
Harun menoleh ke arah pria yang memanggilnya tukang sampah dengan membentak. Pria itu bersama seorang wanita berwajah cantik dan berpakaian menantang di dalam mobil.
"Cepat singkirkan roda busuk mu itu! Aku mau masuk!" teriak Bram pada Harun dan roda sampahnya yang menghalangi garasi.
Siapa ya pria ini? Apa dia keluarga suami nya Amayra juga?. Harun melihat pria itu dengan bertanya-tanya.
"Maafkan saya." ucap Harun merasa bersalah, dia menunduk dan mendorong rodanya dengan cepat. Namun, ketika dia mendorong roda itu. Kakinya terkilir dan pria itu terjatuh, rodanya juga terguling saking buru-buru nya.
Brugh!
"Astagfirullahaladzim!" Harun jatuh di depan gerbang, dia memegang kakinya dan merintih kesakitan.
Bram dan Alexis turun dari mobil, mereka terlihat kesal oleh pak Harun. "Aduh sayang, dia pasti modus nih.. pura-pura jatuh terus ujung-ujungnya minta duit." Belum apa-apa Alexis sudah menuduh pria itu dengan sarkastik. Senyumnya sinis.
"Maaf ya bu, tapi saya tidak berpura-pura! Kaki saya benar-benar terluka..auchh.." Harun mencoba berdiri, tapi dia kesulitan karena salah satu kakinya terluka.
"Aku tidak peduli bapak mau sakit atau tidak! Yang penting sekarang, menyingkir dari depan rumahku! Dasar tukang sampah!"Bram mengusir Harun dengan kasar bahkan sampai menghina nya.
Pak Muin, salah satu satpam di rumah itu langsung menghampiri Harun dan membantu pria itu berdiri. Pak Muin mengenali Harun sebagai besan keluarga Calabria.
"Pak Harun, bapak tidak apa-apa?" tanya Muin sambil memapah Harun dengan khawatir
"Saya gak apa-apa pak Muin, aduh.." Harun merintih kesakitan.
"Pak Muin, cepat singkirkan roda sampah ini! Menghalangi jalanku saja!" seru Bram emosi.
"Iya nih, mana bau lagi..iuhh" ucap Alexis sembari menutup hidungnya.
Harun menatap kedua anak yang tidak sopan itu dengan tatapan mata tidak senang. Dalam hatinya berulang kali dia mengucapkan istighfar karena kelakuan Bram dan Alexis. Pak Muin juga sama-sama terkejut melihat sikap asli Bram.
Cakra, Satria, Nilam dan Amayra keluar dari rumah untuk mengantar suami mereka yang akan berangkat kerja. Mereka pun melihat keributan yang terjadi, terlebih lagi berserakan sampah di depan gerbang rumah itu karena roda sampah yang terbalik.
"A-ayah!!" Amayra berfokus pada ayahnya yang sedang di papah Muin. Dia menghampiri sang ayah dan menatapnya dengan cemas. Ditambah rasa rindu karena dua hari tidak bertemu dengan ayahnya.
"Mayra.." mata nya memicing menatap Amayra, dia juga merasakan rindu yang sama.
"Ayah.. ayah...hiks" Amayra menangis dan mencium tangan ayahnya.
"May.." walaupun Amayra sudah mengecewakan nya, tapi tetap saja Harun merindukan putrinya.
Disisi lain Cakra dan Satria menatap ke arah Bram dengan penuh amarah. Satria mendengus kesal melihat kakaknya itu, dia berniat memberikan pelajaran pada kakaknya.
Bajingan itu! Berani nya dia kembali dengan membawa tunangan nya pula! Tidak tahu malu!. Batin Satria memaki kakaknya.
Cakra menahan tangan Satria, "Tahan dulu emosimu Satria! Papa juga sama marahnya dengan kamu, tapi disini ada pak Harun!" Cakra berusaha menahan emosinya karena takut pak Harun tau tentang Bram. Akan lebih baik tentang Bram disembunyikan dulu dari nya. Satria pun mengangguk dan mencoba tenang.
Bram dan Alexis terkejut melihat Amayra memanggil pria tukang sampah sebagai ayah nya. Cakra segera memanggil Bram dan Alexis masuk ke dalam rumah, selagi Satria, Muin dan Amayra sibuk membantu Harun dan gerobak sampahnya.
