
...🍂🍂🍂...
Amayra bersama sang ayah berada di ruang tamu, sementara Bram dan Satria pergi ke halaman belakang rumah itu. Harun menanyakan kepada Amayra langsung ke intinya. Dia ingin mendengar cerita dari Amayra tentang hubungan Bram, Satria dan putrinya.
Secara singkat, padat dan jelas Amayra menceritakan pada ayahnya. Bahwa Bram memanglah orang yang sudah menodai kehormatan nya sebagai wanita, anak yang ada di dalam perutnya juga adalah anak Bram. "Lalu bagaimana kamu bisa menikah dengan Satria? Kenapa kamu berbohong pada ayah, May?"
"Ayah, May menikah dengan kak Satria karena saat itu pak Bram kabur dari tanggungjawab nya. Kak Satria menolong Amayra, walau sebelumnya kak Satria menikahi ku karena permintaan papa Cakra dan mama Nilam. Tapi, aku dan kak Satria bahagia di dalam pernikahan ini ayah.."
"Kamu bahagia, nak?" tanya Harun sambil menatap wajah putrinya.
"Iya ayah, aku dan kak Satria bahagia dengan pernikahan kami," jawab Amayra sambil tersenyum pada sang ayah.
"Kamu mencintai suamimu?" tanya Harun tegas.
"Iya ayah, May mencintai kak Satria," Amayra tersenyum tulus.
"Baiklah, lalu mau apa Bram kemari dan berkelahi dengan suami mu?" tanya Harun lagi.
Amayra membuka matanya lebar-lebar, dia terperangah mendengar pertanyaan ayahnya. Harun bertanya lagi sampai Amayra menjawab dan akhirnya dia mengatakan apa yang diinginkan Bram, juga apa yang membuat suaminya berkelahi dengan Bram.
"Karena kamu sudah menikah dengan Satria, ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, apa yang dilakukan Bram ini salah sejak awal bahkan sampai sekarang. May, ayah tanya kamu sekarang! Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? Apa pernah terbesit di hati kamu ingin bersama dengan ayah dari bayimu?" tanya Harun yang ingin memperjelas semuanya.
Tanpa ragu penuh keyakinan Amayra menjawab bahwa dia bahagia dengan Satria dan tidak mau bersama dengan Bram. Tidak penting baginya siapa ayah bayi itu, yang penting adalah dia bahagia bersama orang yang dia cintai dan orang yang mencintainya dengan tulus. Orang yang bisa memberikan semua itu untuk Amayra adalah Satria.
"Baik, kalau itu jawaban kamu. Ayah tau kamu pasti akan memilih yang terbaik, ayah percaya pilihan kamu. Ayah juga percaya kalau Satria adalah pria baik, dia penyelamat mu." Harun percaya bahwa Satria adalah pria yang tepat untuk anaknya. Tidak seperti Bram yang sempat menghindar dari tanggungjawab.
"Iya ayah," ucap Amayra sambil mengangguk setuju.
"Biar ayah yang menyelesaikan semuanya. Kamu tunggu disini May," ucap Harun pada putrinya penuh kasih sayang.
"A-ayah?"
Harun pergi ke halaman belakang tempat dimana Bram dan Satria berada. Dia menatap tajam kedua pria itu, segera setelah kedatangan nya. Bram dan Satria langsung menyapa Harun dengan ramah.
"Duduklah! Saya ingin membicarakan sesuatu dengan kalian," ucap Harun pada kedua pria yang memiliki hubungan dengan putrinya itu.
Bram, ayah dari cucunya dan Satria suami yang mencintai putrinya. Kedua pria itu mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Harun duduk.
__ADS_1
Ketika Bram sudah duduk atas kursi, tanpa bicara apapun Harun langsung memukul wajah Bram. Hingga bertambah lah lebam di wajah pria itu.
Dia memukulku?
Bram terpana dengan pukulan yang baru saja dilayangkan pria paruh baya itu padanya. Tapi Bram menerimanya, karena memang dia pantas mendapatkan semua itu.
"Sebenarnya satu pukulan saja tidak cukup untuk kamu! Tapi saya menahannya karena adik kamu ada disini dan posisi kamu adalah kakak ipar putri saya," ucap Harun sambil kembali duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa pak, saya memang pantas mendapatkannya," ucap Bram sambil tersenyum. Dengan ego nya yang tinggi, Bram tidak akan merendah semudah itu. Tapi demi Amayra dan anaknya, dia rela merendah bahkan meminta maaf.
"Saya ingin menyampaikan pada kalian berdua, mewakili Amayra. Saya dan Amayra sudah mengambil keputusan, bahwa Bram harus menjauh dari kehidupan Amayra dan Satria,"
Bram dan Satria tercengang mendengar penjelasan dari keputusan Harun. "Bagaimana bisa bapak mengambil keputusan seperti ini? Bapak jangan lupa ya, saya adalah ayah kandung dari cucu bapak!" Bram tidak terima keputusan pak Harun terhadapnya.
