Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 254. Ini bukan salahmu


__ADS_3

Satria pergi ke ruangannya dan mengobati luka di tangannya, membalut luka itu dengan perban. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang tiba-tiba, seperti ada yang mengganjal di hatinya. Perasaannya sejak masuk ke ruang operasi.


"May sama anak-anak, apa mereka baik-baik saja di rumah? Tidak ada telpon ada pesan masuk, harusnya baik-baik saja kan?" gumam Satria sambil melihat ponselnya yang sepi, tidak ada SMS atau telepon dari istrinya atau orang yang ada di rumah.


Setelah membersihkan diri, Satria bersiap-siap untuk segera pulang ke rumah karena pekerjaannya sudah selesai. Saat keluar dari ruangan itu, di lorong dia melihat Bram dan Diana sedang mendorong ranjang bersama seorang suster di rumah sakit itu. Diatas ranjang, ada sosok tidak asing terbaring disana.


"Mayra?" Satria ternganga melihat istrinya ada diatas ranjang, dalam kondisi tidak sadarkan diri.


"Satria?" Bram melihat adiknya disana.


"Kak, apa yang terjadi? Istriku kenapa?!"


"Dia ditusuk oleh bapaknya Rey," jawab Bram cepat.


"Ya?!" Satria tercengang.


Satria masuk ke ruang IGD dan membawa istrinya untuk segera ditangani. Sementara Bram dan Diana berada di luar ruangan itu dan menunggu Amayra.


"Ya Allah sayang," Satria menatap istrinya dengan cemas. Dia juga memeriksa kondisi Amayra yang sepertinya kehilangan banyak darah. Dia melihat luka yang dalam di perut istrinya, luka tusuk.


"Dokter Satria, apa yang harus kami lakukan?"


"Persiapkan untuk operasi! Siapkan kantong darah dengan golongan darah AB!" ujar Satria pada kedua suster yang ada didalam ruangan itu.


"Baik dok!"


"Panggil juga dokter Andi!" Titah Satria lagi pada suster itu.


Sepertinya aku tidak sanggup mengoperasi istriku sendiri, aku tidak tega menusukkan jarum jahit ke tubuhnya.


"Baik dokter,"


Kedua suster itu segara melakukan apa yang diperintahkan oleh Satria. Dia tidak sanggup mengoperasi istrinya sendirian dan dia butuh bantuan dari dokter lain.


****

__ADS_1


Di rumah keluarga Calabria, Cakra, Nilam dan Bima baru saja kembali dari undangan teman Nilam. Bima juga ikut dengan mereka sekalian mengawal kedua orang tuanya sampai rumah.


"Jadi, kapan kamu akan menikah Bim?" tanya Cakra yang langsung menusuk ke dalam batin Bima.


"Aduh pa, nikah ya? Aku malas ah...lagian siapa juga yang mau nikah sama aku?" Bima memegang dadanya, dia tidak percaya diri untuk menikah.


"Eh gak boleh bilang malas, nikah itu ibadah Lo. Lihat tuh Satria saudara kembarmu, dia sudah punya dua anak." Kata Nilam pada Bima.


"Ya gimana ya, aku belum ada keinginan untuk menikah sih. Aku masih suka alone aja ma," ucap Bima sambil menggaruk kepalanya dengan bingung.


Aku ragu akan ada wanita yang mau denganku, apalagi kalau mereka tau pekerjaanku yang berbahaya.


"Usiamu udah mau kepala 3, Bim. Mama akan carikan wanita untuk kamu. Kamu bilang aja, kamu mau wanita seperti apa?" Tanya Nilam perhatian pada anak tirinya itu.


"Haha, gak usah ma...benaran gak usah." Bima menolak tawaran Nilam tentang mencarikan wanita untuk dirinya.


"Bim, setujui saja kata mamamu. Siapa tau kamu bisa menemukan yang cocok? Kamu kan tampan dan baik." Cakra setuju dengan usul Nilam tentang cari jodoh untuk Bima.


"Hahaha...benaran gak usah-" Bima yang tadinya tertawa, tiba-tiba saja terdiam saat melihat Dewi sedang membersihkan lantai penuh darah itu.


"Nyonya!" Dewi berdiri dan segera menyambut kedatangan tuan rumahnya dengan sopan.


"Ada apa bi Dewi? Itu darah siapa?!" Tunjuk Cakra pada noda darah di lantai yang di pel Dewi oleh kain basah.