"Pak, bapak gak apa-apa?" tanya Satria cemas melihat kaki kanan ayah mertuanya bengkak. Satria memegang tangan Harun, tapi Harun menepisnya. Dia masih ada rasa tidak senang karena mengira Satria yang sudah menghancurkan masa depan putrinya.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa." jawab Harun dengan datar.
Dia pasti masih mengira kalau aku yang sudah menodai putrinya. Batin Satria.
"Saya akan mencoba mengobati kaki bapak, apa bapak bisa duduk sebentar?" tanya Satria sopan.
"Tidak usah, saya tidak apa-apa." jawab nya dingin.
"Gak apa-apa gimana yah? Ayah gak bisa jalan, ayah di obati dulu sama kak Satria ya?" tanya Amayra membujuk ayahnya.
Harun duduk di kursi teras depan rumah, dengan hati-hati Satria memijat pelan kaki kanan Harun.
"Bagaimana pak? Apa sudah mendingan?" tanya Satria sambil menoleh ke arah Harun, menatapnya dengan cemas.
Semakin di lihat lihat, aku semakin merasa kalau Satria adalah anak yang baik. Matanya juga terlihat tulus dan bersih, bagaimana bisa pria dengan tatapan seperti ini mencuri kehormatan putriku? Apa itu mungkin?
Amayra menepuk bahu ayahnya, "Ayah, kak Satria sedang bertanya pada ayah?"
"Ah ya, sudah lebih baik. Tapi, siapa pria yang baru saja turun dari mobil? Apa dia saudara kamu, pak Satria?" Harun bertanya soal Bram pada Satria.
Pertanyaan itu membuat Amayra dan Satria sama-sama terkejut. Mereka bingung harus menjawab apa, apalagi Amayra yang langsung gemetar ketika mendengar soal Bram, pria yang sudah meninggalkan nya dengan anak nya.
Satria menatap Amayra, dia tau keresahan yang ada pada dirinya. Kemudian Satria memegang tangan wanita itu seraya menenangkan nya.
Tenang saja, aku yang akan jawab. batin Satria sambil menatap istrinya.
Deg, Deg, Deg
"Dia adalah kakak saya pak, putra sulung keluarga ini."jawab Satria.
"Tapi mengapa dia tidak terlihat saat pesta pernikahan kalian?"tanya Harun penasaran.
"Ah.. itu karena saat itu kakak saya sedang berada di luar negeri untuk urusan yang urgent." jawab Satria yang masih punya hati untuk menutupi kesalahan Bram demi nama keluarga Calabria dan demi menjaga perasaan Amayra juga bayinya.
Harun tidak bertanya lagi, dia berterimakasih pada menantunya dengan suara yang dingin. Satria juga meminta maaf karena sikap Bram yang sudah menghina nya. Hal ini membuat Harun curiga tentang Bram dan Satria.
"Saya tidak apa-apa. Jika anda mau pergi bekerja, silahkan saja. Saya mau bicara dengan putri saya dulu sebentar!" kata Harun dengan suara dinginnya.
"Ayah, jangan begini ya.. kak Satria itu-" Amayra merasa sikap ayahnya pada suaminya tidak benar.
"Gak apa-apa. Aku berangkat dulu ya!" Satria tersenyum pahit menerima sikap dingin dari ayah mertuanya. Dia pun pergi naik ke dalam mobilnya dan berangkat bekerja.
Amayra memeluk ayahnya, dia mencurahkan semua rindu nya. Menanyakan kabar satu sama lain, walaupun hubungan mereka agak tidak baik karena insiden Amayra yang hamil diluar nikah.
"May, apa keluarga ini memperlakukan mu dengan baik?" tanya Harun pada anaknya.
Aku harus bilang apa pada Ayah, walaupun ada yang tidak suka padaku. Tapi, masih banyak orang di rumah ini yang peduli padaku.
"Mereka semua baik padaku yah, Ayah tenang saja."wanita itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana kabar ayah? Apa ayah makan dengan baik?"
__ADS_1
"Kamu tenang saja, ayah juga baik-baik saja. Kamu harus gemuk ya demi cucu ayah, jaga dia baik-baik."ucap nya dengan suara getir dan gemetar. Dia memegang tangan Amayra yang kurus kering itu.
