Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 44. Kebenaran pahit


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Rasa mual bergejolak di dalam perutnya, ketika tangan pria pemerkosa nya itu memegang dagunya dan menatap wajahnya. Jijik! Itulah yang Amayra rasakan ketika dia berada di dekat ayah kandung dari bayinya.


"Lepaskan saya pak Bramastya!" Seru Amayra kesal.


Dengan cepat Amayra menepis tangan Bram, dia menatap pria itu dengan penuh kebencian di matanya. Walau dia tidak ingin mempunyai rasa benci pada seseorang, tapi dia tidak tahan jika berhadapan dengan Bram. Bram tercekat melihat sikap Amayra padanya.


Ya Allah rasa mual ini..


"Uwekk..uwekk.." Amayra menutup mulut menganga itu dengan satu tangannya.


"May, kamu kenapa?" tanya Anna, satu satunya orang yang mencemaskan Amayra dengan tulus.


"Apa apaan wanita sampah ini? Apa dia sedang mengejek kamu, Bram?" Kedua mata Alexis membulat melihat Amayra yang mual-mual. Dia mencoba mengalihkan perhatian Bram yang sedari tadi tertuju pada Amayra.


Wanita hamil itu berlari kecil menuju ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Lagi-lagi dia mual dan merasa jijik berada di dekat Bram, apalagi ketika disentuh oleh Bram.


"Ya Allah, rasanya aku merasa sangat kotor! Aku merasa kotor ketika dia menyentuh tubuhku, ingatan malam itu membuat aku merasa jijik! Aku jijik!" Amayra memandang dirinya sendiri di cermin, matanya berkaca-kaca. Ingatan tentang Bram yang memperkosanya kembali terlintas. Rupanya tidak mudah untuk melupakan nya karena Bram ada di sekitar nya. Apa dia harus pindah saja? Pikirnya dalam hati.


"Uwekk..uwekk.."


Ketika Amayra berada di kamar mandi, Anna menelpon Satria untuk segera pulang karena mual Amayra tidak berhenti juga. Sementara itu Bram masih berada disana meski Alexis sudah mengajak tunangan nya untuk pergi dari sana. Tapi Bram menolak, entah apa yang merasukinya. Dia ingin melihat ibu dari anaknya keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan baik-baik saja.


Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia masih terdengar mual-mual?. Bram menatap pintu kamar mandi itu dengan khawatir.


Nilam dan Alexis semakin yakin kalau Bram mulai merasakan sesuatu pada Amayra. Mereka berdua merasa terancam dengan sikap Bram yang aneh itu. "Bram, bukannya kamu dan Alexis mau jalan? Cepatlah pergi, nanti akan semakin malam!" Nilam meminta anaknya dan kekasihnya segera pergi dari sana.


Bram malah diam, matanya tertuju pada pintu kamar mandi. Dimana Amayra sedang muntah-muntah disana. Mendengar keributan yang terjadi di bawah sana, membuat Cakra turun dari lantai atas. Dia menanyakan apa yang terjadi di lantai bawah.


"Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul disini?"


Uwekk..uwekk..


"Itu pah, biasa si anak sampah kampungan itu buat keributan. Dia selalu mengejek Bram dan mual-mual ketika berhadapan dengan Bram." Jelas Nilam sinis.

__ADS_1


"Ha, itu pasti bawaan bayi. Bagaimana pun juga Bram adalah ayah kandung dari anak itu." Cakra tersenyum, dia melirik ke arah Bram yang terlihat resah.


Seperti nya Bram mulai merasakan tanggungjawab nya. Dia tidak menunjuk reaksi yang negatif.


Deg!


Hati Bram tersentak mendengar nya, kedua matanya membulat. Pria itu tercekat, jantungnya berpacu dengan cepat begitu mendengar ucapan papa nya.


Ayah kandung? Aku?


"Bram, kamu kan mau jalan-jalan sama Alexis lebih baik kamu pergi saja sana! Alexis bawa Bram pergi!" Titah Nilam pada Alexis dan Bram.


"Sayang, ayo katanya mau jalan-jalan." Alexis menggandeng tangan Bram. Dia memaksa Bram dan menariknya pergi dari sana. Hingga mau tak mau Bram pun ikut dengan Alexis pergi dari rumah nya. Meski perasaan nya masih mengkhawatirkan Amayra dan anaknya.


Ketika Bram dan Alexis berada di depan rumah itu, mereka melihat Satria yang baru saja turun dari mobil. Adik dan kakak itu saling bertatapan tajam, tanpa saling menyapa ataupun bicara.


