Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 185. Orang gila


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ting Tong!


🎢🎢🎢


Bel rumah itu berbunyi, Satria meninggalkan istrinya yang sedang tertidur di dalam kamarnya. Kemudian Satria pergi ke pintu depan rumahnya, dia membuka pintu itu dan melihat siapa yang datang. Dua orang petugas keamanan berada didepan pintu.


"Assalamualaikum, selamat malam dokter Satria." sapa Pak Dimas selaku kepala keamanan di komplek itu.


"Waalaikumsalam pak Dimas," jawab Satria dengan wajah dinginnya seperti biasa. "Maaf bapak-bapak, mungkin saya terkesan kurang sopan...tapi sekarang saya tidak bisa mempersilakan bapak-bapak masuk ke dalam rumah karena saya tidak mau istri saya mendengar percakapan kita." ungkap Satria pada kedua petugas keamanan itu dengan sopan.


"Tidak apa-apa dokter Satria, kita bicara saja di luar." Kata pak Dimas tidak keberatan.


Satria, Dimas dan seorang petugas keamanan yang lainnya, duduk di kursi teras depan rumah itu. Kawasan perumahan itu memang tergolong sepi, rumah yang ditinggalinya bersama sang istri juga berada di paling ujung. Dia sengaja memilih rumah dengan kawasan sepi, agar bisa tenang bersama istri dan anaknya.


Ternyata keputusannya salah besar, dia tidak tahu bahwa akan ada teror di rumahnya seperti ini dari orang gila.


"Jadi, apa yang ingin dokter Satria katakan pada kami?" tanya Dimas pada Satria.


"Pak...saya ingin melihat rekaman CCTV di kompleks ini. Saya ingin tau siapa yang keluar masuk ke dalam rumah saya. Bapak harus mengizinkan saya," jelas Satria memaksa.


Pria disebelah Dimas, tercekat ketika mendengar Satria meminta izin rekaman CCTV.


"Tentu saja kami akan mengizinkan, tapi sebenarnya ada apakah gerangan pak? Sehingga bapak ingin melihat rekaman CCTV?" tanya Dimas dengan tatapan bingung pada Satria.


"Hari ini di rumah saya ada penyusup. Tadi pagi ada minyak yang tiba-tiba ada di lantai rumah saya dan membuat istri saya hampir jatuh, kemudian belum lama ada kotak misterius di dapur rumah saya. Di dalam kotak itu ada kucing mati dan juga ada surat ancaman."


Dimas tercengang mendengar penuturan Satria tentang teror di rumahnya, "Astagfirullah! Apa itu benar, pak?"


"Saya akan tunjukkan buktinya," ucap Satria dengan wajah serius.


Satria masuk ke dalam rumahnya, kemudian dia membawa bangkai kucing didalam kotak itu dan menunjukkannya pada Dimas dan Pak Iman, petugas kemanan di kompleks itu.


"Astagfirullahaladzim..." Dimas dan Iman terkejut melihat bangkai kucing berlumuran darah itu dan juga surat ancaman yang mengatakan bahwa Amayra dan bayinya harus mati.


"Saya tau keamanan di kompleks ini kurang bagus karena selama ini saya tidak pernah mendengar ada kejadian teror atau kejahatan di dalam kompleks ini. Itulah sebabnya saya memilih komplek ini sebagai tempat tinggal. Tapi....saya tidak bisa mentolerir kalau terjadi sesuatu pada istri dan anak saya yang belum lahir."

__ADS_1


Besok aku harus menyuruh orang untuk memasang CCTV di rumah. Aku tidak mau Amayra dan anak kami sampai kenapa-napa. Aku tidak mau kehilangan anakku lagi.


"Maafkan kami pak, kami pihak keamanan disini akan meningkatkan keamanan di rumah bapak. Tentang CCTV, tentu saja bapak bisa melihatnya." jelas Dimas pada Satria merasa bersalah.


Iman terdiam, dia terlihat resah.


Bagaimana ini? Jika dokter Satria melihat rekaman CCTV nya sekarang. Semuanya pasti akan ketahuan...aku belum menghapusnya.


"Baik pak saya mohon bantuannya. Apa saya bisa melihat rekaman CCTV nya sekarang?" tanya Satria pada Iman dan Dimas.


Semoga aja May gak bangun dulu. Gak apa-apa kali ya aku ninggalin dia sendirian bentar. Soalnya aku harus melihat rekaman CCTV itu


sekarang juga. Hatiku gak tenang sama orang gila ini.


"Tentu saja pak Satria," jawab Dimas ramah.


Satria mengunci semua jendela dan pintu rumahnya dari luar, dia dan kedua petugas keamanan pergi ke tempat pos keamanan untuk mengecek CCTV. Jaraknya tidak jauh dari sana, mereka berjalan kaki ke pos keamanan itu.


