangat marah dan kecewa karena selama kami menyembunyikan kebenaran ini.
"Itu benar pak, saya yang sudah memperkosa anak bapak! Saya minta maaf!" Bram beranjak dari kursinya, sambil menundukkan kepalanya di depan pria itu seraya meminta maaf.
"Apa apaan ini? Apa kalian sedang bercanda pada saya?! Amayra, Satria! Apa kalian anggap pernikahan ini main-main?" Harun terlihat murka, dia tak percaya saat mendengar semua ini.
Harun terlihat kecewa dan marah mengetahui kebenaran yang baru dia tau. Pantas saja putrinya itu terlihat membenci Bram dan menyukai Satria. Selama ini dia telah salah paham pada Satria. Yang dianggapnya orang baik adalah pelaku, sedangkan yang dia anggap pelaku adalah penyelamat.
"Maafkan saya pak, saya yang meminta Amayra merahasiakan semua ini. Kami tidak bermaksud untuk membohongi bapak, saya dan Mayra tidak ingin masalah semakin panjang,"
"Masalahnya sudah panjang sejak kamu menggantikan kakak mu menikahi anak saya! Bagaimana bisa kalian mempermainkan anak saya seperti ini?" Harun berteriak marah, dia merasa Amayra sudah dipermainkan oleh Bram dan Satria.
"Saya tidak bermaksud mempermainkan Amayra pak, saya mencintai Amayra dan saya menyayangi anaknya," jelas Satria berusaha meredakan kemarahan ayah mertuanya.
"Saya juga tidak bermaksud begitu pak, memang sebelumnya saya melarikan diri dari tanggungjawab, tapi sekarang saya sudah sadar dengan kesalahan saya dan saya ingin bertanggungjawab pada anak saya dan juga Amayra!" Bram juga berusaha menjelaskan semuanya, meredakan amarah Harun. Tapi penjelasan Bram ini lebih tepatnya terdengar seperti mencari sebuah pembenaran dan tidak mau disalahkan.
Harun tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari kedua pria itu. Harun menangis, dia merasa anaknya seperti dipermainkan oleh keluarga Calabria. Dihamili oleh kakak nya dan menikah dengan adiknya? Sungguh pak Harun syok dan dia tidak tau ada cerita apa dibalik pernikahan Amayra sebelumnya.
"Astagfirullahaladzim, astagfirullah.." Harun memegang dadanya, dia menghela napas panjang. Sampai tubuhnya ambruk jatuh terduduk di sofa.
"Ayah!" Amayra menghampiri ayahnya dengan cemas.
"Pak!" Satria dan Bram menghampiri Harun dengan cemas. "Bapak baik-baik saja?" tanya Bram dan Satria kompak.
"Ayah, ayah tidak apa-apa?" tanya Amayra sambil memegang tangan ayahnya.
Harun meminta kedua pria itu untuk pergi keluar dulu sebentar karena dia ingin berbicara dengan Amayra berdua. Amayra berdebar ketika sang ayah meminta bicara berdua dengannya.
...---***---...
Mau lanjut lagi? silahkan kasih komentar kalian, kalau mau kasih gift atau tips juga boleh π€π
Makasih ya buat yang sudah kasih vote dan giftnya Minggu iniπ₯°βΊοΈπ
__ADS_1