Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 184. Karena cinta


__ADS_3

Ken membawa Anna ke rumah sakit terdekat disana. Anna langsung diperiksa oleh dokter dan dokter mengatakan bahwa Anna mengalami reaksi alergi.


"Jadi teman saya pingsan karena alergi?"


"Benar, ini adalah reaksi alergi. Tapi kamu tenang saja, dia tidak apa-apa kok. Istirahat di rumah selama 2 hari dan rutin meminum obat.. insya Allah teman kamu akan segera sembuh." Jelas dokter itu sambil tersenyum ramah.


"Baik dok. Tapi teman saya alergi apa ya?" Tanya Ken yang ingin tau Anna memiliki alergi terhadap apa.


"Sepertinya teman kamu gak bisa makan pedas," jawab dokter wanita itu.


"Alergi pedas?" Ken terperangah mendengar Anna alergi dengan pedas.


Sudah tau alergi pedas, kenapa dia masih memakan lumpia yang pedas itu bahkan sampai menghabiskannya?


"Iya benar. Setelah teman kamu siuman dan botol infusnya sudah habis, dia sudah bisa pulang beristirahat di rumah saja. Tapi, ingatkan dia untuk makan dengan hati-hati...tidak boleh makan pedas lagi. Kalau tidak, akan berakibat fatal." Dokter itu kembali menjelaskan kondisi Anna.


"Baik dok, saya mengerti. Terimakasih," ucap Ken sambil tersenyum.


Dokter keluar dari ruangan itu. Ken duduk di kursi tepat disamping ranjang tempat Anna berbaring. Dia melihat Anna yang masih terbaring tidak sadarkan diri, dengan selang infus tertancap di punggung tangannya.


"Gue gak paham sama Lo, An. Lo tau Lo alergi pedas. Tapi masih aja Lo makan lumpia basah yang pedas itu. Dasar... benar-benar membuat orang khawatir," gumam Ken sambil menatap gadis itu dengan cepat. "Lo harus baik-baik aja,"


entah apa yang terjadi pada Ken, tiba-tiba saja tangannya terulur pada wajah Anna. Pria itu seperti ingin menyentuh wajah Anna. Dan benar saja, beberapa detik kemudian tangan Ken sudah menyentuh kening Anna dengan lembut.


Tangan itu mengusap kening Anna dengan perlahan-lahan. Ken merasakan perasaan tidak biasa ketika dia menyentuh Anna.


Aku tidak mengerti, perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Kenapa aku merasa cemas melihat kamu begini, An?


"Ken! Gimana keadaan-" Amayra dan Lisa sudah berada dibelakang Ken. Kedua wanita itu terkejut melihat Ken sedang membelai wajah Anna diiringi dengan tatapan tidak biasa.


Ken langsung menarik tangannya, dia beranjak berdiri dari kursi itu. "Kalian udah datang?" Ken langsung menatap ke arah Lisa dan Amayra seolah tak terjadi apa-apa.


"Iya, gimana keadaan Anna?" tanya Lisa cemas pada temannya itu.


Amayra melihat keadaan Anna, tangan dan wajah gadis itu masih ada bintik-bintik merah. "Apa Anna ada makan pedas?" tanya Amayra yang langsung tau keadaan Anna dengan sekali lihat. Dia tau sahabatnya tidak bisa makan pedas.


"Iya dia makan lumpia basah pedas," jawab Ken sambil menatap Anna dengan kening berkerut.


"Kok bisa sih? Dia kan tau dia gak bisa makan pedas!" Amayra bertanya-tanya kenapa Anna memakan pedas padahal dia sudah tau alergi pedas dan paling tidak bisa makan pedas walau hanya sedikit.


"Ya, itu juga yang gue gak ngerti. Dia tau dia alergi pedas dan gak bisa makan pedas, terus kenapa dia masih makan tuh lumpia basah? Gak ngerti, gue...gagal paham!" Ken terdengar seperti menggerutu, dia menggigit bibir bagian bawahnya dengan geram.


"Loh? Kenapa kamu jadi marah-marah, Ken?" tanya Lisa keheranan dengan Ken yang kesal.


Anna membuka matanya perlahan, dia melihat Amayra, Lisa dan Ken ada disana. Tubuhnya lemas dan gatal-gatal. "An, kamu udah siuman? Alhamdulillah...aku panggil dokter ya?" Amayra langsung melangkah, dia berniat memanggil dokter.


