
Setelah pembicaraan dengan Bram dan Diana, Cakra menaiki tangga ke lantai dua menuju ke kamarnya. Sesampainya dikamar, Cakra melihat istrinya sedang cemberut sambil duduk diatas ranjang dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ma..." lirih Cakra memanggil istrinya.
"Papa mau ngomong apa?" Tanya Nilam ketus ketika bicara dengan suaminya.
Cakra pun duduk disamping istrinya yang sedang dalam keadaan emosi itu. "Ma, tolong mama tenangkan diri mama. Apalah mama lupa kalau mama sudah janji akan menjaga sikap dan perkataan mama? Mama mau Bram sama Diana pergi lagi dari rumah ini? Atau Satria dan Amayra juga si kembar ikut pergi? Kita sudah tua ma...kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan mengurus kita?"
Pria paruh baya itu berusaha menjelaskan pada istrinya tentang hari tua mereka bila tidak ada anak dan cucu yang mengurus mereka berdua.
"Iya pah, mama tau dan mama sadar mama harus bersikap baik pada anak-anak kita. Tapi, mama emosi melihat pengemis itu pa! Mana bisa Bram dan Diana mau mengadopsinya? Kalaupun mau mengadopsi, harus yang jelas asal-usulnya dong. Itu yang mama gak suka pa dan satu lagi...mereka gak ngomong dulu tuh sama mama kalau mereka mau mengadopsi anak." Keluh Nilam tentang anak yang dibawa oleh Bram dan Diana.
"Ma, Bram dan Diana sudah menjelaskan tentang anak itu. Mama jangan bicara tentang asal usul gak jelas lagi, anak itu anak baik-baik meski berada dalam lingkungan keluarga yang kekurangan. Dia juga sopan dan papa suka dia, papa dukung anak papa kalau mau mengadopsinya. Papa gak mau melarang Bram dan Diana melakukan sesuatu hal yang baik dengan mengadopsi anak yatim. Apalagi anak yatimnya sholeh dan baik."
Nilam menoleh ke arah suaminya dan menatap Cakra dengan tajam. "Papa tau darimana kalau anak itu baik dan Sholeh? Papa bicara seolah-olah apa udah mengenal dia sejak lama?"
"Ya papa gak tau sih, papa hanya tau dari cerita Bram dan Diana saja. Tapi kalau mama mau tau, ya udah kita biarkan saja anak itu tinggal disini dan mama bisa lihat sendiri bagaimana sikapnya?" Kata Cakra pada istrinya.
Nilam pun setuju, untuk membuka sedikit hatinya dan menilai sendiri bagaimana sikap Reyndra. Cakra senang karena istrinya setuju untuk menerima Rey di rumah itu.
🍀🍀🍀
Malam itu, Diana menjemput Rey di kamar Amayra dan Satria. Rey baru saja menyelesaikan shalat isya, bajunya sudah tampak rapi dan wajahnya juag bersih berbeda dengan yang tadi.
"Rey, ayo kita pergi ke kamar kamu nak!" Sambut Diana dengan ramah pada anak laki-laki itu.
"Iya Bu dokter," Rey berjalan mendekati Diana.
"Kamu jangan sedih ya, besok ibu sama adik kamu akan dimakamkan dan di rumah ini akan pengajian untuk ibu dan adik kamu." Diana menenangkan anak yang baru saja kehilangan ibu dan adiknya yang meninggal dalam kandungan itu di rumah sakit.
"Iya, makasih Bu dokter. Tapi gimana kalau bapak saya datang menganggu Bu dokter juga orang-orang di rumah ini?"
"Kamu tenang saja nak, disini aman." Ucap Amayra seraya menenangkan Rey yang bersedih.
Rey tiba-tiba saja menangis terisak-isak, membuat Amayra, Satria dan Diana yang ada disana terkejut melihat anak itu menangis. "Kenapa nak? Apa ada yang sakit?" Tanya Satria sambil duduk jongkok didepan Reyndra, entah kenapa dia merasa seperti ada ikatan dengan anak itu.
__ADS_1
"Ka-kata ibu...anak sholeh yang berbakti pada orang tua dan orang yang tidak meninggalkan ibadah, akan disayang oleh Allah...apa saya termasuk orang itu? Karena saya sudah tidak tidak punya orang tua, jadi saya tidak bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua... huhuuu..."
Satria, Amayra dan Diana merasa iba mendengar ucapan polos dari anak laki-laki itu. Mereka bertiga pun menghibur Reyndra dan mengatakan bahwa mereka akan menjadi orang tua untuk Rey.
Rey terharu karena masih ada orang didunia ini yang baik padanya selain ibunya. Diana memeluknya dengan hangat, memperlakukan anak itu dengan baik layaknya anak sendiri.
Tak terasa sudah hampir 3 minggu sejak Rey tinggal di rumah itu, dia sudah resmi menjadi putra dari Diana dan Bram. Mereka juga sudah menandatangani surat adopsi yang di wasiatkan alm ibu Rey pada Diana dan Bram untuk menjaga Rey, sementara bapaknya sampai saat ini masih menjadi buronan.
Selama tinggal di rumah keluarga Calabria, setiap pagi Rey selalu membantu Lulu dan Dewi untuk bersih-bersih meski sudah dilarang oleh Diana dan Bram. Anak itu sangat rajin dan baik, dia juga tidak pernah melewatkan shalatnya.
