
...πππ...
Tangan kekar Satria meraih pinggul sang istri, memanggilnya sayang. Hal itu membuat semua orang disana termasuk Amayra sendiri, dibuat terkejut dengan sikap manis suaminya.
Om Satria apa-apaan sih?
Anna melongo melihat sikap Satria pada Amayra yang manis seperti permen karet. Dia menempel pada Amayra, memamerkan kemesraannya.
Dia ini istriku, mau apa kamu?
Satria menatap tajam ke arah Iqbal yang memang sedang melihatnya. Tatapan Iqbal tertuju pada tangan kekar Satria yang mendekap Amayra. Wanita satu anak itu keheranan karena Satria yang tadi masih marah, tiba-tiba saja bersikap manis padanya. Ada angin apakah gerangan? Dia bingung sekali.
"Kak Satria, kakak disini? Bukannya kakak lagi sakit kepala ya?" Amayra mendongak menatap sang suami yang masih memegang pinggulnya.
"Istri dan anakku ada disini, masa aku didalam kamar sendirian?" Satria tersenyum lembut pada istrinya.
Tidak akan aku biarkan kalian mengobrol.
"Oh gitu ya," bibirnya membulat mendengar ucapan Satria.
Tadi saja marah-marah, kenapa dia begini sekarang? Kesambet apa dia?
Amayra canggung karena Satria masih memegang pinggulnya. Itu karena disana ada Iqbal, Fania dan Anna yang melihatnya dan dia jadi merasa malu.
"Ehem ehem, apa kita jadi nyamuk disini ya?" Fania berdehem, sambil melirik tangan Satria yang masih merengkuh erat tubuh sahabatnya itu.
"Iya nih, kayanya kita jadi nyamuk dari suami yang lagi bucin sama istrinya," sambung Anna sambil tersenyum menggelengkan kepala melihat ke arah Satria yang mendekap Amayra.
Apa Om Satria lagi cemburu? Panas panasin ah.
Anna tersenyum jahil, ada ide didalam kepalanya.
Wajah Amayra memerah, "Kak Satria, lepaskan aku kak.." bisiknya pada Satria.
"Kamu diam aja," balas Satria berbisik.
"Om kenalin ini kakak kelasnya Anna, Fania, sama Amayra, namanya kak-"
"Gak usah, kita udah kenalan!" Satria langsung memangkas kata-kata Anna dengan cepat. Anna tersenyum geli melihat omnya yang jarang berekspresi itu sedang cemburu, Anna gemas melihatnya dan semakin ingin menggoda Satria.
"Oh gitu ya.. eh, om tau gak kalau kak Iqbal ini sekolah kedokteran juga lho," Anna tersenyum pada Satria, dia menikmati pemandangan seorang suami yang sedang cemburu.
"Benar juga, dan kak Iqbal selalu mendapatkan juara kelas. Dulu aja waktu olimpiade matematika, kak Iqbal yang membimbing Amayra," kata Fania ikut memperjelas. "Ah ya, aku jadi inget pas mau olimpiade matematika.."
"Apa yang terjadi, Fan?" tanya Satria penasaran.
Fania menjawab dengan cepat,"Kak Iqbal sama Amayra waktu itu ke kunci di lab berdua!"
"Kata siapa berdua? Eng-enggak kok," Amayra terlihat gugup, apalagi melihat wajah suaminya yang tidak baik.
Pintar kamu Fan. Anna senyum sendiri melihat Satria cemburu.
"Ke kunci di lab? Berduaan aja?" tanya Satria dengan alis yang tertarik keatas.
"Iya bener tau berduaan aja, saat itu yang bukain pintu kan pak satpam yang lagi jaga malam. Untunglah Amayra sama kak Iqbal gak kenapa-napa, tapi.. pas keluar dari sana Amayra pake jaketnya kak Iqbal..terus-"
__ADS_1
Hup!
Anna langsung menutup mulut temannya yang dirasa sudah bicara terlalu jauh. Anna mulai takut melihat aura gelap dari Satria, mata tajamnya menusuk menatap Iqbal yang bahkan tidak bicara sepatah katapun. "Haha, udah Fan.. udah," Anna panik melihat mata tajam itu.
Aduh, gimana nih? Fania bicara terlalu banyak.
