Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 219. langsung ke penghulu?


__ADS_3

"Mas Dimas, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan dengan cepat. Lagipula saya belum setuju!" Cakra melirik ke arah Ken, hingga membuat hati pria muda berusia 22 tahun itu berdebar kencang.


Serem banget opanya Anna. Ken bergidik ngeri.


"Apa maksudmu Cakra? Apa kamu menolak cucuku ini?" tanya Dimas dengan kening berkerut menatap Cakra.


"Mari kita bicara sambil duduk ya mas Dimas." ucap Cakra sambil tersenyum lembut menatap Dimas.


Mereka berlima duduk di salah satu meja restoran yang sudah dipesan oleh Dimas sebelumnya. Ditemani minuman dan makanan yang sudah tersaji diatas meja, mereka memulai obrolan tentang Ken dan Anna.


"Jadi, Cakra, Nilam... apa yang dilakukan cucuku ini? Kenapa kamu sangat marah padanya?" tanya Dimas pada Cakra dan Nilam.


"Pak Dimas, mereka berdua ketahuan berduaan di dalam kamar dan mereka mau..." Nilam tak berani bicara menjelaskan secara rinci, karena dia kesal.


"Oh gitu ya. Ken, apa yang kamu lakukan pada Anna didalam kamar, hah?!" Dimas menajamkan pandangannya pada Ken. "Jawab jujur!" seru Dimas tegas.


"Aku benaran gak ngapa-ngapain, opa." jawabnya dengan suara menciut.


"Gak ngapa-ngapain gimana? Baju Anna terbuka loh tadi, kalian berdua berbaring diatas ranjang dalam kondisi seperti itu....apanya yang gak ngapa-ngapain?" Nilam menatap tajam pada Ken yang sudah menyentuh cucunya.


"Kenan Anggara!!" Dimas membentak cucunya itu.


"I-iya opa, aku mencium Anna dan membawanya ke kamar...aku memang berniat untuk melakukan itu, tapi tidak jadi karena Anna mengingatkan ku." Ken menjelaskan dengan jujur apa yang terjadi di rumah Calabria bersama Anna.


"Benarkah? Kenan, Anna?" Dimas melirik ke arah Anna dan Ken secara bergantian.


Pasangan muda-mudi itu mengangguk dengan wajah polos mereka. Dimas dan Cakra pun mulai bicara serius, mereka sepakat daripada mereka berbuat zina lebih baik keduanya segera menikah.


Ken dan Anna terkejut karena kedua orang tua itu sepakat menikahkan mereka. Dalam hati mereka senang tapi mereka juga bingung. Pasalnya mereka masih terlalu muda untuk menikah. Usia Anna 20 dan Ken 22 tahun.


"Aku tidak menyangka kita akan menjadi besan dengan cara seperti ini." kata Dimas sambil tersenyum bahagia, dia akan berbesanan dengan junior di kampusnya dulu.


"Haha...jujur saja ya mas, kalau anak ini bukan cucu mas Dimas, saya gak akan kasih izin!" Cakra tertawa sambil bercanda dengan Dimas.

__ADS_1


"Haha bisa aja kamu Cakra." Dimas tertawa-tawa bersama Cakra.


Sementara itu Anna izin ke kamar mandi, dia terlihat resah. Ken menyusulnya dengan alasan pergi ke kamar mandi. Ken dan Anna pun bicara didekat lorong toilet.


"Ternyata kamu paham kenapa aku pergi izin ke toilet." Anna menatap Ken sambil menghela nafas.


"Ya, aku paham karena aku juga ingin bicara sama kamu An." Ken terlihat gelisah.


"Jadi, apa kamu menerima pernikahan ini?" tanya Anna pada kekasihnya itu.


"Aku senang menikah dengan kamu, tapi aku rasa waktunya terlalu cepat!"


"Ken, kamu sepemikiran denganku. Kita masih muda, kita belum lulus kuliah...kamu belum bekerja dan aku belum berkarir."


"Ternyata pikiran kita sama. An, bagaimana caranya menggagalkan pernikahan ini?" Ken terlihat berpikir.


"Sepertinya tidak bisa, opa sangat tegas dan keputusannya gak bisa diganggu gugat."