Satria yang masih mengenakan setelan dokternya, langsung masuk ke rumah dengan buru-buru. Dia melihat Nilam dan Cakra sedang bertengkar membicarakan Amayra, sementara Amayra masih berada di dalam kamar mandi. Dia masih saja muntah-muntah, meski Bram sudah pergi.


"Semua nya gara-gara kamu pah, Bram jadi seperti ini!" Teriak Nilam pada suaminya.


"Aku tau rencana kamu pah, kamu berencana untuk menjodohkan gadis sampah itu dengan Bram, kan? Aku tidak akan setuju!"


"Amayra sedang mengandung anaknya, apa kamu tidak mengerti, Nilam!"


"Lalu hanya karena dia mengandung anak Bram maka Bram harus menikahinya? Seingat ku dulu kamu tidak menikah dengan ibu dari anak haram itu!" Teriak Nilam emosi.


"Jaga ucapan mu Nilam, dia bukan anak haram!" Cakra menunjukkan jarinya pada Nilam. Pria paruh baya itu terlihat murka.


Arah pembicaraan mereka menjadi di luar jalur. Satria yang berdiri di depan kamar mandi, tercengang saat mendengar nya. Siapa anak haram yang dimaksud di dalam obrolan papa dan mama nya? Anna juga terkejut mendengar pertengkaran opa dan Oma nya.


KLAK


Amayra baru saja keluar dari kamar mandi, setelah dia muntah-muntah. Wajahnya terlihat pucat, apalagi melihat suaminya yang terlihat sedih.


Apa yang terjadi? Kenapa kak Satria ada disini? Kenapa semua orang menatap ke arah

__ADS_1


"Kalau bukan anak haram lalu apa? Ibu nya adalah seorang jal*ng yang menggoda suamiku, lalu dia hamil dan melahirkan anak haram itu! Dan dengan bodohnya aku menerima anak itu, aku membesarkannya!" Nilam menangis, dia terlihat sakit hati.


"Nilam! Dia tidak menggoda ku, dia adalah wanita baik-baik dan bukan j*lang! Aku lah yang mencinta dia!" Cakra berteriak emosi kemarahan nya mendidih.


Satria berjalan mendekati mama dan papa nya. Dengan penuh pertanyaan."Papa, mama, apa yang kalian bicarakan? Siapa anak haram itu dan siapa wanita itu?" tanya Satria keheranan.


"Kita membicarakan ibu kandung kamu!" Jawab Nilam emosi.


Deg!


Satria, Amayra dan Anna tercengang mendengar nya. Apa maksud Bu Nilam itu adalah Satria bukan anak kandung nya? Cakra meminta Nilam untuk tutup mulut, bahkan Cakra menyeret istrinya untuk pergi dari sana. Tapi, Nilam terus bicara. Dia membongkar kebenaran, bahwa Satria bukanlah putranya. Melainkan putra dari selingkuhan suaminya.


Mata Satria berkaca-kaca, dia tidak percaya dengan kebenaran pahit ini. "Pa, apa ini benar? Apa aku bukan anak kandung mama?!!" Satria bertanya dengan suara keras.


Cakra terdiam, dia terlihat bingung karena kebenaran selama 27 tahun itu sudah diungkapkan oleh Nilam pada Satria dan semua orang yang ada disana. Kaki Satria lemas, mendapat kebenaran pahit yang menusuk hatinya.


"Jawab Satria, pah! Apa aku memang anak selingkuhan papa?!" Satria meninggikan suaranya.


Amaya terkejut karena baru pertama kali dia melihat suaminya berteriak marah dan sampai menangis.


"Itu..benar Sat, tapi kamu bukan anak haram. Papa dan mendiang mama kamu sudah menikah!"


"Pantas saja, mama Nilam selalu memperlakukan ku seperti anak tiri! Ternyata aku-"


"Dengarkan papa dulu Sat!" Cakra berusaha menjelaskan pada Satria.


"Cukup pah!" Teriak Satria marah.


Satria terlalu syok untuk bertanya lagi tentang sosok mama nya, pahit rasa nya kenyataan itu. Satria membalikkan badannya, dia menyeka air matanya dan menghampiri Amayra.


"Kak.." Amayra menatap suaminya dengan sedih.


"Barang-barang mu tidak banyak kan? Aku akan bantu kamu membereskan nya. Bereskan juga barang ku sekalian.." Satria menahan tangisnya, dia tersenyum tegar di depan Amayra.


"Satria! Apa maksud kamu nak?!" Tanya Cakra sedih mendengar ucapan Satria.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2