Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 164. Pilihan hati


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bu Nilam masuk ke dalam kamar rias Diana, dia menyambut ramah wanita yang akan menjadi menantu barunya itu. Wanita yang akan menjadi istri Bram, anak sulungnya. Segala diberikan Nilam untuk calon menantunya ini. Dari mulai pernikahan mewah, sampai mahar yang besar.


Nilam sempat bertanya seminggu sebelum pernikahan, mahar apa yang diinginkan Diana. Janda yang masih perawan itu hanya ingin seperangkat shalat dan Al-Qur'an berada didalam maharnya. Nilam mengabulkannya, namun dia tetap memberikan mahar yang ingin diberikannya pada Diana.


Bram juga memberikan segala yang di inginkan Diana, walaupun Diana tak meminta apapun dari Bram selain cintanya. Karena ini adalah pernikahan pertama baginya, pernikahan yang resmi dan dihadiri semua orang. Dilakukan secara meriah.


"Diana..." panggil Nilam pada Diana.


"Ma," Diana langsung beranjak dari tempat duduknya begitu Nilam mendekat dengan mertuanya.


Amayra dan Rey juga menyambut Nilam dengan senyuman hangat.


"Kamu cantik sekali, Diana." Nilam memuji Diana yang cantik dengan kebaya berwarna putih itu.


"Alhamdulillah, terimakasih Ma." Jawab Diana sambil tersenyum.


"Diana, Mama mau bilang sesuatu sama kamu. Ini tentang Bram.."


"Ya Ma.." Diana bersiap mendengarkan apa kata ibu mertuanya dengan senang hati. Apalagi jika itu tentang calon suaminya.


"Bram, dia tidak suka susu. Dia suka minum kopi, dia tidak suka tidur tanpa memeluk guling, Bram tidak terlalu suka makanan berlemak, dia selalu berolahraga di pagi dan sore hari. Setiap Minggu kadang dia suka ke gym bersama teman-temannya. Bram sangat suka dengan orek tempe dan Bram juga suka nasi goreng tapi tanpa kecap. Dia tidak terlalu suka seafood dan dari kecil dia sangat benci pepaya. Bram itu


.."


Tiba-tiba saja Nilam terdiam, air matanya jatuh membasahi pipi. "Ma.." Diana dan Amayra mengerutkan keningnya, mereka heran melihat Nilam menangis.


"Mama gak apa-apa. Mama hanya bahagia, karena akhirnya Bram mendapatkan istri yang baik dan Mama juga mendapatkan menantu yang baik. Diana, makasih ya sudah datang ke dalam kehidupan kami.. makasih.." ucap Nilam sambil menangis terisak.


"Ma, mama jangan nangis. Ini kan hari bahagia kak Bram dan kak Diana. Mama harus senyum ma, nanti make up nya luntur." Goda Amayra sambil tersenyum pada ibu mertuanya itu. Amayra memberikan tisu kering pada Nilam.


"Hehe, kamu benar. Mama harus tersenyum bahagia, kalau mama nangis.. nanti mama gak cetar dan membahana lagi." Nilam menyeka air matanya dengan tisu kering.


"Iya Ma.. Mama gak usah khawatir, aku akan menjaga Bram dengan baik. Terimakasih Mama sudah mendukung hubungan kami dan menerima semua kekurangan Diana," ucap Diana yang merasakan haru, karena Nilam masih mau menerima dia yang berstatus seorang janda.

__ADS_1


"Enggak, kamu sempurna untuk Bram. Mama yang harusnya berterimakasih karena kamu mau menerima anak Mama yang banyak berbuat kesalahan di masa lalu. Kamu berbaik hati menerima masa lalunya," ucap Nilam sambil tersenyum.


"Tidak Ma. Jangan bilang gitu, ini sudah kewajiban Diana untuk menerima dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Diana sayang sama Mas Bram dan Diana siap untuk menerima Bram apa adanya. Begitu juga dengan Bram pada Diana," ucap Diana penuh ketulusan hati.


Nilam tersenyum, kemudian dia memeluk Diana dan Amayra. "Terimakasih Ya Allah, kalian sudah menghadirkan dua berlian dalam kehidupan kedua anakku." Kata Nilam sangat bersyukur dengan kehadiran Amayra dan Nilam.


"Papapa.. haoo..papapa.." Rey bersuara dan mengoceh seperti biasanya. Dia membuat semua orang di ruangan itu tersenyum karena tingkahnya yang gemas.


Setelah itu Diana dibawa keluar dari ruangan itu untuk segera melakukan proses ijab kabul bersama Bram. Pilihan hatinya itu.


Anna dan Fania menjadi pengiring pengantin. Fania memegang kebaya panjang yang dikenakan Diana, sementara Anna menggandeng tangan Diana. Sementara Bram, sudah menunggu pengantinnya dan duduk didepan penghulu. Satria bertugas sebagai saksi pernikahan kakaknya itu.


