
...🍀🍀🍀...
Mantan pacar? Apa aku tidak salah dengar? Kak Satria mengatakan itu kan?
Satria masih menatap istrinya dengan tajam, menunggu jawaban dari Amayra tentang mantan pacar yang tidak pernah dia punya. Amayra bertanya balik, apa maksud pertanyaan suaminya tentang mantan pacar itu dan kenapa dia terlihat marah?
"Kak, aku tidak tau kamu dengar dari mana tentang mantan pacar itu...tapi kakak tau kan aku sudah mengatakan segalanya sama kakak. Aku tidak pernah pacaran, itu artinya aku tidak punya mantan pacar. Aku sudah bilang lho sama kakak," jelasnya dengan suara tenang dan lembut seperti biasanya tanpa tekanan emosi.
"Iya kamu memang pernah bilang, tapi melihat kamu sekarang.. rasanya aku jadi tidak percaya omongan itu," Satria mendengus kesal, tiba-tiba dia jadi teringat surat dari Iqbal untuk Amayra yang bahkan belum selesai dibacanya.
"Kenapa tidak percaya padaku?"
"Karena mantan pacar kamu ada disini," jawab Satria dingin.
"Siapa?" Amayra bertanya dengan memasang tampang polos, dia belum paham apa yang suaminya bicarakan dan siapa mantan pacar yang di maksud.
"Tuh kan kamu pura-pura gak tau lagi! Kalau kamu gak mau ngomong, ya udah.." Satria malah tambah marah ketika dia bertanya pada Amayra, bukan menenangkan hatinya.
Amayra mulai kesal dengan sikap Satria yang tidak jelas untuknya ini, "Aku benar-benar gak tau apa yang kakak bicarakan, aku kan udah bilang kalau aku gak punya pacar!"
"Kamu mulai berani membentak suami kamu karena pria itu?" Satria melirik tajam pada Amayra.
"Aku bahkan tidak tahu siapa yang kakak bicarakan, pria siapa? Dan aku tidak membentak kakak.." Amayra mengernyitkan dahi, dia bingung harus bicara apa dan bagaimana agar suaminya tidak marah. "Oke oke.. katakan saja siapa pria yang kakak maksud itu? Kakak bilang dia ada disini kan? Jadi siapa?" tanya wanita itu tak mau berbelit-belit.
"Kenapa? Apa kamu mau memperkenalkanku padanya? Tidak perlu, aku dan dia sudah berkenalan," Satria malah bertambah emosi, kedua tangannya menyilang di dada.
"Astagfirullah...kak Satria," Amayra tersenyum tipis, dia mengelus dada. Bicara dengan suaminya malah berakhir berdebat.
Ya, ini semua karena Satria tidak mau to the poin berterus terang siapa mantan pacar Amayra yang dia maksud itu. Masih memakai metode kode yang harus Amayra pecahkan sendiri. Hal itu membuat Amayra bingung dan gagal paham dengan sikap suaminya. Satria mendadak menjadi kekanakan, marah tanpa sebab yang jelas.
".... " Satria diam saja.
"Ya sudah, kalau kakak tidak mau bicara. Aku mau keluar dulu ketemu ayah sama Rey," Amayra menghela napas melihat suaminya yang masih dengan wajah kesal itu. Walaupun dia tidak mau meninggalkan suaminya yang sedang kesal, tapi dia harus pergi keluar untuk bertemu ayahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Amayra berjalan keluar dari kamar itu dengan kesal dan masalah tidak selesai disana karena Satria masih kesal. "Huh, dia tidak mengatakan soal surat dan pria itu? Dia tidak jujur padaku tentangnya, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menyembunyikan apapun," gerutu Satria sambil duduk diatas ranjang itu dengan geram.
"Eh tunggu.. kalau dia keluar dan bertemu dengan... tidak!" Satria beranjak dari ranjangnya, dengan buru-buru menyusul Amayra.
Aku tidak boleh membiarkan mereka berdua mengobrol. Tidak boleh!
...*****...
Amayra sedang mencari keberadaan Anna dan Rey lebih dulu, kemudian dia mendengar suara Rey yang menangis. Amayra pergi ke arah suara itu, tepatnya di halaman belakang. Dia melihat dari kejauhan ada Anna, Fania dan Iqbal beserta Rey anaknya ada disana.
Iqbal sedang menggendong Rey sambil tersenyum pada bayi itu. "Kenapa kamu menangis? Kamu gak suka sama om ya?" tanya Iqbal pada Rey dengan dahi mengernyit.
"Uwee..uwee.." Rey merengek.
