
...Didalam sebuah cinta terdapat bahasa...
...Yang mengalun indah mengisi jiwa...
...Merindukan kisah kita berdua...
...Yang tak pernah bisa akan terlupa...
...Bila rindu ini masih milikmu...
...Ku hadirkan sebuah tanya untukmu...
...Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu.....
...Didalam masa indah saat bersamamu...
...Yang tak pernah bisa akan terlupa...
...Pandangan matanya menghancurkan jiwa...
...Dengan segenap cinta aku bertanya...
...Bila rindu ini masih milikmu...
...Kuhadirkan sebuah tanya untukmu...
...Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu.....
...🍁🍁🍁...
Penantian Amayra yang belum berakhir, dia masih harus menghadapi keresahan gundah didalam hatinya. Mendengar berita yang simpang siur tentang suaminya yang berada jauh di negeri orang. Berbeda benua, kota dan negara dengannya.
Ditengah tugas mulia, kini Satria tidak ada kabar jelas. Amayra tidak tahu harus bagaimana, dia takut suaminya akan kenapa-napa disana. Semua keresahan dan pertanyaannya terjawab oleh berita di televisi. Namun jawaban itu malah menimbulkan kegalauan yang lebih banyak pada hati seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang itu.
Tidak tahu bagaimana keadaan suaminya, baik-baik saja atau tidak disana. Amayra bingung dan galau.
"Hiks...hiks..."
Ken mendekat ke arah Amayra dengan cemas,"Lo kenapa.. nangis?"
"May.. apa itu tempat suami kamu jadi sukarelawan?" tanya Lisa berhati-hati.
"I-iya.. kak Satria ada disana..hiks..hiks.." Amayra menangis.
"Tunggu! Suami? Maksudnya apa?" Ken berusaha mencerna pertanyaan Lisa pada Amayra. Apalagi ada kata suami disana.
"Suami Amayra jadi sukarelawan di Afrika, yang barusan di beritakan!" kata Lisa menjawab. Lisa memegang bahu Amayra seraya menenangkannya. "Tenang ya May..suami kamu pasti baik-baik saja.." ucap Lisa pada wanita yang sedang resah itu.
__ADS_1
Sementara itu Ken terdiam mematung, entah apa yang terjadi padanya. Dia terlihat syok seperti habis mendengar berita yang mengejutkan.
Amayra udah nikah? Suaminya juga seorang dokter? Kenapa aku gak tau?
"Haaahh.. " Ken menghela napas dengan kesal. Dia tak percaya bahwa Amayra sudah menikah. "Sial! Aku merasa dibodohi!" gumam Ken dengan marah. Dia pergi dari perpustakaan itu.
Setelah mengetahui berita tentang suaminya, Amayra langsung pulang ke rumah dan bicara dengan keluarga besarnya. Disana juga ada Harun yang menanyakan kabar Satria dan juga untuk menenangkan Amayra yang pasti sedang panik dan resah saat ini.
"Ayah.."
"Nak, kamu tenang ya. Suami kamu pasti baik-baik saja disana.."ucap Harun seraya menenangkan anaknya itu.
Tadinya aku ingin memberitahu Amayra tentang operasi ku, lagi-lagi aku tidak bisa mengatakannya. Mana mungkin aku mengatakannya disaat keadaan Amayra sedang seperti ini. Amayra bisa terbebani, lebih baik aku melakukan operasi tanpa sepengetahuannya saja.
"Bagaimana aku tenang yah? Kak Satria tidak mengirimkan kabar sama sekali, aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya disana...ya Allah.." Amayra terlihat gelisah sambil memeluk putranya.
Bram, Cakra dan Nilam juga tidak tahu harus bagaimana. Komunikasi ke Afrika masih terputus dan belum ada berita apa-apa lagi tentang Satria juga dokter-dokter yang ada disana.
Bram sempat berniat untuk pergi kesana, namun keadaan tetap tidak berpihak pada mereka. Situasi disana, bandara yang ditutup sementara waktu membuat Bram tidak berkutik.
Mereka hanya bisa menunggu info dan kabar dari sana. Sampai komunikasi kembali terhubung dan normal.
"Kita gak bisa berbuat apa-apa saat ini selain menunggu kabar dan berdoa. Jadi, Amayra kamu sabar ya nak.." ucap Harun menenangkan anaknya.
"Benar kata ayah kamu, kalau kamu tidak tenang nanti Rey akan terpengaruh.." ucap Nilam pada menantunya.
Amayra terdiam sambil tersenyum pahit berada dalam keresahan.
Ya Allah.. hamba mohon kepadamu...jangan sampai terjadi apa-apa pada kak Satria disana. Jauhkan kak Satria dari segala marabahaya.
