Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 112. Kesempatan untuk Diana


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kamu mau menikah dengan dokter Diana? Bram, apa kamu serius?" tanya Cakra sambil tersenyum senang.


"Iya pa, Diana sudah menerima perasaanku. Aku ingin mengadakan dulu acara pertunangan dengannya, lalu rencananya satu bulan setelah pertunangan itu.. kami akan menikah," jelas Bram sambil tersenyum bahagia memandang Diana.


Disisi lain Amayra, Satria dan Anna terlihat bahagia melihat Bram bersama Diana. Bram sudah berubah menjadi lebih baik dan Diana seorang wanita yang baik pula, mereka cocok bila bersama-sama. Namun mereka tidak menyangka bahwa hubungan keduanya berkembang cukup cepat hingga ke arah yang serius.


"Tunggu dulu Bram!" Nilam menyela ditengah-tengah pembicaraan itu.


"Ada apa ma?"tanya Bram melihat raut wajah mamahnya yang marah.


"Kamu tidak bisa memutuskan pernikahan seenaknya begitu dong. Kamu harus tanya kami dulu pendapat kami, gak bisa kamu sembarangan membawa wanita yang bahkan kita belum tau seluk-beluknya bagaimana," Nilam protes dengan alasan karena dia masih belum tau apa-apa tentang Diana.


Aku gak boleh biarkan Bram bersama wanita yang reputasinya buruk.


"Ma, Diana adalah wanita baik-baik.. dia berpendidikan, cantik dan juga berasal dari keluarga terhormat. Papa juga tau tentang keluarganya," ucap Cakra menjelaskan.


"Iya itu memang benar, tapi apa papa gak tau kalau dia itu bekas pelakor? Sebelumya dia pernah menjadi istri kedua," Nilam mendengus kesal.


Di hari yang Fitri itu, dia malah emosi karena wanita yang dibawa putranya.


Deg!


Diana dan Bram tersentak kaget mendengarnya. Mereka juga bingung dari mana Nilam bisa tau tentang hal ini, pasti Nilam sudah mendengarnya dari orang lain lebih dulu.


"Ma, Diana bukan pelakor seperti apa yang mama kira. Dia memang pernah menjadi istri kedua, tapi bisa tidak begitu!"


"Alah! Apapun itu dia tetap istri kedua kan? Mama gak setuju Bram, mama gak mau kamu salah pilih wanita. Heran deh mama, kenapa pria di rumah ini pada sukanya barang bekas!" ujar Nilam nyinyir.


Wanita itu langsung pergi dari kumpulan orang-orang disana. Amayra, Satria, Anna melihat ke arah wanita berwajah marah yang sedang menaiki tangga itu.


"Kak, sabar ya.. kata-kata mama Nilam, jangan diambil" ucap Amayra pada Diana seraya menenangkannya.


Diana hanya tersenyum tenang, dia sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk dan menyakitkan dari hinaan Nilam saat dulu dia menjadi istri kedua Hans. Cemoohan dari masyarakat, tuduhan dari mereka yang bukan-bukan, Diana merasakannya karena dia sudah mengalaminya. Maka dari itu dia sudah terbiasa.

__ADS_1


Bram terlihat marah mendengar wanita yang dia cintai dihina oleh sang ibu. Dia beranjak dari tempat duduk, "Mas, kamu mau kemana?" tanya Diana pada Bram yang wajahnya terlihat marah.


"Kamu tunggu disini, aku mau bicara sama mama," ucap Bram pada Diana.


"Gak usah mas, gak apa-apa. Biar aku yang bicara dan menjelaskan semuanya sama tante Nilam,"


Aku sudah memutuskan untuk bersama dengan kamu mas, maka aku harus terima semua yang ada pada diri kamu. Menyesuaikan diri dengan keluarga kamu.


"Kita jelaskan sama mama bersama-sama ya," Bram tersenyum lembut. Dia tidak mau melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidupnya lagi. Dulu dia pernah kehilangan Amayra, gadis baik dan Sholehah karena hasutan mamanya yang menyuruhnya dia untuk pergi keluar negeri menyusul Alexis. Dia tidak ingin kisahnya dan Diana berakhir dengan kasih tak sampai seperti sebelumnya.


Cakra beranjak bangun dari duduknya,"Udah, kalian mending duduk saja disini. Biar papa yang bicara dulu sama mama kamu, kamu tau kan bagaimana sikap mama kamu kalau sedang marah?"


