Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 62. Bram mau nya apa?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ya Allah.. apa aku tidak salah dengar? Mama Nilam mengatakan kalau anakku adalah cucu nya?


"Cucwuku," ucap Nilam sambil mengelus perut Amayra.


"Iya ma, ini cucu mama," jawab Amayra sambil tersenyum haru. Dia tak percaya perlahan-lahan Nilam mulai menerima dia dan anaknya.


Apakah Nilam sudah menyadari kesalahannya? Atau dia sudah bertobat atas semua dosanya? Yang pasti, setelah mengalami stroke ringan ini. Nilam menyadari bahwa Amayra sangat baik kepadanya.


Harusnya dulu aku biarkan dia bersama Bram dan bertanggungjawab untuk anaknya dan Amayra. Tapi kenapa aku malah memilih menantu yang salah? Ya Allah, kenapa aku berbuat dosa sebesar ini dengan membiarkan anakku menjadi pria tak bermoral?


Nilam termenung, mengingat kesalahannya di masa lalu. Andai saja dia memaksa Bram untuk menikah dengan Amayra bukannya kabur, maka hal seperti ini tak akan terjadi. Tapi, penyesalan tinggallah penyesalan, tidak akan ada yang berubah.


"Ma, aku berangkat dulu ya," ucap Amayra sambil mencium tangan ibu mertuanya. "Assalamualaikum ma,"


"Wa-waalaikum salam," Nilam bersusah payah menjawab salam, karena mulutnya masih bengkok.


"Bi Dewi, saya titip mama ya!" Amayra titip pesan pada Dewi untuk menjaga Nilam.


"Iya non," jawab Dewi sambil tersenyum ramah.


Amayra pergi ke toko Bu Melati dan melanjutkan aktivitas nya seperti biasa, menjajakan kue disana. Meski sudah dilarang oleh Satria untuk berjualan, tapi Amayra tetap ingin berjualan dengan alasan menghabiskan waktu bosannya di rumah. Selain itu Amayra memanfaatkan ketrampilan menjahitnya dan membuat bross untuk di jual kembali secara online. Hasil penjualan kue dan bross nya dia tabung, sebagian lagi dia sisihkan untuk bersedekah dan diberikan pada ayahnya.


"Alhamdulillah, rezeki hari ini. Aku mau ke rumah ayah dulu ah, aku akan memasakkan makanan enak untuk ayah," gumam nya sambil berjalan dengan membawa tas selempang nya dan sekeresek bahan makanan untuk dimasak.


Rencananya ia akan pergi ke rumah sang ayah untuk memasak makanan enak disana. Saat dia baru sampai di depan gang menuju ke rumah ayahnya, dia melihat ada 2 orang pria yang mencurigakan sedang mengintainya. 2 orang pria itu melihat ke arah tas yang dibawanya, Amayra mulai waspada berjalan cepat ke arah pak Mamat si penjual gorengan.


Setelah Amayra berada di dalam keramaian, dua orang pria itu pergi meninggalkan nya dan berjalan ke arah yang lain. "Neng Mayra? Neng kenapa neng?" tanya Pak Mamat khawatir melihat Amayra yang berjalan ngos-ngosan.


"Pak.. haahh.. haahh.. saya gak apa-apa pak," Amayra berusaha mengatur napas, memegang perutnya yang agak mengeras.


"Sini neng duduk dulu!" Ujar pak Mamat bersimpati kepada Amayra. Pak Mamat menghampiri Amayra dan membantunya duduk di kursi panjang.

__ADS_1


Amayra duduk di kursi panjang itu, pak Mamat memberikan segelas air pada Amayra. Pak Mamat bertanya apa yang terjadi pada Amayra hingga membuat wanita yang hamil tua itu terengah-engah tampak lelah.


Dia menceritakan apa yang terjadi pada pak Mamat, baru saja dia diikuti oleh dua orang pria tak dikenal setelah turun dari angkot di depan gang. Pak Mamat meminta Amayra berhati-hati karena sekarang banyak preman berkeliaran di depan gang jalan itu.


"Makasih ya pak Mamat, seperti nya saya harus melanjutkan perjalanan ke rumah ayah," ucap Amayra sambil beranjak dari tempat duduk yang terbuat dari kayu itu.


"Ya sudah hati-hati ya neng, udah lewat gang ini... insyaallah sudah aman," Pak Mamat tersenyum menenangkan Amayra.


Amayra berjalan ke rumah ayahnya, dia melihat sang ayah baru saja habis mengangkut sampah. Wajahnya berkeringat dan terlihat lelah, Amayra menyambut ayahnya dengan hangat. Begitu masuk ke dalam rumah, Amayra membuat minuman dingin untuk Harun kemudian dia mulai membuka bahan-bahan di dapur untuk segera dimasak. Tapi dia melihat makanan sudah tersaji diatas meja makan yang kecil itu.


Dia melihat makanan disana terlihat mewah dan berbeda dengan masakan biasa. Seperti berasal dari restoran mewah, karena makanan nya terlihat rapi dan tidak ada bekas memasak disana.


