Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 175. Selamat jalan Sholehnya Mama..


__ADS_3

Siapkan tisu, mungkin disini masih bawang 🀧


...🍁🍁🍁...


Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman bayi berusia hampir 6 bulan itu. Satria menggendong anaknya menuju ke liang lahat, dia tak kuasa menahan tangisnya juga.


Dibelakang Satria, ada Bram dan Cakra yang juga mengikutinya. Mereka ingin memakamkan Rey, mengantar anak itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Hiks...hiks...Rey.."


Amayra yang sedari tadi hanya diam saja, Isak tangisnya pecah begitu sampai di liang lahat yang sudah disiapkan untuk anaknya.


"May, sabar ya.. kamu harus ikhlas. Insyaallah Rey pasti berada ditempat indah disisi Allah." Diana mendekap Amayra, seraya menenangkannya. Sebagai ibu kedua dari Rey, hatinya juga merasakan kesedihan yang sama. Kehilangan seorang anak yang belum mengerti apa-apa, anak yang masih suci dan belum tau dosa.


"Aku gak kuat..kak...hiks.." Amayra tak sanggup melihat anaknya di bawa ke dalam sana. Dia memeluk Diana dan menumpahkan semua kesedihannya. Rasa sedih itu dia pendam sejak keluar dari rumah sakit.


"Allah mengambil Rey lebih dulu, karena Allah sayang padanya. Kamu harus yakin itu May dan walaupun udah gak ada didunia ini lagi, dia tetap malaikat kecil yang akan selalu ada didalam hati kita." Diana memeluk Amayra yang menangis terisak didalam pelukannya.


Nilam, Anna dan beberapa teman dekat Amayra juga hadir di pemakaman itu. Mereka turut berduka atas kehilangan Amayra, kehilangan sang ayah kurang lebih 2 bulan yang lalu dan sekarang anaknya meninggal. Sungguh malang nasib Amayra.


"Kita akan memulai prosesi pemakaman," ucap ustadz Arifin yang turut hadir disana.


"Tunggu!" Amayra menghampiri suaminya yang sedang menggendong Rey.


"Ada apa May?" tanya Satria pada istrinya.


"Boleh, aku memeluk dan mencium anak kita sekali lagi?" tanya Amayra dengan air mata yang mengalir deras.


Satria tidak bicara, dia menyerahkan jenazah Rey dengan hati-hati para istrinya. Kini Rey berada di dalam gendongan Amayra. "Rey, Sholehnya Mama...maafin mama ya sayang, mama belum bisa menjadi mama yang baik buat Rey. Mama sering ninggalin kamu pergi kuliah, kadang mama suka marah sama Rey kalau Rey rewel. Rey anak baik, Rey Sholehnya Mama...jagoan mama, doa mama selalu buat Rey. Mama papa sayang Rey, sayang banget nak...Rey doakan mama sama papa dari surga ya?"


Air mata Amayra jatuh membasahi pipi Rey, wanita itu segera mengusapnya. Amayra mencium kening, hidung dan pipi Rey yang sudah tak bernyawa itu dengan penuh kasih sayang.


Rasanya sesak dada ini melepaskan Rey pergi. Ya Allah....


Amayra kembali menyerahkan anaknya pada Satria. Bibir dan tubuhnya gemetar, dia mempersiapkan diri melihat pemakaman itu. Kini Satria dan Bram sudah turun ke liang lahat yang berukuran kecil itu. Beberapa papan sudah disiapkan disana untuk si kecil Rey.


Sebelum menguburkan anaknya, ada rasa tidak tega di hati Satria untuk melepaskannya.


Ya Allah.. kenapa air mata ini terus mengalir. Mengapa aku tidak bisa mengendalikan rasa ini?

__ADS_1


"Sat..." Bram memanggil Satria, mata pria itu juga sembab karena banyak menangis. Bagaimana pun juga dia adalah ayah kandung dari Rey.


