
...*****...
Tak peduli berada dimana dan ada siapa disana, Amayra dan Satria sama-sama tenggelam dalam suasana.
Masih berada dalam posisi berciuman, Satria mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas meja. Alhasil Amayra duduk diatas meja yang ada dua porsi makanan diatasnya itu.
Tangan Satria merengkuh pinggang Amayra dengan erat namun lembut. Ciumannya semakin intens dan dalam, hingga membuat keduanya mengeluarkan suara. "Hmphh... AHHHh.."
Tangan Satria menggerayangi bagian sensitif istrinya. Membuat Amayra akhirnya sadar akan satu hal kalau mereka masih berada di luar.
Astagfirullahaladzim! Ini masih diluar!
Amayra mendorong tubuh suaminya perlahan-lahan, yang akhirnya membuat pagutan bibir mereka terpisah. Nafas pria itu dan istrinya dalam keadaan terengah-engah. "Mas...ini masih diluar," Amayra menutup bibir suaminya dengan telapak tangan, seraya meminta Satria untuk berhenti.
"May..." Satria menatap istrinya dengan tatapan membara penuh cinta dan hasrat setelah mencium istrinya.
"Mas, nanti di rumah! Masa mau disini?" Tanya Amayra sambil meletakkan tangannya pada kedua dada bidang itu.
"Haha... akhirnya istriku yang polos, peka juga." Satria tertawa, menertawakan istrinya yang kini sudah paham gerak-geriknya ketika dia meminta itu.
"A-apa sih, Mas? Peka apa?" Tanya Amayra pura-pura tidak tau.
Ya iyalah aku tau, setiap Mas Satria pegang itu...dia pasti mau minta itu.
"Tenang saja May, aku gak akan memakanmu sekarang. Maaf tadi aku sempat hilang kendali, sayang.." ucap Satria pada istrinya sambil tersenyum.
"Ih...apaan sih Mas.."
Satria mengusap keringat di wajah istrinya dengan tisu kering, "Kamu pasti lari-larian kesini ya?"
"Memangnya karena siapa aku lari-larian? Mas tau gak, aku sangat panik ketika mendengar Max kecelakaan! Aku takut Mas kenapa-napa," ucap Amayra dengan wajah cemberutnya.
"Maaf ya maaf, tadinya aku pengen bikin surprise tapi kayaknya aku terlalu ya?" Tanya Satria seraya memohon maaf.
"Surprise apanya, sama sekali gak lucu tau gak. Pura-pura kecelakaan itu gak baik loh Mas, aku gak suka Mas bohong..Mas tau gak aku ketakutan, jantungku rasanya mau copot," Amayra menatap suaminya dengan kening berkerut.
"Iya sayang maaf ya.. maafin aku. Harusnya aku gak pakai cara itu, maaf sayang.."
"Aku maafkan Mas untuk kali ini, itu karena Mas ingat dengan tanggal pernikahan kita. Kalau mas gak ingat, aku gak mau maafin Mas!" oceh wanita itu yang masih cemberut.
"Oke, aku gak lagi-lagi kayak gini. Maaf udah buat kamu takut dan cemas,"
Satria mengecup punggung tangan Amayra, dia mengajak istrinya untuk makan siang bersama di meja yang berada dibalik tirai merah itu. Satria menggeser kursi untuk Amayra duduk.
__ADS_1
"Makasih Mas," wanita itu menyunggingkan senyuman manis setelah dia habis menangis.
"Iya sayang," jawab Satria sambil tersenyum.
Pria itu menutup tirainya, suasana disana menjadi gelap seolah mereka sedang makan malam. Hanya ada terang dari cahaya lampu tidur disana yang menerangi.
Amayra memperhatikan ke sekitarnya, dia takjub melihat dekorasi dan spanduk bertuliskan selamat ulang tahun pernikahan itu. Disana juga terpampang foto saat akad pernikahan mereka.
"Ayo May, makan dulu. Kamu pasti capek habis lari-larian." ucap Satria sambil menyerahkan daging yang sudah dipotong-potong pada Amayra.
"Karena siapa aku lari-larian?" gerutu Amayra sambil memegang sendok dan bersiap untuk makan.
"Ya maaf deh sayang, maaf.." ucap Satria sambil tersenyum. "Yuk ah makan!" ajaknya.
"Iya Mas," sahut Amayra sambil mengambil makanan dengan sendok dan bersiap memakannya.
"Bismillahirrahmanirrahim," Satria melirik ke arah istrinya.
"Eh iya, aku hampir lupa berdoa.."
"Mas, pimpin doanya ya?"
