
...🍁🍁🍁...
Satria memanggil dokter untuk memeriksa istrinya yang baru saja siuman. Mira yang datang memeriksa Amayra, dari mulai denyut jantung dan tekanan darah.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter Mira?" tanya Satria dengan menatap sang istri dengan cemas.
"Alhamdulillah, Bu Amayra sudah melewati masa kritis. Tinggal pemulihan saja dengan makan makanan yang sehat untuk menambah darah dan banyak beristirahat. Untuk sementara Bu Amayra jangan menyusui dulu sampai keadaan benar-benar pulih ya." Dokter Mira menjelaskan dengan detail keadaan Amayra saat ini.
Satria dan Amayra menghela nafas lega, "Alhamdulillah..."
"Dok, lalu apa saya bisa keluar dari rumah sakit hari ini?" tanya Amayra yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayi kembarnya.
"Saya akan cek keadaan Bu Amayra lagi nanti siang ya, jika sudah bisa dirawat di rumah...Bu Amayra sudah boleh pulang. Untuk saat ini jangan dulu pulang ya?" Bujuk Mira pada Amayra yang bersikeras ingin segera pulang.
"Sayang, kamu dengarkan apa kata dokter ya." ucap Satria pada istrinya.
Amayra mengangguk sambil tersenyum, dia patuh pada ucapan dokter. Mira keluar dari ruangan itu setelah selesai memeriksa Amayra.
"Mas..." lirih Amayra memanggil suaminya.
"Iya sayang? Kamu mau apa?"
"Aku mau lihat anak-anak kita mas...aku mau lihat mereka." ucap Amayra merengek pada suaminya ingin melihat si kembar.
"Maaf sayang, aku lupa padahal aku sudah janji mau video call ke mama. Bentar ya sayang, aku ambil hp." Satria beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil hp dan menyalakan panggilan video yang ditujukan pada Nilam.
*****
Di rumah Calabria, Nilam, Cakra dan Diana yang sedang libur kerja. Mereka bekerjasama mengasuh si kembar, Cakra menyiapkan susu formula, Diana mengganti popok bayi perempuan yang menangis dan Nilam sedang menimang-nimang cucu laki-lakinya yang sedang tidur.
"Tenang sekali anak laki-laki Satria, tidak seperti adiknya yang rewel...aduh...dia mirip siapa sih?" Gumam Nilam sambil menatap bayi perempuan yang sedang diganti popoknya oleh Diana.
__ADS_1
"Hehe iya ya ma, padahal baru sehari...bayi cantik yang satu ini udah gak mau diem dan gak mau dibedong, dia juga menolak di timang timang seperti kakaknya." Diana tertawa kecil, gemas dengan kelakuan bayi mungil yang usianya baru sehari itu.
Bayi yang dipanggil si cantik, sangat aktif bergerak dan dia menangis ketika tubuhnya di selimuti kain bedong. Dia berbeda dengan saudara laki-lakinya terlihat tenang dan tidak aktif bergerak seperti dirinya.
"Iya, si cantik mirip siapa ya? Ya ampun, dia berbeda dengan kakaknya yang tenang ini." Nilam tersenyum mengingat saat menjaga si kembar semalam.
Cakra datang sambil membawa dua botol dot berisi susu, dia memberikan yang satunya pada si cantik dan satunya lagi pada si tampan. Diana langsung menggendong bayi perempuan itu, lalu memasukkan botol dot berisi sufor pada mulut mungilnya pelan-pelan. "Tenang ya sayang, minumnya pelan-pelan ya." Diana menepuk-nepuk lembut tubuh si cantik mungil itu.
Nilam melihat Diana dengan mata berkaca-kaca, dia jadi berandai-andai dan merasa kasihan pada Diana.
Dia sudah cocok menjadi seorang ibu, pasti di dalam hatinya dia ingin segera mempunyai anak. Tapi anakku, Bram...tidak bisa memberikannya. Bagaimana jika aku minta pada Satria dan Amayra untuk menyerahkan salah satu dari si kembar untuk Bram dan Diana?