Malangnya nasibmu May.. padahal kamu anak baik? Apa Ayah punya dosa dimasa lalu sehingga kamu mengalami nasib seperti ini?
"Iya ayah, ayah tenang saja! Aku banyak makan, barusan saja aku sarapan banyak!" Dia berusaha tersenyum di depan ayahnya seolah semuanya baik-baik saja.
"Syukurlah nak.. lalu bagaimana dengan suamimu? Apa dia memperlakukan mu dengan buruk?" pertanyaan Harun mengarah ke arah yang negatif.
"Kok Ayah nanya nya gitu sih. Tentu saja kak Satria baik padaku, buktinya dia masih mau bertanggungjawab padaku. Walaupun sikapnya cuek, tapi dia sebenarnya sangat perhatian." ucap Amayra tentang Satria.
"May, kalau keluarga ini berbuat tidak baik dan dzalim sama kamu! Kamu bisa kembali ke rumah lama kita, ayah akan selalu menerima kamu." ucap Harun pada putrinya.
"Makasih ayah, tapi aku bahagia disini." jawab nya sambil tersenyum.
Kalau aku berada disana, ayah pasti akan semakin di ejek. Kasihan ayah, aku tidak mau membebaninya.
Harun pun pergi setelah kakinya sudah baikan, dia memberikan uang pada Amayra untuk bekal anak nya jika ingin jajan. "Maaf Ayah gak bisa kasih banyak, Minggu depan ayah datang lagi buat kasih kamu uang jajan."
"Tidak ayah, tidak usah! May, gak jajan kok!" Amayra menolak uang dari ayahnya.
"Ayah tau kamu pasti akan merasa gak enak untuk meminta sama keluarga baru kamu. Tolong terima ya uang dari ayah ya, nak?" Harun bersikeras memberikan uangnya yang berjumlah 250 ribu itu pada Amayra.
Tidak enak menolak lagi, Amayra akhirnya menerima uang pemberian ayahnya. Dia melepas kepergian ayahnya dengan senyuman. Setelah itu dia kembali ke dalam rumah, terlihat pemandangan yang mencengangkan.
BRAK
PRANG
"Anak kurang ajar! Anak sialan, tidak tahu di untung!!" Cakra memukuli Bram tanpa ampun, dia menatap Bram dengan emosi.
"Pah, hentikan pa! Jangan pukuli anak kita lagi, dia bisa mati!" Nilam memeluk Bram untuk melindungi nya dari serangan Cakra.
Barang-barang disana terlihat berantakan, bahkan ada yang pecah dan hancur. Semua karena kemarahan Cakra. Amayra diam dan melihat semuanya, hatinya sakit melihat Bram sudah kembali. Rasa marah muncul di dalam hatinya, ingin sekali dia memukul pria itu dan memakinya. Tapi ada seseorang yang akan melakukan nya, yaitu papa mertua nya.
"Papa, tolong maafkan kesalahan Bram! Ini bukan sepenuhnya kesalahan Bram, ini salah gadis kampung itu. Bram sudah menceritakan segalanya pada saya!" Alexis angkat bicara, dia melempar kesalahan pada Amayra.
"Siapa yang meminta mu memanggilku papa? Kurang ajar sekali kamu! Beraninya kamu menghina menantu keluarga ini!" Cakra melotot pada Alexis, dia terlihat tidak menyukai tunangan putranya itu.
"Dia tunangan ku pah! Kami akan segera menikah dan dia akan menjadi menantu tertua di keluarga ini!" Bram berdiri, wajah nya sudah babak belur oleh Cakra. Nilam dan Alexis memapahnya.
"Menantu? Tidak akan pernah aku biarkan dia menjadi menantu di keluarga ini! Silahkan kalau kamu mau menikahinya, tapi jangan harap kamu bisa tinggal di rumah ini dan bekerja di kantor lagi!" Cakra mengancam putranya.
Alexis tercengang mendengar nya, dia terlihat takut dengan ancaman itu.
"Baik! Aku akan meninggalkan rumah ini dan semua fasilitas yang diberikan papa padaku!" Bram menatap marah pada papa nya.
"Bram!" teriak Nilam pada putranya.
Kalau Bram kehilangan segalanya? Lalu bagaimana dengan aku?
__ADS_1
...---***---...