"Lalu, apa kita akan ke penghulu saja pada usia seperti ini?" Ken menatap Anna dengan resah. Ya, dia memang sangat mencintai Anna tapi untuk menikah rasanya terlalu cepat. "An, gimana kalau kita sarankan pada kedua opa kita untuk bertunangan lebih dulu?"


*****


Sementara itu Amayra, Bram dan Diana berada dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Mereka membawa Satria juga dan dipindahkan ke rumah saja untuk dirawat disana.


Amayra tidak mau jauh dari suaminya itu, dia akan merawat dan menjaga Satria sampai dia siuman dan membuka matanya kembali.


"May, kamu tenang ya? Satria kan sudah kembali pulang, kamu jangan stress...kasihan bayi kamu." Ucap Diana yang melihat Amayra terus cemberut duduk di kursi belakang


"Insya Allah kak, kalau ada mas Satria disisiku...aku dan anakku akan tenang." ucap Amayra sambil mengepalkan tangannya dengan gemas, dia kesal karena mengingat Bima yang berpura-pura jadi Satria. "Tapi dia benar-benar keterlaluan...penipu.." gumam Amayra kesal.


"May, kamu masih marah sama Bima?" tanya Bram yang tak sengaja mendengar gumamam Amayra itu. Tangannya sibuk menyetir mobil.


"Iya, aku marah karena dia menipuku sampai aku berbuat dosa mengkhianati mas Satria...aku kesal sekali." Gerutu wanita hamil itu geram.

__ADS_1


"Aku paham kenapa kamu marah, tapi Bima tidak sengaja melakukan itu...dia punya alasan kenapa dia melakukannya?"


"Alasan apa itu kak? Apa itu bisa diterima?" Amayra masih kesal dan gemas.


"Dia berpura-pura menjadi Satria karena dia sangat mencemaskan kamu dan bayi kamu. Saat itu keadaan kamu dan si baby masih belum stabil, jadi dia terpaksa berpura-pura menjadi Satria agar keadaan kamu dan anak kamu stabil." jelas Diana yang juga membela Bima karena sebenarnya Bima adalah orang baik.


"Iya sih itu benar... tapi aku..."


Aku merasa sudah mengkhianati mas Satria, saat itu aku menciumnya. Astagfirullahaladzim...


"Jangan terlalu menyalahkan dia May, dia kan gak berbuat jahat sama kamu dan bayi kamu. Maafkanlah dia ya? Masa kamu lupa ayah Alquran yang Berkaitan dengan hal memaafkan, ada di dalam Al Qur'an Surat Al Baqoroh : 237 bahwa memaafkan itu lebih utama dan sifat pemaaf mendekatkan manusia kepada taqwa." jelas Bram mendorong dan memberikan pencerahan kepada Amayra untuk memaafkan Bima.


"Astagfirullahaladzim...baiklah kak, terimakasih atas pencerahannya. Insya Allah aku akan memaafkannya, aku harus melakukannya." ucap Amayra sambil mengelus dada.


Sesampainya di rumah Calabria, Satria dibawa oleh petugas medis di ambulan ke dalam kamar. Mereka memasang alat-alat medis pada tubuh Satria yang sedang koma.


"Sayang, lihatlah? Papa sudah ada disini...kalian senang kan?" tanya Amayra pada perut buncitnya itu sambil tersenyum.


"Kamu tenang saja ya May, kami akan bantu kamu merawat Satria." ucap Cakra sambil tersenyum seraya menenangkan menantunya itu.


"Makasih pa," jawab Amayra sambil tersenyum. "Oh ya pa, daritadi aku gak lihat mama?" Amayra menanyakan keberadaan Nilam karena Nilam tidak terlihat menyambut kedatangannya dan Satria.


"Mama kamu lagi di kamar, dia lagi gak enak badan."


"Innalilahi...mama sakit apa pah? Apa sudah dibawa ke dokter?"


"Gak usah ke dokter May, mama akan sembuh dengan sendirinya. Dia pusing karena Anna."


Bram dan Diana keheranan mendengar ucapan papanya dan menanyakan kenapa sakitnya Nilam karena Anna?


"Kami memutuskan menikahkan Anna dan Ken." jawab Cakra sambil menghela nafas beratnya.


"Apa? Menikah? Anna dan Ken?" Bram, Diana dan Amayra terkejut mendengar berita pernikahan itu.

__ADS_1


...,****...


__ADS_2