Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 65. Berdua denganmu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Bram, kamu kenapa? Mau minta tolong apa pada mama dan papa?" tanya Cakra pada putranya.


"Mama, papa, tolong kembalikan Amayra dan anakku! Aku ingin bersama dengan mereka, aku yang harusnya menjadi suami Amayra!" Bram merengek seperti anak kecil pada kedua orang tuanya.


Nilam dan Cakra saling menatap satu sama lain. Mereka sempat tidak percaya Bram akan mengatakan hal seperti itu. Penyesalan Bram sudah sangat terlambat, Cakra berkata dengan tegas bahwa dia tidak bisa membantu Bram mewujudkan keinginannya.


"Bram, papa sudah ingatkan sejak awal kalau kamu akan menyesal. Semuanya sudah terjadi, mama dan papa tidak bisa membantu kamu. Karena Amayra dan Satria saling mencintai, yang harus kamu lakukan sekarang adalah ikhlas," Cakra menjelaskan kepada anaknya untuk merelakan apa yang sudah terjadi.


"Enggak pah! Aku gak bisa, aku gak mau kalau Amayra dan anakku bersama pria lain! Mereka harusnya menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak mau anakku memanggil om nya dengan panggilan ayah! Aku tidak akan biarkan itu terjadi!"


"Bram, dengarkan papwaamu," ucap Nilam pada Bram, kali ini dia tidak membela putranya.


"Mama sama papa benar-benar keterlaluan! Semuanya membela Satria!" Teriak Bram marah.


Bram kembali menggila, dirinya tenggelam dalam keputusasaan. Dia mengacak-acak barang-barang di kamarnya seperti orang gila. Pembantu rumah tangga, semua orang di rumah itu takut melihat tingkahnya.


Tubuhnya sudah penuh luka, belum di wajah, bahkan tangan dan kakinya juga terluka. Penampilan nya terlihat acak-acakan.


"Bram, apa yang kamu lakukan? Hentikan Bram! Hentikan!" Teriak Cakra berusaha menghentikan aksi Bram yang merusak barang-barang di rumah.


"Astagfirullah!" Dewi dan Lulu terkejut melihat Bram yang menggila seperti itu.


Muin dan Cecep terpaksa memegangi Bram bahkan membuatnya pingsan atas perintah Cakra. Setelah Bram tidak sadarkan diri, barulah dia tenang dan dibaringkan di ranjang. Melihat penyesalan dan hancurnya hati Bram, membuat Nilam sedih juga merasa bersalah. Jika bukan karena dia terlalu memanjakan Bram, anaknya pasti tidak akan memiliki sikap seperti ini.


Cakra dan Nilam tetap pada keputusan mereka, bahwa mereka tidak akan membiarkan Bram menganggu hubungan rumah tangga Satria dan Amayra.


****


Di rumah Satria, malam itu Amayra dan Satria masih berada dalam suasana bahagia. Keduanya belum tertidur, padahal malam sudah sangat larut.


"May, belum tidur?" tanya Satria sambil melihat punggung istrinya dan rambut panjang yang tergerai itu.


"Belum kak," jawab nya dengan suara pelan.


"Kenapa? Kamu mau makan sesuatu? Atau kamu mau minum? Apa ada yang sakit?" tanya Satria sambil membalikkan tubuh istrinya, sehingga mereka berdua bertatapan. Kedua nya berada di dalam satu ranjang yang sama.


"Aku gak apa-apa kok,"


"Terus kenapa kamu belum tidur?" tanya Satria sambil membelai rambut panjang milik Amayra.


"Belum mau saja. Kakak juga kenapa belum tidur? Mau kesiangan bangun subuh lagi?" tanya Amayra pada sang suami.


"Kan ada kamu yang bangunin aku, kenapa aku harus takut kesiangan?" Satria tersenyum, tangannya membelai tangan sang istri.


"Hem, kakak harus biasakan bangun sendiri ya! Pahalanya lebih besar lho kalau melawan godaan setan sendirian," Amayra mengingatkan.


"Iya kalau aku tidak tidur malam dan tidak lelah, aku pasti akan bangun sendiri. Aku masih membiasakan diri untuk shalat tepat waktu, tapi kok susah sekali ya untuk bangun subuh," Satria tersenyum bingung, dia selalu saja sulit membuka matanya saat akan melaksanakan shalat subuh.


