
Hari ini author mau up lagi! Tapi minta komen dan giftnya ya 🔪🔪😘
...🍁🍁🍁...
Amayra melihat ke arah Bram yang tiba-tiba sudah ada disana dengan memakai piyama tidurnya. Di sampingnya juga ada Diana menemani.
Bram menatap Bima dengan tajam. "Kalian gak boleh tidur bersama!" ucapnya tegas lagi.
Bima juga merasakan bahwa Bram sedikit tajam padanya, pria itu seperti mencurigainya. Selama beberapa hari ini Bram selalu tidur satu kamar bersama Bima. Bram seperti sedang mengawasi Bima.
Aku tidak akan membiarkan bajingan sepertimu menyentuh istri adikku.
"Kenapa aku tidak boleh tidur bersama mas Satria?" tanya Amayra pada Bram keheranan.
"Karena...."
Deg!
Jantung Bima berdegup kencang, saat Bram menatap dirinya dengan tajam dan saat pria itu mulai membuka mulutnya.
Kenapa dia selalu menatap tajam kepadaku? Apa dia sudah menyadari bahwa aku bukan Satria?
"Karena apa kak?" tanya Amayra lagi.
"Karena aku yang akan tidur dengannya, kamu tidur saja sama Diana. Kamu lagi hamil dan perlu seseorang yang merawat kamu, sedangkan Satria masih sakit dan belum bisa merawat dirinya sendiri apalagi merawat kamu." Bram tersenyum sinis pada Bima.
"Tidak apa-apa kak, aku sudah baik-baik saja. Aku bisa menjaga istri dan anakku, hanya ingatanku saja yang sakit...bukan fisikku." ucap Bima yang ingin tidur bersama Amayra dengan alasan untuk menjaga dia dan bayinya.
Hem, aku yakin Bram sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Makanya dia melarang ku untuk tidur satu kamar dengan Amayra.
"Jangan Satria, kamu belum boleh tidur bersama dengan Amayra. Sekarang kamu tidur selalu kesana kemari, takutnya kamu akan mengganggu tidurnya. Sudahlah Satria, tidur saja denganku."
Sialan! Malam ini kita harus bicara, dasar kau penipu!. Bram memaki Bima didalam hatinya.
"Kalau begitu-"
"Gak boleh kak. Mas Satria gak boleh terus-terusan tidur sama kak Bram, kak Bram harus tidur sama kak Diana. Sudah tiga hari ini kalian tidak tidur bersama karena aku dan mas Satria. Malam ini, aku akan tidur dengan mas Satria. Gak apa-apa kok."
Beberapa hari ini mama Nilam mengomel terus dibelakang karena pengen cucu dari kak Bram dan kak Diana. Jika kak Bram dan kak Diana terus tidur terpisah, nanti mama Nilam marah dong sama aku.
Amayra merasa tak enak karena Bram tidur dengan Satria, membuat dia tak bisa tidur dengan istrinya. "Aku gak apa-apa kok May." kata Diana merasa tak keberatan.
"Gak bisa, malam ini aku tidur sama mas Satria. Kami akan baik-baik saja, kalian gak usah cemas dan kembali saja ke kamar kalian ya!" Amayra menarik tangan Bima.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dengan cepat dan Amayra mengunci kamar itu. Bram dan Diana berdiri didepan pintu dengan keadaan resah.
"Mas, gimana ini?" tanya Diana sambil merentangkan kedua tangannya dan mengangkat bahu.
"Haahhhh..." Bram menghela nafas kesal, sebenarnya dia berada didalam dilema. "Sudah kita biarkan saja dulu."
"Bukankah kamu bilang kalau dia bukan Satria? Kamu yakin mas?" bisik Diana pada suaminya.
"Ya aku yakin. Tapi aku tak punya bukti, jadi...aku mengambil ini." Bram memperlihatkan ditangannya ada sehelai rambut pendek. Dia memasukkan satu helai rambut itu ke sebuah plastik. Itu adalah rambut Bima yang dia dapatkan saat dia menepuk bahu Bima.
"Iya mas kita harus pastikan. Lalu, bagaimana dengan Satria palsu yang tidur di kamar Amayra?" Diana bertanya lagi karena resah.
Bram mengetuk pintu kamar itu, lalu dia berkata dengan keras namun suara yang lembut. "Satria, jangan macam-macam ya sama Amayra dan bayinya. Kalau sampai Amayra dan keponakan ku kenapa-napa saat tidur sama kamu, aku akan buat perhitungan sama kamu."
Deg!
__ADS_1
Bima tersenyum mendengar suara Bram yang terdengar seperti ancaman itu. Seolah mengatakan padanya jika dia menyentuh Amayra maka dia akan mati ditanganinya.
"Aku gak akan macam-macam, tenang saja kak." jawab Bima pada Bram, yang juga adalah kakaknya.
Aku gak akan ngapa-ngapain karena Amayra dan anak didalam kandungannya adalah keluargaku.
Bram dan Diana pergi meninggalkan kamar itu dengan resah, namun sebelum itu dia meminta Lulu dan Dewi yang kamarnya dekat dengan kamar Amayra untuk melaporkan pada mereka jika ada suara aneh di kamar itu.
Bram dan Diana pergi ke kamar mereka. Sementara itu, Bima dan Amayra berada didalam satu kamar. Amayra menyiapkan tempat tidur untuk Bima senyaman mungkin. Sudah lama dia tidak menyiapkannya, bahkan Amayra juga menyiapkan piyama tidur untuk Bima.
"Mas..."
