
Sebelum waktu subuh, Amayra bangun dan pergi untuk mandi sehabis melakukan hubungan dengan suaminya. Amayra berganti baju, dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang kering.
Dia melihat suaminya sedang menyeduh susu formula untuk Rey yang terbangun. "Mas, Rey bangun ya?"
"Iya, kayaknya dia haus.." jawab Satria sambil mengocok botol berisi susu formula yang sudah dicampur Asi ibunya itu.
"Maaf ya Mas, sekarang Rey banyaknya minum susu formula daripada asiku." Jelas Amayra sambil duduk disamping suaminya dengan rasa bersalah.
"Gak apa-apa, aku ngerti kok. Ini salahku juga yang sudah buat kamu stress selama aku pergi ke Afrika. Diana udah bilang kalau asi kamu keluarnya dikit karena kamu stress.." ucap Satria sambil menyusui Rey dan menggendongnya.
"Tidak Mas, bukan salah Mas kok.. ini salahku," ucap Amayra sambil tersenyum.
"Maafin aku ya May, mulai sekarang aku gak akan pergi jauh-jauh lagi. Aku akan selalu bersama kamu, kakak Rey dan anak kita yang belum ada," ucap Satria menggoda istrinya, sambil melihat ke arah perut datar Amayra.
"Ah! Mas apa sih...anak yang belum ada gimana?"
"Kenapa? Kamu gak mau?"
"Bukannya gak mau Mas, hanya saja aku.. uhm..." Amayra terlihat bingung bagaimana menjawab pertanyaan suaminya.
Kalau misalkan aku hamil lagi, berarti saat usia Rey satu tahun lebih. Dia sudah jadi kakak, apa gak kemudaan untuknya ya?
"Kalau sudah dikasih sama yang kuasa, kamu gak boleh nolak sayang." ucap Satria sambil tersenyum.
"Iyalah, masa aku nolak kalau udah dikasih." Kata Amayra yakin.
"Pintar, istri solehah...aku gak mau kamu pake pil atau suntik KB yang seperti itu. Biarkan semua mengalir apa adanya saja, tak apa kan sayang?" Kata pria itu lembut dan manis.
Amayra mengangguk, "Iya Mas, aku gak pake kontrasepsi kok.."
"Iya bagus," ucap Satria.
Saat Rey sudah tidur, Satria menidurkan anaknya itu di atas ranjang bayi. Suara adzan subuh berkumandang, Satria dan Amayra segera mengambil air wudhu. Seusai wudhu, mereka shalat subuh berjamaah.
Rasanya sudah lama mereka tidak merasakan suasana seperti ini. Kehangatan dan kasih sayang keluarga kecil yang berimamkan Satria. Seorang dokter, baik hati, Sholeh, penyayang dan lemah lembut. Seorang pria yang sudah seperti malaikat tak bersayap untuk Amayra dan Rey.
Meski pak Harun sudah meninggal, Amayra tidak begitu sedih karena Satria juga sudah kembali.
"Hari ini kamu kuliah?" Tanya Satria pada Amayra yang sedang membereskan bukunya ke dalam tas.
"Iyah Mas, aku kuliah pagi. Jadi siang nanti, insyaallah aku sudah pulang," jawab wanita itu sambil menyiapkan bahan untuk kuliah.
"Berangkat bareng aku berarti ya? Kita bawa Rey ke rumah mama aja,"
"Kenapa kak?"
"Biar mama yang jaga Rey, mama kan selalu ingin jaga Rey."
"Apa mama gak ada kerjaan lain kak? Aku takut merepotkan mama," tanya Amayra sambil menyiapkan baju untuk suaminya dan menggantungnya digantungan baju. Kemeja itu sudah disetrika rapi olehnya.
"Kata kak Bram gak ada. Mama juga sudah setuju, nanti siang kamu ke rumah mama aja pas pulang kuliah ya.." ucap Satria sambil merebahkan dirinya diatas ranjang sebelum dia pergi bekerja.
"Iya deh," ucap Amayra sambil memegang tangan suaminya.
Satria melirik pada Amayra dengan kedua alis terangkat, "Kenapa? Yang semalam, kamu mau lagi?" bisiknya seraya menggoda.
"Ish.. Mas ini, godain aku terus.." Amayra menepuk pundak suaminya dengan pelan sambil tersenyum malu-malu.
