
...🍀🍀🍀...
Satria ingin mengajak Amayra dan Rey jalan-jalan sebelum menyambut dan merayakan bulan ramadhan. Namun Amayra menolak ajakan dari Satria, "Maaf kak aku gak bisa!"
Satria tercengang mendengar penolakan dari Amayra, "Kenapa kamu gak bisa?"
"Kak...Rey masih kecil, belum biasa diajak main jauh-jauh. Aku gak mau Rey kenapa-napa kalau dia jalan-jalan di luar rumah, jadi mending cari yang aman saja ya kak. Kita di rumah aja, ok?" Amayra menyarankan agar mereka berada di rumah saja, karena Rey juga masih kecil dan belum bisa dibawa jalan jauh-jauh.
"Ah ya.. kamu benar juga, Rey masih belum bisa dibawa jauh. Lalu, apa kamu mau jalan-jalan keluar sebelum bulan puasa?" tanya Satria pada istrinya.
"Tidak usah kak, aku di rumah saja. Bukankah aku harus banyak belajar, ujian kejar paket C ku kan tinggal sebentar lagi."
Tangan Satria menepuk lembut kepala sang istri yang merindukan belajar dan sekolah. Seandainya tidak ada kejadian itu, mungkin Amayra sudah kuliah. "Kamu sudah kangen belajar ya?"
"Eh.. eng-enggak," jawabnya terbata-bata.
"Gak boleh bohong!"
"Iya aku kangen," jawabnya akhirnya jujur.
"Apa kamu rindu teman-teman sekolah kamu?" tanya Satria lembut, sambil menatap Amayra.
"Iya sedikit rindu,"
"Saat kamu kuliah nanti, kamu akan kembali merasakan suasana itu. Namun, suasana agak sedikit berbeda. Karena pada masa kuliahku dulu, orang-orang cenderung individual. Masa SMA tetaplah masa-masa indah dalam pertemanan. May, aku tidak bisa menggantikan semua waktu yang sudah kamu lewati atau memutar waktu kembali. Tapi, aku akan membuat kamu bahagia dengan membantumu memperbaiki semuanya menjadi lebih baik," ucap pria itu tulus dari dalam lubuk hatinya.
Amayra memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang, tangannya melingkari tubuh Satria yang masih memakai kemeja kerjanya yang rapi itu. "Terimakasih kak, dengan adanya kakak sisiku dan Rey saja itu sudah cukup membuatku sangat bahagia. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana hidupku tanpa ada kakak. Kakak adalah kstaria penyelamatku, kakak adalah hidupku dan Rey.."
Bagi Amayra, Satria sudah seperti malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan kepada dirinya. Berkat dan anugerah terindah dalam kehidupannya adalah Satria, dia sangat amat bahagia bisa menerima banyak cinta dari Satria.
"Justru akulah yang seharusnya berterimakasih kepada Allah SWT yang sudah mempertemukan kita walaupun awalnya berada didalam musibah." Satria memeluk balik Amayra dengan lembut.
"Hao...haooo.." Rey bergumam pelan, mata mungilnya menatap Amayra dan Rey yang sedang berpelukan mesra didepannya itu.
Satria langsung mendekati Rey dan menggendongnya, "Apa jagoannya papa? Kamu mau dipeluk juga sama papa?" Satria menggesek-gesek hidungnya yang mancung pada hidung mungil Rey.
"Haoo..haoo.."
Rey terlihat menggemaskan saat dia mencoba berbicara. Tangan mungil itu meraih jari telunjuk sang papa dengan sentuhan pelan. Amayra tersenyum bahagia melihat Satria bermain dengan Rey.
Keesokan harinya, Amayra dan Satria berniat pergi jalan-jalan ke taman dekat rumah saja.Satria membawa roda bayi yang dibeli Cakra dan beberapa perlengkapan Rey. Satria membaringkan Rey di atas roda bayi itu.
"Wah, masyaallah.. jagoannya papa udah ganteng," ucap Satria sambil duduk jongkok dan melihat Rey berbaring di atas roda bayi dengan pakaian berwarna biru yang dikenakannya.
