Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 88. Rumah sakit


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Satria mengecek denyut nadi istrinya dengan cemas. Amayra demam tinggi sampai tidak sadarkan diri, bahkan setelah Satria memanggilnya beberapa kali.


Satria mencoba mengobati dulu Amayra di rumah, dia mengompres tubuh Amayra dengan handuk basah. Mensterilkan suhu di kamar itu. Dia menyiapkan obat demam ada di rumah.


"Sayang, Mayra.. kamu dengar aku kan?" Satria mengompres kening Amayra.


Ya Allah, maafkan aku May.. kamu pasti kelelahan dan begadang sendiri. Aku harusnya bangun menemani kamu. Satria khawatir melihat istrinya masih belum sadarkan diri, dia merasa bersalah karena tidak menemani Amayra saat begadang.


Di dekat ruang tamu, terlihat Dewi sedang menggendong Rey sambil memberikan susu formula padanya. "Dede Rey, ayo bobo lagi yuk.. bibi ada kerjaan sayang," ucap Dewi pada Rey yang masih bangun dan belum tidur lagi sejak tadi subuh. Dan sekarang hari sudah pagi, Dewi harusnya pergi ke pasar untuk berbelanja tapi dia meminta Lulu yang pergi, karena dia menjaga Rey.


"Uwee.. uweee.."


"Aduh dede, kenapa kamu nangis? Ini kan susunya ada," tanya Dewi pada Rey yang masih merengek menangis walau sudah diberi susu formula.


Bayi mungil tampan itu menggelengkan kepalanya, seolah dia menolak susu di dalam botol.


Bram, Nilam dan Anna turun bersamaan dari lantai atas. Hari itu Anna bersiap pergi kembali ke luar negri untuk melanjutkan studinya. Dia membawa koper, sambil memakai kacamata hitam dan topi fedora. Gadis itu terlihat stylish dengan rambut pendeknya yang sengaja di keriting. Dia juga memakai rok pendek, baju ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Bram terlihat rapi dengan setelan jas nya, dia bersiap pergi bekerja.


"Dewi? Kenapa kamu ada disini? Kamu harusnya ke pasar kan?" tanya Nilam heran melihat Dewi masih berada disana sambil menggendong Rey.


"Maaf nyonya besar, tapi Lulu yang pergi ke pasar menggantikan saya," jawab Dewi sambil menimang-nimang Rey.


"Siapa yang menyuruh Lulu menggantikan kamu, hah?" Nilam melotot kesal pada pembantu rumah tangganya itu. Dia tidak suka kalau pembantunya mengalihkan pekerjaan pada orang lain."Kamu tau kan kalau belanja, si Lulu tuh gak becus!"


"Maafkan saya nyonya, tapi saya menjaga Rey dulu." Dewi menunduk seraya memohon maaf pada majikannya itu.


"Kamu tuh gimana sih. Emang kemana ibunya sampai harus kamu yang ngurus?" tanya Nilam sarkas, jika itu soal urusan Amayra.


"Nona Amayra sedang sakit dan tuan Satria sedang merawatnya, nyonya." jelas Dewi.


"Sakit?" Bram tercengang mendengar Amayra sakit. Bram cemas hatinya.

__ADS_1


Amayra sakit?


"Dia pasti kelelahan, semalam juga dia terus mengeluh sakit kepala," gumam Anna cemas. Anna langsung menyimpan dulu kopernya, dia berjalan menuju ke kamar Amayra untuk segera melihat keadaan sahabatnya sekaligus tantenya.


Bram kasihan melihat anaknya yang menangis dalam gendongan Dewi. Mungkin anak juga punya firasat tentang keadaan ibunya yang sedang tidak sehat. Akhirnya Bram menghampiri Dewi, meminta menggendong anaknya."Bi, sini biar saya gendong Rey," ucapnya.


"Tuan, bukankah tuan mau pergi ke kantor?" tanya Dewi.


"Iya Bram, kamu pergi saja ke kantor. Nanti kamu ditegur papa kamu. Rey biar mama yang urus," ucap Nilam sambil membawa bayi mungil itu dengan hati-hati dari tangan Dewi. "Cup cup sayang, jangan nangis ya cucunya Oma," Nilam menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Bram melihat kasih sayang Nilam pada cucunya, walau Nilam tidak suka pada Amayra, dia sangat menyayangi Rey cucunya. Darah dagingnya sendiri, anak dari Bram.


"Aku titip Rey, ya mah," ucap Bram pada mamanya.


