
...🍀🍀🍀...
Aku bukan anak kandung mama Nilam? Aku anak istri kedua papa? Pantas saja selama ini aku selalu diperlakukan berbeda dengan kak Bram. Satria sakit hati, matanya terlihat murka dan sedih.
Satria berjalan cepat pergi ke kamarnya, Amayra mengikuti suaminya dari belakang. Cakra dan Anna juga mengikuti Satria. Dia berfikiran kalau Satria akan pergi dari rumah itu. Dan benar saja, Satria langsung membuka lemari bajunya. Dia masih diliputi kemarahan yang membara akan kenyataan yang sulit dia terima. Dalam keadaan lelah dia harus mendengarkan semua fakta tentang dirinya, yang hanya anak dari istri kedua. Pahitnya lagi, Nilam ternyata bukan ibu kandung nya.
"Satria, kamu mau apa? Kenapa kamu-" Cakra terlihat panik melihat anak nya memindahkan baju-baju ke dalam koper.
"Kak, tolonglah tenang dulu. Papa terlihat cemas.." Amayra melihat ayah mertuanya yang terlihat panik.
"Kamu jangan diam saja! Cepat bereskan barang-barang mu juga!" Titah Satria pada istrinya.
"Satria, kita bicarakan dulu dengan kepala dingin. Kamu jangan langsung mengambil keputusan dengan terburu-buru! Dengarkan dulu penjelasan papa!" Cakra berusaha menjelaskan semuanya pada Satria. Namun Satria tidak menanggapi nya sama sekali, dia sudah terlanjur marah dan syok dengan fakta yang dikatakan Nilam. "Amayra, tolong beritahu suami kamu! Jangan mengambil keputusan yang gegabah seperti ini!"
"Iya Pah. Kak, tenanglah dulu ya..." Amayra memegang tangan suaminya, seraya menenangkan nya.
Nilam berdiri di dekat pintu, "Baguslah kalau kamu sadar diri, pergi saja dari sini dan sekalian bawa istri sampah mu juga!" Ucapnya sinis.
"Nilam! Jaga bicara mu!" Teriak Cakra dengan mata melotot tajam ke arah istrinya.
Satria masih sibuk membereskan barang-barang nya. Amayra terlihat bingung, dia tidak bisa membujuk Satria yang masih marah dengan keadaan. Wajar saja Satria marah, dia pasti syok untuk menerima kenyataan ini.
"Kak, tenanglah dulu!" Seru Amayra setengah berteriak.
Ya Allah, gimana ini..kak Satria tidak mau mendengarkan ku.
"Om Satria! Om jangan pergi om! Anna mohon om.." Anna juga ikut membujuk Satria untuk tidak meninggalkan rumah itu.
Ketika Satria sudah membereskan baju dan barang-barang ke dalam kopernya, dia mengajak Amayra pergi dari sana. Kemanapun Satria pergi, maka Amayra sebagai istrinya harus ikut dengannya. Amayra menurut saja ketika di mintai oleh Satria pergi dari rumah itu. Cakra dan Anna berusaha membujuk Satria dan Amayra untuk tidak pergi, bahkan sampai memohon.
__ADS_1
Ketika asangan suami istri itu sudah keluar dari rumah, tubuh Amayra roboh. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. "Uh.." rintih nya kesakitan
GREP!
Satria memegangi tubuh istrinya."May, kamu kenapa?" tanya Satria cemas.
"Gak tau kak, kepalaku pusing banget." Jawab Amayra sambil memegang kepalanya.
"Om, Mayra pasti lemas karena dia habis muntah-muntah. Lebih baik om bawa Mayra ke dalam dulu untuk istirahat. Kasihan Mayra." Anna memegang Amayra.
"Iya Anna benar, kasihan Amayra kalau dia harus pergi malam ini dari rumah. Seperti nya Amayra sudah tidak kuat berjalan." Ucap Cakra khawatir, dia memanfaatkan juga situasi agar Satria tidak pergi dari rumah itu.
"Baiklah, kita pergi besok saja. May, apa kamu bisa jalan?" tanya Satria cemas.
"Aku bisa kok, papah saja aku kak," jawab Amayra.
Ya Allah maafkan aku telah berbohong, aku hanya tidak ingin kak Satria pergi begitu saja dan membuat papa Cakra sedih. Bagaimana pun juga masalah tidak akan selesai kalau mereka tidak bicara. Amayra merasa berdosa karena berbohong pada Satria.
Kini Amayra dan Satria hanya berdua saja di dalam kamar itu. Satria mengambilkan air minum untuk Amayra. "May, minum dulu." Satria menyodorkan segelas air minum pada istrinya.
