Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 255. Rey pergi


__ADS_3

Rey masih menangis sampai sesenggukan, dia sangat merasa bersalah dan hatinya juga masih diliputi dengan rasa cemas tentang Amayra. Cakra berusaha menenangkan anak itu dengan sikap lembutnya, dia mengatakan bahwa semua ini bukan salah Rey.


Rey tetap menyalahkan dirinya, apalagi Nilam sangat menyalahkan dirinya. "Tidak nak, ini bukan salah kamu. Ini salah bapak kamu, jangan dengarkan ucapan Oma ya? Oma kan memang suka bicara pedas...Rey jangan sedih ya."


"I-ini semua gara-gara Rey, kalau bukan gara-gara aku...pasti Tante Amayra gak akan masuk rumah sakit. Oma Nilam benar, harusnya aku tidak pernah datang ke rumah ini."


"Eh, opa udah bilang...kamu tidak boleh bicara begitu. Ini bukan salah kamu, Tante Amayra juga pasti akan baik-baik saja...kamu tenang ya." ucap Cakra menenangkan Rey, dia mengusap air mata Rey dengan kedua tangannya.


"Tapi...Tante Amayra..." Rey masih belum bisa tenang, dia kepikiran dengan Amayra.


"Opa akan telepon papa kamu, nanti. Sekarang kamu istirahat dulu saja ya Rey." Pinta Cakra pada anak itu.


Rey hanya menganggukkan kepala dengan patuh. Dia tidak bisa membantah perkataan pria paruh baya itu karena dia sangat baik padanya.


Selagi Nilam, Cakra dan semua orang di rumah sibuk memperhatikan si kembar, Rey sibuk sendiri membereskan barang-barangnya. "Oma Nilam benar, aku hanya membawa bencana ke rumah ini...aku seharusnya tidak pernah datang kemari." Gumam anak laki-laki itu sambil menangis sedih.


Dia menulis sesuatu pada secarik kertas, kemudian dia menyimpan kertas itu di atas vas bunga yang ada di kamarnya. Rey menggandeng tas dipunggungnya, tak lupa dia membawa foto si kembar, Diana dan Bram yang ada di dalam bingkai.


"Maaf ya, aku ambil foto ini buat kenang-kenangan." ucap Rey sambil mengusap ingusnya yang keluar dengan sapu tangan.


Seharusnya aku tidak pernah datang kemari, aku harus sadar dimana tempatku berada.


Anak laki-laki itu pun pergi diam-diam keluar dari rumah Calabria tanpa sepengetahuan orang rumah. Namun saat dia baru sampai di luar rumah, Bima yang baru saja kembali dari kantor polisi. Melihat Rey berjalan pergi meninggalkan rumah itu.


"Anak itu...kenapa dia membawa tas besar begitu?" gumam Bima keheranan.


"Bos, apa perlu kita hentikan dia?" tanya Jack pada bosnya itu.


"Tidak usah, ikuti saja dulu. Kalau ada bahaya, barulah tolong dia." ucap Bima pada Jack.


"Baik bos,"


Jack patuh pada perintah bosnya, dia mengikuti Rey pada hari yang sudah mulai gelap itu. Rey berjalan sendirian dengan tubuh kecilnya dia membawa tas besar di punggungnya.

__ADS_1


🍁


🍁


Di rumah sakit, dokter Andi dan Satria melakukan operasi kecil untuk Amayra. Setelah hampir dua jam di ruang operasi, keadaan Amayra sudah mulai stabil.


Satria terlihat berkeringat, dia bisa menghela nafas dengan lega setelah melihat kondisi Amayra yang sudah mulai stabil setelah operasi.


"Keadaannya sudah mulai stabil dokter Satria, tinggal di pindahkan ke ruang perawatan. Untunglah lukanya tidak sampai mengenai organ dalam," ucap dokter Andi sambil tersenyum.


"Ya... Alhamdulillah, terima kasih dokter Andi karena anda sudah membantu saya." Satria mengusap dada, dia lega melihat keadaan istrinya sudah lebih baik.


"Sama-sama dokter Satria, ini sudah tugas saja. Kamu tenang ya, hapus air matamu...istrimu akan baik-baik saja." dokter Andi menepuk-nepuk bahu Satria.


"Air mata? Memangnya ada air mata?" Tanya Satria dengan mata polosnya.