"Beneran, gimana sama servis semalam? Bintang berapa?" tanya Satria lagi sambil memegang pinggul istrinya.
__ADS_1
"Mas.. ih..." Amayra meringis malu, tangannya melingkar di leher suaminya.
"Haha, senang deh lihat kamu malu-malu kayak gini. Aku cinta kamu May," ucap Satria sambil mencium pelupuk mata sang istri penuh cinta. Disertai senyuman manis nan lembut.
Sepulang dari Afrika, Satria jadi lebih agresif dalam mengekspresikan perasaannya. Tanpa sensor, tanpa ba bi bu basa basi. Dia terlihat lebih berjiwa bebas dan lebih fresh dari sebelumnya.
"Aku juga cinta sama kamu Mas, selalu.." sahut wanita itu yang juga menyatakan cintanya, dia mencium pipi sang suami dengan penuh kasih sayang.
Kedua mata mereka bertatapan dalam penuh cinta membara. Seperti mereka baru saja menikah. Padahal pernikahan mereka sudah mau memasuki usia satu tahun.
Amayra menyadari bahwa dalam bebarapa hari lagi, adalah satu tahun pernikahannya dan Satria. Saat waktu sarapan pagi, Amayra menyuapi Rey dengan bubur bayi. Dia mendudukkan bayi berusia kurang lebih 5 bulan itu di kursi yang aman untuk bayi. "Am...anak mama pinter ya makannya," ucap Amayra sambil tersenyum dan menyuapi anaknya.
"Huuh..haaoo..mbuu.." oceh Rey sambil menggerakkan tangannya ke atas meja.
"Anak mama yang Sholeh gemes banget sih," ucap Amayra sambil menyeka kotoran yang berada di sekitar wajah Rey.
Semakin besar usia Rey, wajahnya seperti cetakkan dari ayah kandungnya yaitu Bram. Kulitnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, bahkan matanya juga mirip dengan Bram.
Satria duduk di kursi meja makan, dia mengoleskan selai kacang di dalam roti tawar. "Mas biar aku saja.." ucap Amayra yang ingin menyediakan sarapan untuk Satria.
"Gak usah kamu urus Rey dulu saja," kata Satria santai. Dia juga sekalian mengoleskan selai coklat di roti tawar untuk Amayra.
"Makasih Mas," ucap Amayra sambil tersenyum. "Oh ya Mas, nanti tanggal 15 kamu ada waktu gak?"
"Lima belas bulan ini? Hari Senin?" tanya Satria sambil memakan rotinya.
"Iyah Mas, Minggu depan. Mas ada waktu gak?"
"Senin ya, hari itu aku ada mengisi acara seminar. Terus ada jadwal pemeriksaan pasien di rumah sakit. Ada apa sayang?"
Yah, kak Satria sibuk.
Amayra langsung cemberut dengan bibir tertarik ke bawah.
"Kalau Mas gak ingat... ya udah." Ucap wanita itu sedikit ketus dan wajahnya terlihat kesal.
Mas Satria gak ingat tanggal itu. Benar juga, siapa yang akan ingat tanggal pernikahan terpaksa kami.
"Eh, kok ngambek sih? Emang tanggal lima belas ada apaan?" tanya Satria mencoba mengingat apa yang ada ditanggal lima belas, tapi dia sama sekali tidak ingat.
Setelah selesai sarapan, Amayra menyiapkan barang-barang Rey. Dia dan suaminya mengantar Rey ke rumah besar Calabria. Nilam senang sekali karena Amayra dan Satria mengantarkan Rey ke rumah itu, dia akan memamerkan Rey pada teman-temannya yang akan datang ke rumah.
"Kamu kuliah saja yang benar, gak apa-apa lama juga kok. Dan kamu Satria, fokus saja bekerja ya! Jangan pikirkan Rey, Rey aman sama mama kok.." ucap Nilam sambil tersenyum dan menggendong Rey.
"Kalau gitu...kami tetap Rey ya Ma, maaf ngerepotin."
"Gak kok.Ya udah kalian pergi sana, nanti telat."
"Iya Ma," jawab Satria sambil tersenyum lembut. Dia lega karena Nilam, ibu tirinya sudah banyak berubah.
Mama banyak berubah, dia sayang pada Rey dan May juga. Ya walau sifat cerewetnya tetap sama ,tapi seenggaknya Mama sayang sama Rey.