"Kamu benar-benar tebal muka, setelah semua yang kamu lakukan pada putri saya, kamu masih berani untuk tawar menawar?" Harun tersenyum sinis, dia tak percaya bahwa Bram masih berani tawar menawar dengannya.
Ketika Harun dan Bram berdebat, Satria diam dan memperhatikan mereka.
"Tapi pak, saya adalah ayah dari bayi itu!"
"Kamu memang ayah dari bayi itu, lalu apa? Kemana kamu saat anak saya meminta pertanggungjawaban? Kamu meninggalkan anak saya disaat-saat tersulit nya kan? Dan dimana kamu saat itu? Kamu sedang pergi mengejar tunangan kamu dan menghilang begitu saja! Disaat kamu menghilang, Satria lah yang mengambil alih tanggungjawab kamu! Satria yang lebih pantas menjadi pendamping anak saya, dia bisa menjadi ayah yang baik untuk cucu saya,"
"Saya sudah mengatakan keputusan saya dan Amayra. Kamu harus menjauh dari rumah tangga anak dan menantu saya, itulah cara kamu menebus kesalahan kamu! Anggaplah begitu!" Seru Harun tegas.
Bram sudah salah jalan, mungkin dia sedang berada di ujung jurang atau mungkin dia sudah jatuh ke dalamnya. Tidak ada lagi kesempatan untuk Bram bersama Amayra dan anaknya, semua sudah terlambat. Dia pikir dengan memberitahukan kebenaran ini, maka Harun akan menyerahkan Amayra kepadanya. Dia sudah salah jalan.
Dalam kemarahan dan suasana kekalahan, Bram pergi meninggalkan rumah itu untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Kini hanya Satria dan Harun berdua disana, "Terimakasih kamu sudah melindungi anak dan cucu saya,"
"Tidak pak, saya yang harusnya berterimakasih pada bapak karena sudah memberikan saya kepercayaan." Satria tersenyum penuh syukur dan lega mendengar keputusan Harun.
"Saya minta maaf ya selama ini saya sudah bersikap tidak baik sama kamu, saya salah paham," Harun meminta maaf kepada menantunya, karena sikap ketus dan tidak baik pada Satria selama ini.
"Tidak apa-apa, pak. Saya tau, itu karena bapak salah paham pada saya," ucap Satria bahagia karena cintanya mendapat restu tulus dari ayah mertuanya.
Jalan indah keluarga bersama Amayra, untuk sakinah mawadah warahmah sudah berada di depannya. Malam itu Satria mengantar mertuanya pulang dengan selamat, saat dia kembali ke rumahnya. Dia langsung memeluk sang istri dengan bahagia.
"Ayah sudah merestui hubungan kita May," Satria tersenyum lembut pada istrinya.
__ADS_1
"Lalu pak Bram?" tanya Amayra yang belum tau apa yang diobrolkan ayahnya pada Bram dan Satria.
"Ayah memintanya untuk jangan mendekati keluarga kita lagi," jawab Satria.
"Keluarga?" tanya Amayra terpana.
"Kamu, aku dan bayi ini, kita keluarga," Satria tersenyum bahagia, dia mengelus perut buncit itu.
"Benar, kita keluarga kak!" Amayra tersenyum membenarkan ucapan suaminya.
"Besok kita jalan-jalan yuk, kebetulan aku lagi libur!" Satria mengajak istrinya jalan-jalan dengan semangat.
"Jalan-jalan?"
"Iya, kita kan jarang jalan berdua karena aku sibuk," Satria membelai pipi sang istri dengan lembut.
"Iya kak, ayo!" Amayra langsung mengangguk setuju, ini kedua kalinya sang suami mengajaknya jalan-jalan di hari libur.
Ya Allah semoga aku, kak Satria dan anak ini selalu bahagia.
Ketika Amayra dan Satria sedang bahagia.
Bram terlihat stress, dia pulang ke rumahnya sambil marah-marah. Semua barang di kamar itu ditendangnya bahkan di lemparnya dengan emosi.
Lulu, Dewi, Cakra dan Nilam terkejut mendengar suara barang-barang pecah dan kegaduhan dari kamar Bram. Mereka segera melihat apa yang terjadi disana.
"Bram! Kamu kenapa?" tanya Cakra terheran-heran melihat barang-barang pecah di kamar nya. Bahkan tangan dan kaki Bram juga berdarah karena terkena pecahan kacanya.
Bram menangis, dia menghampiri sang papa dan mamanya. Bram duduk berlutut di depan Nilam yang duduk di kursi roda.
"Ada apwaa Bram?" tanya Nilam cemas melihat kondisi anaknya itu.
"Ma, pa, tolong bantu Bram! Tolong pa, ma.. papa dan mama pasti bisa bantu Bram," Bram menangis di punggung tangan mama nya, "Aku tidak rela pa! Aku tidak rela, ma.."
Tidak rela apa yang dimaksud Bram ini?
Nilam dan Cakra menatap Bram dengan cemas, mereka belum pernah melihat Bram menangis.
__ADS_1
...----***----...