"Itu...itu darahnya non Mayra."


Ketiga anggota keluarga Calabria itu tercengang mendengar jawaban Dewi yang mengatakan bahwa darah itu adalah darah Amayra.


"A-apa? Kenapa Amayra bisa terluka sebanyak itu?" Kini Bima yang lanjut bertanya pada Dewi.


"Tadi ada seorang pria datang ke rumah ini, dia mau menculik non Zahwa...tapi, non Mayra menyelamatkan non Zahwa dan dia ditusuk pria itu pakai pisau," jelas Dewi.


"Astagfirullahaladzim! Terus dimana Amayra? Dimana si kembar?!" Nilam terkejut dan dia langsung menanyakan dimana Amayra juga dimana si kembar.


"Non Zahwa sama tuan muda Zayn ada di kamar sama Lulu dan tuan Rey. Kalau non Amayra di bawa ke rumah sakit sama non Diana dan tuan Bram," ucap Dewi menjelaskan pada Nilam, Cakra dan Bima.

__ADS_1


Nilam dan Cakra langsung berlari ke dalam kamar untuk melihat cucu-cucu mereka. Sementara Bima pamit pergi ke kantor polisi, dia ingin bertemu orang jahat yang sudah melukai Amayra dan membuat pria itu kesulitan.


Nilam dan Cakra masuk ke dalam kamar si kembar, mereka melihat si kembar sedang bersama Lulu dan Rey.


"Lulu, apa mereka baik-baik saja? Apa mereka terluka?" wanita paruh baya itu menatap Zahwa dan Zayn dengan cemas dan dia duduk di atas ranjang.


"Alhamdulillah, non Zahwa sama tuan muda Zayn gak apa-apa nyonya. Tapi non Amayra yang dibawa ke rumah sakit." Ucap Lulu menjelaskan pada Nilam.


"Syukurlah, Rey...kamu juga gak apa-apa kan?" tanya Nilam pada Rey yang masih menangis. Nilam menggendong Zahwa.


"Sa-saya gak apa-apa Oma, maafkan saya..hiks.." Rey menundukkan kepalanya, dia menangis seraya memohon maaf pada Nilam dan Cakra.


"Kenapa kamu minta maaf? Rey...kamu menangis nak?" Cakra menepuk pundak kecil Rey.


"Tante Amayra... gara-gara aku, Tante Amayra jadi masuk rumah sakit dan Zahwa dalam bahaya...karena aku juga... hiks..."


"Apa maksud kamu gara-gara kamu?" tanya Nilam tajam pada anak itu.


"Bapak ku....bapak yang mau culik dede Zahwa sama nusuk Tante Amayra...hiks.. maaf..."


Wajah Nilam langsung berubah marah pada Rey, "Jadi kamu yang sudah membuat cucu cucu saya berada dalam bahaya dan membuat menantu saya celaka?!"


"Ma...sabar ma!" Cakra meminta Nilam untuk tenang dan tidak mengedepankan emosi lebih dulu.


Gawat, mama emosi lagi. Padahal mama sudah baik sama Rey, sekarang dia...


"Kamu ini gak tahu diri ya, dikasih tempat tinggal hidup enak, nama Calabria dibelakang nama kamu. Tapi kamu...membuat keluarga saya dalam bahaya!" Nilam mengeluarkan kata-kata pedasnya pada Rey.


Rey menangis dan dia terus memohon maaf pada Nilam dan Cakra. "Sudah, ini bukan salah kamu...bapak kamu yang salah bukan kamu Rey." Cakra menenangkan Rey bahwa ini bukan kesalahan Rey.


"Papa, udah jelas-jelas kalau ini semua terjadi karena dia! Kalau dia gak masuk ke rumah ini, Amayra gak akan ditusuk sama penjahat itu dan anak-anak gak akan berada dalam bahaya." Nilam langsung berubah sikapnya saat anggota keluarganya berada dalam bahaya.


"Maaf...maafkan Rey, Oma." Rey meminta maaf pada Nilam sambil menangis tersedu-sedu.


Nilam mengabaikan Rey yang meminta maaf, dia fokus pada Zahwa dan Zayn. Cakra menggelengkan kepalanya, lalu dia membawa Rey keluar dari kamar itu dan mengajaknya bicara.

__ADS_1


...***** ...


__ADS_2