Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 23. Cinta itu buta


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Alexis berteriak memanggil nama tunangannya, dia tidak memakai alas kaki, di dalam cuaca dingin wanita itu berlari mengejar Bram. Pakaiannya sangat terbuka, dia hanya mengenakan kemeja dan segitiga pengaman. Membuat semua perhatian orang tertuju padanya.


"Bram! Bram tunggu, sayang!! Kamu salah paham!!"


Tidak, aku tidak boleh kehilangan Bram! Aku harus putar otak.


Bram sudah berada di depan mobilnya, wajahnya terlihat marah. Ketika dia akan membuka pintu mobilnya, terdengar teriakan seorang wanita dibelakang Bram.


"Aaaahhhh!!"


Alexis?


Bram terdiam, kedua matanya membulat. Dia menoleh ke arah belakang, terlihat lah tunangan nya duduk di aspal dengan lutut yang terluka berada di depan mobil.


"I'm sorry, are you all right?" tanya seorang pria pengemudi mobil itu.


"Huhu..sakit..," Alexis merintih kesakitan, wajahnya memelas ingin dikasihani oleh Bram.


Aku tidak percaya, kalau kamu akan mengabaikan aku Bram.


Bram menghampiri Alexis, dia dan pria bule itu bicara memakai bahasa Inggris. Menyelesaikan masalah, bahwa pria bule itu tidak sengaja menabrak Alexis dan meminta maaf pada Alexis. Sebaliknya Alexis juga meminta maaf pada pria bule itu karena ia yang sudah melintas di jalan sembarangan.


"Kamu gak apa-apa?"tanya Bram perhatian.


"Kaki ku sakit Bram, aku gak bisa jalan," ucap wanita itu manja.


Bram menggendong Alexis, dia menatap tunangan nya dengan cemas."Aku bawa kamu ke rumah sakit ya?"


Aku tau Bram, kamu masih peduli padaku.


"Kita kembali ke hotel tempatku menginap saja, aku akan jelaskan semuanya padamu, tentang siapa pria yang bersamaku tadi."


"Baiklah," Bram patuh seperti biasanya, walaupun wajahnya masih terlihat marah. Namun dia masih peduli pada Alexis.


Mereka pun berada di kamar hotel tempat Alexis menginap, disana masih ada pria itu. Kini pria bule itu sudah memakai pakaian lengkap.


Alexis mengedipkan mata diam-diam pada pria itu seraya memberikan nya isyarat. Pria bule itu memperkenalkan dirinya pada Bram.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Vincent, saya adalah saudara sepupu Alexis dari pihak ibu." Vincent tersenyum kemudian berjabatan tangan dengan Bram.


Bram masih menatap curiga pada Vincent. "Saya benar-benar saudara sepupu Alexis," Vincent bicara lagi.


"Sayang, dia benar-benar kakak sepupuku!" Alexis berusaha bicara pada pria yang diam saja itu.


"Lalu kenapa kamu dan dia tidak berpakaian lengkap?" tanya Bram tajam.


Apa benar mereka saudara sepupu?


Alexis tersenyum dan menepuk bahu tubuh pria bule itu, "Tuh kan Vincent, aku bilang juga apa! Jangan suka buka baju kalau lagi olahraga,"


"Habisnya aku gerah, kamu juga kalau lagi tidur harusnya pakai celana panjang. Jadi tunangan kamu salah paham kan! Maafkan saya pak Bram, saya benar-benar saudara sepupu Alexis, kalau anda tidak percaya saya sudah..."


"Sayang, kamu darimana saja?" seorang wanita menghampiri Vincent dan menggandeng tangannya dengan mesra.


"Bram sayang, kenalkan ini adalah istri kak Vincent." ucap Alexis sambil tersenyum lebar pada Vincent dan wanita itu.


Bram terdiam, dia telah salah paham pada Alexis dan Vincent. Akhirnya dia yang meminta maaf pada tunangan nya itu. Mereka pun bicara di balkon kamar hotel tentang hubungan mereka, sambil mengobati lutut Alexis yang terluka.


Dengan perhatian Bram, mengobati kaki Alexis perlahan-lahan. Alexis tersenyum memandangi pria yang duduk berlutut di bawah kakinya dan mengoleskan plester di lututnya.


Untunglah aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Jadi Bram tidak tau, ternyata memang benar cinta itu bisa membuat orang jadi bodoh dan buta.


MUACHH!


