
...🍀🍀🍀...
Presdir Calabria grup itu mendekap bahu Rey, dia tersenyum lalu bertanya pada Rey, mengapa anak itu berpikir kalau Bram dan Diana akan membuangnya? Darimana dia punya pikiran seperti itu.
"Karena papa dan mama sudah punya anak kandung, jadi Rey pikir...mama dan papa akan membuang Rey." Jelas anak laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.
Bram tercengang."Astagfirullah nak, kenapa kamu berpikir begitu? Kamu juga anak kami, kamu adalah putra keluarga ini! Keluarga Calabria, tidak ada orang tua yang membuang anaknya Rey. Kamu anak papa dan mama...atau apa selama ini Rey tidak pernah menganggap papa dan mama sebagai orang tua kamu?"
"Enggak pa! Papa dan mama adalah orang tua Rey, setelah ibu dan adik Rey meninggal dunia...papa dan mama adalah orang tua Rey." Rey menatap Bram dengan mata polosnya yang berkaca-kaca.
"Benar, papa dan mama adalah orang tua Rey dan selamanya akan tetap seperti itu nak."
Suara seorang wanita yang terdengar dari arah belakang, sontak saja membuat Rey dan Bram kompak melihat siapa wanita itu. Diana lah orangnya, dia sedang berdiri di depan pintu halaman belakang rumah.
"Mama?"
"Sayang?"
Diana ikut duduk dan menyela di tengah-tengah mereka. "Ternyata dua jagoanku ada disini," ucap Diana sambil tersenyum, dia mengelus kepala Rey.
Rey menunjukkan kepalanya. "Iya sayang, aku lagi bicara sama Rey." Bram menjawabnya.
"Iya, mama udah dengar kok semuanya...kalau Rey takut mama dan papa buang Rey. Nak, benar apa kata papamu--tidak akan ada orang tua yang membuang anaknya," tatap Diana pada putranya.
"Ma...tapi aku kan bukan---"
Diana menghentikan apa yang akan diucapkan oleh Rey "Jangan pernah bilang kalau kamu bukan anak dari keluarga ini, kamu adalah anak papa dan mama meski kamu bukan terlahir dari rahim mama. Namun kamu memiliki ikatan lebih dari itu dengan mama dan papa. Rey sayang, kamu jangan takut nak...papa dan mama tidak akan melupakan kamu apalagi sampai membuang kamu. Kasih sayang kami sama kamu terlalu besar untuk itu, untuk calon adik kamu juga sama. Jadi, jangan pernah berpikir seperti itu lagi Rey. Kamu anak pertama mama dan papa, kami sayang kamu..."
Perkataan Diana membuat Rey menangis karena terharu, memang benar selama ini Diana dan Bram selalu mencurahkan kasih sayang mereka pada Rey dengan ketulusan. Tidak pernah membedakan walau dirinya tidak memiliki ikatan darah, namun bagi Diana dan Bram Rey sudah lebih dari keluarga yang sangat disayangi.
"Udah jangan nangis ya, jangan takut nak." Diana menepuk-nepuk lembut punggung Rey.
"Mama kamu benar, kasih sayang papa dan mama akan tetap sama...pada kamu dan calon adik kamu nanti. Jadi, kamu harus sayang ya pada adikmu?" Bram menatap Rey, dia juga menyeka air mata Rey.
"Iya pa, Rey pasti sayang kok sama adik bayi...Rey akan mengasuh adik bayi," Rey mulai tersenyum.
__ADS_1
Aku janji akan menjaga adik adik dengan baik! Aku akan jadi kakak yang baik buat semua adik-adik.
Dia sudah mulai tenang dan tidak takut lagi, akhirnya Bram dan Diana juga merasa lega karena rasa takut Rey mulai menghilang. Mereka pun membawa Rey masuk ke dalam rumah bersama-sama setelah mereka berjanji untuk saling menyayangi.
****
Acara syukuran pun akan segera dimulai saat ustad Iqbal dan putranya Rayhan datang ke rumah Calabria. "Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab keluarga Calabria dan semua orang yang sudah berkumpul di ruang tengah.
Cakra, Satria, Bima dan Bram menyambut ustad Iqbal terlebih dahulu dengan sopan dan ramah. Sementara para wanita sedang kesana kemari untuk menyiapkan makanan kecil di dapur.
"Alhamdulillah ustad Iqbal sudah datang, kami sudah menunggu ustad dari tadi." Kata Cakra sambil tersenyum.
"Maaf pak Cakra, saya agak terlambat karena mamanya Rayhan kurang sehat." Iqbal tersenyum seraya menjelaskan kepada Cakra dan yang lainnya mengapa dia terlambat datang.