Laki-laki kalau sudah cemburu, mungkin tidak akan bisa tertahan lagi marahnya. Satria melepaskan tangannya dari Amayra, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Iqbal.
"Kak! Jangan!" Amayra berteriak, entah apa yang dia pikirkan.
"Om jangan!" Anna meminta Satria untuk tenang sampai memegang tangan om nya itu.
"Kamu apa-apaan sih An? Om mau gendong Rey. Pak Iqbal, bisa serahkan anak saya pada saya?" ucap Satria dengan suara yang dingin.
"Baik pak," jawab Iqbal sambil menyerahkan bayi itu pada ayahnya. Kini Satria yang menggendong Rey.
Amayra dan Anna menghela napas lega, mereka pikir Satria akan memukul Iqbal karena cemburu. Amayra juga sudah peka kalau suaminya cemburu, mengira mantan pacar yang disebut itu adalah Iqbal. Itu sebabnya Satria marah tidak jelas.
Mana mungkin kak Satria akan memukul kak Iqbal karena cemburu?Nanti aku akan bicara pada kak Satria untuk menjelaskan semuanya.
"May, ayo! Katanya mau ketemu sama ayah?" ucap Satria dengan suara tegas.
"I-iya kak," jawab Amayra patuh.
Amayra, Satria dan Rey pergi ke dalam rumah untuk menemui Harun. Tinggallah Iqbal, Fania dan Anna disana. Anna meminta maaf pada Iqbal karena ucapannya dan Fania sudah membuat pria itu tidak nyaman. Iqbal hanya tersenyum mendengar Anna meminta maaf padanya.
"Eh kenapa kakak malah senyum-senyum?" tanya Anna heran melihat Iqbal tidak marah dan hanya tersenyum.
"Gak apa-apa, aku malah berterimakasih banyak sama kalian. Karena kalian... aku bisa melihat kalau pak Satria mencintai Amayra, Alhamdulillah..aku senang melihatnya bahagia," ucap Iqbal sambil mengelus dada, dengan senyuman hangat dibibirnya.
Semoga kamu selalu bahagia May.
...*****...
Selepas shalat isya berjamaah, ustad Arifin dan Iqbal pamit pulang karena hari sudah semakin malam. Iqbal terus melihat ke arah Amayra dan Bram yang berdiri disamping Satria, niat hati ingin mengajak Amayra bicara. Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena ada Satria disana.
Kenapa ya pak Bram juga memiliki tatapan seperti itu pada Amayra?
Iqbal melihat Bram yang fokus pada Amayra dan Rey. Dia merasakan gelagat yang berbeda dari Bram pada Amayra dan Rey.
Kenapa sih dia terus melihat Amayra? Apa dia mau ngomong sesuatu?
Satria merasa tidak nyaman melihat istrinya ditatap oleh pria lain dihadapannya. Padahal tatapan Iqbal itu ditujukan pada Bram bukan Amayra.
"May, kamu ke kamar duluan sama Rey!" titah Satria pada istrinya.
"Ya udah kak, aku ke kamar duluan ya.."jawab Amayra patuh.
"Jangan dulu tidur sebelum aku datang ya," ucap Satria berpesan pada istrinya agar jangan tidur lebih dulu sebelum dia datang. Amayra mengangguk pelan dengan patuh pada suaminya.
Amayra pergi dari sana sambil membawa Rey berjalan menuju ke kamar mereka.
"Saya pamit dulu ya pak Cakra, pak Harun, pak Satria, pak Bram," ucap ust. Arifin berpamitan pada semua pria penghuni di rumah itu.
"Terimakasih ya pak ustad sudah menghadiri acara aqiqah cucu saya," ucap Cakra ramah.
__ADS_1
"Sama-sama pak," jawab ust. Arifin sambil tersenyum.
"Pah, biar Bram yang antar pak ustad sama pak Iqbal," ucap Bram ramah yang memiliki maksud lain mengantar ust. Arifin dan Iqbal.
Sambil diperjalanan, aku bisa mengobrol dengan ust. Arifin dan belajar agama darinya. Pelajaran dari buku sulit dimengerti.
"Maaf sebelumnya saya menyela, bukankah pak Iqbal ada yang mau dikatakan pada saya? Saya tidak keberatan jika kita bicara sekarang," ucap Satria tiba-tiba.