"Ya kak, sebentar." Satria menatap Rey, dia mencium kening dan pipi putra tercintanya. Pria itu kemudian berbisik di telinga si kecil, "Rey, jagoannya papa. Sholehnya papa, Rey gak usah cemas sama mama.. Rey jangan sedih. Bahagia disisi Allah ya nak? Jika Allah mentakdirkan kita akan bertemu lagi. Rey doakan mama sama papa agar bisa ikhlas ya? Papa juga pasti akan selalu mendoakan Rey. Rey anak baik...papa sama mama sayang sama Rey. Terimakasih Rey sudah lahir kedunia ini dan menjadi anak mama,"


Kecupan penuh kasih mendarat di kening bayi malang itu. Ikhlas tak ikhlas ini semua sudah jalannya, takdir dari Allah yang tak bisa dihindari. Bahwa hidup Rey hanya sampai disini saja.


Setelah Satria bicara dengan Rey, dia menyerahkan anak itu pada ayah kandungnya yaitu Bram. Saat melihat Rey, perasaan Bram campur aduk. Banyaknya adalah rasa bersalah dihatinya, ketika anak itu masih berada didalam kandungan ibunya.


Dia menolak kehadiran Rey, tidak mengakui anak itu sebagai anaknya. Bahkan dia sering membuat ibunya menangis saat mengandung benihnya itu.


Dengan tangan gemetar, Bram memandang Rey sambil menangis. Dia tak bicara sepatah katapun. Hanya hatinya yang bicara.


Rey, maafkan papa Bram.. papa bukan papa yang baik buat kamu. Papa, sering membuat kamu sedih saat berada didalam kandungan. Papa menyesal karena papa, mungkin terlambat menyayangi Rey. Maafkan papa ya Rey.. papa sayang sama Rey..papa sayang. Terimakasih karena sudah hadir dalam hidup papa.


Prosesi pemakaman Rey berlangsung dengan lancar sampai doa penutup yang di pimpin oleh ustad Arifin. Setelah semua pelayat satu persatu mulai pergi dari sana, hanya tinggal keluarga saja yang berada di makam itu. Rey dimakamkan tepat disamping makam pak Harun.


Amayra, masih berada disana bersama keluarga Calabria yang lainnya. "Tante May, kita pulang yuk. Udah mau magrib," ajak Anna pada istri dari om nya itu.


"Gak Anna, aku masih mau disini. Aku mau temani Rey dulu." Amayra menolak ajakan pulang dari Anna.


Dia memegang nisan yang bertuliskan Reyndra Aqmar Calabria itu dengan mata yang kosong dan wajah yang sedih. Duka masih menyelimuti hatinya.


"Sayang, kita pulang ya. Udah mau magrib," Satria memegang kedua tangan Amayra seraya mengajaknya untuk pulang.


"May, Sat.. papa sama mama pulang duluan ya. Kalian pulang aja ke rumah kami, jangan ke rumah kalian dulu." kata Cakra mengingatkan. Dia tidak mau Amayra bersedih jika wanita itu tinggal di rumahnya.


Amayra tak menjawab, dia tak mendengar apa yang dikatakan ayah mertuanya itu. Matanya hanya memandang nisan dengan pikiran kosong.


"Ya Pa, nanti kami pulang kesana. Papa sama Mama duluan aja." Ucap Satria sambil mengangguk setuju.


Ya, memang lebih baik kalau aku sama Mau tinggal di rumah mama dan papa dulu. Kalau ada di rumah, May pasti akan semakin sedih kalau ingat Rey.


"Apa kalian mau pulang juga Bram, Diana?"tanya Nilam pada anak sulung dan menantunya itu.


Ketika Nilam, Cakra dan Anna hendak pulang dari sana. Tiba-tiba saja Clara datang dengan menggunakan pakaian mewah dan berkelap-kelip. Dia seperti sedang bahagia akan sesuatu, dilihat dari wajahnya yang tersenyum. Tindakan Clara adalah tindakan tidak sopan untuk orang yang datang ke pemakaman.


Nilam, Cakra, Bram, Diana dan Anna menatap wanita itu dengan tajam.


"Woah...bahkan Tuhan saja tidak tidur. Lihat! Belum lama aku berdoa, sudah dikabulkan saja..memang ya karma datangnya cepat dan dibayar tunai." Clara menyeringai, dia menghampiri Satria dan Amayra yang sedang duduk jongkok didepan makam Rey.

