
Hati Satria sangat bahagia karena dia dipanggil Mas. Sepanjang perjalanan dia bersenandung dan senyum-senyum sendiri.
"Haha, ternyata panggilan Mas lebih kerasa feelnya. Apalagi kalau Amayra yang mengucapkannya, hahaha...aku jadi membayangkan nanti malam akan seperti apa? Dia pasti seksi kan? Gila ya kamu Satria, otak mu traveling kemana-mana.." Satria tertawa sendiri dengan pikiran liarnya itu. Membayangkan nanti malam dia akan meminta jatahnya.
Suara lembut Amayra, desahann, ciuman dan pelukan istrinya sudah lama belum dia rasakan. Dia sangat menantikan malam itu, namun sayang hari itu masih panjang.
Sesampainya di rumah sakit, Satria dan dokter lain yang sebelumnya pergi ke Afrika dan baru kembali dengan mendapatkan sambutan dan penghormatan dari tim medis lainnya di timah sakit.
"Selamat datang dan terimakasih karena sudah kembali dengan selamat pada dokter!" kata Ferdi selaku ketua rumah sakit Xxxx. Dia menyambut Satria dengan hangat dan kenaikan jabatan yang dia peroleh karena kerja kerasnya.
Satria juga mengucapkan terimakasih pada dokter yang sudah memasukkannya dan daftar pergi ke Afrika. Tiba-tiba saja dokter Candra terlihat marah saat mendengar Satria berkata begitu. Dia merasa Satria menyalahkannya.
"Maaf dokter Candra, tapi saya ada menyalahkan apa ya? Memangnya bapak yang memasukkan nama saya dalam daftar tim relawan ke Afrika? Tidak, kan? Lalu kenapa bapak marah-marah pada saya?" Kata Satria sarkas pada dokter Candra, ditambah lagi anaknya Clara sudah menimbulkan fitnah padanya. Satria jadi bertambah marah pada pria tua itu.
"Ka-kamu, mentang-mentang sudah menjadi dokter kepala! Kamu jadi sombong ya, kamu tuh masih anak bau kencur yang baru menetas. Hanya karena kamu pintar dan muda, bukan berarti kamu berhasil dalam setiap operasi. Kamu belum berpengalaman!" Dokter Candra balik marah tidak jelas pada Satria.
Saat Satria akan menjawab balik dokter Candra, Ferdi segera menghentikannya dan menyuruh Satria pergi ke ruangannya dulu sebelum mulai bertugas. Ferdi juga mengatakan pada semua dokter yang menjadi tim relawan di Afrika, bahwa dia akan mentraktir makan malam spesial untuk mereka.
Ferdi dan Satria duduk di ruangan ketua rumah sakit. Ruangan yang bersih dan cukup luas, milik direktur muda itu.
"Silahkan duduk dulu dokter Satria," ucapnya pada Satria.
Satria duduk didepan Ferdi, atasannya. "Apa yang ingin bapak bicarakan pada saya?"tanya Satria.
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat kepada dokter Satria karena sudah melaksanakan tugas dengan baik. Kedua, saya ingin membicarakan masalah dokter Clara." Jelas Ferdi langsung pada intinya.
"Apa dokter Candra mengatakan sesuatu tentang anaknya itu? Apa dia minta sesuatu?" tanya Satria yang tidak senang ketika mendengar nama Clara disebut.
"Apa yang terjadi disana sebenarnya? Itu yang saya ingin tau dan sejujurnya dokter Candra ingin saya membawa dokter Clara kembali ke Indonesia.." ucap Ferdi sambil menghela napas.
Ferdi mengatakan bahwa dokter Candra sudah menceritakan tentang Satria dan Clara menurut versinya sendiri. Kali ini Ferdi ingin tau cerita itu dari versi Satria.
Satria mengatakan semua dengan jujur, apa yang terjadi disana. Apa yang dilakukan Clara, dia beberkan semuanya tanpa ada yang ditambah atau dilebihkan. Cerita versi Satria dan versi Candra jelaslah sangat berbeda. Satria pun mengatakan pada Ferdi, dia punya saksi yang bisa membenarkan ceritanya.
Ferdi juga percaya pada Satria, tapi dia tetap minta Satria untuk memaafkan Clara. Karena Clara adalah putri dokter senior sekaligus pemilik saham terbesar di rumah sakit itu. Satria melepaskan Clara dan memaafkannya, karena menurutnya dendam tidak akan baik.
"Terimakasih dokter Satria, anda sangat baik. Sikap anda ini sudah membantu saya.." ucap Ferdi sambil tersenyum.
"Tapi saya ingin dia meminta maaf pada saya nanti, juga dokter Candra!" kata Satria tegas.
"Kenapa dokter Candra juga?"tanya
__ADS_1
"Karena dia sudah memasukkan saya ke dalam daftar nama ke Afrika dengan alasan tidak masuk akal. Saya tetap akan menuntut permintaan maafnya pak," jelas Satria tegas.
"Baiklah, saya akan bicarakan ini dengan dokter Candra nanti. Terimakasih sudah meluangkan waktu bicara dengan saya." Kata Ferdi sambil tersenyum ramah.
Dokter Satria sangat tegas, dia memang cocok dengan posisinya saat ini.
"Kalau begitu saya permisi pak Ferdi, saya ada jadwal operasi hari ini." ucap Satria sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah. Oh ya, dokter Satria!"
"Ya pak Ferdi?"
"Saya turut berduka atas kematian ayah mertua dokter Satria,"
"Terimakasih Pak Ferdi."