"Biar gue aja," jawab Ken yang langsung mendahului Amayra. Dia berjalan memanggil dokter untuk memeriksa Anna.


Lisa dan Amayra duduk di kursi yang ada disana. "An, kamu gak apa-apa?" tanya Amayra cemas.


"Aku dimana May?" Anna melihat ke arah sekelilingnya. "Sepertinya rumah sakit?"


Aku pasti pingsan dan Ken yang bawa aku kemari. Itu artinya dia udah tau dong kalau aku alergi pedas.


"Iya, kamu di rumah sakit. Kata Ken kamu makan pedas? Kenapa kamu makan sih? Kamu kan tau kamu gak bisa makan pedas?" Tanya Amayra pada Anna.


"Aku juga gak tau kenapa aku makan pedas walaupun aku tau, aku gak bisa makan pedas." Ucap Anna yang juga bingung dengan dirinya sendiri.


Aku ini bodoh atau bagaimana? Aku gak paham.


"Dasar, kamu ini ya! Gimana kalau kamu kenapa-napa?" Amayra terlihat sangat mencemaskan Anna.


Tak lama kemudian, Ken datang dengan dokter yang memeriksa Anna. Dokter mengatakan bahwa Anna bisa pulang ketika selang infusnya sudah habis. "Ken, kamu bisa pulang...biar aku aja yang jaga Anna. Sebentar lagi suamiku juga akan datang kemari," ucap Amayra pada Ken.


Ken menolak, "Gue disini aja."


"Tapi-" Amayra melihat Ken yang tetap berada disana untuk menahan Anna.


"Gue harus tanggungjawab."


"Ken, kamu pulang aja.. aku gak apa-apa kok. Kamu dengar kan apa kata dokter?"


Ken terlihat kesal bercampur cemas saat melihat Anna. "Mending Lo diem aja deh! Gue bakal ada disini sampai selang infus Lo abis, gue juga bakal antar Lo pulang!"


Lisa dan Amayra tersenyum, dia yakin bahwa Ken sedang mencemaskan Anna walau nada bicaranya sedikit sarkas. Amayra dan Lisa yang peka akan situasi, akhirnya pergi ke kamar mandi untuk meninggalkan Anna dan Ken berdua.


Kenapa aku jadi berduaan sama Ken disini? Amayra sama Lisa malah pergi.


"Ehm.. Ken.."


"Apa? Lo haus? Ah.. atau Lo mau makan pedas lagi?" Sindir Ken kesal.

__ADS_1


"Gak lah!"


"Lo mau mati ya? Kalau mau mati jangan bawa-bawa gue dong!" Ken menggerutu kesal.


"Maaf Ken, aku udah buat kamu kerepotan."


"Maaf? Lo bilang maaf?" Ken menatap tajam ke arah Anna.


"Ya, aku bilang maaf! Udah jangan marah lagi," Anna menundukkan kepalanya, dia takut melihat raut wajah Ken yang marah.


"Hah! Apa gue kelihatan lagi marah?" Ken menunjukkan jadi pada wajahnya sendiri.


"Kalau gak marah terus kenapa?"


Ken menghela nafas, "Bisa Lo jawab pertanyaan gue dengan jujur? Apa Lo bego?"


"APA? Ken.. kenapa kamu bilang gitu?" Anna tersentak kaget dengan pertanyaan Ken.


"Lo bego kan? Lo tau kalau Lo gak bisa makan makanan pedes. Tapi kenapa Lo tetap makan makanan pedas itu?!" Ken tidak paham dengan sikap Anna yang dianggapnya bodoh.


"Karena..karena itu makanan dari kamu. Kamu pertama kali membelikan aku makanan!" Seru Anna menjawab pertanyaan Ken dengan jujur.


Karena aku cinta sama kamu Ken, aku senang kamu kasih aku makanan. Jadi aku makan apapun yang kamu belikan untukku pertama kali, tapi aku gak tau bagaimana hati kamu.


"Apa?" Ken tercengang.


Anna terdiam, dia tidak bisa menjawab lagi. "Lo bilang apa Anna?"


"Gak apa-apa, anggap aja kamu gak dengar apa-apa." ucap Anna sambil berbaring di atas ranjang.


Ya ampun Anna, kenapa kamu ngomong kayak gitu?. Anna menyesali ucapannya pada Ken.