"Bukan begitu kak, kakak hanya tidak benar saja menggendongnya. Jadi Rey tidak nyaman deh, Rey suka begitu kalau digendongnya tidak nyaman," jelas Anna meredakan kekhawatiran Iqbal.
"Lalu aku harus bagaimana An?" tanya Iqbal dengan wajah bingung, melihat ke arah Anna. Bagaimana cara menggendong bayi yang nyaman.
"Sini biar aku ajarkan kak," ucap Anna dengan senang hati.
"Kak Iqbal masih terlalu muda untuk berkeluarga," ucap Anna menimpali.
"Haah, terserah kalian saja lah." Iqbal hanya tersenyum sambil menghela napas setelah mendengar ucapan Anna dan Fania.
Anna mengajarkan Iqbal bagaimana cara menggendong bayi, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. "Gini caranya kak, terus begini.."
Wajah Iqbal memerah, melihat tangan Anna memegang telapak tangannya yang kekar. Anna menatap Iqbal yang diam saja, "Ah! Kakak, maaf aku gak sengaja!" Anna langsung melepaskan tangannya dari Iqbal dengan panik
Ya Allah, aku memegang tangan kak Iqbal. Kak Iqbal pasti marah deh.
"Ehem, gak apa-apa. Jadi gini ya caranya?" Iqbal langsung paham setelah mendapatkan pengarahan dari Anna. Dia menggendong Rey dengan baik, hingga Rey merasa aman didalam gendongannya.
"Wah iya langsung diam," ucap Fania kagum melihat Rey berhenti menangis.
__ADS_1
Iqbal menatap anak dari wanita yang dia cintai dengan wajah ramah dan hangat. "Semoga kamu menjadi anak yang berbakti pada orang tuamu, sholeh ya nak.." Iqbal mengecup kening bayi mungil itu. "Bismillahirrahmanirrahim.." Iqbal menarik napas. Kemudian dia membacakan doa untuk Baby R.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا أَوْلَادًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَاءَ فِى الدِّيْنِ مُبَارَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih sholihah, orang-orang yang hafal Al-Qur'an dan sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka di dunia dan di akhirat"
Doa yang Iqbal bacakan untuk anak itu adalah doa agar Rey menjadi anak sholeh.
Baby R menyungging sedikit senyuman dibibir mungilnya. Matanya yang berwarna coklat menatap Iqbal dengan berbinar-binar. Seolah dia merespon semua doa-doa tulus Iqbal padanya.
Fania dan Anna terpana dibuat kagum oleh sikap lemah lembut Iqbal dan suara Iqbal yang mengalun indah ketika membacakan doa untuk Baby R. Seperti suara hafiz hafiz yang mengalun indah diiringi dengan bacaan tajwid yang sesuai, membuat suaranya semakin indah didengar.
"Subhanallah kak Iqbal," Fania memuji. Sementara itu Anna masih terpana membayangkan suara Iqbal.
"Bukan Subhanallah.. Fan, tapi Masyaallah," Iqbal meralat ucapan Fania tentang arti subhanallah dan masyaallah.
"Hehe, maaf ya kak.. lupa hehe," Fania menggaruk kepalanya sambil nyengir.
Kak Iqbal benar-benar calon imam yang baik, harusnya Amayra bersama dengan kak Iqbal kalau bukan karena aku. Tapi, sekarang dia sudah bahagia bersama kak Satria. Jangan menyesal lagi An..semua sudah berlalu.
"Kalian ternyata ada disini, aku udah nyari Rey dari tadi," ucap Amayra sambil membuka pintu halaman belakang itu.
Pandangan Iqbal langsung tertuju begitu mendengar suara Amayra yang lembut. Kedua mata mereka bertemu, Iqbal terlihat canggung berhadapan dengan Amayra secara langsung.
Ya Allah, kenapa aku dan kak Iqbal harus bertemu didalam situasi seperti ini? Aku masih kepikiran soal surat itu.
"Assalamualaikum, May.." Iqbal menyapa wanita itu lebih dulu.
Ya Allah kenapa hatiku masih berdebar di dekat Amayra?
"Waalaikumsalam kak," jawab Amayra sambil tersenyum tipis pada Iqbal. Sebenarnya dia sudah membaca habis surat dari Iqbal, itu sebabnya dia merasa canggung.
Melihat istrinya bertatapan dengan pria lain membuat api cemburu didalam hatinya bergejolak. Satria menghampiri semua orang yang berada di halaman belakang rumah.
__ADS_1
"Sayang, kamu disini?" tanya Satria sambil meraih pinggul istrinya di depan semua orang yang ada di sana.
...----*****---...