Satria keluar dari ruangan pak Ferdi kemudian dia pergi ke ruangannya. Ruangan baru sebagai jabatan kepala bedah umum. Dia merapikan ruangannya, menyimpan foto Amayra dan Rey diatas mejanya.
"Alhamdulillah ya Allah, fabiayi Alla irrobikuma tukadziban." Satria bahagia sekali dengan keadaannya saat ini. Bisa bertemu kembali dengan keluarganya, karirnya juga sukses cemerlang sebagai seorang dokter bedah umum.
...****...
Siang itu setelah Amayra selesai menyusui dan menidurkan Rey. Dia bersiap memaki hijab dan mengganti bajunya dengan baju yang rapi. Dia bersiap untuk pergi ke kampus. Tas gendong selalu menjadi ciri khasnya sebagai mahasiswa.
"Iya non, non tenang saja. Katanya nanti nona Diana akan datang kemari setelah pulang dari rumah sakit.."
"Oh begitu ya. Ya udah, alhamdulillah aku bisa tenang kalau banyak yang jagain Rey." Amayra merasa tenang karena banyak yang menjaga anaknya itu. "Bi.. susunya ada di kulkas didalam botol dot ya bi?"
"Iya non siap!" kata Dewi patuh sambil tersenyum.
Amayra menghampiri Rey yang sedang tidur di ranjang bayi, dia mengecup kening Rey penuh kasih sayang. "Sayangnya mama, mama berangkat dulu ya. Doakan semoga belajarnya mama ini berkah dan supaya mama bisa cepat lulus!"
Amayra pergi dari rumah itu, walau hatinya terkadang berat meninggalkan Rey bersama dengan orang terdekatnya. Tetap saja dia merasa cemas. Ibu satu anak itu pergi ke kampusnya dengan naik ojek. Setelah satu minggu lamanya dia tidak pergi ke kampus karena masih dalam keadaan berduka.
Sesampainya disana, Amayra disambut oleh Lisa dan Anton teman baiknya. "Assalamualaikum Amayra.." sapa Anton pada Amayra.
"Waalaikumsalam teman-teman," jawab Amayra sambil tersenyum.
"Apa kamu udah baik-baik saja?" tanya Lisa sambil melihat ke arah Amayra dengan cemas.
"Alhamdulillah semuanya baik, hatiku tubuhku baik hehe." Amayra nyengir.
__ADS_1
"Syukurlah Lo udah kembali seperti sedia kala. Oh ya, gimana kalau pulang kampus nanti kita makan bareng? Eh ngopi bareng? Katanya didepan kampus ada cafe baru loh!" Kata Anton heboh.
"Iya benar, dapat diskon juga buat mahasiswa dan pelajar! May, kita kesana yuk?" tanya Lisa mengajak Amayra ngopi di kafe itu.
"Ehm.. oke, tapi aku minta izin dulu sama suamiku sama kakakku dulu ya," jawab Amayra yang masih ada pertimbangan jika harus bepergian dengan temannya. Dia ada suami dan bayinya yang masih kecil di rumah.
"Oke, udah beres kelas nanti. Gue jemput kalian ke kelas.."
"Sip!" Lisa mengacungkan jempolnya.
"Oy, gue gak diajak juga?" tanya Ken yang tiba-tiba saja sudah muncul dibelakang Amayra dan Lisa.
"Ken, kamu juga mau ikut?" tanya Amayra pada Ken dengan ramah seperti biasa.
"Kalau kalian ajakin sih gue mau," ucap Ken sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung. Dia memalingkan wajah saat Amayra melihatnya.
Kenapa aku tidak mau melihatnya ya? Apa ini karena aku masih berdebar saat didekatnya?
"Oke, ngikut aja lah. Kita janjian udah kelasnya Lisa sama Mayra beres!" kata Anton sambil tersenyum dan setuju jika Ken ikut.
Lisa dan Amayra pun masuk ke kelas mereka, Ken dan Anton juga sama. Amayra berada di kampus dan Satria suaminya bekerja di rumah sakit. Walau mereka berada dalam aktivitas masing-masing. Keduanya selalu berkomunikasi satu sama lain.
Ketika kedua orang tuanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Diana dan Bram langsung pergi ke rumah Amayra dan Satria setelah pulang bekerja untuk mengasuh Rey.
Mereka juga memiliki peran sebagai orang tua Rey. Dewi melihat Bram dan Diana yang akrab dalam mengasuh Rey.
"Mas.. tolong dong ambilkan bedak, popok sama tidur basah untuk Rey dong!" Seru Diana sambil membuka popok Rey yang kotor.
"Oke di," jawab Bram cepat.
Dia mengambil apa yang dibutuhkan oleh Diana. Rey sedang pup dan tak sengaja tangan Bram terkena pup nya. Hal itu membuat Diana menertawakan Bram. "Hahaha.."
"Auch... Rey," rintih Bram sambil melihat ditangannya ada kotoran bayi itu.
Rey hanya senyum-senyum dengan menggerakkan kakinya melihat Bram yang mengernyitkan dahi. Bram tersenyum melihat Diana tertawa.
Aku jadi pengen punya anak dari Diana, sepertinya aku harus cepat memajukan tanggal pernikahan.
Bram menatap Diana dengan penuh perasaan.
...----****----...
__ADS_1
Maaf ya readers ❤️ author telat up nya, ada masalah dengan jari author yang bengkak sehingga kesulitan untuk mengetik.. maaf juga tidak dibalas semua komennya.