Satria mengambil gambar Rey dengan ponselnya. Dia mengabadikan momen bayi lucu itu. Sambil menunggu Amayra yang masih bersiap-siap di dalam rumah. "May, udah belum siap-siapnya?" tanya Satria dengan suara setengah berteriak.
"Ya kak, ini udah!" sahut Amayra dari dalam rumah.
Tak lama kemudian, Amayra keluar dari rumah Dia mengunci rumahnya. Satria langsung berdiri, tatapannya terpaku pada sang istri yang mengenakan baju berwarna biru langit, sama dengan baju yang dikenakan Rey.
Amayra cantik sekali.
Kemudian Satria mengerutkan keningnya, matanya memicing menatap sang istri.
Amayra menyadari tatapan suaminya itu lalu dia bertanya, "Kenapa kak?"
"Kamu cantik sekali, tapi kenapa aku gak punya baju yang sama dengan kalian?" protes Satria pada baju yang dikenakan Amayra dan Rey. Baju berwarna couple.
"Bukannya kakak waktu itu menolak beli baju couple ya? Kok protesnya sekarang sih?" tanya Amayra sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Kapan aku nolak?" tanya Satria bingung, dia tidak ingat kapan dia menolak.
"Hayo, kakak gak ingat seminggu yang lalu. Ada tukang jahit datang kemari, dia bilang mau jahitkan baju dari kain yang dikasih sama mama Nilam. Saat aku tanya kakak, kakak mau gak baju couple sama aku dan Rey. Terus kakak jawab katanya ngapain juga bikin baju couple.. alay, lebay!" Amayra menggerutu sambil menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya.
"A-Apa aku bilang gitu?"
"Iya, bukannya kakak gak suka yang couple couple?"
"Sepertinya aku harus mulai menyukainya, supaya orang luar bisa tau kalau kita adalah satu keluarga," gumam Satria dengan suara pekan.
"Kakak bilang apa?" tanya Amayra yang kurang jelas mendengar gumaman suaminya.
Satria berdehem, "Ehem, nanti kalau ada kain lagi. Jahitkan juga untukku dan Rey ya, aku mau couple sama Rey,"
"Sama Rey aja?" tanya Amayra dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Sama kamu juga dong," ucap Satria sambil membelai lembut pipi istrinya. Dia tersenyum manis dengan dua lesung pipi terlihat disana.
Amayra membalas senyuman itu dengan senyuman indah, yang menunjukkan gigi gingsulnya yang menjadi daya tarik.
"Ayo berangkat, nanti keburu siang. Eh.. tapi, bi Dewi mau kesini gak?" tanya Satria sambil mendorong roda bayi yang ada Rey di dalamnya.
"Katanya bi Dewi lagi sakit, jadi dia gak datang hari ini," jelas Amayra singkat.
"Hem begitu,"
Amayra dan Satria menghabiskan waktu pagi itu sebelum Satria melakukan operasi sore nanti. Mereka berbincang-bincang sambil berjalan menuju ke taman kompleks.
Saat sampai di taman kompleks, Amayra bertemu dengan Reina dan Angel. Teman nya di SMA yang selalu mengolok-olok dia. Bahkan sampai membongkar rahasia Amayra, hingga dia dikeluarkan dari sekolah. Reina dan Angel terlihat duduk di kursi taman sambil membawa tas dan buku. Di atas mejanya ada beberapa makanan dan minuman.
"Hai Amayra," sapa Reina dengan senyuman sinis dibibirnya.
"Hai May," sapa Angel yang juga dengan senyuman yang sama seperti Reina.
Amayra terdiam, wajahnya langsung pucat. Kenangan pahit yang sudah dia lupakan malah kembali terlintas dipikirannya. Saat-saat dimana dia dikeluarkan dari sekolah dan mendapatkan perlakuan buruk dari teman-teman satu sekolahnya.
"May, siapa?" tanya Satria sambil melihat ke arah istrinya.
"Mereka-" Amayra tidak senang melihat kedua wanita itu.
"Perkenalkan pak dokter, saya Reina dan ini Angel, kami temannya Amayra waktu SMA." Kata Reina sok kenal sok dekat dengan Amayra.
"Oh gitu ya," jawab Satria dengan wajah dinginnya. Karena kelembutannya itu hanya untuk Amayra dan Rey saja. Pada wanita lain, Satria sangat cuek.