Ketika Amayra sendirian dan masih tertidur di rumah, seseorang dengan mudahnya masuk ke dalam rumah itu lewat pintu belakang. Entah dia mendapatkan kunci dari mana.


"Dasar! Gelarnya saja dokter lulusan luar negri, tapi otaknya bodoh." celetuk Clara sambil tersenyum menyeringai. Dia masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap.


Amayra yang tadinya tertidur pulas, menyadari bahwa rumahnya gelap dan dia terbangun. Tangannya meraba-raba ke samping ranjangnya. Tidak ada siapapun disampingnya. "Mas.. mas kamu dimana? Mas Satria?"


Di dalam kegelapan dan kesunyian malam, Amayra mencari-cari suaminya. Dia mencoba mencari lampu atau ponselnya yang bisa menerangi sementara. Amayra hanya bisa menemukan ponselnya. Dia menyalakan ponselnya itu.


"Alhamdulillah... ponselnya masih nyala." Amayra menyalakan lampu di ponselnya. Dia berjalan keluar dari kamar.


"Mas.. Mas kamu dimana? Mas Satria kemana ya, malam-malam begini?" Amayra melihat ke depan rumah lainnya, lampu disana menyala tidak mati seperti dirumahnya.


"Loh.. tidak mati kok, tapi kena-"


Tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya dan memegang tubuhnya dengan kuat. "Akhp!!!"


Amayra terkesiap sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai. Orang itu menyeret Amayra bahkan mendorongnya dengan keras ke arah meja. Hingga perutnya yang masih datar terantuk ujung meja.


"Aaahhhhh.. sakit...." Amayra jatuh terduduk sambil memegang perutnya. "Mas Satria!" Teriak Amayra memanggil suaminya dalam kegelapan.

__ADS_1


Ya Allah sebenarnya siapa yang sudah melakukan ini. Siapa?!


Yang muncul bukanlah suaminya, melainkan orang lain. Amayra hanya bisa melihat siluetnya. "Kamu dan anakmu harus mati!" ucap Clara dengan suara yang disamarkan seperti pria.


"Kamu siapa? Kenapa kamu menggangguku?" tanya Amayra sambil berusaha bangkit dari lantai. Tangannya memegang perut yang terasa perih.


Mas, kamu dimana?


Clara mendekati Amayra dan menyeret wanita hamil itu dengan kasar. Amayra melawannya, dia menendang bahkan mencakar tangan yang menyeret tubuhnya itu.


"Tolong! Tolong!!!!" Teriak Amayra meminta pertolongan.


Clara menyeret Amayra, "Sini kamu wanita j*l*ng! Beraninya kamu memukulku!"


"Lepas...lepaskan aku!!" Amayra mendorong Clara dengan kekuatannya. Kemudian dia berlari ke arah pintu, buru-buru dia membuka pintunya dengan kunci yang terpasang disana.


Ketika Amayra sedang berusaha kabur dari Clara, Satria baru saja kembali setelah melihat kamera CCTV di pos keamanan. Dia yakin setelah melihat CCTV itu bahwa pelakunya adalah seorang wanita.


Satria menyimpan rekaman CCTV itu, dia akan melaporkannya ke kantor polisi sebagai barang bukti. Ketika Satria dan Dimas berjalan kembali menuju ke rumah Satria. Mereka mendengar teriakan dari dalam rumah itu.


"Tolong!! Tolong!! Mas..!!"


"May!"


Satria dan Dimas berlari, mereka mendobrak pintu rumah karena buru-buru. "Mas...mas tolong.."


Satria melihat istrinya jatuh terduduk di lantai, sambil memegang perutnya. Dia merintih kesakitan. "Orang itu... dia sudah pergi.. baru saja."


Dimas berlari untuk mengejar si pelaku teror itu. Sementara Satria menggendong istrinya. "May, sayang? Maafkan aku.. maaf.. meninggalkan kamu sendiri,"


"Jangan minta maaf dulu.. anak kita.. anak kita Mas, aku sepertinya pendarahan..." Amayra memegang tangan suaminya dan mencengkeramnya dengan kuat. "Sakit.. sakit...sekali Mas...sa..kit..."


Satria tercengang, tanpa bicara dia membawa istrinya masuk ke dalam mobil dengan buru-buru. Sudah jelas arah tujuan mereka kemana, pastinya rumah sakit.


...-----*****-----...


Hai Readers, author mau up lagi. Jangan lupa komen, like dan giftnya ya😍😍 Jangan khawatir, badai akan segera berlalu..

__ADS_1


Sekedar mengingatkan kembali, author akan menambah 1 pemenang untuk komentar terbaik..ayo dukung karya author ya 😍 jangan lupa komen, siapa tau kamulah pemenangnya πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ₯°


__ADS_2