Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 30. Pengakuan cinta


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Perasaan Amayra dan Satria masih berdebar-debar, mereka bingung mau memberikan jawaban apa untuk pertanyaan Harun. Sementara pria paruh baya itu menatap mereka dengan tajam.


Padahal tinggal jawab saya iya. Kenapa mereka malah terlihat bingung? Pasti ada yang tidak beres!


"Kenapa kalian diam saja? Satria, jawab saya! Apa kamu yang menghamili Amayra?" tanya Harun sekali lagi dengan suara tegas yang membutuhkan jawaban sekarang juga.


Mungkin ini saatnya mengatakan kebenaran pada ayah. Kak Satia tidak boleh disalahkan lagi.


"Ayah sebenarnya-"


"Ya, saya yang menghamili anak bapak. Itu benar saya." Satria langsung memangkas ucapan Amayra yang ingin mengatakan kebenaran kepada Harun.


Amayra melirik ke arah suaminya dengan terpana. Dia mengakui hal yang tidak dia lakukan, apa tujuannya? Karena apa? Siapa yang Satria lindungi, Bram, keluarganya, atau perasaan Amayra dan ayah mertuanya. Amayra sungguh tidak paham dengan sikap Satria saat ini.


"Ya sudah, kalau memang benar seperti itu. Pulanglah dan beristirahat." ucap Harun tidak bertanya banyak dan malah menyuruh anak dan menantunya untuk segera pulang.


Satria dan Amayra naik mobil bersama. Mereka dalam perjalanan pulang ke rumah keluarga Calabria. Satria melirik Amayra yang sedari tadi diam saja, gadis itu hanya memainkan kuku di jari tangannya.


"Tanyakan lah apa yang kamu mau tanyakan?" Tanya Satria pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Dia tau kalau Amayra sedang gugup, dan saat gugup Amayra selalu memainkan kuku tangannya. Kebiasaan itu dia ketahui setelah 2 bulan tinggal bersama Amayra di kamar yang sama. "Amayra!"


Mendengar namanya disebut membuat Amayra menatap suaminya yang sedang menyetir, "Ya kak?"


"Apa kamu ingin tau kenapa aku berkata bohong pada ayahmu?" tanya Satria.


"Iya, kenapa kakak menutupi semua nya disaat aku akan mengatakan kebenaran? Apa itu karena kakak peduli pada perasaan ayah dan aku?" tanya Amayra sambil menatap Satria.


"Bukan karena kamu atau ayahmu, tapi ini demi nama keluarga Calabria." jawab Satria dengan nada dinginnya lagi.


"Benar, bahkan kakak juga menikahi ku demi nama keluarga Calabria. Bukan hanya karena kasihan padaku, tapi karena nama baik keluarga. Kakak menerima hinaan dari orang lain karena aku, karena kesalahan yang tidak kakak lakukan. Aku berharap apa sih? Kenapa aku berharap kalau kakak melakukan nya untukku?" tiba-tiba saja Amayra kesal, matanya berkaca-kaca menatap Satria. Ada kekecewaan di dalam setiap kata-kata nya, dia mengharapkan jawaban lebih dari Satria.


"Itu benar, aku menikahi mu karena kasihan dan demi keluarga. Lalu kenapa sekarang kamu marah?" Satria bicara blak-blakan tanpa mempedulikan perasaan Amayra.


"Iya, aku tidak berhak marah. Kalau aku marah, maka aku tidak tau diri." Amayra mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Kenapa kamu tiba-tiba marah?" tanya Satria tidak mengerti.


Dreet..


🎢🎢🎢

__ADS_1


Ponsel Satria berbunyi, disana ada telpon dari Clara. Satria mengabaikan telpon yang berdering itu dan menyimpan ponselnya di di jok mobil.


Clara calling..


Amayra melirik ke arah ponsel Satria, dia melihat nama wanita itu tertera disana. Panggilan yang selalu membuat suaminya sibuk berada di rumah sakit hanya karena hal hal sepele yang tidak bisa dia lakukan ketika tidak ada Satria. Dan Clara seperti nya menjadikan itu alasan sebagai untuk memanggil Satria setiap waktu.


"Telpon dari siapa? dokter Clara lagi?" tanya wanita itu kesal dan cemburu.


"Bukan urusanmu." jawab Satria cuek.


"Benar! Bukan urusanku!" teriak Amayra kesal.


Mereka pun sampai di depan garasi rumah keluarga Calabria. Amayra langsung pergi keluar dari mobil itu dan berjalan mendahului Satria masuk ke dalam rumah.


Satria mengambil makanan yang dia beli untuk Amayra, dia menyusul istrinya yang terlihat marah padanya itu. Amayra masuk ke dalam rumah, dia melihat Bram dan Alexis sedang duduk berduaan di ruang tengah dan tampan mesra.


Kenapa dengannya? Apa dia menangis? Bram melirik sekilas pada Amayra yang berjalan melewati nya, matanya terlihat merah dan berkaca-kaca.


"Bram, kamu lihat apa sih?" tanya Alexis sambil memegang wajah Bram dengan kedua tangannya, dia mengarahkan wajah Bram padanya. Tapi mata Bram menatap Amayra yang berjalan menuju ke arah kamarnya.


"May! Amayra..kamu kenapa sih?" tanya Satria seraya memanggil manggil nama istrinya. Dia mengekori wanita itu dari belakangan.