Ih, kenapa reaksinya dingin banget sih?. Batin Reina kesal melihat jawaban Satria yang datar dan wajahnya yang dingin.
"May, kita ke sebelah sana yuk. Kayaknya cocok untuk berteduh." Ajak Satria pada istrinya dan dia terang-terangan mengabaikan Reina dan Angel.
Kenapa aku seperti pernah melihat dua wanita ini? Tapi dimana ya? Amayra terlihat gak nyaman bertemu dengan mereka.
"Iya kak," jawab Amayra patuh.
"Woah...ini bayi kamu ya? Lucu banget? Bayinya laki-laki?" Angel duduk jongkok dan melihat Rey berbaring diatas roda bayi itu.
"Iyah laki-laki," jawab Amayra malas.
"May, udah berapa bulan bayi kamu sekarang?" tanya Reina seolah menahan Amayra dan Satria.
Satria mendorong roda bayi Rey, dia memegang tangan istrinya dan membawanya pergi dari sana. Angel dan Reina terlihat kesal melihat sikap Satria dan Amayra yang cuek.
"Huh, ngelahirin anak haram aja belagu!" seru Reina mengejek Amayra.
"Hooh...sombong banget," ucap Angel nyinyir.
"Emang orang sombong tuh pantes dapatin musibah. Contohnya ya dia? Dulu di sekolah sok kecentilan dan dibanggakan semua guru, eh taunya.. malah lempar kotoran ke muka guru dan semua orang orang di sekolah," Reina tersenyum sinis membicarakan Amayra.
"Tapi enak juga ya jadi dia, bisa manfaatin situasi dan nikah sama orang kaya. Kayak jual diri gitu bukan sih?" Angel cekikikan, asik mengejek Amayra.
"Ya semacam itulah, gak perlu capek-capek mikirin sekolah. Cukup ngelahirin anak haram aja, dapat rezeki nomplok. Ya gak? Hahahaha.." Reina tertawa sambil menggibahkan Amayra dan Rey.
"Bener Rei, enak benar hidupnya. Dan yang lebih ngakak tuh dia hamil sama kakaknya,tapi malah nikah sama adiknya, hahaha.."
Deg!
Perkataan mereka terdengar oleh Satria dan Amayra yang belum terlalu jauh pergi dari sana. Satria langsung membalikkan badan dengan wajah marah, "Kak.. kakak mau kemana?" tanya Amayra yang kaget melihat perangai suaminya.
"Kamu jaga Rey disini," ucap Satria kesal sambil berjalan cepat menuju ke arah Reina dan Angel yang masih cekikikan.
"Kak! Kak Satria!" Amayra memanggil suaminya.
Astagfirullah, kak Satria ngapain kesana? Amayra mulai panik melihat suaminya berdiri didepan Reina dan Angel.
Satria menatap Reina dan Angel dengan tajam, ekspresinya marah, tidak dingin seperti tadi.
Aku bukan orang yang suka keributan, tapi mereka berdua sudah keterlaluan.
Reina dan Angel resah dengan tatapan Satria kepada mereka. Keduanya sama-sama menelan ludah, tiba-tiba tubuh mereka gemetar hanya dengan tatapan Satria.
"A-ada apa ya pak?" suara Reina sedikit bergetar.
"Ada apa kamu bilang?" tanya Satria dengan suara yang meninggi.
__ADS_1
Angel berbisik pada Reina, "Ayo kita pergi Rei,"
Reina mengangguk setuju. Saat mereka berniat pergi darisana, Satria menghadang jalan kedua gadis itu. Matanya yang tajam masih memandangi Reina dan Angel.
"A-ada apa ya kak?"tanya Angel dengan mata memutar kesana-kemari.
"Sebutkan alamat rumah dan nomor hp kedua orang tua kalian!" ujar Satria kesal.
"Kenapa bapak meminta itu?" tanya Reina terpana.
"Hahhh.. kenapa? Barusan kamu sudah menghina istri dan anak saya, tentu saja saya tidak akan tinggal diam."
"Kenapa bapak menganggap serius? Kami hanya bercanda!" kata Reina menyangkal semua yang dia dan Angel katakan adalah candaan.
