
Diana, Bram, Satria dan Amayra masuk ke dalam ruangan itu. Disana Amayra langsung mencoba menenangkan Rey dan menyusui anaknya yang sedari tadi menangis. Rey mau menyusu meski hanya sedikit. Satria juga duduk disamping Amayra dan Rey.
"Sayang.. ini mama sayang, Rey anak baik..Rey anak sholeh," Amayra menepuk-nepuk punggung Rey dengan lembut. Mata anak itu terlihat sembab dan sayu, dia tampak lemah tidak seperti sebelumnya yang ceria dan terlihat kuat.
"Jadi bagaimana kondisi Rey? Kenapa Rey bisa seperti itu, Yud?" Tanya Satria pada temannya.
Disana ada Diana dan Bram yang juga duduk di kursi, mereka ingin tau bagaimana kondisi Rey. Mereka menantikan penjelasan dokter.
"Dari ciri-ciri yang saya lihat, Rey mengalami gejala meningitis."
Deg!
Satria, Amayra, Bram dan Diana terperangah mendengar ucapan dokter. "Meningitis? Apa kamu gak salah Yud? Anakku ini masih kecil, dia bahkan belum berusia 1 tahun.. dia baru mau berusia 6 bulan." Satria tidak langsung percaya begitu saja dengan diagnosis Yudha.
"Satria, penyakit bisa datang pada siapa saja dan dalam usia yang tidak bisa diprediksi. Kamu paling tau hal itu," ucap dokter muda itu dengan wajah sedih.
Satria dan juga Amayra terlihat sedih, mereka kehabisan kata-kata. Malam itu Rey melakukan pemeriksaan otak dan mengharuskan dia menginap di rumah sakit. Sebelumnya dokter Yudha menjelaskan bahwa Rey mungkin sudah lama sakit meningitis, hanya saja gejalanya baru muncul sekarang secara mendadak.
Amayra tak tega, melihat anaknya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan banyak benda medis terpasang di tubuhnya.
"Rey... baik-baik saja. Rey sehat, dia gak apapa...dia bahkan udah bisa memanggilku Mama. Tadi pagi sampai sore, aku masih bermain dengannya. Dan Rey biasa saja seperti biasa, kenapa sekarang Rey begini?" Amayra melihat anaknya yang tidur diatas ranjang rumah sakit.
Hati Diana juga tidak tega, melihat anak sekecil itu harus berada di rumah sakit dalam kondisi yang kurang baik dan tubuhnya di tempeli alat medis.
"Rey akan baik-baik saja May, dia gak akan kenapa-napa." Diana mencoba meyakinkan Amayra bahwa Rey akan baik-baik saja.
"Ini salahku...aku gak bisa menjaga Rey dengan baik, aku tidak bisa selalu ada disampingnya. Aku bukan ibu yang baik. Aku ibu yang jahat!" Amayra menyalahkan dirinya sendiri, atas sakitnya Rey.
"Astagfirullah May, ini bukan salah kamu. Penyakit itu datangnya dari Allah dan ini bukan salah kamu May. Berhenti menyalahkan diri sendiri, kamu itu ibu yang baik May." Diana menepuk bahu Amayra, mencoba menenangkan seorang ibu yang sedang khawatir itu.
"Benar kata Diana. Ini bukan salah kamu...kuatkan diri kamu, supaya Rey juga bisa kuat. Kamu ibunya, kamu bisa memberikan Rey kekuatan May." Ucap Satria menyemangati istrinya untuk tetap tegar.
"Iya Mas," Amayra tersenyum tipis.
"Nah...ngomong-ngomong tentang kekuatan, kamu pasti belum makan malam ya? Kita makan bersama yuk sayang?" Ajak Satria pada istrinya.
"Iya Mas," jawab Amayra sambil duduk disamping suaminya.
Selagi Amayra dan Satria makan malam, Diana dan Bram pamit pulang lebih dulu untuk berganti baju karena mereka belum pulang ke rumah dan membersihkan dirinya.
"Mas, kamu pulang dulu saja. Kamu belum mandi dan belum ganti baju." Titah Amayra pada suaminya.
