
Bagai disambar petir, perasaan Alexis dan Nilam saat mendengar ucapan Bram yang tanpa pikir panjang itu. Nilam dan Alexis langsung melarang Bram mengatakan hal-hal yang akan merugikan nya.
Alexis tau bahwa Bram tidak ada apa-apa nya tanpa perusahaan Calabria dan nama keluarga Calabria di belakang nya.
"Baik, kalau kamu mau seperti itu. Keluarlah dari rumah ini dan akan ku coret namamu dari kartu keluarga!"Cakra tidak keberatan saat mengatakan nya. Sikapnya begitu tegas pada Bram yang sudah melakukan kesalahan besar dan mencoreng nama baik Calabria. Sehingga dia harus mengorbankan Satria yang memiliki reputasi baik sebagai kambing hitam.
"Jadi papa mau begini saja?" Bram tercengang mendengar kata-kata papa nya.
"Ini semua kamu yang mau." jawab Cakra dengan tatapan tajam mengarah pada Bram.
Aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Bram harus menikah dengan Amayra karena Amayra sedang mengandung anaknya. Satria berhak bahagia dengan pilihan nya sendiri. batin Cakra yang sudah merencanakan hal besar.
"Pa! Mama mohon Pa, jangan lakukan ini! Bram adalah anak kita, jangan karena gadis kampung itu papa sampai memperlakukan Bram seperti ini!" Nilam memohon pada suaminya untuk memaafkan Bram.
"Nilam, sadarlah kamu! Ini karena kamu terlalu memanjakan nya sehingga dia tidak bisa bertanggungjawab atas semua perbuatan nya. Dia menjadi pria pengecut yang selalu bersembunyi di belakang wanita!" Cakra murka pada anaknya itu.
Bram sakit hati di perlakukan oleh papa nya seperti itu, tekad nya sudah bulat untuk pergi meninggalkan rumah keluarga Calabria demi bisa bersama Alexis.
"Bram, cepat minta maaf pada papa mu. Kamu tidak bisa meninggalkan keluarga mu seperti ini, Bram.. kumohon.. demi aku.." bisik Alexis membujuk keras kepala Bram.
Kalau kamu tidak punya apa-apa, aku juga tidak ada gunanya disisi mu.
"Lihat Pah! Alexis begitu baik, dia bahkan meminta ku untuk meminta maaf pada Papa. Tapi papa tidak bisa melihat kebaikan Alexis, dia sempurna ya.. dia cantik, berpendidikan, dia tidak kurang apapun untuk menjadi menantu papa. Dibandingkan dengan gadis kampungan istri si Satria itu!" Ucap Bram sambil melirik sinis ke arah Amayra yang masih melihat drama keluarga itu tak jauh dari sana.
Sakit hati Amayra pada pria yang telah mengambil segalanya darinya. Menghancurkan masa muda indahnya, kini dia juga tengah mengandung anaknya. Lalu Bram kembali, bukannya meminta maaf, dia malah membawa seorang wanita lalu memutuskan ingin menikah wanita itu. Ditambah lagi Bram menghinanya.
"Bramasta Zein Calabria!! Hari ini aku bersumpah, aku akan mencoret mu dari kartu keluarga, jika... kamu tidak putus dengan Alexis dan tidak meminta maaf pada Amayra!" Suara Cakra menggelegar sampai menggema di ruangan yang besar dan luas itu.
Hati Nilam, tersentak kaget mendengar ucapan suaminya. Dia benar-benar takut dengan kata-kata suaminya yang tegas itu. Kembali lagi dia membujuk Bram, dia tidak mau kalau Bram kehilangan semuanya.
__ADS_1
Pasti setelah ini Satria yang akan diandalkan oleh suaminya. Dia sangat takut Satria menjadi kesayangan papa nya.
Alexis dan Nilam tidak berhasil membujuk Bram, akhirnya Bram membereskan barang-barang nya. Alexis bingung karena Bram begitu keras kepala.
"Bram, minta maaf saja dulu pada om Cakra dan gadis kampung itu! Ini hanya pura-pura. Kamu tidak usah benar-benar minta maaf padanya. Kumohon Bram...kamu tidak boleh menjadi anak durhaka."
"Kamu ingin aku meminta maaf pada wanita kampung itu? Aku tidak sudi!" Bram tetap bersikeras tak mau meminta maaf pada Amayra.
"Kumohon! Ini demi hubungan kita juga, aku akan mencari cara agar papa mu memberikan restu. Kumohon, kali ini kamu mengalah saja dulu."