"Ma...mama!" Diana memanggil ibu mertuanya.
"Ya?" Sahut Nilam yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Telpon mama bunyi ma," jawab Diana seraya menoleh ke arah ponsel yang ada di atas meja.
Tring.... tring...
Nilam yang sedang menggendong si tampan, mengambil ponselnya di atas meja. Dia melihat ada panggilan video call dari Satria. "Satria vc!"
"Angkat ma," ucap Cakra pada istrinya.
Nilam mengangkat video call itu, dia menyerahkan ponselnya pada Cakra untuk dipegang agar lebih leluasa. Terlihat di layar ponsel itu Amayra yang duduk di atas ranjang dan Satria ada disampingnya.
"Assalamualaikum pa, ma." Amayra mengucapkan salam menyapa ibu dan ayah mertuanya.
"Waalaikumsalam May? Gimana keadaan kamu nak?" Tanya Cakra pada Amayra yang berada di layar ponsel itu.
"Alhamdulillah sudah membaik pa, tapi aku belum boleh pulang dulu pa." jawab wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya pa, keadaan May masih lemah dan belum stabil. Kalau nanti sore May udah baikan, kami sudah bisa pulang ke rumah."
"Kamu pulihkan saja kondisi kamu, gak usah khawatir sama si kembar." Kata Nilam ikut bicara.
"Iya May, kebetulan aku juga lagi ambil libur praktek." Ucap Diana pada Amayra.
Amayra melihat kedua bayinya sedang digendong oleh Diana dan Nilam. Dia ingin sekali segera pulang ke rumah dan memeluk anak-anaknya.
"Kak Diana, mama, papa, makasih ya udah jagain twins.." ucap Amayra pada keluarganya, dia terharu pada mereka yang sudah tulus menjaga kedua anaknya.
Syukurlah anak-anakku baik-baik saja dan sedang tidur. Ya Allah, terima kasih karena engkau telah memberikanku keluarga yang sayang padaku dan juga anak-anakku.
"Eh, kenapa kamu bilang makasih? May, gak ada kata terima kasih dalam keluarga. Kita semua ikhlas kok mengasuh si kembar." ucap Cakra pada menantunya.
"Ngomong-ngomong dari tadi kita panggil si kembar terus, May... Sat, apa kalian sudah ada nama untuk si kembar?" tanya Diana pada pasangan suami istri itu.
Ketika ditanya nama, Satria dan Amayra saling melihat satu sama lain. Lalu Amayra yang menjawab, "Aku sudah ada nama untuk si cantik dan mas Satria yang akan kasih nama untuk si tampan."
"Apa? Jadi kamu sudah punya usulan nama untuk si cantik kita? Kok aku gak tau sih!" Keluh Satria pada istrinya, dia tidak tahu menahu bahwa Amayra sudah memikirkan nama untuk bayi mereka.
"Hehe, aku sudah kepikiran nama bayi perempuan, tapi aku belum kepikiran nama bayi laki-laki kita mas..." ucap Amayra sambil tersenyum.
"Lalu nama anak perempuan kita, apa?" tanya Satria pada istrinya.
Amayra menatap ke arah Diana dan si cantik yang digendongnya. Amayra tersenyum kemudian dia berkata. "Namanya...Kalima Zahwa Jawharah, artinya anak perempuan pintar yang cantik seperti permata. Nama panggilannya Zahwa."
Satria, Diana, Nilam dan Cakra tersenyum setelah mendengar nama yang diberikan oleh Amayra untuk anak perempuannya.
"Dede Zahwa, nama yang indah May." Diana tersenyum, dia memuji nama cantik di berikan pada si cantik mungil itu.
"Zahwa...cantik sekali namanya." Kata Cakra yang juga setuju dengan nama yang diberikan Amayra.
__ADS_1
Hem, Amayra sudah kasih nama Zahwa...aku harus pikirkan nama yang cocok untuk kakaknya. Kira-kira apa ya?. Satria terlihat berpikir.
...*****...