"Candaan? Kalau begitu mari kita selesaikan semuanya ke jalur hukum. Kalian tau kan kalau keluarga Calabria, tidak akan melepaskan kalian?" Satria mengancam kedua wanita itu dengan tegas. "Minta maaf sekarang pada istri dan anak saya, atau saya bawa kasus ini ke jalur hukum!" Seru Satria.
"Memangnya kenapa? Apa yang kami lakukan sehingga bapak mengancam kami seperti ini? Angel, ayo pergi! Jangan pedulikan dia, dia pasti hanya menggertak saja!" Reina terlihat ketakutan, dia memegang tangan Angel.
Keduanya berlari pergi dari sana dengan cepat. Satria yang akan mengejar mereka, tiba-tiba dihentikan oleh Amayra sambil membawa roda Rey.
"Dasar anak-anak kurang etika!" Satria mendengus kesal.
Amayra memegang tangan sang suami, seraya menenangkannya. "Kak udah kak, biarin aja!"
"Gak bisa gitu, mereka ini kaya gak pernah disekolahkan mulutnya!" Satria masih emosi.
"Kak jangan marah, sabar kak.. marah adalah sifatnya iblis dan setan. Jangan biarkan kemarahan menguasai hati kakak," ucap Amayra menenangkan. "Ingat kak.. dalam salah satu sabda Rasulullah.....
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.
Artinya: "Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Amayra membacakan hadits tentang menahan amarah. Namun Satria masih saja kesal dengan Reina dan Angel, walau sedikit reda amarahnya. "Huuuhh.. tapi aku sudah punya bidadari di dunia..."
"Apa?"
"Aku tidak perlu memilih bidadari di surga, karena bidadarinya suah disini," Satria tersenyum sambil melihat istrinya.
"Kakak! Masih sempat kakak menggombal ya?" Amayra tersipu malu, dengan wajah merah.
"Aku serius. Haha, gemes banget lihat kamu merah," Satria tertawa melihat pipi merah merona sang istri.
"Huhh dasar,"
"Ngomong-ngomong siapa mereka? Sebutkan nama lengkapnya? Oh.. sama alamatnya sekalian?" tanya Satria.
"Kakak! Sudah kubilang udah jangan perpanjang masalah. Kita duduk duduk aja yuk, aku lapar.." Amayra mendorong roda Rey.
"Ya udah, ayo." jawab Satria setuju.
Anna pasti tau siapa dua wanita itu, awas saja! Aku akan membuat mereka menyesal.
Satria dan Amayra duduk di tikar, tepat dibawah pohon yang rindang. Mereka membuka kotak bekal yang mereka bawa dari rumah. Satria dan Amayra makan bersama disana.
Satria juga mengundang temannya seorang fotografer untuk membuat foto keluarga. Amayra terkejut karena fotografer itu tiba-tiba datang kesana. "Kak, ini serius kita mau foto disini?" tanya Amayra tak percaya.
"Karena kita gak bisa pergi ke studio foto. Gak apa-apa kita foto disini aja, disini indah kok."
"Bukannya gitu kak, tapi aku gak berdandan. Aku juga belum persiapan apa-apa," bisik Amayra pada sang suami.
"Kamu gak usah dandan juga udah cantik kok," ucap Satria memuji.
"Alhamdulillah...aamiin," ucapnya sambil tersenyum.
"Ayo kita mulai yuk! Nanti hari semakin panas," ucap Wisnu, seorang fotografer teman Satria.
"Oke nu, ayo May..gendong Rey!"
Amayra menggendong Rey, Satria duduk disamping Amayra. Wisnu mengambil potret kebersamaan keluarga kecil itu. Wisnu mengambil gambar beberapa kali dan memperbanyak foto Rey Amayra.
Mereka terlihat layaknya keluarga bahagia, tersenyum satu sama lain. Menunjukkan cinta dan kasih secara alami.
Satria terlihat bahagia, meski sebelumnya dia menikah dengan terpaksa. Syukurlah alhamdulillah... Semoga kalian selalu langgeng selamanya. Doa Wisnu dalam hatinya melihat pasangan suami-istri itu.
...*****...
__ADS_1
Hai Readers, author boleh minta giftnya gak? 😁😁🙏
jangan lupa like komennya juga ya readers 😍😍