Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 177.Bangkit


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Semua keluarga Calabria, melihat Satria sedang memeluk erat istrinya. Wanita itu menangis meraung-raung sambil memangil nama anaknya berulang kali. Mereka melihat kaki Amayra yang berlumuran darah.


"Rey....anak Mama...Rey.. Rey...Rey...hiks. Aku mau ketemu Rey! Bawa Rey kembali, bawa Rey kembali!" Teriak Amayra sambil mencoba melepas dirinya dari pelukan erat dari Satria.


"Istighfar...May. Allah pasti sudah merencanakan hal yang indah dibalik ini semua. Coba kamu pikirkan sisi positifnya, kalau Allah tidak mengambil Rey...Rey akan terus kesakitan dan menderita karena penyakitnya. Semuanya pasti ada hikmah sayang, Allah memanggil Rey lebih dulu karena Allah sayang sama Rey. Ya kan? Sama seperti ayah.. ayah pergi karena Allah sayang sama beliau. Allah tidak ingin ayah dan Rey berada dalam kesakitan lebih lama. Allah sayang mereka, May.." ucap Satria sambil memeluk istrinya, mencoba memberikan pengertian pada Amayra agar dia lebih tenang.


Satria mengisyaratkan agar semua orang pergi dari sana. Dia sendiri yang akan menenangkan istrinya. Semua orang paham dan langsung pergi darisana.


"Allah sayang Rey.. tapi aku juga sayang sama Rey, kenapa Allah mengambil Rey dan ayah dengan cepat?"


"Semua ada hikmahnya sayang, percayalah. Kamu selalu bilang begitu kan padaku? Kalau setiap musibah pasti ada hikmahnya. Begitu juga dengan Rey dan ayah.." Satria mengelus-elus kepala Amayra dengan lembut.


Beberapa menit kemudian, setelah Amayra agak tenang. Satria membujuk Amayra untuk makan. Amayra berhasil makan walau hanya dua suap, dia juga meminum air setengah gelas. Kemudian Amayra tertidur lagi karena dia sangat lelah karena banyak menangis.


Satria memindahkannya ke atas ranjang. Dia menatap Amayra dengan prihatin. "Om Satria."


"Anna?" Satria melihat ke arah Anna yang sudah berdiri dibelakangnya sambil membawa kotak p3k.


"Tante Diana nyuruh aku bawa ini, buat ngobatin Tante Mayra." ucapnya yang masih membiasakan diri memanggil Amayra dengan panggilan Tante.


Satria mengambil kotak p3k itu dari Anna. Dia tersenyum tipis sambil mengucapkan terimakasih. "Makasih Anna,"


"Sama-sama om. Anna keluar dulu ya om, takutnya nanti tan-te Mayra kebangun." kata Anna sambil melihat Amayra yang sedang terbaring diatas ranjang dengan wajah pucat nya.


"Hem.." sahut Satria singkat. Anna keluar dari kamar itu dan menutup pintunya rapat-rapat.


Sepertinya aku harus menenangkan hati Amayra dulu. Mungkin Amayra butuh liburan.


Dia mengobati luka di kaki Amayra akibat pecahan kaca, lalu dia membalutnya dengan perban. Dia melihat istrinya yang tertidur tenang. Satria lalu mengambil ponsel, dia meminta izin cuti tahunan kepada kepala rumah sakit. Dia bicara pada pak Ferdi lewat telepon.


"Dokter Satria, apa kamu yakin ingin mengambil cuti tahunan untuk sekarang?" tanya Ferdi.


"Ya pak, hanya 3 hari saja kok."


"Kalau tiga hari tidak usah ambil cuti tahunan, anggap saja liburan biasa. Saya mengerti keadaan kamu, pasti berat untuk istri kamu. Tidak apa-apa, tenangkan saja dulu istri kamu ya. Saya akan meminta dokter lain untuk menggantikan kamu selama 3 hari itu." jelas Ferdi yang paham situasi dan kondisi Satria saat ini.


"Terimakasih banyak pak, sekali lagi terimakasih pak Ferdi." ucap Satria berterimakasih atas kemurahan hati kepala rumah sakit tempatnya bekerja itu.


Satria menutup teleponnya usai berbicara dengan Ferdi. Dia meminta libur agar dia bisa fokus menjaga Amayra. Malam itu Satria berjaga, takut-takut kalau Amayra mengigau atau bermimpi buruk. Akan tetapi Amayra tertidur pulas sampai subuh.


Amayra bangun dari tidurnya setelah mendengar adzan subuh. Dia melihat kedua kakinya yang dibalut perban. "Kenapa kakiku di perban begini? Apa aku terluka?" tanya wanita itu bingung. Seolah dia tidak ingat apa yang terjadi tadi malam.