"Kenapa sulit? Karena setan memasang ikatan pada orang yang sedang tidur, terutama orang yang akan melaksanakan ibadah. Kakak tau tidak? Di kala tidur pun gangguan jin dan setan akan selalu ada. Apalagi bala tentara iblis ini, telah berjanji kepada Allah untuk menggoda manusia hingga akhir zaman. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda, bahwa setan akan mengikat manusia ketika ia tidur hingga tiga ikatan. Ikatan setan ini, jika tak dilepas akan mengganggu jiwa dan semangat seorang muslim, termasuk dalam urusan ibadah dan beraktivitas. Dampaknya pun bukan hanya terlambat sholat shubuh, namun efek negatifnya selama sehari penuh,"


Satria mendengarkan penjelasan istrinya dengan seksama, dia semakin kagum pada wanita Sholehah itu. Setiap bersama Amayra, dia selalu merasa nyaman.


Selain cantik, istriku juga Sholehah. Masya Allah sekali. Satria terpesona.


Amayra bingung melihat Satria hanya senyum-senyum sambil menatap dirinya. "Kak Satria! Kok malah melamun sih? Kakak dengar aku gak sih?" tanya Amayra pada suaminya.


Satria kembali fokus, "Aku dengar kok, terus gimana caranya supaya aku tidak terlambat bangun subuh?"tanya Satria sambil memandang wajah sang istri.


"Caranya? Jangan tidur larut malam, pasang alarm, baca doa sebelum tidur, berwudhu sebelum tidur, baca surat-surat pendek juga. Tapi tanpa semua itu kalau gak diawali dengan niat, pasti kita akan sulit untuk bangun subuh,"


"Jadi harus niat dulu ya?"

__ADS_1


"Ya iyalah, apakah kakak tidak niat dulu sebelum melakukan sesuatu?"tanya Amayra heran.


"Aku niat kok, bahkan aku suka baca bismillah ketika akan melakukan sesuatu. Walau kadang aku lupa sih,"


"Kakak, niat itu bukan hanya di pengucapan tapi dari dalam hati. Niatkan bangun subuh karena Allah, karena ingin melakukan kewajiban kita sebagai manusia yang taat. Insyaallah kakak akan terbiasa nantinya,"


"Baik Bu ustadzah, tapi kalau aku sudah melakukan semua itu dan aku masih terlambat bangun, gimana?" tanya Satria.


"Hem..." Amayra terlihat berfikir, matanya berputar kesana-kemari.


"Tentu saja harus begini," Satria mendekatkan wajahnya pada wajah Amayra. Tangannya membelai pipi Amayra dengan lembut, dia membenamkan bibir nya pada bibir cantik sang istri.


Satria menggigit gemas bibir istrinya, hingga bibir itu terbuka lebar. Lidah mereka bermain di dalam sana dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Hmphh!"


Tangan Amayra melingkar di leher Satria, dia menikmati kecupan penuh cinta dari suaminya itu. Tak lama kemudian Satria melepaskan pagutan nya, wajah Satria memerah dan panas.


"Kak.." Amayra menatap suaminya dengan sedikit kecewa, mengapa Satria menghentikan aktivitas nya ditengah-tengah.


"Maaf, hari ini aku tidur di sofa saja," Satria beranjak bangun, dia merasakan tubuhnya memanas. Jika ciuman itu diteruskan, mungkin dia akan menginginkan hal yang lain dan akan kebablasan.


Ya Allah, ada sesuatu yang ingin meledak di dalam diriku. Aku tak bisa menahan diri lagi kalau aku berada di ranjang yang sama dengan Amayra.


"Kenapa kak? Apa aku ada salah?" Amayra beranjak duduk di ranjang, dia memandang suaminya dengan sedih. Sambil memegang tangan Satria.


"Enggak, kamu gak ada salah apa-apa," ucap Satria sambil memalingkan wajahnya.


"Terus kenapa kakak mau tidur di sofa?" tanya Amayra sedih.


"Aku ingin saja, sudahlah kamu cepat tidur. Besok kita akan jalan-jalan." Satria beranjak berdiri, tapi Amayra menahan tangannya. Bibirnya mengerucut, kening berkerut, matanya memicing menatap curiga pada suaminya.