"Tidak apa-apa ustad, semoga Bu Fatimah cepat sembuh," ucap Satria sambil tersenyum.
"Oh ya? Mana Rayhan nya? Saya penasaran sudah sebesar apa dia? Hehe.." Tanya Bram yang tidak melihat ada siapapun disamping Iqbal.
"Tadi dia disini? Loh kemana dia ya?" Tanya Iqbal sambil mencari-cari keberadaan putranya di sekitar sana.
"Baiklah pak Cakra." Iqbal tersenyum ramah.
Dia pun duduk terlebih dahulu untuk rehat sejenak sebelum memulai acara syukuran kehamilan Diana.
****
Disisi lain rumah itu, Zayn dan Zahwa sedang adu suten untuk menentukan siapa yang akan penjaga dan siapa yang akan sembunyi.
"Satu dua...tiga..."
Zayn dan Zahwa mengayunkan tangan mereka selama beberapa kali. Hasil pertama adalah sama-sama batu, hasil kedua Zahwa gunting dan Zayn kertas, hasil ketiga Zahwa batu dan Zayn gunting.
"Hahaha...aku yang menang, aku lagi yang menang!"
__ADS_1
Zayn mengerucutkan bibirnya dengan sebal karena dia kalah dari adiknya. "Huh! Jangan sombong Zahwa, nanti aku bisa menang kok dari kamu."
Kenapa sih selalu Zahwa yang menang.
"Oh ya? Yakin? Tapi aku selalu menang tuh tiap kali kita suten!" Zahwa percaya diri dan membanggakan dirinya yang memang selalu menang dari kakaknya.
"Kamu cuma beruntung saja! Lain kali aku yang akan menang," Zayn tidak kehilangan percaya diri walau sudah kalah beberapa kali dari Zahwa.
"Oke, aku tunggu kemenangan kakak! Ayo kak, aku akan sembunyi dan kakak jaga ya!" Seru Zahwa bersemangat untuk bermain dengan kakaknya.
"Ya...ya, kamu sembunyinya jangan jauh-jauh." Zayn menatap adiknya dengan kening berkerut.
"Siap!"
Zayn bersandar ditembok, dia menutup mata lalu mulai menghitung. "Satu....dua...tiga...empat..."
Zahwa buru-buru mencari tempat sembunyi, dia masih berpikir akan mencari dimana dia akan bersembunyi supaya Zayn tidak bisa menemukannya dengan cepat. Zahwa tiba di halaman belakang, dia pun melihat pohon jambu yang ada disana. "Hahah...aku sembunyi disini saja, pasti tidak akan terpikirkan oleh kak Zayn kalau aku sembunyi disini."
Anak perempuan berusia 6 tahun itu menyingkapkan rok yang dipakainya, lalu dia mengikatnya. "Siap..." Zahwa menatap pohon jambu yang akan di naikinya itu.
Zahwa pun naik ke atas pohon dengan cepat, gerakannya begitu bebas dan dia tampak berenergi. Zahwa sampai di atas pohon dan dia duduk di salah satu ranting yang dia pikir cukup kuat untuk menopangnya di pohon itu.
"Haha, kak Zayn pasti tidak akan menemukanku disini!" Zahwa cekikikan sendiri.
Beberapa menit kemudian, Zahwa mulai bosan berada disana karena Zayn masih belum menemukannya. Padahal Zayn sudah dipanggil oleh mamanya untuk segera pergi mengikuti syukuran dan dia melupakan permainan petak umpet nya dengan Zahwa.
"Kak Zayn mana sih? Kok dia gak muncul muncul?" Gerutu Zahwa sebal. Saat Zahwa sedang melihat-lihat ke sekitarnya, dia melihat seorang anak laki-laki yang tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya sedang berada disekitar taman belakang. Anak lelaki itu memiliki paras yang tampan, kulitnya mungkin bis disebut hitam manis kalau menurut orang Sunda.
"Siapa anak itu ya?"
Anak laki-laki itu melirik ke arah Zahwa yang berada di atas pohon. "Ha--ha--HANTU!!" tekan anak laki-laki itu yang membuat Zahwa kaget.
"Hantu? Mana hantu... kyaaaaakkk!!!" Zahwa yang panik mendengar teriakan dari anak laki-laki yang berada di bawah pohon itu.
Zahwa terjatuh dari pohon seperti terbang, anak laki-laki itu terbelalak melihatnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Zahwa membuka matanya. "Loh? Kenapa gak sakit ya?" Zahwa bingung, dia tidak merasakan sakit sama sekali. Dia pun merasakan ada sesuatu di bawah tubuhnya, "AHH!! Ada orang mati!"
...****...