"Aku bisa mandi disini kok, ada baju ganti juga diruangan ku. Ya udah, aku pergi ke ruanganku dulu ya sayang.." ucap Satria berpamitan pada istrinya untuk mandi dan ganti baju dulu.
"Iya Mas," ucap Amayra sambil tersenyum pada suaminya.
Satria meninggalkan istrinya bersama Rey disana. Satria melihat Rey dengan tatapan cemas ,penuh kasih sayang dan kesedihan. Sebelum dia pergi meninggalkan ruang rawat itu.
Amayra menunggu Rey disana, dia memegang tasbih sambil berdzikir. Berharap anaknya bisa kembali pulih seperti sedia kala. Ada beberapa panggilan telepon dari Lisa dan Anna, namun Amayra tidak mendengarnya karena hpnya di silent.
__ADS_1
Malam itu adalah malam yang sulit untuk Rey, pasalnya dokter Yudha mengatakan bahwa kondisi Rey kritis. Bayi itu belum sadarkan diri setelah kejangnya yang terakhir. Tentu saja hal ini menyakiti perasaan Amayra dan Satria sebagai orang tua.
Jangan lagi, ya Allah aku mohon.. jangan lagi ada kesedihan. Jangan ambil Rey dariku... aku sangat menyayanginya ya Allah..
Amayra menatap Rey sambil menahan tangis. Satria melihat istrinya dengan sedih, kemudian dia memeluk Amayra seraya mengatakannya.
"Sayang, Rey akan baik-baik saja. Insyaallah..." ucap Satria berbisik pada Amayra.
Yudha bilang kalau kemungkinan Rey untuk selamat itu sangat tipis, jika Rey kembali melewati masa kritis.. kemungkinan besar Rey akan mengalami keterbelakangan mental atau ketulian.Tapi, mana mungkin aku mengatakannya pada Amayra. Dia akan semakin syok. Enggak...jangan berfikiran buruk dulu, Rey pasti akan baik-baik saja.
"Iya Mas. Rey pasti akan kembali sehat. Rey kan jarang sakit," ucap Amayra yakin. "Mas, tau gak? Tadi Rey main dengan spidol dan dia juga mengoceh mama mama terus. Rey akan semakin pintar," tambahnya lagi sambil tersenyum.
"Iya sayang, Rey akan baik-baik saja. Dia akan bermain lagi dengan kita, Rey kita adalah anak yang kuat." Satria tersenyum pada Amayra.
*****
Malam itu setelah menonton konser Ken di cafe, Anna dan Lisa berada diluar cafe. Mereka berencana untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Gimana An? Diangkat gak?" Tanya Lisa pada Anna.
"Gak diangkat Lis, tapi masa sih jam segini Amayra udah tidur? Biasanya jam segini, Rey masih bangun. Dia kan tukang begadang," jelas Anna pada Lisa.
"Apa dia baik-baik aja? Pasti baik-baik aja kan," ucap Lisa sambil mengangguk-angguk. Tadinya gadis itu ingin menanyakan tugas persentasi untuk besok. Tapi Amayra slow respon tidak menjawab pesan ataupun telepon darinya.
"Lis, kamu mau pulang? Barengan sama aku yuk, kita kan searah!" Ajak Anton pada Lisa.
"Maaf ya An, aku gak bisa nganter kamu. Soalnya kursi motorku cuma muat buat dua orang, aku sama Lisa." Kata Anton sambil melihat ke arah Ken dan Anna. Pria itu mengedipkan sebelah matanya, diiringi dengan senyuman dibibir.
"Ton, sejak kapan Lo kena penyakit saraf?" Sindir Ken saat dia melihat temannya seperti itu.
"Ah Lo...peka dong!" Ujar Anton pada temannya itu. Bibirnya memonyong.
"Ken, titip Anna ya!" Kata Lisa sambil tersenyum.
"Eh.. gak usah, aku bisa pulang sendiri kok." Kata Anna yang mengerti apa maksud Lisa. Dia langsung menolaknya.
"Oke, An. Gue antar Lo pulang." Ucap Ken tanpa basa-basi dia langsung berjalan menuju ke arah mobilnya yang tak jauh dari sana.
"Eh Ken, gak usah!" Kata Anna.