Aku tidak salah dengar kan? Anna bilang dia makan itu karena makanan itu aku yang membelikannya? Tapi kenapa?


...****...


Setelah selang infus Anna habis, Ken hendak mengantar Anna. Namun Satria dan Amayra yang membawa gadis itu kembali ke rumah Calabria.


Anna langsung beristirahat di kamarnya, tak lupa dia makan dan meminum obat. Tak ada satupun pesan atau telepon dari Ken. Ken sendiri sedang galau dengan perasaannya pada Anna. Ken sedang berada di studio bersama teman-temannya, dia terlihat melamun.


"Ken, ngapain Lo bengong gitu? Entar kesambet, Lo!" Seru Hans pada temannya yang melamun itu.


"Lo mau hubungin si Anna kan? Ya udah, telepon gih sana!" Ujar Arya pada Ken yang hanya memelototi ponselnya saja.


Dreet..


Dreet..


Ken mengira Anna yang menelponnya, tapi ternyata bukan. Wajahnya tampak kecewa ketika dia melihat nama yang tertera di ponselnya. "Kakak? Hah! Aku kira siapa." gumam Ken dengan suara pelan menunjukkan kekecewaan.


"Halo kak, ada apa?"


"Ken, kamu dimana sih?" tanya Keisha pada adiknya.


"Aku di studio."


"Cepat kamu pulang sekarang, Opa nyari kamu!"


Ken langsung beranjak dari tempat duduknya, "Opa? Bukannya opa ada di LA?" Tanya Ken tersentak kaget sampai kursi yang dia duduki jatuh ke lantai.


Gawat! Ada Opa disini, bisa jadi bencana.


Hans dan Arya melihat temannya dengan kening berkerut, bertanya-tanya ada apa dengan Ken.


"Opa udah balik dan katanya dia gak akan balik lagi ke LA. Untuk pertama kalinya aku beruntung karena aku seorang wanita," ucap Keisha sambil tersenyum menyeringai. Entah apa maksud ucapan Keisha pada adiknya itu.


"Haahhh.. ya udah, aku balik kak!" Ken langsung menutup telponnya dengan gelisah.


"Ken, kenapa Lo?" tanya Arya.


"Opa gue balik!" jawabnya singkat sambil memakai jaket kulitnya.


Arya dan Hans langsung tercengang mendengarnya. "Hah? Gawat dong!"


"Iya gawat."


"Semoga Lo selamat bro!" Kata Hans pada sahabatnya itu.


"Aamiin.. doain gue masih bisa ketemu kalian ya." Ken setengah merengek.


Ken pun segera pergi dari studio. Hans dan Arya tau tentang kakek Ken. Sikapnya keras dan tidak bisa di bantah, Ken yang pemberontak seperti ini karena didikan kakeknya yang keras. Dia menolak menjadi pewaris perusahaan Anggara dan ingin hidup sesuai keinginannya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Di tempat lain Amayra dan Satria sedang dalam perjalanan pulang. Mereka pulang kemalaman setelah shalat isya di rumah Calabria dan karena mengantar Anna.


"Sayang, apa kamu mau makan malam diluar?" Tanya Satria.


"Kita langsung pulang aja Mas, aku mau istirahat. Aku gak lapar kok, malas makan.." jawab Amayra sambil menghela nafas. Dia terlihat mengantuk dan kantung matanya tebal.


"Eh, kok bilangnya gitu sih? Ada dedek bayi di dalam perut kamu, masa kamu mau melewatkan makan malam?" kata Satria perhatian pada istrinya.


"Habisnya aku ngantuk Mas," jawab wanita itu sambil bersandar di bantal yang ada di tempat duduk mobil itu.


"Makan dulu sayang, kasihan...dede. Kamu mau makan apa? Aku beliin,"


Amayra menggeleng manja.


"Sayang, kamu harus makan." ucap Satria cemas.


"Aku belum lapar, malas makan." Amayra menolak untuk makan malam.


"Aku suapi kalau kamu malas." ucap Satria menawarkan diri. "Ah...gimana kalau kita beli martabak aja? Kamu kan suka martabak spesial telur bebek?"


Satria melakukan upaya apapun agar istrinya mau makan. Akhirnya Amayra mengatakan bahwa dia ingin makan nasi goreng, tapi nasi gorengnya ingin beli. Satria mengabulkan permintaan istrinya dan membeli dulu nasi goreng di pinggir jalan.