Merasakan ada gerakan diranjang itu, Satria membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat Amayra duduk diatas ranjang, dia sedang mencoba beranjak dari ranjang. "May, kamu mau kemana?"


Apa Mayra keringetan lagi Rey?


"Aku mau ambil wudhu Mas, barusan adzan subuh." jawab Amayra sambil tersenyum seperti biasa.


"Astagfirullah...hampir aja aku kelewat sholat subuh. Kita shalat sama-sama ya sayang," Satria langsung beranjak dari ranjangnya.


Aku harus bisa mengalihkan perhatian Amayra, supaya dia gak sedih lagi.


Pria itu memapah istrinya, membantu Amayra untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai mengambil air wudhu, Amayra dan Satria shalat subuh berjamaah.

__ADS_1


Usai shalat subuh, Amayra berdoa sambil menangis. Dia meminta pada yang kuasa, agar Rey ditempatkan ditempat paling indah disisi-Nya. Satria juga mendoakan hal yang sama, dia berharap agar Amayra bisa cepat bangkit dari kesedihannya.


Cup!


Satria mengecup kening istrinya, mengusap air mata sang istri di pipinya. "Sayang.."


"Iya Mas?" sahut Amayra.


"Udah tenang hati kamu?"


Amayra mengangguk pelan.


"May, nanti kita pergi ya.. kita jalan-jalan setelah habis minggu ini, atau kalau kamu pengen. Kita jalan-jalan secepatnya."


"Mas, aku gak apa-apa. Kita jalani saja aktivitas kita seperti biasa. Hidup harus tetap berjalan, kan?" Amayra menatap suaminya sambil tersenyum pahit.


"Beneran kamu gak apa-apa?" Satria bertanya sambil menatap sang istri dengan kening berkerut.


"Iya Mas. Aku udah ingat kejadian semalam, maaf karena aku sudah membuatmu cemas. Insyaallah aku akan mencoba untuk ikhlas." Jelas Amayra sambil tersenyum.


Satria ikut tersenyum, namun hatinya masih cemas dengan keadaan Amayra. Didalam pikirannya juga ada perkataan yang dia simpan untuk Amayra. Yaitu tentang kehamilannya, dia ingin memberitahu Amayra disaat yang tepat.


Mereka berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Hingga tak terasa waktu sudah berjalan selama 1 bulan lamanya. Keadaan Amayra juga sudah mulai membaik, tidak seperti sebelumnya. Walau kadang dia suka melamun sendirian.


Amayra yang sudah mulai tenang, meminta pada suaminya untuk kembali ke rumah yang dia tempati bersama Satria. "Kamu yakin mau pulang? Gak mau nginap disini dulu?"


"Iya Mas, rumah kita sudah kosong selama satu bulan." Kata Amayra sambil memasangkan dasi untuk suaminya yang akan berangkat bekerja itu.


"Ya udah, kalau kamu udah merasa baik-baik aja."


"Iya sayang. Yuk, kita berangkat!" Seru Satria sambil tersenyum, dia mengajak Amayra berangkat bersama.


Satria berangkat ke rumah sakit, sementara Amayra berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, Amayra berpamitan pada suaminya. "Mas, aku berangkat dulu ya."


"May, kamu yakin mau masuk kuliah hari ini? Kalau kamu masih merasa tidak enak badan, kamu..." Satria cemas pada istrinya.


"Aku udah baikan Mas. Berada di rumah terus membuatku bosan, kalau dikampus kan aku bisa ketemu teman-teman. Aku bisa belajar juga."


Satria tersenyum, "Ya udah sayang, kalau ada apa-apa...kamu hubungi aku ya. Jangan sampai telat makan, aku slow respon dari jam 10 sampai jam 3 sore. Inget gak boleh telat makan!" Kata Satria mengingatkan.


Amayra lagi hamil, dia gak boleh telat makan. Tapi akhir-akhir ini dia sering telat makan. Aku harus lebih memperhatikannya.


"Iya Mas, aku kan sudah bawa makanan yang kamu buat. Aku pasti makan siang kok nanti dikampus!" Amayra tersenyum sambil menunjukkan kotak bekal yang dibawanya.


"Oke, bagus." Satria tersenyum.


Akhir-akhir kenapa Mas Satria sangat memperhatikan makanan yang aku makan dan memaksaku banyak makan ya? Dia sampai membuatkanku makanan setiap hari. Bahkan makan malam juga, dia yang buatkan. Mas Satria memang suami idaman.


"Syukurlah aku menikah denganmu, Mas." gumam wanita itu pelan.


"Kamu bilang apa May?" tanya Satria tak mendengar jelas ucapan istrinya.