Cakra meminta maaf kepada Harun karena sudah menyaksikan kemarahan Nilam di hari yang suci itu. Cakra pun pergi menyusul Nilam untuk bicara dengannya.


Cakra melihat sang istri sedang duduk di atas ranjang dengan wajah sumrawut.


"Ma.."


"Apa pa? Pasti papa disuruh Bram untuk bicara sama mama? Ayo ngomong aja pa!" kata Nilam ketus.


"Emang itu kenyataannya kok!"


"Siapa yang bicara sama mama seperti ini? Pasti ada yang menghasut mama kan?" tanya Cakra pada sang istri.


"Gak ada!"


"Ya udah kalau gak ada. Tapi apa mama mau kalau anak kita melajang seumur hidupnya?" tanya Cakra.


Pertanyaan Cakra sontak saja membuat Nilam ternganga. Sebelumnya Bram juga sering mengatakan kalau dia tidak akan pernah menikah lagi dan hidup melajang selamanya. Nilam menjadi takut dengan ancaman anaknya itu.


"Tidak.. mama tidak mau!" Nilam menggeleng-geleng.


"Kalau begitu restuilah mereka ma," ucap Cakra menyarankan.


"Gak semudah itu pa. Mama ingin Bram menikah dengan wanita yang pantas untuknya, setidaknya wanita itu harus masih perawan!" kata Nilam tegas.

__ADS_1


"Astagfirullah ma! Anak kita juga bukan perjaka lagi, dia sudah pernah menikah bahkan punya anak. Anak gadis dari keluarga mana yang mau menerima Bram, dengan masa lalunya yang seperti itu. Lihatlah dokter Diana, dia menerima Bram setulus hatinya tanpa peduli dengan masa lalu Bram," Cakra berusaha mengubah pola pikir Nilam terhadap jodoh Bram.


Itu benar juga sih, tapi aku ingin Bram dengan wanita yang sempurna. Wanita yang bisa menjadi menantu idaman. Nilam terdiam dan tenggelam dalam lamunannya.


"Ma, oke kalau mama masih mau ingin tau bagaimana dokter Diana. Setidaknya berikan kesempatan pada mereka dan untuk mama menilai dokter Diana, kita telusuri fakta sebenarnya dan dengarkan mereka lebih dulu!"


"Ide papa bagus juga, baiklah.." Nilam setuju dengan usul Cakra. Dia juga tidak mau Bram memutuskan melajang.


Cakra berhasil mengubah pikiran Nilam, akhirnya wanita itu kembali turun ke lantai bawah bersama suaminya.


"Kalau mama gak setuju, aku akan melajang seumur hidup!" seru Bram tegas.


"Oke Bram, mama sama papa sudah sepakat kami akan memberikan kalian kesempatan. Dengan syarat, kami harus tau semua tentang dokter Diana tanpa ada yang disembunyikan. Paham?" kata Nilam tegas.


Diana Bram saling melirik, mereka tersenyum dan berterimakasih pada Cakra dan juga Nilam yang sudah memberikan mereka kesempatan untuk bersama.


Setelah itu Diana mencoba menjadi menantu yang diinginkan Nilam dan Cakra. Dia sering mengunjungi rumah calon suaminya itu. Mencoba beradaptasi disana untuk mendapatkan kesan baik dari Nilam dan Cakra.


Nilam mencoba memberikan kesempatan untuk melihat sikap calon menantunya ini, menelisik, dia takut salah lagi memilih menantu.


Sore itu Bram mengantar Diana pulang setelah Diana menghabiskan waktu liburnya di rumah Bram untuk menemani Nilam.


"Kamu terlihat lelah tapi kamu juga terlihat senang," ucap Bram pada Diana.


"Iyah aku lelah tapi aku senang. Untuk pertama kalinya Tante Nilam memuji masakan ku dan berterimakasih padaku," Diana terlihat bahagia.


"Benarkah? Kalau begitu tidak lama lagi mama pasti akan menerima hubungan kita," kata Bram sambil tersenyum melihat wanita itu.


Diana masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan bahagia.


...****...


Hai Readers, berhubung ini hari Senin.. author boleh tak minta Gift atau vote nya ❤️❤️🥰


author mau up lagi nanti udah magrib ya 😉

__ADS_1


Episode berikutnya : Keberangkatan Satria


__ADS_2