"A-ayah, apa ayah membeli makanan?" tanya Amayra sambil memasukkan bahan makanan ke kulkas di dapur, karena dia tak jadi memasak.


"Tadi kakak ipar mu kesini, dia membelikan makanan untuk ayah," jawab Harun sambil meminum jus yang dibuatkan oleh Amayra.


Amayra terperanjat mendengar nya, Bram datang ke rumahnya dan memberikan makanan untuk sang ayah. Apa maksudnya?


"Ah? Mau apa dia kemari?" tanya Amayra ketus.


"Ayah kan sudah punya dispenser pemberian kak Satria! Kenapa ayah menerima dispenser pemberiannya dan kenapa ayah menerima pemberiannya?" tanya Amayra suaranya terdengar kesal.


Harun melihat putrinya dengan heran, mengapa Amayra semarah itu pada Bram. "Ayah sudah menolak, tapi dia memaksa ayah menerimanya. Ayah juga heran kenapa dia melakukan itu, padahal ayah sudah memaafkannya. Dan tiba-tiba saja dispenser yang tadinya baik-baik saja menjadi rusak tanpa sebab," Harun menghela napas panjang.


Amayra terdiam, dia tampak kesal dengan Bram yang tidak tahu apa maunya. Selama satu bulan ini Bram seperti sengaja mendekati Amayra dan pak Harun dengan berbagai alasan. Amayra tidak membicarakan hal ini pada Satria, dia takut suaminya akan marah atau cemburu. Menurut dirinya, jika membicarakan tentang Bram malah akan membuat masalah dalam rumah tangga mereka.


Dengan tegas Amayra mengatakan kalau dia akan meminta Bram membawa kembali barang-barang yang diberikan nya pada Harun. Amayra semakin tidak mengerti apa mau Bram dengan melakukan semua ini?


Niat hati ingin menemui Bram saat itu juga, tapi dia harus meminta izin pada suaminya dan dia tidak mendapatkan izin dari Satria.


"Kalau mau bertemu dengan kak Bram, kamu harus pergi denganku. Tidak baik bertemu pria lain berduaan saja, apalagi kamu sudah menikah, tapi kenapa kamu mau bertemu dengan kak Bram?" tanya suaminya curiga.


Tuh kan, sudah kuduga dia pasti akan menanyakan ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu menghela napas? Gak jawab?" tanya Satria yang mendengar suara helaan nafas sang istri dari telpon.


"Gak apa-apa, ya udah udah dulu ya kak! Kakak kan sibuk! Assalamualaikum!" Amayra menutup telponnya dengan cepat. Dia menghindari pertanyaan suaminya.


****


Malam itu, Amayra terlihat sedang menunggu suaminya pulang bekerja. Selagi menunggu, seusai shalat isya, Amayra mengaji seperti biasanya. Di luar sedang hujan deras.


Tak lama kemudian suaminya pulang dengan kondisi sedikit basah karena kehujanan. Tak lupa Amayra mengecup punggung tangan suaminya. "Kakak sudah pulang," sambutnya dengan senyuman manis dibibir.


Satria buru-buru menyapa bayi yang berada di dalam tubuh sang istri. "Hai sayang, ayah pulang. Assalamualaikum,"


Mereka berdua terlihat bahagia, Satria mengelus perut wanita itu dengan lembut dan menatapnya penuh kasih sayang.


"Apa dia ada menendang hari ini?" tanya Satria dengan senyuman lembut di waja,lh, terlihat satu lesung yang manis di pipinya.


"Iya kak, dari tadi pagi dia menendang terus. Seperti nya dia merindukan ayahnya" ucap wanita cantik berjilbab merah muda itu, sambil tersenyum manis memandang ke arah pria tampan di depannya.


Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka lebar, ada seseorang yang membukanya sampai menimbulkan suara keras.


"Siapa yang kamu bilang ayahnya?" tanya seorang pria dengan tubuh basah kuyup berdiri di ambang pintu. Pria itu menatap wanita hamil dan suaminya dengan tatapan tajam. Dia adalah Bram.


Mengapa dia ada disini?


Tubuh Amayra bergetar melihat sosok pria di ambang pintu rumahnya. Begitu pula dengan sang suami. Dia menatapnya dengan mata sinis, seperti tidak senang dengan kehadiran Bram disana.


"Aku adalah ayah bayi itu dan seharusnya aku yang menjadi suaminya! Satria, segera kamu talak dia! Lalu kembalikan dia dan anakku kepadaku!" Ujar si pria itu dengan tegas pada Satria. Mata nya menatap marah ke arah Satria. Dia terlihat seperti sedang mabuk.


"Dia adalah istriku selamanya dan aku tidak akan pernah melepaskan dia kak," jawab Satria tegas, dia menggenggam tangan wanita hamil itu dengan erat.


Jadi ini maksud kak Bram sebenarnya.


Amayra terlihat bingung melihat kedua orang pria yang wajahnya tampak marah itu.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2