"Ah.. gak apa-apa kok Mas. Aku masuk dulu ya, udah lama aku gak masuk kampus...pasti tugasku udah numpuk. Mas, jangan lupa makan siang. Jangan lupa minum obat mualnya." Amayra mengingatkan suaminya yang masih sering mual-mual.


"Hehe iya sayang," Satria nyengir.

__ADS_1


Aku mual-mual karena kamu sedang mengandung anak kita, sayang. Sepulang dari rumah sakit nanti, aku akan kasih tau kamu kebenarannya.


Amayra masuk ke dalam kampusnya. Dia bertemu dengan Lisa, Anna, Anton dan Ken. Mereka senang melihat Amayra telah kembali ke kampus.


Amayra menyapa teman-temannya, "Assalamualaikum teman-teman," dia tersenyum manis.


Ken, Anton, Lisa dan Anna terperangah melihat Amayra berdiri dilorong kampus. Anna dan Lisa langsung heboh, mereka menghampiri Amayra dan memeluknya. "May! Ya Allah! Kamu udah balik kuliah lagi? Kamu udah baikan? Kamu gak apa-apa? Ya ampun kamu kurusan!!" Lisa memegang tangan Amayra, dia memperhatikan wajah temannya yang dipikirnya kurus.


"Lis.. Lisa...jangan kayak gitu, nanti Amayra jatuh." Kata Anna mengingatkan.


Kalau Amayra kenapa-napa, nanti adikku yang ada didalam sana juga kena imbasnya. Pokoknya aku harus jaga Amayra.


Amayra menatap keponakannya dengan heran. Akhir-akhir ini Anna dan semua orang di rumah selalu memperhatikannya. Terkadang dia merasa kalau perhatian mereka berlebihan.


"Oke deh, maaf ya May. Habisnya aku senang banget kamu udah kembali!" Lisa tersenyum bahagia.


"May, gimana kabar Lo?" tanya Anton sambil tersenyum ramah pada Amayra.


"Alhamdulillah aku baik kok," jawab Amayra sambil tersenyum.


Ken juga menyapa Amayra, "Hai May, selamat datang kembali ke kampus."


"Makasih Ken,"


Lisa dan Amayra masuk ke kelas mereka. Setelah selesai kelas, Anna dan Lisa berencana mengajak Amayra ke cafe untuk menghiburnya. Sore itu Amayra, Lisa, Anna, Anton dan Ken pergi ke cafe dekat kampus tempat biasanya mereka nongkrong.


"Woah, sudah lama aku gak kesini." Ucap wanita itu sambil melihat-lihat ke dalam cafe.


"Iya udah lama kan? Nah, kamu sampai magrib disini ya! Kita sambil makan-makan cemilan,"


"Ya, kebetulan aku juga mau sesuatu!" Kata Amayra sambil tersenyum. Tiba-tiba saja terlintas olehnya sebuah makanan yang dia inginkan.


Anna, Lisa, Anton, Amayra dan Ken duduk di salah satu meja disana. Hari itu Ken tidak ada jadwal konser, karena ada band lain yang menggantikannya untuk tampil.


Amayra dan Lisa memesan makanan di tempat pemesanan makanan. Tak lama kemudian Amayra dan Lisa datang membawa nampan berisi makanan dan minuman sendiri. Anton dan Anna langsung membantu dua wanita itu membawa nampannya.


"Aduh May, Lis. Kenapa gak si mbak pelayannya aja yang anterin? Dasar.." gerutu Anna kesal.


"Biar sekalian aja An," Amayra duduk sambil tersenyum-senyum melihat makanan yang ada didepannya.


Buah ganas dan soda. Dua hal itu yang dipesan oleh Amayra. Ketika Amayra menyantap makanan itu, Anna melihatnya. "May, itu buah apa?"


"Ini nanas. Kamu mau An?" Amayra menawarkan nanas yang dimakannya itu. Amayra tersenyum bahagia saat memakan makanan itu.


"Nanas? May, kamu makan nanas? Kamu minum soda juga?!" Anna terperangah sangat dia baru menyadari bahwa Amayra memesan soda dan nanas. Dia pikir Lisa yang memesannya.


Ken, Anton dan Lisa memperhatikan reaksi aneh dari Anna saat melihat Amayra memakan dua hal itu.


"Memangnya kenapa, An? Ini enak kok," Amayra menatap Anna dengan kening berkerut.


"Jangan dimakan lagi! Kamu gak boleh makan itu!" Ujar Anna melarang tegas.


Amayra menatap Anna dengan terheran-heran. Kenapa Anna melarang Amayra makan nanas dan minum soda? Amayra bingung karenanya.


...-----*****----...

__ADS_1


__ADS_2