...*****...
Malam itu Ken sedang berada di salah satu tempat tongkrongannya. Dia bertemu dengan teman-teman satu bandnya.
"Woy bro, jadi Lo udah memutuskan untuk membangun kembali band kita?" tanya Nando, seorang drummer.
"Yap, kita mulai aja bulan depan ya!" kata Ken sambil tersenyum pahit.
"Oke bro, Lo udah ngambil keputusan yang tepat!" Seru Arya, seorang gitaris.
"Tapi wajah Lo kenapa? Sakit Lo?" tanya Hans, seorang bassis. Dia melihat wajah muram dan galau Ken.
"Gue gak apa-apa, udah yuk ah! Gue lapar, persen makanan gih! Gue yang traktir!" Seru Ken pada teman-temannya.
Ke empat temannya bersorak bahagia mendapatkan traktiran dari Ken. Sementara itu Ken sendiri sedang berada dalam suasana hati yang tidak jelas karena dia baru tau kalau Amayra sudah menikah.
Pria itu mengisap rokoknya, dia duduk sendirian di dekat balkon. Menjauh dari keramaian, tidak menceritakan isi hatinya pada siapapun juga.
__ADS_1
"Selama kurang lebih sepuluh hari ini, aku sudah merasa dekat denganmu. Aku pikir.. mungkin bisa ada sesuatu diantara kita, tapi.. hahaha.. aku merasa dibodohi. Kenapa juga kamu tidak bilang kalau kamu sudah menikah? Gila Ken! Kamu benar-benar gila, suka sama istri orang...ya siapa juga sih yang bakal ngira kalau dia udah nikah! Secara dia masih muda dan ternyata dia udah nikah...sial banget!" gerutu Ken gusar dengan keadaannya sendiri.
Dia merasa bahwa dia tidak bisa diam saja, dia mematahkan puntung rokok yang tersisa. Ken menuruni tangga menuju ke lantai bawah tempat tongkrongannya itu.
"Woy Ken, Lo mau kemana?" tanya Hans melihat temannya yang pergi terburu-buru.
Ken tidak menjawab, dia langsung pergi dari sana dengan mengendarai motornya.
Aku harus meminta penjelasan Amayra, dia gak bisa seenaknya mempermainkan perasaanku seperti ini.
Beberapa menit kemudian, Ken sampai didepan rumah keluarga Calabria. Pak Cecep, satpam di rumah itu bertanya pada Ken. Siapa Ken dan mau bertemu siapa?
Ken menjawab bahwa dia adalah teman kampus Amayra dan dia datang untuk menanyakan tugas kuliah. Pak Cecep membukakan pintu gerbang rumah mewah dan besar itu.
Ken menatap rumah itu dengan penuh kekesalan. Sebelum bertemu dengan Amayra, pak Cecep memberitahukan pada Amayra dan semua orang rumah kalau ada seorang teman yang ingin bertemu dengan Amayra.
"Siapa yang mau bertemu dengan saya pak?" tanya Amayra yang sedang menggendong Rey.
Disana juga ada Cakra, Nilam dan Bram yang sedang menonton tv dengan santai. "Namanya Kenan," jawab Pak Cecep.
"Ken? Mau apa dia kesini?" tanya Amayra kebingungan.
"Katanya dia mau menanyakan tugas kuliah," jelas Cecep singkat.
"Malam-malam begini?" tanya Amayra bingung.
"Mungkin ini hal mendesak, sini.. biar papa yang gendong Rey.." ucap Cakra sambil menggendong Rey dari gendongan Amayra.
"Pa, titip sebentar ya.." ucap Amayra berpesan pada ayah mertuanya untuk menjaga Rey.
Amayra menemui Ken yang ada didepan rumah. Ken menolak masuk, padahal sebelumnya dia sudah disuruh pak Cecep untuk masuk.
"Assalamualaikum Amayra," Ken tersenyum sinis saat mengucapkan salam itu.
"Waalaikumsalam Ken, kenapa kamu gak masuk?" tanya Amayra.
"Oh.. gimana gue bisa masuk ke rumah cewek yang udah nipu gue," ucap Ken dengan hati yang perih saat mengatakannya.
"Apa maksudnya?" tanya Amayra tak mengerti.
"Beraninya Lo mempermainkan perasaan gue, dasar penipu!" Seru Ken emosi, dia menatap marah pada Amayra.
Penipu? Mempermainkan perasaan?
Amayra menatap Ken dengan bingung, keningnya berkerut. Dia benar-benar tak paham dengan apa yang dibicarakan Ken. Mengapa pria itu terlihat marah padanya?
...-----****-----...
__ADS_1