Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 150. Terbawa pergaulan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Anna seperti tertangkap basah, dia langsung bersembunyi di belakang tubuh omnya. Dibelakang Nilam dan Cakra, ada Amayra juga. Satria heran kenapa Anna bersembunyi dari Oma dan opa nya.


Amayra yang tidak tau apa-apa, keheranan melihat kedua mertuanya turun ke lantai bawah bahkan berada didekat pintu belakang.


"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Nilam sambil menyilangkan kedua tangannya didada. Dia menatap tajam pada Anna.


"Om.. tolongin Anna," ucap Anna pelan, seraya merengek pada Satria.


Satria tidak bicara, dia hanya menghela napas. Dalam hati dia kecewa kenapa penampilan dan sikap Anna berubah semenjak kuliah dan tinggal di luar negeri. Dia merasa asing para Anna.


"Ma, sabar dulu!" Ujar Cakra seraya menenangkan istrinya, karena wajah Nilam terlihat murka.


"Bagus ya kamu, bukannya kuliah tapi malah pacaran dan bermain-main saja di sana. Oma dan opa menyekolahkan kamu bukan untuk seperti ini, An.." ucap Nilam dengan nada suara pelan namun sarkas.


"Oma... Opa, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi malam ini aku ngantuk, aku capek.. aku mau tidur dulu," ucap Anna sambil memegang tangan Satria, bersembunyi dibalik tubuhnya.


Cakra membentak cucunya itu,"Anna!"


"Papa suruh mama tenang, papa sendiri yang malah emosi duluan."


Anna terlihat acuh, dia tidak meminta maaf ataupun merasa bersalah telah membuat kakeknya marah. Satria yang tidak mengerti apa yang terjadi, dia bertanya langsung pada Anna. "An, kamu buat masalah apa sampai opa dan Oma kamu marah?" Tanya Satria.


"Bisa gak kalian tanyanya besok aja, aku tuh capek.. aku habis dari perjalanan jauh. Oh my God!" Anna memegang kepalanya dengan gusar. Mengacak-acak rambutnya yang berwarna merah itu.


Semua orang yang ada disana sangat terkejut dengan sikap Anna. Gadis baik hati dan sebelumnya sederhana itu kini telah berubah banyak. Mereka seperti asing dengan sosok Anna yang sekarang.


"Astagfirullahaladzim," ucap Cakra sambil mengelus dada.


"Kamu belum boleh tidur sebelum menjelaskan pada kami, kenapa kamu terlibat dengan narkoba dan pria?!" Tanya Nilam menyentak.


Deg!


Satria dan Amayra tercengang mendengar ucapan Nilam tentang Anna yang terlibat narkoba.


"Please deh.. Oma...aku akan jelaskan semuanya tapi nanti. Pokoknya itu gak seperti apa yang kakak pikirkan," ucap Anna pada semua orang yang ada disana.


Gimana aku bisa jelasin ke kalian kalau kepalaku saja saat ini sedang pusing. Aku akan jelaskan besok saja.

__ADS_1


"Anna! Ya Allah gusti...kamu.." Cakra mendengus kesal dengan sikap Anna yang tidak sopan itu.


Anna menyeret kopernya, dia berjalan melewati Oma dan opa nya. Kemudian dia berhenti tepat di samping Amayra.


"Anna.. kamu-"


"Diem Lo! Dasar munafik," ucap Anna sambil mendelik sinis pada Amayra.


Amayra terdiam mendengar ucapan kasar dari mulut Anna. Amayra bingung, apa yang membuat Anna marah kepadanya. Apa salahnya hingga dia dipanggil munafik?


"Anna! Yang sopan kamu sama tantemu," Satria ikut membentak Anna, karena sikapnya yang tidak sopan pada istrinya.


Gadis itu malah bodoh amat, dia berjalan menaiki tangga dengan langkah malas. Nilam dan Cakra terlihat kecewa, marah bercampur sedih karena Anna cucu mereka yang polos dan sederhana itu kini sudah berubah banyak.


"Ma, yang sabar ma..mari kita tanyakan pada Anna besok saja." Kata Amayra menenangkan ini mertuanya yang sedari tadi terus mengelus dada.


"Haahh...iya sepertinya memang harus gitu," ucap Nilam sambil mendesah. "Kepalaku pusing sekali," gumam Nilam gusar.


"Ya sudah Ma, kita bicara saja pada Anna besok. Ya ampun anak itu benar-benar...dia sudah bukan Anna kita yang dulu lagi," gumam Cakra sedih.


"Pa, Satria mau bicara dulu dengan papa sebentar." Pinta Satria pada papanya.