"Mayra.." lirih Satria memanggil sang istri dengan suara merdu.


"Bukan gitu May, kamu gak ada salah apa-apa. Aku cuma takut kalau aku menginginkan lebih dari ciuman," ucap si pria dengan wajah malu-malu.


Amayra tersentak dengan wajah polosnya, dia memandang Satria. Dia tersipu malu. Pikiran Amayra sudah melayang jauh ke arah lain. Lebih dari ciuman? Apa maksudnya hal itu?


Apa maksudnya kak Satria mau itu?


"Kamu pasti tidak mengerti maksud ku kan?" Satria nyengir, dia sudah menduga kalau istrinya pasti tidak paham apa yang di maksud.


"Kakak, aku minta maaf! Selama ini aku diam saja, aku tidak pernah bertanya pada kakak atau menawarkan pada kakak. Maaf aku bukan istri yang baik, tapi kalau kakak mau.. malam ini kakak bisa melakukannya, aku akan menunaikan semua kewajiban ku,"


Ya ampun Amayra, kamu benar-benar telah berdosa. Selama ini suami kamu menahan hasrat dan n*fsu nya sendirian, seharusnya kamu melayaninya sebagai seorang istri.


"Amayra, kamu-" Satria terperangah dengan kata-kata istrinya.


"Tidak apa-apa kak," Amayra mengangguk siap.


Satria menghela napas, dia kembali duduk disudut ranjang. Dia memandang sang istri dengan senyuman pahit. Hasrat terpendam nya pada Amayra,bisa dia tahan karena dia selalu teringat satu hal. "Tidak Amayra, walaupun aku sangat ingin tapi aku tidak boleh melakukannya! Tidak saat ini, kamu sedang hamil besar. Dokter Diana bilang, melakukan itu akan sangat berbahaya untuk kandungan kamu, kita lakukan nanti saja."


"Tapi kakak gak apa-apa harus menahannya?" tanya Amayra merasa bersalah.


"Insyaallah aku bisa. Makanya aku mau tidur di sofa dulu, jangan larang aku ya?" Satria tersenyum lembut.


"Baik kak," ucap Amayra patuh.


Sebelum tidur Satria mengecup kening Amayra dengan lembut. Tak lupa dia mematikan lampu kamar.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya, Amayra menyiapkan sarapan seperti biasanya. Dia melihat suaminya yang tidur di sofa ruang tengah setelah shalat subuh.

__ADS_1


"Ish, sudah kubilang untuk tidak tidur lagi setelah shalat subuh," Amayra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang suami tertidur di sofa.


Ketika Amayra sedang membuat susu hangat, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar melingkar diperutnya dengan lembut. Bibir panas menyentuh leher nya yang dibalut kerudung berwarna putih. Napas dari sang suami membuat Amayra geli. "Kakak sudah bangun? Baru saja aku lihat kakak masih tertidur," ucap Amayra terkejut.


"Hehe iya aku sudah bangun, aku mencium masakan istriku. Sepertinya istriku memasak nasi goreng spesial," ucap Satria sambil mengelus perut Amayra penuh kasih sayang, layaknya seorang ayah yang menunggu kelahiran sang buah hati.


"Kakak benar, aku memang masak nasi goreng! Kakak mandi, cuci muka dulu, kita sarapan bersama ya," Amayra tersenyum ceria mengajak suaminya sarapan bersama.


"Oke, tapi aku belum menyapa si kecil ini." Satria jongkok di depan Amayra. Dia memandang perut buncit itu sambil tersenyum. "Assalamualaikum sayang, selamat pagi! Kamu baik-baik saja kan? Kamu pasti baik-baik saja karena hari ini ayah akan mengajak kamu jalan-jalan. Bagaimana? Kamu mau kan jalan-jalan? Kalau mau, tendang satu kali perut ibu ya!" Satria bicara dengan perut buncit itu, dia memegang lembut perut Amayra.


"Haha, kakak bicara apa sih?" Amayra tertawa kecil mendengar suaminya bicara pada si bayi.


"Tuh.. tuh kan dia menndengar ku? Dia bergerak lho May," Satria tersenyum lebar, begitu sebuah gerakan terasa dari perut sang istri.