"Seperti nya kakak yang harus meminum nya lebih dulu. Wajah kakak terlihat merah dan tidak baik." Amayra beranjak duduk di ranjang nya, di duduk tak jauh dari tempat suaminya duduk.
Satria terdiam, dia menyimpan kembali gelas air minum itu di atas meja. Amayra terlihat bingung, bagaimana cara agar dia bisa menghibur suaminya yang sedang sedih. "Kak..aku tidak tahu cara menghibur orang, tapi aku tau setiap masalah yang kita hadapi pasti ada hikmahnya. Mungkin sekarang kakak marah, kakak syok, dan kakak bisa menumpahkan semuanya. Jangan malu untuk menangis, aku bersedia mendengarkan semua keluhan kakak." Amayra tersenyum lembut pada suaminya, dia berusaha mengucapkan kata-kata yang membuat suaminya tenang.
Satria menengok ke arah istrinya dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangan Satria mendekap tubuh Amayra. Dia menangis di bahu istrinya, mengingat masa lalu pedihnya. Tangan Amayra menepuk-nepuk punggung Satria. Satria menangis tanpa suara, tangannya memeluk Amayra.
"Tidak apa-apa kak, keluar kan saja semuanya." Amayra tersenyum lembut, dia mengelus punggung itu dengan penuh kasih sayang.
"Pantas saja, selama ini mama selalu bersikap seperti itu. Ternyata aku bukan anak kandung nya, bagaimana ini May.. orang yang aku anggap sebagai ibuku ternyata bukan ibu kandungku. Dan ibu kandungku adalah selingkuhan papa?"
__ADS_1
Baru pertama kali Amayra melihat suaminya begitu rapuh. Fakta ini sangat menyakiti hatinya yang selama ini selalu beranggapan Nilam sebagai mama nya.
#Flashback
Ketika masih kecil Satria dan Bram sering berkelahi, entah itu karena mainan atau kasih sayang. Satria kecil sangat nakal dan selalu menganggu Bram yang cengeng. Saat itu Satria berusia 5 tahun dan Bram berusia 9 tahun.
"Ini mainan ku!" kata Satria kecil sambil mengambil robot-robot an yang sedang dipegang kakak nya.
"Enggak ini punyaku! Kamu dasar pencuri!" Seru Bram yang tidak mau mengalah pada adik nya. Dia menarik robot-robotan itu dari tangan adiknya.
BRUK!
Satria mendorong Bram dengan kasar sampai Bram jatuh dan dia berhasil mendapatkan mainan itu. Mendengar keributan itu, Nilam turun ke lantai bawah. "Ada apa ini? Pasti kamu buat ulah lagi kan! Kali ini apa yang kamu lakukan pada kakak mu, hah?!" Nilam langsung lontarkan pertanyaan yang menuduh pada Satria.
"Tapi aku gak sengaja ma..aku cuma mau ngambil robot ini." Satria kecil berbicara dengan bibir mengerucut, dia memang sengaja berbuat nakal untuk menarik perhatian mama nya.
"Bohong ma! Lihat nih lutut aku sampai tergores, dia sengaja!" Bram menyalahkan Satria, lutut nya tergores sedikit oleh lantai.
"Kamu benar-benar ya! Dasar anak tidak tahu di untung, kamu!" Nilam menjewer kuping Satria dengan kasar. Nilam terlihat benci pada Satria. Ketika Satria meminta ampun pada Nilam, wanita itu tak mendengarkannya. Dia menghukum Satria dan mengurungnya di ruang gelap tanpa makan dan minum, hal itu dia lakukan saat suaminya tidak ada di rumah.
Bukan hanya itu saja, Satria bahkan selalu dibanding bandingkan dengan Bram. Dari mulai prestasi, keahlian dan ketampanan. Nilam lebih sayang pada Bram. Mau Bram mendapatkan nilai jelek saat ujian, atau gagal mendapatkan sesuatu, Nilam selalu memujinya. Ketika sakit, Satria tidak pernah diberikan kasih sayang oleh Nilam. Itulah sebabnya dia bersikap dingin pada mama nya, tapi walaupun begitu dia tetap menjadi anak yang patuh dan berbakti pada kedua orang tua nya.
#End flashback.
Mendengar cerita masa kecil Satria, membuat Amayra semakin ingin memeluk suaminya. Berada di dalam pelukan Amayra, juga membuat Satria nyaman.
...---***---...
Hai Readers! Mohon maaf untuk yang nunggu novel tahanan Cinta CEO hari ini tidak up dulu, dikarenakan author nya kurang enak badan.
__ADS_1
Doakan author sehat selalu ya ❤️😍 Sehat juga untuk kalian semua😉