"Eh tunggu!" Seru Nilam pada Amayra dan Satria.
"Ya Ma?" tanya Amayra.
"Dua Minggu lagi Bram akan menikah dengan Diana," jawab Nilam memberitahu berita baik ini.
"Alhamdulillah...ya Allah, ini kabar baik." Amayra tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu.
__ADS_1
"Amayra, kamu bantu Mama siapkan pernikahan mereka ya?" Kata Nilam.
"Insyaallah Ma," jawab Amayra dengan senang hati.
Mama Nilam memberikan kepercayaan padaku, Alhamdulillah ya Allah.. perlahan-lahan semuanya mulai berubah. Dulu mama Nilam sangat membenciku. Kak Bram juga dulunya tidak menerima kehadiran Rey bahkan sejak Rey masih berada didalam kandungan. Kini semuanya perlahan menjadi indah dan berubah menjadi lebih baik.
Amayra terharu karena sekarang dia dilimpahkan banyak kasih sayang oleh keluarga suaminya. Papa mertua yang sayang padanya, mama mertua yang mulai membuka hati untuknya, suami yang amat mencintainya. Serta kedua kakak ipar yang menyayanginya seperti saudara sendiri. Dia sangat bahagia akan nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
Setelah pamit dan bersalaman dengan ibu mertuanya. Amayra dan Satria masuk ke dalam mobil, mata Amayra berkaca-kaca karena terbawa suasana.
"Sayang, kenapa?" tanya Satria sambil mengusap pipi istrinya.
"Hem.. aku hanya sedang rindu ayah. Seandainya ayah ada disini, ayah pasti senang kan Mas?" Amayra bicara sambil memandang suaminya.
"Tentu saja ayah akan senang dan ayah akan tenang disana karena sekarang kamu berada dalam keadaan baik-baik saja. Disini banyak yang sayang sama kamu dan Rey." Satria tersenyum lembut pada istrinya.
"Iyah Mas benar, udah ah jangan sedih lagi." Wanita itu kembali tersenyum dan menyeka sedikit air matanya.
"Iyah jangan sedih lagi ya, nanti aku belikan eskrim kalau kamu masih sedih.." Satria mulai menyetir mobilnya.
"Eskrim?" tanya Amayra heran mengapa harus eskrim?.
"Waktu hamil kamu suka makan eskrim kalau sedih, jadi aku beliin kamu eskrim aja supaya sedih kamu hilang!" Seru Satria sambil melajukan mobilnya keluar dari kompleks itu.
"Kali ini gak akan mempan. Aku lagi gak suka eskrim, apalagi kalau dikasih Mas.."
Apa Mas Satria belum ingat tanggal 15 Juli?
"Unchh..kenapa sih jadi ambekan gini? Kenapa kamu marah-marah May?" tanya Satria seraya menggoda istrinya.
"Tau ah.. sebelum Mas ingat tanggal 15 ada apa, aku bakalan tetap ngambek."
"Huhu.. ngambek aja bilang bilang, imutnya." Satria memegang dagu istrinya.
Tanggal 15? Ada apa ya dengan tanggal itu?
"Jangan pegang-pegang! Menyetir saja yang benar, huh!" Keluh Amayra sambil memalingkan wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya didada.
Satria tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang terlihat sangat imut ketika marah.
Sesampainya di depan kampus. Amayra mencium tangan suaminya, memberi salam kemudian dia keluar dari mobil.
"Nanti aku jemput kamu jam berapa?" Tanya Satria dari dalam mobilnya.
"Gak usah aku bisa pulang sendiri kok!" Seru Amayra masih dengan wajah cemberutnya.
"Aku akan coba ingat-ingat deh tanggal 15, jangan marah ya.." bujuknya pada Amayra.
Wanita itu tidak bicara, saat dia akan melangkah pergi masuk ke dalam kampus. Sebuah batu besar mengarah ke arahnya.
DUK!
"Astagfirullahaladzim!" Pekik Amayra terkejut.
Satria yang masih berada disana juga terkejut melihatnya, dia segera keluar dari mobil dengan panik.
"May!"
...****...
__ADS_1
Hai Readers ku tersayang,☺️ sambil nunggu novelku up lagi, boleh mampir ke karya author kece yang satu ini. Kalian juga gak perlu nunggu up nya karena udah tamat 😀