"Iya Mas,"
Mereka menyantap makan siang bersama, sambil melihat foto-foto mereka lewat layar proyektor yang Satria pasangkan di ruangan dibalik tirai merah itu.
...****...
Di rumah besar Calabria, Diana dan Bram sedang bekerjasama mengasuh Rey. Hari itu Nilam ada pertemuan dengan teman-temannya. Di rumah hanya ada Diana, Bram, Rey dan juga bi Lulu.
"Rey, udah tidur Di?" Tanya Bram yang berdiri didepan pintu kamarnya sambil membawa dua gelas minuman di atas nampan.
"Udah Mas. Bener kata Mayra, Rey sekarang aktif banget...dia susah mau tidur harus main terus capek dulu baru lah dia bisa pulas." Ucap Diana menjelaskan situasi Rey sambil tersenyum.
Bram menghampiri Diana, dia meletakkan dua gelas minuman itu di atas meja. Kemudian Bram duduk disamping Diana yang memandangi bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu.
"Di, minum dulu. Kamu pasti haus habis jagain Rey."
"Iya Mas, apa itu jus jeruk ya?" tanya Diana pada minuman di dalam gelas berwarna oranye itu.
"Heem, kamu bilang kan kamu suka minuman warnanya oranye kan?" Tanya Bram sambil tersenyum.
"Aku emang bilang gitu, tapi bukan jus jeruk. Aku sukanya jus mangga," jawab Diana sambil menyeruput jus jeruk itu lewat sedotan.
__ADS_1
"Oh..aku salah berarti ya," Bram tersenyum.
"Gak apa-apa Mas, aku juga suka jus jeruk kok! Apalagi kalau Mas Bram yang buat," Diana menatap calon suaminya itu.
"Sekalipun jus jeruknya asam?" Tanya Bram.
"Iya Mas, gak apa-apa. Dan ini juga manis kok, gak asam.." Diana memuji jus jeruk buatan Bram.
"Kamu jago bohong ya," Bram tak percaya, karena ini pertama kalinya dia membuat jus.
"Eh beneran Mas, aku gak bohong! Kalau gak percaya, mas cobain aja." Kata Diana pada Bram.
Bram langsung memegang gelas yang dipegang Diana, dia bermaksud untuk mencoba jus jeruk itu. Dan tanpa sengaja tangannya malah menyentuh tangan Diana. Mereka berdua bertatapan satu sama lain, "Mas...itu kan jus jeruk punyamu ada disana. Apa Mas mau ngambil punyaku?"
Pria itu terdiam, dia masih membeku menatap Diana. Bram memperhatikan gadis cantik bergelar dokter kandungan didepannya itu. Rambut pendek yang terlihat cocok untuknya, pakaian sederhana yang selalu dikenakan gadis itu, wajahnya yang menawan, kulitnya putih bersih dan kebaikan hatinya, membuat Bram terpesona meski Diana hanya seorang janda.
"Mas, kenapa malah melamun? Mas gak apa-apa kan?" Tanya Diana yang cemas melihat Bram tiba-tiba melamun.
Tangan Bram membelai pipi Diana dengan lembut. "Mas...a-ada apa?" Tanya Diana gugup.
Bram menatap wajah Diana dengan gairah normalnya sebagai seorang pria.
Ya Allah, aku berdebar.
"Kamu cantik Diana, kamu sangat cantik. Aku sayang sama kamu," ucap Bram penuh ketulusan.
"Mas, kenapa tiba-tiba..." Diana menatap Bram.
"Aku sudah tak sabar ingin segera menjadikan kamu milikku. Semoga sepuluh hari cepat berlalu," ucap Bram sambil tersenyum.
"Aku juga gak sabar ingin segera menikah dengan Mas," ucap Diana sambil tersenyum dan ikut menggenggam tangan Bram.
Keduanya sama-sama terjebak suasana, Bram semakin mendekati Diana. Dia menatap bibir Diana, entah apa yang akan dia lakukan. Ketika bibir mereka akan bersentuhan, sebuah dering telepon menyadarkan mereka.
"Astagfirullah.." ucap Diana yang hampir saja berciuman dengan Bram. Dia terkejut karenanya.
Astagfirullahaladzim.. apa yang baru saja akan aku lakukan?. Batin Bram panik.
Bram langsung menjauh dari Diana, kemudian dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja. Bram melihat panggil masuk dari Satria.
Alhamdulillah.. makasih Satria, hampir saja aku berbuat dosa jika bukan karena telepon dari kamu.
"Halo, assalamualaikum Satria."
__ADS_1
...----***----...