
Anna dan Fania menceritakan apa yang terjadi pada hari kemarin, tepatnya hari Sabtu. Saat itu Amayra masih berada di rumah ayahnya.
Sehari yang lalu di sekolah, Anna dan Fania baru saja pulang sekolah. Mereka berdua dan juga murid-murid lainnya mendapatkan pengumuman soal jadwal ujian nasional yang akan diselenggarakan 2 minggu lagi. "Hah, nilai matematika ku masih jeblok! Gimana ujian nanti nih, An?"
"Kalau Amayra ada disini, dia pasti bisa menjawab semuanya. Sayang sekali dia, udah putus sekolah." Anna merasa bersalah,setiap mengingat tentang Amayra.
"Sayang banget, padahal tinggal 2 bulan ke ujian." Fania mendesah, dia merasa kasihan pada Amayra yang harus putus sekolah karena ketahuan hamil.
Rumor tentang Amayra yang mencoreng nama baik sekolah tidak berhenti bahkan setelah gadis itu dikeluarkan oleh pihak sekolah. Itu karena Reina and the geng selalu menggembor kan masalah Amayra dan menjelek-jelekkan gadis itu. Bahkan membawa bawa nama jilbab, Amayra masih menjadi bahan hujatan dan gunjingan semua orang.
Dia dikatai munafik, wanita yang menutupi kebejatan nya dengan jilbab dan pakaian panjang. Mereka tidak mau tau kebenaran kalau Amayra adalah korban, mereka lebih suka menggosipkan orang dan menjelek-jelekkan orang. Ya, pasalnya netizen memang suka berghibah dan pasti lah ghibah itu ke arah yang buruk bukannya yang baik. Dan setiap ada yang membicarakan tentang Amayra, Anna dan Fania selalu berada di barisan paling depan untuk membela sahabat mereka. Anna bahkan menjelaskan bahwa om nya yang bersalah, bukan Amayra yang menggodanya. Tapi, mereka selalu termakan ucapan Reina, Angel dan Naya.
Kedua sahabat Amayra itu merasa sangat bersyukur karena Amayra tidak mendengar ucapan ucapan buruk tentang dirinya di sekolah. Namun, mereka sedih karena Amayra tidak bisa sekolah lagi. Dan setiap Anna pergi ke sekolah, Amayra selalu menyemangati nya. Padahal hatinya terluka, dia ingin sekolah seperti anak-anak seumuran nya.
Hari itu Anna dan Fania hendak pulang ke rumah, mereka memakai seragam putih abu. Keduanya baru sampai di depan gerbang. Tak lama kemudian, mereka melihat seorang pengendara motor mengenakan helm biru, dan jas kampus berwarna biru, berhenti tepat di depan mereka.
Pria itu turun dari motor dan membuka helm nya. Terlihat wajah tampan seorang pria, berkulit hitam manis dan memiliki kumis tipis, berdiri di hadapan Anna dan Fania.
"Kak Iqbal?" Fania terbelalak melihat alumni sekolah nya itu.
"Assalamualaikum, Anna, Fania!" Iqbal mengucapkan salam dengan sopan, tak lupa dia mengatupkan kedua tangannya di depan Fania dan Anna.
"Waalaikumsalam kak." Jawab Anna dan Fania bersamaan.
"Anna, Fania, maaf aku menganggu waktu kalian. Apa aku boleh bicara sama kalian sebentar saja?" Pinta Iqbal dengan suara lembut dan hangatnya. Pria itu memang selalu lembut, ramah, tapi dia selalu terlihat lebih hangat di depan Amayra.
"Ya udah kak, kita mau bicara dimana?" tanya Anna setuju.
"Kita bicara di cafe dekat sini aja." Jawab Iqbal.
__ADS_1
Iqbal, Fania dan Anna pergi ke salah cafe yang tidak jauh dari sekolah mereka. Iqbal memesan minuman untuk kedua wanita itu, dan menemani pembicaraan mereka.
"Maaf sebelumnya karena aku menganggu waktu kalian. Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang Amayra."Iqbal memulai pembicaraan nya, dia menanyakan tentang wanita yang dia taksir.
"Apa yang ingin kakak bicarakan? Maksudku kakak ingin tanya apa?" tanya Anna sambil melihat ke arah pria itu.
"Orang-orang bilang kalau Amayra menggoda om kamu untuk hidup kaya raya." Kata Iqbal sambil mengepalkan tangannya, keningnya berkerut, wajahnya terlihat sedih.
"Lalu apa kakak percaya omongan orang-orang itu?" tanya Fania tegas.
"Tentu saja tidak! Aku tidak percaya! Makanya aku ingin menanyakan secara langsung sama kalian, karena kalian yang paling tau bagaimana Amayra. Sebenarnya apa yang terjadi pada Amayra dan bagaimana situasi nya, aku ingin kalian menceritakan nya padaku!"