"Tak apa, biarkan saja dingin." Ucap Satria. "Kamu tidur saja duluan ya May,"


Amayra patuh pada suaminya. Dia pergi ke kamar, Nilam juga naik pergi ke kamarnya. Sementara Satria duduk di ruang tamu bersama papanya. Satria menanyakan apa yang terjadi pada Anna, kemudian Cakra menceritakan apa yang dilaporkan oleh pihak kampus dan kepolosan di Inggris.


Bahwa Anna ketahuan mengkonsumsi narkoba, juga dia berteman dengan beberapa anak nakal. Bahkan Anna pernah ketahuan berduaan bersama pria di sebuah kamar hotel. Disana Anna jarang masuk kuliah dan malah menghabiskan waktunya bermain bersama teman-temannya. Padahal Anna adalah anak berprestasi, makanya dia bisa diterima di salah satu universitas ternama di Inggris.


Namun sayang, budaya dan pergaulan yang salah telah membawanya pada jalan berbelok. Sakit hati Cakra, adalah saat dia menerima foto dari pihak di Inggris tentang kelakuan Anna.


"Boleh Satria lihat fotonya, Pa?" Tanya Satria yang sangat peduli pada keponakannya itu.


"Ini Sat," ucap Cakra sambil menyerahkan ponselnya pada Satria.


Pria itu melihat gambar-gambar Anna yang sedang berada di klub malam, minum-minuman keras, merokok bahkan sampai tidur bersama pria dengan baju seadanya yang kurang bahan.


"Astagfirullahaladzim, bagaimana bisa Anna menjadi seperti ini?" Ucap Satria bingung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Tapi Pa, siapa tau Anna hanya difitnah.. kita jangan dulu percaya pada foto ini karena Satria juga gak percaya kalau Anna begini."


"Awalnya Papa juga gak percaya Sat, sampai ada bukti medis dari rumah sakit di Inggris dan laporan polisi, kalau Anna mengkonsumsi narkoba, alkohol dan juga rokok." Cakra meneteskan air mata, cucu dari anak perempuannya itu telah salah jalan.

__ADS_1


"Besok kita bicara pada Anna ya Pa, papa tenang dulu." Ucap Satria seraya menenangkan papanya.


Keesokan harinya, pagi itu Amayra yang libur kuliah hanya berada di rumah saja dan mengasuh Rey. Dia juga pamit pada mama mertuanya untuk pulang ke rumah bersama Satria dan juga anaknya.


"Kamu disini aja, nanti sore pulang sama Satria dijemput. Jarang-jarang kan kamu libur kuliah, main disini sama Rey."


"Ya udah deh, Ma.." jawab Amayra patuh.


Amayra yang dulu selalu meminta pulang jika berada di rumah mertuanya, kini sudah mulai merasa nyaman serumah bersama ibu mertuanya. Apalagi sejak ayahnya meninggal, Nilam bersikap lebih baik padanya.


Ketika Amayra dan Rey sedang bermain di ruang tengah, Amayra melihat Anna baru turun dari kamarnya pada jam 11 siang. Gadis itu mengenakan pakaian tidur yang tipis, rambutnya masih acak-acakan.


"Anna, kamu baru bangun?" Tanya Amayra sambil melihat ke arah Anna.


Astagfirullah, beneran kata Mas Satria, Anna yang sekarang beda dengan Anna yang dulu. Apa ini akibat salah pergaulan?


Anna langsung menatap Amayra dengan sinis. "Lo kan udah tau, masih tanya lagi?"


"An, kamu kenapa sih? Apa aku ada salah?" Tanya Amayra heran dengan sikap kasar Anna padanya.


"Oke, gue langsung to the poin aja. Lo kan yang bilangin ke Opa sama Oma semalam kalau gue udah pulang?" Kata Anna menuduh, bukan bertanya.


"Astagfirullah An, aku gak pernah bilang.. kamu kayaknya salah paham, aku juga kaget kenapa papa sama mama bisa ada disana." Amayra mencoba meluruskan kesalahpahaman Anna.


"Gak mungkin ada asap kalau gak ada api," ucap Anna masih tak percaya pada tantenya itu.


"Serius An, aku gak bilang apa-apa kok. Kamu jangan salah paham," ucap Amayra sambil menatap keponakan suaminya itu dengan mata berkaca-kaca.


Anna terdiam, dia pun berpikir mana mungkin sahabatnya itu akan mengkhianatinya. "Iya deh aku percaya, maaf ya aku udah nuduh kamu,"


Amayra tersenyum karena Anna kembali bersikap sopan. Setelah berbaikan, Anna hendak pergi ke dapur untuk mencari makanan. Amayra yang tadinya ingin bicara dengan Anna, mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.


Saat Anna berjalan, seseorang mengucapkan salam berdiri di depan pintu rumah itu.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Amayra.


Loh? Itu kan suara Ken?. Batin Anna sambil melihat ke arah pria yang mengucap salam barusan.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2