Bram berpendapat bahwa Satria dan Amayra sedang bertengkar. Pasangan suami istri itu masuk ke dalam kamar, wajah Amayra masih memerah. Perasaan di dalam hatinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


"Kamu kenapa sih? Tidak biasanya kamu marah seperti ini?" Satria heran karena biasanya Amayra sangat sabar dan tidak pernah marah padanya. "Kamu marah karena apa? Aku benar-benar tidak mengerti.."


"Kak, menurut kakak pernikahan kita ini apa?" tanya Amayra sambil menatap suaminya.


"Kenapa kamu masih bertanya? Bukankah kita sudah tau apa jawabannya tanpa bicara sekalipun?" Satria menatap Amayra yang menangis, dia tak paham apa maksud pertanyaan istrinya.


"Jadi begitu ya." Amayra tersenyum pahit, dia ingin mengatakan perasaan nya tapi pikiran menahannya. Dia takut akan kecewa, dia juga merasa tidak pantas untuk mencintai Satria.


"Kamu kenapa sih Amayra?" tanya Satria sambil memegang tangan istrinya, tangan nya yang satu lagi menyeka air mata di pipi nya.


Amayra menatap suaminya, merasakan sentuhan lembut dari Satria, pria dingin itu memang cuek di luar tapi sebenarnya dia lebih hangat dari sinar mentari. Selama dua bulan itu, Satria selalu membantu Amayra dalam keadaan sulit. Perlahan-lahan hal itu membuat rasa di hati nya tumbuh dan semakin berkembang, tapi dia tidak tahu perasaan Satria padanya.


"Kak, kalau seandainya aku bilang aku suka kakak.. kakak mau bilang apa?" Amayra menatap tajam pada suaminya yang sedang duduk berlutut di depannya.


Deg!


Satria tercengang mendengar pertanyaan Amayra yang tidak terlihat seperti bercanda itu. "Kamu suka aku?" tanya Satria tak percaya.

__ADS_1


"Iya, aku suka kakak." jawab wanita itu mengakui perasaannya pada Satria yang selama ini terpendam padanya.


"Haha, kamu ngomong apa sih? Hubungan kita bukan hubungan yang seperti itu. Kamu tau kan kita akan segera bercerai juga, jadi kamu jangan suka padaku." ucap Satria sambil tertawa sinis, dia menolak perasaan Amayra secara tidak langsung.


Berkali-kali Satria sudah membahas perceraian pada Amayra. Hal itu sangat menyakiti nya.


"Apa itu karena aku tidak pantas? Apa karena aku wanita kotor? Apa aku tidak baik? Apa kakak tidak menyukai ku?" Amayra ingin perasaan Satria jelas padanya. Hingga dia bisa menentukan batasan sampai mana dirinya akan bertahan.


"Menurutmu apa ini masuk akal, jika aku menyukai mu? Bagiku kamu hanyalah anak remaja, kamu sudah seperti keponakan ku sendiri Amayra."


"Keponakan ya? Baiklah.." Amayra tersenyum pahit.


Amayra, apa yang kamu pikirkan? Mana mungkin kak Satria menyukai ku.. kenapa kamu malah mengaku? Ya Allah hati ku sakit sekali..kenapa jatuh cinta rasanya sangat sakit.


"Jika ada perkataan ku yang menyinggung mu, aku minta maaf." Satria meminta maaf setelah dia melukai hati Amayra dengan menolaknya. Amayra diam saja dan tidak menjawab apa-apa dengan mata kosongnya.


Lalu kenapa selama ini Satria sangat baik padanya? Apa hanya karena kasihan saja?


Setelah pengakuan cinta yang gagal, keesokan harinya. Pagi itu Satria bangun sendiri, tanpa ada Amayra yang membangunkan nya. Dia melihat Amayra tidak ada di ranjangnya.


"Tumben sekali dia tidak membangunkan ku, apa karena kejadian kemarin sore?" gumam Satria merasa bersalah. "Yahh.. Satria kamu sangat keterlaluan padanya kemarin, harusnya kalau mau menolak.. jangan berkata seperti itu juga, apalagi soal perceraian. Lebih baik aku minta maaf padanya."


Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah dengan wajah tegang. Termasuk kedua pembantu rumah tangga yang ada disana. "Kamu bilang Amayra kemana?" tanya Cakra tegas.


"Nona bilang kalau dia akan pulang ke rumah ayahnya untuk merawat ayahnya yang sakit." jelas Dewi pada Cakra.


"Kenapa dia tidak bilang padaku?" Cakra bingung.


"Dia sudah bilang sama mama kok pa dan Bram yang mengantarnya ke rumah ayahnya." jelas Nilam pada suaminya. Dia terlihat tidak senang karena Bram yang mengantarkan Amayra.


"Ya sudah bagus deh kalau gitu." jawab Cakra lega mendengar menantunya baik-baik saja.


Baguslah kalau Amayra berangkat sama Bram, mungkin mereka akan semakin dekat. Kasihan juga Satria, pernikahan palsu ini harus diakhiri. Satria harus bahagia, dia anak baik.


"Apa Amayra pulang ke rumah ayahnya?" Satria tidak tahu tentang istrinya yang pergi dari rumah.


"Lho, emangnya dia gak bilang sama kamu?" tanya Nilam terheran-heran.


Dia pergi ke rumah ayahnya bersama kak Bram dan dia tidak mengabari ku? Kenapa?


Satria mengepalkan tangannya dengan kesal, dia terlihat emosi mendengar Amayra diantar oleh Bram ke rumah ayahnya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2