
Amayra masuk ke area kampus untuk kembali ke kelasnya. Sandy mengikuti Amayra dari belakang, dia selalu waspada dengan keadaan sekitarnya.
"Nona! Berhenti sebentar!" ujar Sandy dengan suara tegasnya.
"Ada apa pak Sandy?" Amayra menoleh ke arah Sandy.
Sandy maju ke depan Amayra, dia memungut plastik kecil di lantai lalu membuangnya ke tempat sampah yang letaknya tak jauh dari sana. "Silahkan nona bisa jalan kembali...bahaya sudah disingkirkan." Sandy mempersilahkan Amayra untuk kembali melanjutkan perjalanannya dengan elegan.
Amayra mengangkat bahu dan mendesah keheranan. Dia juga ingin tertawa dengan sikap Sandy yang seperti robot itu. "PFut..pak Sandy ini kaya Arnold Schwarzenegger di film Terminator aja deh!" celetuk Amayra pada bodyguard pribadinya itu. Dia teringat salah satu aktor Hollywood yang berbadan kekar.
"Dia memang idola saya non." Kata Sandy dengan wajah datar seperti biasanya.
"Kayaknya memang benar, otot-otot bapak juga besar sama sepertinya." Amayra tertawa kecil, sambil melihat tubuh Sandy yang tinggi dan besar itu. Dua kali lipat jauh lebih besar dari tubuh suaminya.
Amayra yang diikuti Sandy, masuk ke dalam kelas sore. Disana ada Lisa dan teman-teman lainnya yang juga menghadiri kelas bahkan dosen juga sudah berdiri didepan kelas. Sore itu adalah mata kuliah metode numerik.
"Assalamualaikum, ibu dosen.. maafkan saya terlambat." Amayra meminta maaf pada Bu dosen yang berdiri didepan kelas sambil memegang spidol.
"Waalaikumsalam, kamu tidak terlambat kok May. Saya baru saja mau mulai kelasnya." jawab Bu dosen metode numerik itu dengan ramah.
Dia memang suka pada Amayra, apalagi wanita itu adalah mahasiswi paling cerdas dikelasnya. Walau sudah menikah dan sedang hamil, Amayra tetap semangat belajar. Dia menolak naik ke semester 5 karena dia ingin merasakan masa-masa kuliah lebih dalam. Bu dosen salah memuji Amayra dan yakin bahwa suatu saat nanti Amayra akan sukses. Sudah cerdas, baik, sholehah, itulah Amayra di mata para dosen di kampusnya. Dia adalah kesayangan para dosen disana.
"Alhamdulillah kalau saya tidak terlambat Bu. Apa saya boleh duduk?" tanya Amayra sopan pada Bu dosen.
"Silahkan! Tapi.." Bu dosen melirik ke arah Sandy yang berdiri tegak dibelakang Amayra seolah dia adalah bayangan.
"Ya Bu?" sahut Amayra.
"Pria dibelakang kamu itu siapa?" tanya Bu dosen yang baru pertama kali melihat pria itu di kelasnya. Pria dengan penampilan mencolok, baju serba hitam, kaca mata hitam.
Pria ini seperti mata-mata saja. Batin Bu dosen.
Oh iya pak Sandy kenapa ngikut kemari?.
Amayra baru ngeh kalau Sandy ikut masuk juga ke dalam kelas. "Pak Sandy, bapak keluar saja..dikelas ini aman kok." bisik Amayra seraya menyuruh Sandy untuk keluar dari kelas.
"Maaf nona, saya sudah ditugaskan untuk-"
"Pak! Ini di kelas, gak akan terjadi apa-apa sama saya Kon disini." Amayra menyela ucapan Sandy yang belum usai.
"Maaf nona! Apapun yang terjadi saya akan tetap berada disini," ucap Sandy dengan wajah datar dan suara tegasnya.
__ADS_1
Sandy teringat beberapa saat yang lalu ketika Satria dan Bram pertama kali memintanya untuk menjaga Amayra.
#FLASHBACK
3 hari yang lalu di rumah sakit tempat Amayra di rawat. Di depan ruang rawat Amayra. Bram dan Satria terlihat sedang memperhatikan dua bodyguard yang berdiri disana.
"Kak, yang mana diantara mereka berdua yang paling kuat dan sigap?" tanya Satria pada kakaknya.
"Tentu saja yang paling muda dong, Satria." jawab Bram sambil memperhatikan kedua pria yang berdiri tegak didepan pintu kamar.
"Yang mana yang paling muda?"
"Ini, namanya Sandy. Dia yang paling muda dan paling cepat, dia juga adalah bodyguard terlatih yang memiliki sertifikat terbaik di tempat pelatihan pengawal pribadi. Lisensinya sebagai bodyguard tidak diragukan lagi Sat, dia jago bela diri dan tentunya memiliki hasil pemeriksaan kesehatan yang sangat bagus. Dia tidak memiliki katarak, mata minus atau penyakit dalam! Sangat sehat Sat!" Bram menjelaskan keadaan Sandy pada adiknya dengan panjang lebar, sekalian merekomendasikan pria itu untuk jadi bodyguard Amayra.