Iqbal terperangah mendengar ucapan Satria, karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah berkata ingin bicara dengan Satria. Ust. Arifin pun terpaksa harus pulang duluan karena dia harus menghadiri acara lain. Bram mengantarnya pulang lebih dulu. Sementara Iqbal masih berada di rumah itu, karena Satria mengajaknya bicara.
Satria mengajak Iqbal pergi ke halaman belakang rumahnya. Dia meminta Lulu menyajikan kopi untuk menemani mereka bicara, tapi Iqbal menolak kopi dan lebih memilih teh.
Mereka duduk di kursi yang saling berhadapan, kedua mata mereka bertemu dan saling beradu tajam. "Seingat saya, saya tidak mengajak bapak bicara?" tanya Iqbal lebih dulu.
"Maaf, tapi aku melihat dari matamu kalau kamu ingin bicara denganku."
"Sepertinya bapak salah paham," sangkal Iqbal.
"Oh jadi aku salah paham ya? Atau...jangan bilang kamu mau bicara dengan istri saya?" tanya Satria dengan suara tegasnya.
Iqbal tercekat, dia tidak bisa berbohong. "Benar, saya memang ingin bicara dengan Amayra,"
Satria mengepalkan tangannya dengan gemas, menahan si pitam yang sudah mulai naik itu. "Mau bicara apa dengan istri saya?" Satria mempertahankan ketenangannya yang mulai runtuh.
"Hanya menanyakan kabarnya saja, bapak Satria jangan salah paham," jawab Iqbal.
"Bagaimana aku tidak salah paham ketika pria lain mengirimkan surat cinta pada istriku?" Satria menyeringai. Dia menembak Iqbal dengan kata-kata dan membuat Iqbal tercekat.
"Maafkan saya, tapi itu bukan surat cinta.. saya tidak bermaksud membuat pak Satria tersinggung. Dulu saya berfikir kalau Amayra tidak bahagia, makanya saya menulis surat seperti itu. Amayra juga tidak membalas surat saya," jelas Iqbal jujur dan tenang.
"Oh begitu ya. Lalu sekarang apa yang kamu lihat? Apa Amayra bahagia?" Satria menanyakan pendapat Iqbal tentang Amayra.
"Saya melihat bahwa Amayra bahagia bersama pak Satria. Bapak juga terlihat mencintai Amayra," jawabnya jujur.
Satria tersenyum lega mendengar jawaban Iqbal, kemudian dia bertanya lagi pada pria itu tentang hal yang lebih pribadi. "Maaf aku bertanya seperti ini. Aku sangat penasaran, apa kalian dulu pernah saling berhubungan? Maksudku hubungan kekasih?" Satria tidak bisa menghentikan rasa penasarannya.
Iqbal tersenyum, kemudian dia berkata. "Kenapa bapak berfikir begitu? Saya dan Amayra tidak pernah berada di dalam hubungan seperti itu. Amayra mempunyai prinsip untuk tidak menjalin hubungan sebelum ta'aruf, jadi dia tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Saya memang menyukai Amayra, tapi itu hanya sepihak dan Amayra tidak menyukai saya seperti apa yang bapak pikirkan," jelasnya pada Satria. Suami dari cinta pertamanya.
"Aku tidak berfikir begitu! Aku yakin kalau istriku mencintaiku!" Seru Satria sedikit menyentak.
Syukurlah ternyata Amayra tidak pernah berpacaran. Satria lega didalam hatinya.
"Baiklah pak, saya tau. Apakah saya boleh bertanya juga pada bapak?" tanya Iqbal sopan.
"Silahkan," Satria mempersilahkan Iqbal bertanya.
"Apa pak Satria.... mencintai Amayra?" Iqbal ingin memastikan perasaan Satria pada Amayra. Dia ingin melepas Amayra karena yakin ada pria yang akan melindungi dan mencintainya.
Deg!
Satria tersenyum dengan hati berdebar mendengar pertanyaan Iqbal. Dia menghela napas dan menjawab tegas penuh keyakinan.
...*****...
Hai Readers! Maaf malam tuh mau update lagi, tapi ya ya.. ada insiden si mati lampu π€§ otomatis WiFi pun mati pas mau updateπ€§ Buat gantiin up kemarin yang gak jadi, hari ini up dua ya..Jangan lupa like, komen, seperti biasa ya readers ππ
__ADS_1