Bram terpana melihat cahaya di wajah calon istrinya. Diana yang selalu tampil polos tanpa make up, kini wanita itu memakai riasan wajah yang membuat dirinya semakin berkilau.


Diana sangat cantik, tapi aku lebih suka dia tanpa make up. Meski keduanya sama-sama cantik sih. Gerutu Bram dalam hatinya.


Wanita itu tersenyum cerah, dia memandang ke arah Bram yang sedang duduk menunggunya disana. Dia terus berjalan mendekat ke arah Bram.


Entah apa yang terjadi pada Bram, dia berdiri dan melangkah ke depan. Seolah terhipnotis oleh wanita didepannya itu, hingga tak berkedip.


"Ehem, aku gak apa-apa kok Sat." Pria itu kembali memasang gaya cueknya.


Satria tersenyum-senyum melihat sikap Bram yang jaim itu. Namun dia juga iri pada Bram karena sempat merasakan perasaan gugup saat menikah dengan seseorang. Dulu Satria tidak merasakan itu pada Amayra saat pernikahan mereka. Karena Satria dulu merasa dipaksa menikah dengan Amayra.


Tapi kini, Satria merasa sangat bahagia mendapatkan istri cantik, sholehah seperti Amayra. Harusnya dulu dia menyambut Amayra dengan bahagia bukan dengan sikap dingin dan ketusnya.


Kalau tau aku akan bahagia menikah denganmu, harusnya aku bersikap lebih baik saat kita pertama menikah dulu. Tapi, aku malah mengabaikanmu. Satria menatap Amayra yang sedang duduk bersama Rey, Nilam dan bibi Diana. Keluarga satu-satunya yang Diana miliki.


Akhirnya Diana sampai dan duduk juga di samping Bram. Berhadapan dengan wali Diana dan penghulu yang bersiap untuk mengsahkan pasangan itu. Disana terlihat banyak tamu yang ingin ikut melihat momen bahagia Bram dan Diana.


Penghulu itu memulai ijab kabulnya bersama Bram. Meski bukan pernikahan pertama dan pernah menikah dengan Alexis, namun dia merasa deg degan saat mengucapkan ijab kabul itu.


Diiringi dengan bismilah dan diakhiri dengan Alhamdulillah, Bram resmi menikahi Diana. Menjadikan wanita itu sebagai permaisuri di hidupnya, pilihan hati tuk selamanya.


Semua orang disana mengucap syukur alhamdulilah dan selamat atas sahnya Diana dan Bram yang telah resmi menjadi pasangan suami istri itu.

__ADS_1


"Diana, bolehkah?" Bram bertanya pada Diana untuk mengecup keningnya.


"Aku sudah jadi milikmu Mas," jawab Diana sambil menyembunyikan senyuman malunya.


Tangan Bram meraih wajah cantik Diana, kemudian dia membenamkan bibirnya pada kening Diana dengan lembut penuh kasih sayang.


Tak lupa seorang fotografer mengabadikan momen penting itu lewat kameranya. Senyuman bahagia keluarga terlihat jelas, semua tampak rukun. Para tamu berdatangan ke acara resepsi pernikahan mereka, Diana, Bram dan kedua orang tua Bram sibuk menyambut tamu.


Sementara Satria, Amayra dan Rey duduk di kursi tamu. Fania sedang menggendong Rey. "Lucu banget sih kamu anak gemoy.. cepet gede ya, terus nikah sama Tante." Fania mencium pipi Rey dengan gemas.


"Hahahaha, kenapa kamu mau nikah sama Rey? Rey ku masih kecil, tau!" Seru Amayra sambil tertawa kecil.


"Gak apa-apa, setelah kupikir pikir mending berondong aja deh yang penting ganteng dan setia."


"Astagfirullah," Satria menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Mereka bercanda tawa bertiga, sementara Anna hanya sendirian berada disisi lain. Dia masih terlihat kesal pada Amayra, entah kenapa. Apa itu karena Ken ataukah apa?


Fania juga merasa bahwa Anna sedikit berubah dan tidak seperti Anna yang dulu. "Oh ya May, pak Satria...kali-kali main dan mampir dong ke restoran tempat aku bekerja."


"Boleh, nanti saya akan ajak istri saya kesana." Kata Satria sambil tersenyum.


Anna kenapa jadi seperti itu ya?


Satria menatap Anna dengan keheranan. "Mas, mas belum makan siang kan? Aku ambilkan makan siang ya Mas," ucap Amayra sambil tersenyum melihat ke arah meja prasmanan yang penuh dengan makanan.


"Biar aku aja yang ambil sayang," ucap Satria.


"Aku saja.. Mas sama Fania jagain aja Rey."


"Oke," jawab Satria.


Saat Amayra berjalan ke meja prasmanan, dia berpapasan bahkan bertubrukan dengan Ken.


...-----****----...

__ADS_1


__ADS_2