
...🍀🍀🍀...
Nama untuk si kembar telah diberikan, yaitu Zayn dan Zahwa. Semua orang senang dengan nama yang diberikan oleh Satria dan Amayra pada si kembar. Namun tetap saja ada beberapa dari mereka yang masih memanggil Zahwa dan Zayn dengan sebutan tampan dan cantik.
Tiga Minggu kemudian, setelah keadaan Amayra sudah kembali pulih, juga usai bulan madu Anna dan Ken, keluarga Calabria melakukan syukuran sekaligus aqiqah untuk si kembar. Anna dan Ken juga menginap di rumah keluarga Calabria untuk sementara waktu sampai acara syukuran selesai, sebelum Ken membawa istrinya ke rumah keluarga besarnya, keluarga Anggara.
Pagi itu sebelum acara syukuran Zahwa dan Zayn, terjadi keributan seperti biasanya di kamar Satria dan Amayra. Suara tangisan bayi terdengar kencang di ruangan itu.
Owek...owekkkk...
"May, ini Zayn pup!" Kata Satria sambil mengendus bau di tubuh baby Zayn yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Maaf sayang, kamu bisa gantikan dulu gak? Aku lagi ganti popok Zahwa, barusan dia juga habis pup." Amayra sibuk membersihkan tubuh Zahwa, bayi perempuannya yang cantik. Dia masih terus menangis, berbeda dengan Zayn yang kalem walau dia pup dia tidak menangis dan hanya mengisyaratkan dengan tangannya.
"I-iya deh sayang," ucap Satria sambil membuka celana dan popok baby Zayn. Dia melihat ada kotoran di popok dan celana Zayn. Walaupun agak geli melihat kotoran itu karena belum terbiasa sepenuhnya, Satria dengan senang hati mencoba menjadi ayah yang baik untuk anaknya. "Zayn, sholeh nya papa...baik banget kamu gak rewel nak." Satria memuji anaknya , kemudian baby Zayn tersenyum manis seolah mengerti ucapan papanya.
Owaaa...owa....
Sementara sang adik masih menangis saat diganti popok oleh mamanya dan Zahwa tidak mau diam, terus bergerak kesana kemari. Bahkan setelah Satria selesai mengganti popok kakaknya.
"May, lihat nih...Zayn tersenyum." Satria menggendong Zayn, dia ingin menunjukkan kepada Amayra bahwa Zayn tersenyum.
Amayra masih sibuk dengan Zahwa yang bergerak-gerak kesana kemari, seperti tak mau memakai celananya. "Iya sayang, bentar ya aku masih ganti celana Zahwa."
Pssshhhh....
"Astagfirullah May!" Satria terkejut ketika dia melihat Amayra akan memakaikan celana pada Zahwa, bayi mungil itu malah pipis ke baju dan perutnya.
"Hahaha...Zahwa, kamu selalu saja begini nak...giliran mau pakai celana baru, pasti kamu pipisin mama dulu. Kalau enggak pipisin mama pasti kamu pipisin Tante Diana atau Oma Nilam." Amayra malah tertawa melihat tingkah gemas anaknya, dia tidak marah sama sekali.
__ADS_1
Sementara Satria menegur anaknya dengan ucapan sopan dan lembut. "Aduh... Zahwa ku sayang, kamu jangan gitu dong sama mama sama Tante Diana dan Oma. Entah kenapa anak perempuan kita ini unik ya?"
"Kamu benar Mas, Zayn kalem sedangkan anak perempuan kita ini si cantik Zahwa... sepertinya dia lebih aktif dari kakaknya."
"Iya, dia sepertinya lebih nakal dari kakaknya." Celetuk Satria sambil menatap Zahwa yang masih diganti bajunya oleh Amayra.
"Mas, jangan pernah bilang anak kita nakal. Anak kita adalah anak-anak yang Sholeh dan Sholehah, ucapan bisa menjadi doa mas. Sekecil apapun kita tidak boleh meremehkan ucapan, supaya Allah mendengar doa kita yang baik-baik saja. Mas lupa ya surat Al Isra yang bunyinya begini....