Sesampainya mereka di rumah, Amayra langsung merebahkan tubuhnya sambil tengkurap. "Sayang, jangan tengkurap gitu! Gak bagus untuk bayi kita. Ayo rebahannya ganti posisi aja." kata Satria pada istrinya.


"Ah...enak gini Mas," Amayra enggan beranjak setelah tengkurap.


Satria kesal dengan Amayra, dia pun menggendong istrinya dan membalikkan badan itu menjadi terlentang. "Ish!" dengus wanita hamil itu kesal.


"Jangan marah-marah terus, nanti anak kita jadi ambekan juga." Satria mencubit hidung Amayra dengan gemas.


"Iya Mas iya.. ya udah aku ke dapur ambil piring dulu ya," ucap Amayra sambil tersenyum. Dia berusaha mengendalikan emosinya.


Kenapa aku jadi emosian gini ya?


"Aku aja yang ambil ya sayang," ucap Satria. "Kamu tunggu aja disini sambil nonton film."


"Gak! Biar aku aja Mas, sejak aku hamil selalu saja kamu yang menyediakan segala untukku. Terus apa gunanya aku sebagai istri?" Amayra bicara dengan bibir mengerucut.


"Ya udah deh ya udah, aku tunggu disini. Kamu ambil piring, sendok sama gelasnya." Satria tersenyum pada istrinya.


Wanita itu mengangguk, dia berjalan ke arah dapur. Sementara Satria berada di ruang tengah sambil menyalakan Tv. "Wah ini drama kesukaan May,"


Walau Satria tak suka dengan drama Korea atau film India seperti kesukaan istrinya. Satria tidak keberatan menemani istrinya nonton film itu. "May! Cepat sayang, ini drama kesukaan kamu udah mulai nih. Si Jung Eun itu.. loh.. aku gak paham." Ucap Satria setengah berteriak pada istrinya.


"Kyaaaaakkk!!!"


Suara teriakan Amayra terdengar keras dari dapur, membuat Satria langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah dapur.


"Sayang!"


Satria melihat istrinya terduduk diatas lantai dengan baju dan tangan yang berdarah-darah. Tak jauh darinya ada sebuah kotak besar yang berdarah juga.


"Sayang, kamu kenapa? Darah ini..." Satria membantu Amayra berdiri, dia panik melihat darah di tangan dan baju istrinya.


"Mas..." Amayra terlihat syok, dia memeluk suaminya.


"Ini darah kamu? Apa yang terjadi, May?" Satria kebingungan melihat semua itu.


"Bukan darahku, tapi darah itu..." ucap Amayra sambil menunjuk ke arah kotak besar di bawah lantai.


Satria mendekati kotak itu, dia melihat ada kucing mati di dalamnya. Kucing itu bersimbah darah dan disana ada tulisan dengan darah, bahwa Amayra dan bayinya harus mati.


"Mas.. aku takut. Hiks..hiks.." Amayra memegang tangan suaminya dengan erat, tubuhnya gemetar. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


"Astagfirullah.. siapa yang melakukan ini?!" Satria terlihat kesal. Kejadian tadi pagi juga membuat Satria yakin bahwa semuanya bukan cuma kebetulan.


Setelah membantu Amayra membersihkan tubuhnya yang bersimbah darah kucing. Satria menyuapi istrinya yang tiba-tiba kehilangan selera makan itu. Dia tetap berusaha tenang agar Amayra tidak panik.


"May, satu suap lagi aja ya sayang?" Satria menyuapi istrinya. Membujuk Amayra untuk makan satu suap lagi.


"Gak Mas, udah.. aku mual...kalau aku teruskan nanti aku bisa muntah." Amayra masih terlihat tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika dia melihat darah dan masih terus terbayang di kepalanya.


"Ya udah, kamu minum susu dulu terus tidur. Kamu tenang aja, siapapun yang menganggu kita.. aku akan menemukannya dan membuat dia menyesal."


"Iya Mas," jawab Amayra dengan gelisah.


"Udah, kamu tenang ya sayang. Aku ada disini!"


Setelah Amayra tidur, Satria menelepon salah satu satpam di perumahan tempatnya tinggal itu.

__ADS_1


"Jika aku tau akan ada orang gila yang iseng, harusnya aku perketat penjagaan disini. Ya Allah...siapa orang gila ini?"


...-----*****-----...


__ADS_2