"Ya?"
"Buka bajumu."
"Heh? Apa?" Bima melotot ke arah Amayra.
"Mas...kamu harus ganti baju. Aku sudah siapkan baju tidur buat kamu. Oh ya, kamu mau aku buatkan teh?" tanya Amayra pada Bima hangat dan ramah.
Selama ini, tidak pernah ada orang yang menyiapkan baju ataupun menyajikan teh untukku.
Bima tersentuh, selama ini dia tidak pernah merasakan perhatian dari seseorang apalagi keluarga. Dia sudah tinggal mandiri sejak pamannya meninggal dunia.
"Mas, kok malah diem sih? Ayo ganti baju Mas!" Ujar Amayra pada Bima.
"Iya, aku ke kamar mandi dulu ya."
"Oh ya mas sekalian wudhu juga, kamu belum shalat isya loh."
"Hah? Shalat isya?" tanya Bima sambil menoleh ke arah istrinya dengan bingung. Dia memang tidak pernah shalat dan selama tiga hari itu, Amayra dan Bram yang membimbingnya untuk shalat.
"Mas! Kok ngelamun lagi sih? Apa jangan-jangan mas masih lupa doa wudhu?" tanya Amayra sambil menatap Bima dengan kening berkerut.
"Ah...itu..." Bima gelagapan.
"Gak apa-apa mas, kamu kan lupa karena lagi hilang ingatan. Ini, kamu baca aja doanya ya..." Amayra menyerahkan secarik kertas pada Bima.
Dengan bingung, pria itu masuk ke kamar mandi. Dia kebingungan disana karena tidak tahu doa wudhu ataupun gerakannya, Bima hanya menuruti apa yang ada di kertas itu.
Tak lama kemudian, Amayra juga masuk ke kamar mandi. Dia mengambil air wudhu, sudah tiga hari dia tidak shalat bersama dengan Bima yang dianggapnya sebagai Satria.
Bima terlihat kikuk menjadi imam dan memimpin gerakan shalat karena dia tak pernah melakukan ini sebelumnya. Apalagi saat Amayra mencium tangannya. "Mas..."
"Apa lagi?"
Amayra meminta Bima mencium keningnya. "Hah?"
"Setiap selesai shalat berjamaah kamu selalu mencium keningku, lalu mendoakan anak kita juga." Amayra tersenyum, dia menantikan Bila mencium keningnya sambil mengelus perutnya.
Bagaimana ini? Aku tidak mau melihat si wanita beban ini kecewa dan sedih. Satria maafkan aku, ini demi kebahagiaan anak kamu juga.
Bima terlihat gugup, dengan ragu dia membenamkan bibirnya pada kening Amayra dengan lembut.
Cup!
"Nah sudah-"
Cup!
__ADS_1
Amayra membalas kecupan kening dari Bima, dengan mengecup pipi Bima. Bima sangat kaget sampai dia terjengkang dan memegang pipinya. "Ka-kamu!"
"Aku cinta kamu mas..."
Kalimat cinta yang terlontar dari mulut Amayra itu membuat hatinya bergetar hebat. Meski dia tau kata cinta itu bukanlah untuknya.
...----*****----...
Hai Readers ku tersayang 😍😍❤️ sambil nunggu update novelku, bagaimana kalau kalian mampir ke karya kece yang satu ini. Simak dulu cuplikannya yuk 😍
*****
Judul : MAKMUM PILIHAN MICHAEL EMERSON
Penulis :SkySal
Cuplikan
"Sayang, kok kamu cantik banget sih kalau pakai daster begini?" Micheal berkata sembari bergelenyut manja di punggung Zenwa yang saat ini sedang membuat roti panggang.
Zenwa memang hanya memakai daster saat ini, rambutnya di cepol asal dan ia tidak memakai apapun di balik daster itu di karenakan tadi ia terburu-buru, perutnya sudah keroncongan dan cacingnya itu sudah demo minta makan.
"Cantiknya buat kamu," ucap Zenwa yang sedikit kesulitan bergerak karena Micheal yang terus menempel seperti anak ayam yang baru menetes. "Sayang, kamu tunggu di meja makan ya, aku mau buat susu dulu," tukas Zenwa kemudian.
"Tapi masih kangen, masih mau hirup aroma kamu," rengek Micheal manja dan ia pun mencium tengkuk Zenwa, seluruh tubuh Zenwa meremang, dan ia menggeliat geli.
"Kangen bagaimana? Kita selalu bersama," kata Zenwa dan ia mengambil dua gelas untuk membuat susu.
"Ya kangen, tadi pas aku bangun tidur, kamu tidak ada, kita sudah berpisah tadi karena kamu sibuk di dapur." Zenwa terkekeh mendengar aduan suaminya itu.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega yang mau bangunin, Sayang."
"Tapi kan bisa pamit dulu, cium dulu gitu, sebelum pergi ke dapur."
"Sudah, tadi aku sudah cium kamu."
"Bohong! Nggak kerasa."
"Ya kan kamu tidur, gimana mau terasa?"
"Seharusnya terasa kalau kamu ciumnya di bibir, tadi kamu ciumnya dimana?"
"Di tangan."
"Yah, di tangan itu kalau aku mau berangkat kerja.
"Okey okey. Sekarang, ayo kita makan, setelah ini aku cium di bibir."
"Janji?"
"Iya."
"Mau bikin bayi lagi?"
"Pabriknya masih capek, Sayang."
Tbc....
Gimana guys seru kan? Yuk simak Kelanjutannya disini ya 😍😍
__ADS_1