
...🍀🍀🍀...
Setelah menjawab pertanyaan dari adiknya, Bram memandangi bayi mungil di dalam ruangan berbentuk persegi panjang itu. Bayi tampan Amayra terlihat sedang tidur lelap.
Bram tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah dan bayi yang tidur disana adalah anaknya bersama Amayra. Mendengar jawaban kakaknya, Satria terlihat tidak senang.
Anaknya? Apa aku tidak salah dengar? Kak Bram, bagaimana kakak bisa begitu tidak tahu malu? Sebelumnya dia meminta Amayra menggugurkan bayi itu dan sekarang dia mengakui bayi Amayra sebagai anaknya? Bukankah itu namanya menjilat ludah?
Satria hanya mengatakan itu di dalam hatinya, karena dia tidak mau berdebat di ruangan penuh dengan bayi-bayi itu. Tanpa bicara apa-apa, Satria melihat memeriksa kondisi si bayi.
"Clara, kenapa kamu ada disini?" tanya Satria ketus pada Clara.
"Kak Satria, aku hanya mengantar pak Bram kemari,"
"Apa tugasmu memeriksa pasien di ruang 503 sudah selesai? Aku ingat hari ini jadwal mu padat," Satria menatap wanita itu dengan tajam.
"Ah i-iya kak, aku akan segera mengerjakan pekerjaan ku," jawab Clara sambil tersenyum manis di depan Satria. Dia mengibaskan rambut panjang nya dengan centil. Bram memerhatikan gerak-gerik Clara di depan Satria, dia menangkap sesuatu dari tingkah dokter magang itu.
Kak Satria tau semua jadwalku? Apa itu artinya dia masih peduli padaku?
Clara pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang tersipu-sipu. Di ruangan NICU, hanya tinggal ada Satria, Bram, bersama bayi-bayi yang dirawat disana.
"Dia gadis yang cantik, sepertinya dia juga masih lajang," ucap Bram pada adiknya, menunjuk pada Clara.
"Apa maksud kakak bicara begini?" tanya Satria sambil memandang bayi itu penuh kasih sayang.
"Sepertinya kamu cocok dengannya Satria, dia juga kelihatannya naksir sama kamu. Kenapa kamu tidak bersama dia saja? Masih muda, cantik, berpendidikan dan kalian sama-sama dokter,"
"Apa bagus kakak bicara seperti ini pada orang yang sudah menikah kak?" Satria bicara sambil menoleh sinis pada kakaknya itu.
"Ya benar kamu sudah menikah dan kamu terpaksa menikahinya demi nama keluarga. Satria, sekarang aku tidak apa-apa kalau kamu mau menceraikan Amayra karena aku akan menjadi suami dan ayah untuk anak ini," Bram tersenyum dengan santainya.
Satria terperangah mendengar ucapan Bram yang lagi-lagi membuatnya tak habis pikir. "Kak, memang pada awalnya aku terpaksa dan tidak mau menikahi Amayra. Tapi, sekarang aku mencintainya dan aku juga mencintai anak ini. Aku tidak akan pernah melepaskan mereka berdua kak," ucap Satria penuh keyakinan.
__ADS_1
"Satria.. Satria, kamu sadar gak sih kalau kamu tuh hanya penghalang? Semuanya akan mudah kalau kamu mundur, tidak ada tempat untuk kamu di dalam hidup mereka berdua! Akulah yang harusnya jadi suami Amayra dan kamu jangan lupa kalau aku adalah ayah kandung dari bayi ini!" Bram menunjuk-nunjuk ke arah Satria dengan tatapan mata yang tajam. Menegaskan pada Satria bahwa dia bukanlah siapa-siapa melainkan orang lain yang menggantikan posisinya.
"Kakak salah. Penghalang disini bukanlah aku tapi kakak! Tentang siapa yang penting di dalam hidup Amayra dan anak ini, kakak juga tau sendiri kan? Meskipun kakak adalah ayah kandung bayi ini, tapi aku adalah suami Amayra. Selama aku menjadi suaminya, maka bayi ini juga adalah milikku. Seperti nya kakak lupa satu hal ya? Bahwa kakak bukanlah siapa-siapa, sejak kakak meminta Amayra membunuh bayi ini dan kakak meninggalkan Amayra untuk Alexis!" Satria membalikkan semua perkataan Bram dengan tegas dan mata yang tajam.
Bram kesal mendengar Satria mengatakan semua itu. Seperti miliknya direbut dari dirinya, Amayra dan bayi itu. Bram mengepalkan tangan dengan gemas, wajahnya terlihat marah. Tapi dia tidak bisa membalas kata-kata Satria, karena apa yang dikatakan Satria memang benar. Semua memang salahnya, semua memang karena kebodohannya sejak awal yang meninggalkan Amayra dan bayinya.
Benar Bram, kamu yang meninggalkan mereka. Kamu yang salah! Tapi apa penyesalanku sudah sangat terlambat? Ya Allah, betapa buruknya diriku ini. Aku sangat bejat!