"Apa kakak yakin dengan semua itu? Tapi tubuhnya terlihat kecil," Satria terlihat tak yakin saat melihat Sandy. Dia tak percaya bahwa Sandy bisa diandalkan.
"Kecil? Sat, perhatikan baik-baik ya!" Bram mengisyaratkan pada Sandy agar pria itu menghampirinya.
Sandy mengangguk patuh dan menghampiri Bram dan Satria dengan cepat. "Buka baju kamu!"
"A-apa pak?" Sandy mendongak ke arah Bram.
"Disini pak? Sekarang?" Tanya Sandy tak yakin dengan apa yang diperintahkan Bram.
"Tahun depan...tentu saja sekarang! Buka saja jas kamu, cepat!" Titah Bram pada Sandy.
Sandy patuh, dia membuka jas hitam yang menutupi tubuhnya itu. Ketika jas hitam itu dibuka, Satria terpana melihat otot-otot kekar milik Sandy.
"Nah.. sekarang kamu percaya kan padaku?" Bram melirik ke arah adiknya sambil tersenyum.
"Kak.. apa dia the rock?!" pekik Satria terkejut.
"Gimana? Cocok kan buat jaga Mayra?" tanya Bram pada Satria.
"Oke, sepertinya rekomendasi dari kakak bagus juga. Saya terima kamu menjadi bodyguard istri saya, tapi ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan."
"Baik tuan," jawab Sandy sambil menatap Satria, dia menantikan penjelasan dari Satria.
"Pertama, kamu tau tugas kamu kan? Menjaga istri saya dari bahaya saat saya tidak ada disampingnya, kamu bertugas hanya berlaku pada saat itu. Kedua, mencakup tugas tentang perlindungan.. kamu harus perhatikan jalan yang dilalui istri saya, jika ada bahaya kamu harus segera singkirkan!"
"Maaf pak, interupsi sebentar...bahaya seperti apa itu?" Sandy mengacung sebelah tangannya seraya bertanya pada Satria.
__ADS_1
"Misal.. ada batu, plastik, kertas, lantai licin yang bisa membuat istri saya jatuh. Kemudian, kalau ada orang yang bisa membuat istri saya celaka, kamu habisi saja."
Sandy tercengang, "Habisi? Maaf pak, saya tidak melakukan pembunuhan!"
"Hah? Pembunuhan? Apa kamu pikir saya akan menyuruh kamu membunuh?" Satria mendongak sambil tersenyum tipis.
"Barusan tuan bilang habisi!" Seru Sandy.
"Habisi itu, maksudnya singkirkan bukan membunuh." ucap Bram meralat.
"Oh.. saya paham tuan."
Satria membeberkan semua aturan yang harus dia patuhi ketika dia ditugaskan menjaga Amayra. Aturan itu begitu banyak, bahkan Sandy sampai merekam ucapan Satria didalam ponselnya.
#Endflashback
Semua orang di kelas itu menatap Amayra dan Sandy yang masih berdiri didepan kelas.
"Pak Sandy.. kenapa malah ngelamun? Bapak keluar saja ya," bisik Amayra yang mulai risih dengan tatapan semua orang padanya.
"Maaf non, saya tidak bisa. Saya harus selalu mematuhi ucapan pak Bram dan pak Satria." Sandy tetap teguh. "Bu dosen, saya boleh kan berada disini? Saya hanya akan berdiri di pojokan sana dan tidak akan menganggu. Saya tidak bisa mengabaikan tugas saya sebagai pengawal!" ucap Sandy dengan suara tegas.
Ish.. kenapa sih si pak Sandy ini patuh banget sama mas Satria dan kak Bram? Bahkan aku gak bis tenang sedikitpun. Amayra menatap kesal ke arah Sandy.
"Ah ya..baiklah. Selama kamu tidak menganggu pembelajaran saya, kamu boleh tinggal." ucap Bu dosen mengizinkan.
Amayra hebat juga ya, dia punya bodyguard. Suaminya pasti sayang banget sama dia.
Sandy membungkukkan setengah badannya, kemudian dia mencari tempat duduk untuk Amayra.
"Maafkan saya Bu," ucap Amayra seraya memohon maaf pada Bu dosen.
"Hahaha.. tidak apa-apa. Kamu beruntung ya memiliki suami yang penyayang, suami kamu sayang banget sama kamu dan calon anak kamu." kata Bu dosen sambil tersenyum.
"Alhamdulillah bu," jawab Amayra sambil tersenyum.
...****...
Sambil nunggu up, mampir ke karya kece temanku yuk..❤️❤️😘 kisah gemes si berondong
__ADS_1