"Buruan! Ini malam minggu, takutnya macet!" Seru Ken cuek dan tak mau dibantah oleh Anna.
Lisa dan Anton tersenyum melihat Anna dan Ken akhirnya pulang bersama. Ken dan Anna masuk ke dalam mobil, ini kedua kalinya Anna naik ke mobil Ken. Saat itu dia tidur dan meminta uang dari Ken.
"PFut.."
"Ada yang lucu ya?" Tanya Ken sambil menyetir mobilnya.
"Gak apa-apa, aku cuma inget saat aku pertama kali ketemu kamu. Dan aku tidur di mobil kamu," jelas Anna sambil tersenyum. Kini dia menggunakan bahasa aku dan kamu, tidak seperti sebelumnya gue elo.
__ADS_1
"Apa Lo gak salah? Bukannya Lo pura-pura tidur di mobil gue?" Ken tersenyum, dia menyindir Anna.
"Hahahaha iya itu benar," Anna tertawa mendengar sindiran itu.
Ken melihat Anna sekilas. Gadis itu terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana, rambutnya kembali berwarna hitam tidak merah seperti sebelumnya. Ken memuji Anna, tapi didalam hati.
Mereka sedikit mengobrol tentang masa lalu, ketika sedang asyik mengobrol. Ponsel Anna berdering, dia langsung mengangkat teleponnya. "Halo Assalamualaikum Om"
Suara pria terdengar dari ponsel Anna, tapi tak terdengar jelas oleh Ken. Beberapa saat kemudian, Anna terlihat syok. "Astagfirullah! Rey di rumah sakit? Ya, om..Anna ke rumah om terus ambil baju ganti sama keperluan Rey, terus Anna ke rumah sakit." Ucap Anna pada om nya itu. Entah om mana yang dia telepon.
Setelah itu Anna menutup telponnya. "Rey itu.. anaknya Amayra kan?" Tanya Ken yakin.
"Iya, Rey lagi sakit. Amayra sama om Satria mau menginap disana. Aku disuruh om Satria buat ambil baju Amayra sama keperluan Rey, mereka mau nginap di rumah sakit."
"Jadi gue anter ke rumah Amayra?"
"Ya, kalau kamu mau."
"Oke," Ken setuju mengantar Anna.
...*****...
Setelah mengantar baju ke rumah sakit, Anna dan Ken melihat kondisi Rey yang terbaring lemah diatas ranjang. Satria berterimakasih pada Ken dan Anna yang sudah datang ke rumah sakit, juga menjenguk Rey.
"Makasih ya kalian sudah datang. Minta doanya untuk kesembuhan Rey," ucap Satria yang terlihat sedih. Seolah semangat hidupnya melemah.
"Iya om, kami pasti akan mendoakan kesembuhan Rey. Rey kan adik aku," ucap Anna sambil menatap adiknya dengan sedih.
"Semoga Rey cepat sembuh, pak satria." Kata Ken mendoakan dengan setulus hati untuk kesembuhan Rey.
"Makasih Kenan," Satria sedikit tersenyum, sikapnya sudah lebih ramah pada Amayra.
Disisi lain Amayra masih setia menunggu anaknya. Tangannya menggenggam Rey, tak henti dia melakukan dzikirnya.
Keesokan harinya, pagi itu Rey terbangun. Dia mengoceh dengan suara lemah. "Mamwa..papwa.."
"Masyaallah...Rey, sayang?? Mas, bangun Mas...Rey sudah sadar." Ucap Amayra dengan mata yang terbuka lebar, dia menggoyangkan tubuh suaminya yang tertidur di sofa.
"Rey sudah bangun, sayang?" Satria membuka matanya, dia mengucek matanya.
"Iya Mas, lihat!" Amayra menghampiri Rey dengan hati yang lega.
Satria langsung beranjak bangun, dia memanggil dokter Yudha untuk memeriksa kondisi Rey.
"Dokter? Bagaimana keadaan Rey? Rey baik-baik saja, kan? Baru saja dia menyusu," ucap Amayra dengan harapan yang tinggi.
"Satria, aku mau bicara sama kamu." Ucap Yudha dengan tatapan yang tajam pada Satria.
...*****...
__ADS_1