__ADS_1


Keduanya langsung beranjak berdiri dan menajamkan pandangan pada Clara. "Mau apa kamu kesini?" tanya Diana sarkas pada mantan dokter itu.


"Aku kesini mau mengucapkan selamat untuk kak Satria dan Amayra... selamat ya karena anak kalian mati, jadi kalian gak bisa bahagia." Clara tersenyum puas karena doanya membuat Amayra dan Satria hancur, dapat terwujud.


Semua orang disana jadi naik pitam dengan kehadiran Clara. Bukannya berbelasungkawa, gadis itu malah memberikan selamat atas kematian seseorang.


"Hey orang gila! Ngapain kamu disini cuma bikin rusuh doang?!" Anna maju ke depan, dia paling suka jika harus disuruh melawan orang julid.


"Lebih baik kamu minggir deh! Gak lihat apa aku bawa bunga buat berbelasungkawa," ucap Clara sambil berjalan dan membawa bunga matahari, lalu dia meletakkan buket bunga matahari itu ke atas tanah kuburan Rey. "Turut berbelasungkawa ya nak. Kasihan kamu harus mati karena kedua orang tua kamu yang jahat ini. Tapi..aku sangat bahagia, jadi aku bawakan bunga matahari untuk kamu."


Kesabaran Amayra dan Satria sudah diambang batas. Amayra menarik baju Clara kemudian mendorong gadis itu hingga jatuh.


"Jaga ya mulut kamu! Bagaimana bisa kamu gak punya hati didepan pemakaman seseorang? Dimana rasa hormat kamu terhadap orang yang sudah tiada? Dimana tatakrama kamu sebagai seorang dokter yang melakukan tugas mulia?!" Amayra berteriak-teriak didepan Clara. Amarahnya memuncak, karena Clara sudah menghina anaknya.


"Sial! Bajuku jadi kotor," Clara berusaha berdiri tegap. Dia melihat bajunya yang berwarna putih itu menjadi kotor karena tanah.


"Clara.. lebih baik kamu pergi dari sini!" Satria mengusir Clara dari sana dengan sinis.


"Santai dong! Aku kesini kan untuk mengucapkan bela sungkawa sama anak kalian, kok malah diusir sih?" Clara tersenyum menyeringai.


"Kamu kesini bukan untuk belasungkawa! Tapi untuk menghina kami!"


"Menghina? Menghina apa sih? Aku hanya bicara fakta, kalau kematian anak tidak berdosa ini adalah karma dari orang tuanya karena sudah jahat pada papaku dan juga aku! Jadi wajar saja kalau-"


Plakkkk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah cantik Clara. "Kamu benar-benar gak waras. Mental kamu sudah rusak ya? Siapa yang jahat disini? Masih saja kamu menyalahkan kami atas apa yang terjadi pada pak Candra. Apa perlu aku jelaskan sekali lagi bagaimana pak Candra bisa masuk ke kantor polisi? Bahwa secara tidak sengaja dia membunuh seseorang, kemudian dia sengaja menyembunyikannya!" Ujar Amayra memudalkan kekesalannya. Dia yang selalu diam, kali ini memberikan tamparan pada Clara.


"Papaku gak sengaja, coba kalian ada di posisi dia. Bagaimana takutnya papaku saat itu karena menutupi kebenaran? Papaku tidak bersalah!"


"Tidak Clara... pak Candra sama sekali tidak merasa bersalah dan dia tidak takut saya menyembunyikannya. Kamu jangan ngarang cerita," ucap Diana ikut bicara.


Perdebatan itu tidak berakhir karena Clara ada disana dan bicara seperti orang gila. Akhirnya Bram dan Diana menyeret gadis itu untuk pergi dari sana. Setelahnya amarah Amayra dan Satria mulai mereda.


"May, kita pulang yuk sayang?" Ajak Satria pada sang istri. Melihat hari sudah sangat gelap.


"Iya Mas.. ayo kita pul..."


"Astagfirullahaladzim.. May!" Satria menangkap tubuh istrinya yang jatuh pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


...----******----...


...Tenang saja Readers,akan ada pelangi setelah hujan.. so bersabar aja ya..☺️☺️...


__ADS_2