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Jika kamu berulang-ulang mengucapkan kata-kata itu, kamu akan dapat mewujudkan dalam kenyataan. Kata yang engkau ucapkan akan berpengaruh besar pada masa depanmu. Ketika kamu berucap dengan sebuah kata, seolah kamu membuat cita-citamu sendiri di masa yang akan datang.
"Jadi, mas gak boleh bilang anak kita nakal! Gak boleh ya mas!" Amayra menggelengkan kepalanya seraya mengingatkan Amayra.
Satria tiba-tiba saja mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Iya deh sayang, iya Bu guyuu..." bibir Satria mengerucut
"Malu sama siapa sih? Masa cium juga gak boleh?" Satria tersenyum, dia masih saja manja pada istrinya walau sudah memiliki 2 anak.
"Mas, anak-anak kita sedang melihatnya mas.."
"Biarin dong, biar mereka tau kalau orang tuanya rukun dan mereka meniru kerukunan orang tuanya ini." Satria menatap istrinya penuh cinta.
Mayra masih tetap cantik walau dia sudah melahirkan 3 anak, Masya Allah istriku.
Usai mendandani si kembar dengan bantuan Satria. Amayra membawa si kembar dengan roda bayi ke depan rumah untuk berjemur. Sementara Satria bersiap-siap untuk dinas ke rumah sakit seperti biasanya.
"Satria, kamu pulang jam berapa? Jangan lupa acaranya setelah Ashar." Nilam bertanya pada Satria seraya mengingatkannya tentang acara syukuran Zayn dan Zahwa.
__ADS_1
"Insya Allah Satria pulang jam setengah 3, selesai operasi aku langsung pulang kok," jelas Satria pada Nilam dan istrinya yang masih berada disana.
"Oke deh, nanti putranya ustad Arifin yang akan pimpin acaranya."
Satria tercengang mendengarnya, putra ustad Arifin yang artinya adalah Iqbal. Pria yang pernah menyukai istrinya di zaman SMA.
Kenapa mas Satria menatapku begitu ya?. Amayra membatin, dia bingung kenapa Satria menatapnya dengan tajam.
"Bukannya kak Iqbal ada di Mesir, ya ma?" tanya Amayra pada Nilam, dari kabar yang dia tau tentang Iqbal. Pria itu sedang menempuh pendidikan di Kairo, Mesir.
Kenapa Amayra menanyakan tentang pria itu? Apa dia penasaran dengan kabarnya?. Satria cemberut.
"Oh jadi namanya Iqbal, sepertinya kamu akrab dengan dia ya. Katanya putra ustad Arifin sudah menyelesaikan pendidikannya dengan cepat, dia sudah lulus. Pria itu cerdas sekali, ilmu agamanya juga kental." Nilam menjelaskan tentang Iqbal pada Amayra.
"Dia itu teman SMA kami Oma, dia pernah suka sama Tante Amayra loh." Anna tiba-tiba datang dan memanasi Satria.
"Anna, kamu kamu jahil banget sih...lihat tuh wajah om Satria jadi cemberut." bisik Ken pada istrinya.
"Hihihi, Ken kamu gak tau sih gimana gemesnya om Satria kalau lagi cemburu," Anna menikmati raut wajah Satria yang cemberut.
Sedangkan Amayra tidak menyadari bahwa suaminya begitu karena cemburu. "May, aku berangkat dulu ya." kata Satria ketus.
"Ah iya mas, mas sudah terlambat."
Satria mengecup kening Zahwa dan Zayn dengan penuh kasih sayang. "Sayangnya papa, papa berangkat dulu ya. Doakan pekerjaan papa lancar ya nak." Satria tersenyum lebar ketika dia menatap kedua buah hatinya itu.
Sementara dia cemberut saat melihat Amayra. Berpamitan pun seperti orang yang malas, tidak ada kecupan manis untuk Amayra dari Satria.
"Mas Satria kenapa sih?" Gumam Amayra bingung melihat suaminya cemberut terus.
__ADS_1
...*****...