
...πππ...
Disepanjang perjalanan, Amayra merasa resah tak jelas. Pinggangnya terasa panas dan dia selalu ingin pergi ke kamar mandi, namun dia menahannya karena hari ini adalah hari besar untuk Anna dan Ken. Dia tak mau terlambat, hanya karena pergi ke kamar kecil.
"May, kamu kenapa sayang?" Satria menyadari ada yang aneh dengan istrinya yang sedari tadi diam terus.
"Ah...aku gak apa-apa mas." jawab wanita hamil itu gelagapan.
"Sayang...kamu keringetan loh? Kamu beneran gak apa-apa?" Satria meletakkan tangannya di kening Amayra.
Tidak panas, juga tidak dingin.
"Aku beneran gak apa-apa mas, aku cuma gugup." jawab Amayra sambil menahan sesuatu yang akan keluar dari tubuhnya itu.
"Haha...kamu gugup kayak kamu aja yang mau nikah?" Bima tertawa mendengar ucapan Amayra.
Amayra berkata. "Iya aku gugup karena Anna akan menikah."
"Kamu benaran gak sakit? Ada yang sakit gak?" tanya Satria cemas sambil menelisik ke tubuh istrinya.
"Enggak mas, aku cuma deg degan karena Anna dan Ken mau nikah! Aku gak percaya kalau hari ini keluarga kita mau menikah hehe. " Amayra beralasan bahwa dia gugup karena akan melihat pernikahan Ken dan Anna. Padahal dia merasakan ada yang aneh ditubuhnya.
Masa sih aku mau lahiran? Kan masih satu bulan lagi. Pikir Amayra dalam hatinya.
Pasangan suami-istri dan juga Bima, sampai ke depan gedung hotel mewah tempat akad nikah akan dilangsungkan. Amayra yang tidak sabar, segera pergi ke ruangan tempat Anna menunggu.
Di ruangan itu sudah ada Diana, Nilam, Lisa dan sebagian teman kampus wanita yang lainnya. Mereka datang memberi selamat pada Anna.
Gadis cantik dan manis itu, kini tengah duduk dengan gaun putihnya yang indah. Rambutnya disanggul dengan bermahkotakan permata. Wajah Anna terlihat bercahaya, dia terlihat sangat cantik.
"Anna kamu cantik banget sih," ucap Diana memuji keponakannya itu.
"Hehe biasa aja kok Tante."
"Iya Anna, kamu cantik banget..." ucap Amayra yang juga memuji kecantikan Anna, dia tersenyum.
"Makasih semuanya." Anna tersenyum lebar, terpancar kebahagiaan di wajah cantiknya.
Tentu saja, karena hari ini adalah hari pernikahannya. Ketika pengantin wanita masih didatangi para tamu perempuan, pengantin pria masih berada didalam perjalanan dan terjebak kemacetan.
"Aduh pak, ini berapa lama lagi?" kata Ken pada supirnya itu, dia tidak sabar ingin segera sampai ke tempa pernikahannya. Daritadi dia terus melihat jam tangannya.
"Iya nih, bisa-bisa waktu baiknya terlewat. Pak, gimana kalau jalannya motong aja deh?" Kata Pak Dimas mengusulkan pada supirnya untuk mengambil jalan pintas.
"Maafkan saya pak Dimas, tapi kita sudah terjebak kemacetan."
"Kenapa sih harus macet? Opa, gimana dong?" Ken bingung harus bagaimana, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Akad nikah sudah direncanakan akan di langsungkan jam 9.15.
__ADS_1
"Masih ada waktu 15 menit lagi kan? Kamu tenanglah Ken!" kata Keisha seraya menenangkan adiknya yang sudah memakai setelan jas berwarna putih itu.
"Iya memang masih ada waktu lima belas menit tapi perjalanan kita masih lama ke tempat pernikahan!" Dimas ikut panik karena waktu terus berjalan, sedangkan mobil yang mereka kendarai belum beranjak dari sana dan terjebak kemacetan.
"Ini pasti macet karena ini hari kemerdekaan, siapa suruh mempercepat tanggal pernikahan jadi tanggal 17 Agustus!" keluh Keisha.
Saat Ken sedang gelisah dan berpikir, ponselnya bergetar didalam saku. Dia melihat panggilan masuk disana. "Ken, disaat seperti ini kamu masih bisa main hp? Tidak kamu matikan hpnya?" omel Dimas pada cucunya.
"Hans?" gumam Ken yang fokus pada ponselnya.
Ken langsung mengangkat telponnya itu. "Halo bro! Sorry gue lagi di jalan, gue telat bangun...kayaknya gue telat ke nikahan Lo, belum didepan jalanan macet banget dah."
"Lo dimana Hans?"
"Ini dipertigaan jalan Kemuning, kenapa?" jawab Hans sekaligus bertanya.
"Lo naik motor sendiri, kan?"
"Hooh, gue sendiri." jawab Hans yang sibuk menyetir motornya.
"Tunggu dipertigaan!"