"Alexis benar Bram, lagipula ada mama yang mendukung hubungan kalian. Mama akan bantu bujuk papa, kamu tidak usah khawatir. Ini hanya pura-pura!" Nilam mencoba membujuk anaknya untuk merendah dulu.
Bram akhirnya luluh, dia meminta maaf pada papanya dan juga Amayra. Permintaan maaf Bram pada Amayra tidak diterima baik oleh nya.
"Aku minta maaf karena aku meninggalkan mu begitu saja, aku sudah memperkosa mu dan menghancurkan masa depanmu." ucap Bram sambil menundukkan kepalanya.
Amayra mengepal tangannya dengan kesal di depan pria itu. Wajahnya memerah seperti api yang akan menyembur. Matanya menatap Bram dengan sakit hati.
"Apa?" Bram tercekat menatap mata gadis itu.
"Tindakan tidak bertanggungjawab Om, ketika tau saya hamil! Om malah meminta saya untuk membunuh anak ini, itulah yang tidak bisa saya maafkan sampai sekarang!" teriak Amayra menumpahkan semua emosinya. "Suatu saat nanti om akan menyesal karena pernah ingin membunuh anak ini dan menyia-nyiakannya. Allah maha melihat, dia akan membalas setiap perbuatan manusia, mau yang baik atau yang buruk!"
Cakra terdiam dan membiarkan Amayra melepaskan semua amarahnya yang tertahan di dalam hati. Cakra tau kalau kesabaran manusia ada batasnya, sebaik apapun Amayra dia pasti tidak tahan dengan kelakuan Bram.
"Kamu sedang menyumpahi ku?!" Bram malah balik marah pada Amayra.
"Bukan menyumpahi! Tapi memberitahu bahwa Allah melihat segalanya, termasuk perbuatan om pada saya dan anak ini!" Amayra menangis penuh emosi, dia memegang perutnya yang masih datar itu.
Deg!
__ADS_1
Ada perasaan tidak nyaman di hati Bram ketika melihat Amayra marah padanya sambil memegang perut datar itu. Kejadian di Villa kembali terngiang di kepalanya. Disisi lain Alexis takut, Bram akan goyah karena Amayra.
"Saya... UWEKKK.. uwekkk!!!"
Wanita hamil itu tiba-tiba mual, dia berlari menuju ke kamar mandi. Rasanya jijik sekali dia melihat ayah dari bayi yang dikandung nya. Apalagi meluapkan emosi sebesar itu.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Alexis melihat Bram dengan pandangan kosongnya menatap Amayra.
Entah insting seorang ayah atau apa, Bram mengikuti Amayra yang sudah masuk ke kamar mandi. Dia menunggu wanita itu keluar dari kamar mandi. Alexis dan Nilam terkejut melihat tingkah aneh Bram yang menunjukkan sedikit perhatian pada Amayra.
Uwekk.. Uweekk.. Suara Amayra yang muntah masih terdengar di kamar mandi.
Sementara Cakra hanya tersenyum melihatnya. "Seperti nya insting Bram sebagai ayah mulai bangkit." gumam Cakra.
"Itu tidak benar pah!" sanggah Nilam tak percaya.
Insting ayah? Tidak! Si pak tua ini berniat menjodohkan Bram dengan nya! . Alexis mengepalkan tangannya, dia merasa terancam dengan sikap Cakra yang terang-terangan ingin membuat Bram bersama Amayra.
Apa yang sebenarnya aku lakukan disini? Mengapa aku mengikutinya kesini? Batin Bram kebingungan dengan apa yang dia lakukan di depan pintu kamar mandi.
KLAK
Amayra membuka pintu itu sambil mengusap air di sudut bibirnya, dia terpana melihat Bram berada di hadapan nya. "Kenapa om ada disini?" tanya wanita itu dengan tatapan jijik.
"Apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan itu terlontar dari mulutnya begitu saja, entah apa yang dia rasakan.
Kenapa aku bertanya seolah sedang cemas padanya?. Tanpa sadar Bram menatap wanita yang sedang mengandung anaknya itu dengan cemas.
Memang sudah seharusnya Bram bersama Amayra. Ucap Cakra di dalam hatinya.
__ADS_1
...---***---...
Readers! Terimakasih untuk like, komen, gift, dan vote kalian yang bantu semangat author! Mohon maaf untuk crazy up bulan ini belum bisa dikabulkan, author masih sibuk RL dan mengajar les ☺️☺️ maaf juga karena komennya tidak terbalas semua ya.