Kecupan manis dari bibir Alexis mendarat di bibir Bram. Pria itu benar-benar sudah terbuai oleh cintanya pada Alexis. Kecantikan wanita itu sudah menggoda dan meruntuhkan pertahanan logika nya.


"Aku pikir kamu masih marah padaku, Alexis.. maafkan aku.. sungguh aku tidak sengaja menghamili wanita itu. Kamu tau kan kalau aku hanya mencintai kamu?" Bram mengambil tangan Alexis dan menggenggam nya. Matanya menatap penuh cinta kepada tunangannya itu.


Alexis menundukkan kepalanya,"Benarkah kamu masih mencintai ku? Kamu tidak mencintai gadis itu?"


"Tentu saja tidak sayang, mana mungkin aku mencintai bocah kampungan itu? Aku cinta sama kamu, makanya aku kemari untuk menjelaskan semuanya padamu...sayang,"


"Iya aku percaya kok kalau kamu tidak mungkin mengkhianati ku.Tapi, dia sedang hamil anakmu.. pasti dia meminta pertanggungjawaban kan?" Alexis khawatir dengan posisi nya sebagai tunangan Bram akan terancam karena Amayra.


"Iya dia memang meminta pertanggungjawaban, tapi aku tidak bisa menikah dengannya. Aku kan sudah punya kamu. Aku bahkan rela meninggalkan semua yang ku miliki untuk kamu seorang, sayang." Bram mencium punggung tangan Alexis.


Apa maksudnya meninggalkan semuanya?

__ADS_1


"Sayang.. aku percaya sama kamu. Jadi, kamu akan menikahi ku, bukan?" tanya Alexis sambil tersenyum genit. Menunjukkan kemolekan tubuhnya dengan gerakan manja.


"Aku akan menikahi kamu secepatnya. Aku tidak peduli dengan bocah itu maupun bayinya, tidak peduli mereka mau mati atau hidup. Hanya kamu satu satunya wanita yang akan melahirkan anakku sayang," tangan Bram memegang pipi Alexis, dia menatap Alexis penuh cinta. Sebaliknya di wajah Alexis tersirat sesuatu yang aneh.


"Aku mau menikahi denganmu, tapi kita harus kembali ke Jakarta."


"Kenapa? Kita bisa hidup berdua saja disini, hidup bahagia."


"Disana kan tempat kamu bekerja, kita tidak bisa tinggal disini sayang.."


"Aku sudah meninggalkan pekerjaan ku, untuk kamu."


Kalau Bram meninggalkan pekerjaan nya? Lalu apa yang bisa aku harapkan darinya? Alexis terpana, mendengar Bram meninggalkan pekerjaan nya.


"Sayang, kita bisa menikah kalau kamu kembali bekerja. Kamu kan harus menafkahi ku dan anak kita nanti,"


"Kalau itu mau kamu, baiklah.. kita kembali ke Jakarta. Sekalian meminta persetujuan papa dan mama ku untuk menikahi mu,"


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, dia berpelukan dengan tunangannya. Dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


***


Keesokan harinya, Satria terbangun di sofanya dengan kondisi tubuh ditutupi selimut. Dia melihat istrinya masih memakai mukena yang warnanya memiliki arti kesucian.


"Ehm.." Satria mengerang sembari membuka matanya dan beranjak duduk di sofa itu.


"Kakak, sudah bangun?" tanya Amayra sambil melepas mukena.


"Hem, iya.. kenapa kamu juga sudah bangun? Bukankah ini masih belum pagi?" tanya Satria sambil menguap, dan membuka matanya lebar-lebar.


"Memang belum kak, aku baru saja selesai shalat subuh."


"Kamu tidak memintaku shalat subuh seperti sebelumnya?"


"Kakak kan sudah baligh, sudah dewasa, sudah tau mana yang wajib dan yang tidak. Aku tidak perlu mengingatkan kakak," Amayra tersenyum pada suaminya, "Oh ya, aku sudah menyiapkan baju untuk kakak bekerja." ucap nya lembut.


"Kata-kata mu pedas sekali, seolah-olah aku seperti tidak pernah shalat saja! Aku akan shalat, ambilkan sarung yang ada di dalam lemari. Aku mau wudhu dulu.." Satria beranjak dari tempat duduknya dan melangkah dengan gaya cueknya menuju ke kamar mandi.


Langkahnya terhenti ketika dia memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Ya Allah, aku bahkan lupa doa berwudhu dan urutannya. Masa aku meminta bantuannya?


...---***---...


__ADS_2