Ketika mereka sedang berdua di ruang bayi, tak lama kemudian Diana dan seorang suster datang untuk memeriksa kondisi bayi-bayi yang ada disana termasuk bayi Amayra. Bram juga masih disana, dia ingin bagaimana keadaan anaknya.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bram mendahului Satria untuk bertanya.
Satria melirik sinis ke arah Bram, itu karena kata anak saya yang diucapkan sang kakak pada Diana.
"Keadaannya masih belum terlalu baik, dia masih memerlukan perawatan khusus. Oh ya dokter Satria, setelah Amayra bangun, bawalah dia kemari untuk menyusui anaknya. Karena asi eksklusif akan sangat baik untuk bayi, apalagi bayi yang baru lahir," jelas Diana pada Satria.
"Oke," jawab Satria.
Setelah itu, Bram pergi keluar dari ruangan bayi. Tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat sakit, tubuhnya ambruk dan muntah darah di lantai. Satria kaget melihat kakak nya seperti itu.
Uhuk uhuk!
"Kakak! Kakak kenapa kak?" tanya Satria sambil membantu kakak nya berdiri dengan satu tangannya. Dia cemas melihat banyaknya darah yang dimuntahkan oleh Bram.
"Lepaskan aku! Aku tidak butuh bantuan kamu!" Bram tidak mau dibantu oleh Satria, dia menepis tangan adiknya.
"Sebaiknya kakak melakukan pemeriksaan, ayo kak. Aku akan bawa kakak ke ruangan kakak," ucap Satria berniat membantu.
"Tidak perlu!" Seru Bram menolak.
Ya Allah kenapa kepalaku seperti ini.
Untuk kesekian kalinya, Bram muntah darah. Kemudian dia jatuh tak sadarkan diri. Satria dan seorang petugas rumah sakit membawa Bram kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Dokter Daniel memeriksa kondisi Bram dan dia mengatakan bahwa Bram mengalami cedera kepala yang parah akibat benturan itu. Bram mengalami Traumatic Brain Injury atau cedera intracranial, adalah cedera yang diakibatkan oleh tekanan yang berasal dari luar, misalnya pukulan atau benturan, yang bisa menyebabkan otak bergerak dan bergeser di dalam tengkorak atau bahkan menyebabkan kerusakan tengkorak. Sedangkan kerusakan tengkorak bisa mengakibatkan kerusakan otak dan berakibat fatal untuk nyawanya.
Ya Allah kak Bram, demi menyelamatkan Amayra dan bayi itu. Kakak sampai seperti ini? Aku pikir kamu baik-baik saja kak.
Satria tercengang bercampur cemas mendengar penjelasan atasannya itu tentang penyakit Bram. "Dokter Daniel, apa yang akan terjadi pada kakak saya? Kakak saya akan baik-baik saja kan?
"Saya tidak bisa memastikan nya untuk sekarang, sebelum kita melakukan CT scan pada kepalanya untuk memastikan seberapa parah cederanya. Melihat dia yang muntah darah seperti itu, saya merasa ini bukan hal yang biasa." Jelas dokter Daniel sambil melihat Bram yang terbaring di ranjangnya.
Satria terdiam mendengarnya, dia melihat Bram yang terbaring lemah di ranjangnya.
****
Keesokan harinya..
Sore itu di ruangan nya, Amayra sudah bangun dan memiliki istirahat yang cukup. Harun, Nilam dan Cakra ada disampingnya, mereka memberikan selamat pada Amayra atas kelahiran bayinya. Setelah itu Harun membawa Amayra dengan kursi roda ke ruangan bayi untuk melihat dan menyusui bayinya.
"Lihat pa, cucu kita sangat tampan!" Nilam mengagumi ketampanan cucunya.
"Dia mirip dengan Bram kita waktu kecil," ucap Cakra sambil tersenyum manis pada bayi yang baru membuka matanya itu.
Harun dan Amayra menunjukkan sedikit rasa tidak suka saat Cakra menyebut bayi itu mirip dengan Bram. Pasalnya, ayah dan anak itu masih menyimpan marah dan kecewa pada Bram.
"Anakku..anakku selamat, Alhamdulillah ya Allah.. terimakasih," Amayra melihat bayinya di dalam ruang inkubator. Matanya berkaca-kaca melihat bayi yang selama ini berada di dalam kandungannya.
"Mari Bu, ibu coba menyusui bayinya ya," ucap seorang suster sambil menggendong bayi itu keluar dari inkubator dengan hati-hati.
"Owaaa..owaaa.." bayi itu menangis, sepertinya ingin disusui oleh ibunya.
"Baik suster," jawab Amayra sambil mengambil bayi itu dari tangan suster dengan pelan-pelan. Amayra membuka resleting depan bajunya, kemudian mengarahkan gunung nya ke arah mulut si bayi dengan perlahan.
Amayra merasakan bayi itu menyedot sesuatu dari dalam tubuhnya, dia merasa sekitar gunungnya yang geli akibat ulah sang bayi. Amayra tersenyum bahagia, bayi itu sudah menyusu pada ibunya untuk pertama kali.
Cakra, Nilam dan Harun tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Kebahagiaan Amayra bertambah ketika melihat Anna dan Fania sudah berada di depan ruang NICU sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"May! Mayra!"
...---***---...