"Hah? Mau ngapain?" Hans mengerutkan keningnya dengan bingung. Kenapa calon pengantin mau nebeng dengannya?
"Gue nebeng!"
"Gak usah banyak omong, gue nebeng deh! Pernikahan gue tergantung gimana cara Lo bawa motor!" kata Ken sambil tersenyum.
Ken langsung menutup telponnya, dia bersiap turun dari mobil. "Ken, kamu serius mau pergi sama Hans?"
"Kakakku tersayang, dihari besar ini aku gak boleh terlambat! Nanti Anna ngamuk, kak..." Ken tersenyum, kemudian mencium punggung tangannya seraya berpamitan.
"Ya udah hati-hati kamu ya, kita langsung ketemu disana! Jangan dulu mulai akad nikahnya sebelum opa sama kakakmu datang." Ucap Dimas mengingatkan.
Ken mengangguk sambil tersenyum, dia keluar dari mobil dengan terburu-buru. Dimas dan Keisha memberinya semangat.
Ken berlari sampai ke pertigaan jalan, dia melihat Hans dan motornya berhenti dipinggir jalan. "Hey Ken! gue kira Lo udah ditempat pernikahan."
"Lo lihat sendiri jalanan macet!"
"Jalanan macet, apa Lo telat bangun?" tanya Hans seraya menggoda sahabatnya yang akan menikah itu.
"Jangan banyak bacot Lo! Cepetan gue telat!" Ken menepuk bahu Hans, setelah dia naik ke motor.
"Tapi gue gak bawa dua helm, kalau ditilang gimana?" tanya Hans bingung karena dia hanya bawa 1 helm, itupun sudah dipakainya.
"Gue yang tanggungjawab! Cepet!" Seru Ken terburu-buru.
__ADS_1
Mending ditilang daripada di omelin Anna.
Hans ajukan motornya dan dengan cepat berboncengan dengan Ken. Benar saja, ada motor polisi yang mengejar mereka. "Berhenti! Mas! Anda telah melanggar hukum lalu lintas berkendara!" ujar seorang polisi dengan suara yang keras.
"Pak, tilangnya nanti aja ya! Saya buru-buru, maaf pak!" Ken mengatupkan kedua tangannya, seraya memohon pada pak polisi untuk menilangnya nanti saja.
Pak polisi itu masih mengejar Ken dan Hans dengan motornya. Akhirnya malah terjadi kejar-kejaran antara Hans, Ken dan polisi itu.
π
π
π
Di hotel...
Anna dan rombongan pengantin wanita, masih menunggu kehadiran Ken. Pak penghulu sudah hadir disana, tapi pengantin prianya belum datang juga. Anna terlihat cemberut, dia kesal karena Ken datang terlambat dari waktu yang ditentukan.
"Jadi nikah gak sih dia ini?" gerutu Anna kesal.
"Anna, jangan cemberut sayang...nanti cantiknya ilang. Ayo senyum aja, senyum ya sayang." Nilam berkata pada cucunya untuk tersenyum di hari baiknya ini.
"Kamu tenang ya, Ken pasti datang kok." Kata Diana sambil menepuk bahu Anna.
"Hem iya deh." Anna menundukkan kepalanya, menahan kesal karena Ken belum datang. Waktu tinggal 5 menit lagi.
Kalau dia datang, awas saja!.
Tak lama kemudian, Ken datang dengan nafas terengah-engah. Dia tidak sendiri, tapi bersama Hans dan polisi lalu lintas yang mengejar mereka. "Anna, maaf aku telat... haahhhh..."
Semua tamu yang hadir menatap ke arah Ken, pengantin pria itu terlihat berkeringat. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Ken dan Hans.
"Kalian berdua ikut saya, ke kantor polisi...kalian sudah melanggar rambu-rambu lalu lintas dan peraturan dalam berkendara!" polisi itu memegang tangan Ken dan Hans.
Anna terperanjat mendengar ucapan polisi itu pada Ken.
"Oke pak, oke...saya akan ikut bapak. Tapi saya nikah dulu ya pak? Pengantin wanita saya sudah menunggu disana, apa bapak tega memisahkan pasangan yang akan melakukan ibadah ini?" bujuk Ken pada polisi itu.
Pak polisi tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun terdiam dan malah menjadi salah satu saksi pernikahan Ken dan Anna. Semua orang menahan tawa melihat apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Keisha dan Dimas juga datang kesana.
Kemudian Ken dan Anna melangsungkan prosesi ijab kabul. Mereka telah sah menjadi suami istri. Semua orang pun memberi selamat atas pernikahan mereka.
Disisi lain, Amayra sedang berada sendirian di kamar mandi. Dia memegang perutnya yang mengencang. "Huhhhh.... aaahhhh... ya Allah aku gak kuat jalan. Aku harus telpon mas Satria."
...*****...
Hai Readers... author lagi coba buat novel horor nih, mampir yuk π₯Ίπ₯Ί masih sepi
__ADS_1