"Kamu menangis dari tadi, dasar bucin istri." dokter Andi tersenyum melihat wajah Satria yang basah dengan air mata.


Kemudian dokter Andi meninggalkan Satria di ruangan itu bersama Amayra disana. Satria memegang tangan istrinya, tak henti dia mengucap syukur karena Amayra baik-baik saja.


"Alhamdulillah ya Allah, istriku baik-baik saja. Cepat siuman sayang," ucap Satria yang lalu mengecup kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.


Setelah Amayra dipindahkan ke rumah rawat, Satria, Bram dan Diana bisa bernafas lega. Bram dan Diana melihat dulu keadaan Amayra sebelum mereka kembali ke rumah.


"Syukurlah lukanya tidak dalam," ucap Diana yang merasa lega karena adik iparnya baik-baik saja.


"Iya benar. Kalau begitu kami harus segera pulang ke rumah, bagaimana denganmu Sat? Apa kamu akan pulang ke rumah juga?" tanya Bram pada Satria.


"Aku juga akan pulang kok, tapi aku menunggu Amayra dulu. Kak Diana, kak Bram, apa aku bisa titip Zayn sama Zahwa sebentar pada kalian?"


"Baiklah, kamu tenang saja Sat...si kembar biar aku dan Diana yang jaga." ucap Bram sambil tersenyum seraya menenangkan Satria.


"Makasih Kak, nanti aku pulang malaman buat ambil baju Amayra." ucap Satria pada kakaknya dan dia sangat berterimakasih.

__ADS_1


Bram dan Diana pun pulang ke rumah, mereka lega mendengar kabar dari kepolisian bahwa bapak Rey berada di penjara dan akan dihukum berat. Saat Diana dan Bram pulang ke rumah, mereka heran karena tidak disambut oleh Rey seperti biasanya.


"Mas, Rey kemana ya? Biasanya setiap kita pulang dia selalu menyambut kita dan memberi salam." Diana merasa kehilangan karena Rey biasanya menyambut dia dan Bram ketika pulang ke rumah.


"Sayang, mungkin dia lagi shalat isya...ini kan waktunya shalat isya. Apalagi kejadian hari ini pasti membuta dia syok, kita harus tenangkan dia." ucap Bram cemas.


"Iya benar mas, kebetulan besok aku libur. Aku sudah ada rencana untuk membawa Rey, Zayn dan Zahwa untuk jalan-jalan." ucap Diana sambil tersenyum, dia sudah merencanakan akan mengajak Rey dan so kembar jalan-jalan.


"Iya sayang, ayo kita ke kamar Rey. Kita lihat dia lagi apa." ajak Bram pada istrinya.


Bram dan Diana pergi ke kamar Rey yang berada di lantai atas, tepat disamping kamar mereka. Pasangan suami-istri itu melihat kamar yang terlihat rapi dan bersih, tanpa ada siapapun disana. "Rey selalu rajin bersih-bersih ya mas, dia anak yang mandiri dan juga baik."


"Benar sayang, aku semakin sayang sama dia. Aku senang karena Rey datang ke dalam kehidupan kita." ucap Bram sambil tersenyum.


Mereka mencari-cari Rey di sekitaran rumah itu. Namun Rey tidak ada dimana-mana, akhirnya Diana bertanya pada Nilam yang baru saja menidurkan si kembar bersama Dewi.


"Ma, apa mama lihat Rey?" tanya Diana pada ibu mertuanya yang baru saja beristirahat di atas sofanya.


"Mana mama tau," jawab Nilam ketus.


Diana tercengang mendengar Ibu mertuanya bicara ketus ketika ditanyai tentang Rey. Diana terheran-heran, padahal sebelumnya Nilam sudah bersikap baik pada Rey, kenapa sekarang jadi begini?


Tak lama kemudian, Bram berjalan terburu-buru menuruni anak tangga, dia membawa secarik kertas di tangannya. "Sayang! Rey pergi!"


"Apa maksud kamu mas?"


Bram langsung menyerahkan cari kertas itu kepada istrinya dan Diana buru-buru membaca apa yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat kemudian, Diana tercengang sambil memegang dadanya. "Astagfirullah mas...Rey pergi."


"Ya, baguslah dia pergi. Sepertinya dia memang harus kembali ke tempatnya." Gumam Nilam sinis.


Ucapan sarkas Nilam, sontak saja membuat Bram dan Diana melirik tajam ke arahnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2