"Kalau kami menceritakan nya pada kakak, apa untungnya? Kakak mau apa?" tanya Anna sambil menatap tajam ke arah Iqbal.
"Aku akan mencoba menepis semua gosip jelek itu! Aku percaya pada Amayra, dia tidak mungkin begitu...makanya aku butuh kalian untuk meluruskan nya juga. Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya." Pinta Iqbal seraya memohon kepada kedua sahabat Amayra itu.
Anna dan Fania saling melihat satu sama lain. Mereka pun menceritakan apa yang terjadi pada Amayra kepada Iqbal, karena mereka percaya bahwa Iqbal akan percaya dengan cerita mereka.
"Kak Iqbal.. kak Iqbal nangis?" Fania tidak percaya, dia melihat Iqbal menangis saat mendengar cerita Amayra.
Amarah, sedih, prihatin, kasihan, terlihat bercampur di dalam wajah tampannya. "Ya Allah benar-benar tega sekali om kamu itu Anna, dia benar-benar brengsek!"
BRAK
Iqbal menggebrak meja, saking emosi nya dia sampai mengumpat. "Ya Allah maafkan hamba, hamba mengumpat.." Iqbal langsung memohon ampunan karena dia baru saja mengumpat kata brengsek. Iqbal mengusap air matanya, wajahnya merah dan terlihat kesal.
"Iya, aku tau kalau om ku sangat brengsek. Aku juga sangat membencinya."
"Tapi An, apa om kamu memperlakukan Amayra dengan baik kan?" tanya Iqbal mencemaskan Amayra.
__ADS_1
"Sebenarnya om ku-" Anna terlihat bingung, om mana yang dibicarakan oleh Iqbal. Om yang menikahi Amayra atau om yang sudah mengambil mahkota gadis itu. Apa dia harus menceritakan tentang Bram dan Satria? Karena semua orang beranggapan kalau pria brengsek itu adalah Satria. Anna bingung harus cerita pada tidak?
Iqbal masih menatap Anna, dia menantikan jawaban apa yang akan diberikan oleh Anna. Namun, Fania membantu menjawab nya lebih dulu. "Suami Amayra sangat baik dan bukan pria brengsek." ucap Fania.
Iqbal tidak mengerti apa yang diucapkan Fania, suami Amayra sangat baik? Bukankah dia yang sudah memperkosa nya?
Anna jadi harus menjelaskan semuanya bahwa Amayra menikah bukan dengan pria yang memperkosanya tapi dengan adik si pemerkosa itu. Iqbal semakin naik pitam saat mendengar nya, "Bagaimana bisa keluarga kamu seperti itu An? Mereka menganggap wanita sebaik Amayra seperti benda yang tidak berharga! Astagfirullahaladzim.. aku jadi mengatakan hal yang tidak-tidak karena aku sangat emosi. Mengapa nasib kamu begitu malang?"
Anak sulung dari ustad sekaligus pemilik pesantren itu, sangat prihatin dengan kondisi Amayra. Bagaimana pun juga gadis itu adalah korban, tapi dia disalahkan karena orang-orang tidak mau mendengar kebenaran. Setelah mendengar cerita itu, Iqbal berjanji akan membuat nama Amayra kembali jernih di mata orang-orang. Dia juga menitipkan sepucuk surat pada Anna untuk disampaikan pada Amayra.
***
🍀Rumah sakit🍀
Anna menyerahkan surat itu pada Amayra."Ini suratnya May,"
"Kak Iqbal bilang kalau suratnya harus dibaca saat kamu sendirian" ucap Fania.
"Iya An, Fan, makasih." Amayra memegang surat itu, dia tidak langsung membacanya dan malah menyimpan surat itu di dalam saku bajunya.
Mengapa kak Iqbal begitu peduli padaku ya? Dia juga tidak membenciku dan percaya padaku. Senangnya memiliki teman-teman yang baik. Amayra bersyukur, di dalam luka dan pahit hidup yang dia jalani. Masih ada cahaya dan kebahagiaan disekelilingnya, masih banyak yang bisa ia syukuri. Salah satu nya memiliki teman-teman yang baik.
Tak lama kemudian, Satria datang dan membawakan makanan untuk Amayra juga kedua temannya. Malam sudah semakin larut, Anna dan Fania pamit pulang karena keesokan harinya mereka akan sibuk di sekolah.
Ketika Amayra dan Satria hanya berduaan saja di dalam ruangan itu, Satria berniat untuk kembali meneruskan ucapannya yang sempat terpotong.
"May, aku mau bicara."
"Hm?" Amayra mendongakkan kepalanya ke arah Satria. Pria itu menatapnya dengan serius.
__ADS_1
...---***---...
...Hai Readers tersayang, jangan lupa ya habis baca kasih like, komen, dan vote nya untuk author😍 Makasih untuk dukungan kalian terutama komentar kalian yang buat mood ku naik 😘❤️...