Pagi itu Rey melihat Amayra dan si kembar sedang berjemur di luar rumah. Rey menghampiri Amayra dan bayi kembarnya. "Tante..."
"Eh, ada Rey? Kamu mau berjemur juga nak?" sambut Amayra dengan senyuman ramah dibibirnya.
Anak ini baik banget...bapaknya sungguh tega memperlakukan anak ini dengan tidak baik. Untung lah kak Diana dan kak Bram membawanya kemari.
"Enggak tante, aku mau nyiram tanaman bantuin pak Muin!" kata Rey yang sudah akrab dengan semua orang di rumah itu.
"Gak usah den, biar bapak saja yang siram tanamannya." kata Muin yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Rey.
"Ya udah, ya udah...aden boleh deh siram tanamannya." Muin tersenyum memperbolehkan Reyndra untuk menyiram tanaman.
Rey terlihat senang setelah mendapat izin itu, dia pun segara mengambil teko air untuk menyiram tanaman. Dengan senyuman ceria, Rey menyiram tanaman bunga di taman depan rumah itu.
Ibu, adek... apa kalian sudah di surga sana? Kalian lihat kan, kalau aku sekarang bersama orang-orang baik dan aku sangat senang karena bisa bersama mereka. Aku merasa tidak sendirian lagi...
Rey menatap langit yang cerah itu, dia tersenyum mengingat ibu dan adiknya yang sudah tiada.
Amayra dan Muin melihat Rey dari kejauhan, "Pak, apa bapak lihat itu? Bukankah Rey terlihat berbeda saat pertama kali dia datang kemari," ucap Amayra sambil tersenyum.
"Benar non, sekarang den Reyn lebih ceria dan banyak tersenyum. Dia adalah anak yang baik dan Sholeh, tidak heran jika tuan Bram dan nona Diana menyukainya."
"Saya sependapat dengan bapak, dia juga bisa menjadi kakak Zayn dan Zahwa. Kelak dia akan menjaga adik-adiknya dan tentu saja dia akan menjadi kakak yang baik." kata Amayra tentang Rey.
Muin setuju dengan Amayra. Semua orang pun begitu, mereka mulai menyukai Rey bahkan hati Nilam juga sudah mulai terbuka melihat sikap Rey yang baik dan sopan. Nilam melihat Rey dari kejauhan, sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Anak itu...ya aku akui dia memang anak yang baik. Mungkin aku harus setuju dengan Diana dan Bram." gumam Nilam sambil menghela nafas. "Namun aku masih berharap kalau Bram dan Diana akan memiliki anak mereka sendiri, darah daging keluarga Calabria." Kata Nilam dengan wajah yang sedih, dia masih berharap Bram dan Diana akan memiliki anak mereka sendiri.
__ADS_1
Sore itu, Rey membantu Amayra menjaga Zayn dan Zahwa selagi Satria tidak ada di rumah dan selagi Rey belum mulai masuk sekolah.
"Tante, Dede Zahwa cantik sekali kayak Tante..." Rey menatap bayi mungil yang cantik itu, Zahwa tersenyum lembut padanya.
"Hehe, kamu bisa aja deh Rey. Oh ya, Rey...apa kamu bisa bantu Tante sebentar?" Pinta Amayra pada Rey.
"Iya Tante," Rey tersenyum.
"Tolong jaga Zayn dan Zahwa sebentar ya...Tante mau ambil wudhu terus sholat ashar dulu." Kata Amayra pada Rey.
Rey mengangguk, dia menyanggupi permintaan Amayra untuk membantunya menjaga Zayn dan Zahwa sebentar. Selagi Amayra pergi ke kamar mandi, Rey bermain dengan Zayn dan Zahwa yang berbaring diatas ranjang.
"Kalau kalian sudah besar nanti, kalian akan memanggilku kakak kan? Aku mau jadi kakak kalian, terutama kamu Zahwa...setelah besar nanti, kamu pasti cantik sama seperti Tante May." Rey mengelus pipi tembem Zahwa dengan lembut.
Tangan mungil Zahwa memegang ibu jari Rey, dengan mata polosnya Zahwa menatap Rey. "Hihi...lucu banget sih kamu, Dede Zayn juga lucu..." Rey membawa mainan musik bayi dan mengajak kedua bayi itu mengobrol.
Tiba-tiba saja Rey menjatuhkan mainannya saat melihat ada seorang pria dengan jenggot tebal masuk ke dalam jendela kamar itu. "Astagfirullahaladzim! Bapak!" Teriak Rey terkejut.
...*****...
Hai Readers, author mau kasih pengumuman sedikit ya...tentang give away pulsa pemenang 4 komen terbaik yang akan mendapatkan pulsa senilai 25 ribu 🤭🤭
Arga
Sry Harty Faris
Erni Handayani
Wury Ara
Silahkan untuk nama-nama yang tertera diatas, hubungi author ya...bisa lewat DM Ig, FB atau chat 🙏 Selamat untuk para pemenang 🥳🥳😉 Jangan lupa baca novelku yang lain ya, Terjebak dendam suamiku dan Terjebak di hutan Kalimati 😍
__ADS_1