"Aduhduh, benar-benar bergerak kak!" Amayra juga terkejut, dia tak percaya kalau anaknya merespon ucapan Satria. Bayi itu menendang dengan keras.


"Apa kamu setuju kalau kita jalan-jalan hari ini?" tanya Satria sambil mendekatkan wajahnya.


Kali ini wajah Satria yang terkena tendangan bayi itu, pertanda dia setuju untuk pergi jalan-jalan bersama Satria. Amayra terharu karena Satria mau menerima dia dan bayinya dengan tulus. Satria berjanji bahwa dia akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk Amayra dan bayinya.


Setelah selesai sarapan bersama, Amayra dan Satria pergi jalan-jalan ke taman hiburan. Karena Amayra ingin pergi ke taman hiburan, namun dia selalu tak sempat pergi kesana. Mereka menghabiskan waktu berdua di taman hiburan, makan dan naik wahana disana yang tentunya aman untuk ibu hamil.


"Woah! Ini sangat seru! Aku mau naik lagi!" Seru Amayra bersemangat dan ingin naik lagi komedi putar.


"Kamu sudah naik 3 kali May, apa masih belum puas? Apa gak pusing?" tanya Satria keheranan.


"Gak kok, aku mau naik lagi kak? Boleh ya, boleh ya?" Amayra bersikap manja pada suaminya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Melihat Amayra bersikap manja, Satria merasa bahwa Amayra memang masih muda. Dia yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan menggapai mimpi. Malah harus menikah muda karena keadaan, meski begitu Satria bersyukur bisa dipertemukan dengan wanita sebaik Amayra walau dalam keadaan yang tidak baik.


Mungkin ini yang namanya berkah dibalik musibah. Aku mendapatkan berlian yang indah tak ternilai harganya di dalam kehidupan ku. Jika saja tidak ada kejadian itu, Amayra tidak akan menjadi istriku. Aku tidak akan pernah mendapatkan berlian yang cantik ini.


"Kakak, kenapa kakak melamun?" tanya Amayra melihat suaminya melamun.


"Ah! Enggak apa-apa! May kamu jangan naik dulu ya, aku mau beli minum dulu buat kamu. Lihat tuh kamu keringetan gitu, kerudungnya sampai basah!" Satria mengomel ketika melihat kerudung istrinya yang basah oleh keringat.


"Yah, tapi aku mau naik itu!"


"Nanti aku temani naik itu lagi, tapi sekarang duduk dulu tunggu disini. Aku mau beli minum," Satria mendudukkan istrinya disebuah kursi panjang di dekat wahana kora-kora. Amayra mengangguk patuh.


Terkadang dia dewasa dan terkadang dia menggemaskan seperti anak kecil.


Satria melihat jari Amayra yang kosong melompong tanpa ada apa-apa disana. Satria pergi sebentar dengan alasan untuk membeli minum.


Amayra menunggu Satria disana dengan wajah cemberut, sudah hampir 20 menit Satria belum kembali juga. Dia sudah tak sabar ingin naik wahana komedi putar. Tak lama kemudian, Satria yang datang entah dari mana. Membawa balon berbentuk love dan dia berikan balon itu pada Amayra.


"Kak Satria?" Amayra melihat di balon itu ada tulisan aku mencintaimu dalam bahasa Arab.


انا احبك


Satria tersenyum lembut, dia meminta sang istri melihat dibawah balonnya. Amayra melihat sebuah cincin emas berlapis permata disana.


"Kak Satria ini.."


"Cincin pernikahan yang hilang, ini gantinya.." ucap Satria sambil tersenyum.


Amayra melihat cincin itu, dia melihat ada inisial nama Satria dan Amayra disana. S love A. Sudah lama cincin Amayra hilang karena dicuri perampok dan Satria baru membelinya lagi setelah perasaan cintanya tumbuh semakin kuat untuk Amayra. Dia membelinya dengan uang sendiri. Dia memasangkan cincin itu di jari manis Amayra. Keduanya sama-sama tersenyum bahagia.


"Aku juga mencintaimu kak," ucap Amayra dengan senyum harunya. Tangannya bergerak memeluk suaminya, sampai dia lupa dia sedang berada dimana.


...---***---...


Maaf readers, hari ini telat up nya! 😍

__ADS_1


__ADS_2