"Iya kamu tenang saja. Dewi, kamu bawakan popok, bedak dan keperluan Rey yang lain dari kamar ibunya. Aku akan membawa anak ini ke kamarku diatas, dia tidak boleh tertular penyakit ibunya," ucap Nilam ketus, seraya meminta Dewi pergi ke kamar Amayra untuk mengambil perlengkapan Rey.


Bram menghela napas, dia sudah sering menegur ibunya untuk bicara lebih sopan pada Amayra. Tapi ibunya tetap saja berbicara ketus dan sarkas pada Amayra.


"Baik nyonya besar," jawab Dewi patuh sambil berjalan ke kamar Amayra.


"Satria, bagaimana keadaannya?" tanya Bram pada Satria.


"Demamnya belum turun juga, dia juga masih belum sadar," jawab Satria cemas melihat istrinya terbaring lemah tidak sadarkan diri diatas ranjang.


"Ya Allah, bagaimana ini om? Bawa saja ke rumah sakit, takutnya ada apa-apa," ucap Anna sambil memegang kening Amayra yang terasa panas.


"Iya, aku akan bawa dia sekarang" Satria menatap Amayra dengan cemas, dia menangkup tubuh Amayra dan menggendongnya.


Tidak ada perubahan pada kondisi Amayra, dia masih belum sadarkan diri walau Satria sudah memberinya obat dan melakukan pengobatan yang dia bisa. Akhirnya Satria mulai panik, dia membawa Amayra ke rumah sakit dengan mobil Bram.


Tadinya dia ingin pergi dengan pak Muin, tapi pak Muin pergi dengan Cakra. Terpaksa dia naik mobil bersama dengan Bram. Amayra dan Satria duduk di kursi belakang. Dua orang pria itu merasakan kegalauan yang sama karena melihat kondisi Amayra yang masih tidak sadarkan diri.


"May... May bangun May? Ya Allah... may kamu buat aku cemas," ucap Satria sambil memeluk Amayra. Dia berharap istrinya segera sadarkan diri.

__ADS_1


"Dia masih belum sadar, Sat?" tanya Bram yang sedang menyetir dalam keadaan cemas. Jantungnya berdebar karena Amayra belum sadarkan diri.


"Belum kak," jawab Satria sambil mengusap-usap tangan Amayra yang panas. "May.. bangun May.." Satria terus memanggil Amayra dengan raut wajah cemas.


"Gimana sih kamu menjaganya? Apa kamu tidak memperhatikan dia? Sejak kapan dia seperti ini?" Bram emosi pada Satria yang dianggapnya tidak bisa menjaga Amayra dengan baik.


"Ya, ini memang salahku.." jawab Satria mengakui kesalahannya. Dia tidak marah pada Bram atau menyangkal ucapan kakaknya itu.


"Haahhh.. sudahlah," Bram mendesis kesal, baginya yang paling penting adalah kesembuhan Amayra.


Mereka pun sampai di depan rumah sakit, Satria turun sambil menggendong Amayra. "Makasih kak," ucap Satria sekilas pada kakaknya.


"Iya, cepat bawa dia!" seru Bram pada Satria.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Satria langsung membawa Amayra masuk ke dalam rumah sakit. Dia langsung dibawa ke ruang UGD, dokter yang merawatnya adalah dokter Candra. Dokter Candra mengatakan kalau Amayra demam tinggi sebab imunnya sedang turun, karena dia kelelahan dan banyak begadang. Satria yang tidak selalu ada di rumah, tidak bisa memperhatikan Amayra dan Rey.


Ketika pulang, dia selalu melihat Amayra begadang. Terkadang Satria membantunya menjaga Rey, tapi dia tidak bisa selalu melakukan itu. Dokter Candra juga mengatakan bahwa Amayra seperti melewatkan beberapa jam makan, dilihat dari kurangnya nutrisi didalam tubuhnya. Apalagi setelah melahirkan, ibu menyusui membutuhkan banyak asupan nutrisi yang banyak dan sehat.


Akhirnya Amayra harus dirawat selama beberapa hari untuk memulihkan kondisinya. Satria terpaksa menyerahkan operasinya pada Dr. Bevan.


Hal itu membuat Satria menjadi bahan pembicaraan staf medis lainnya karena dianggap lebih mementingkan istrinya daripada pekerjaan. "Dokter Satria gimana sih? Padahal potensinya bagus lho untuk naik pangkat jadi dokter bedah senior."


"Iya, dia malah cuti lagi karena istrinya. Ya ampun, istrinya secantik apa sih sampai dokter Satria lebih mementingkan dia?" ucap seorang suster yang bekerja di rumah sakit itu.


"Istrinya gak cantik tuh. Kalian tau kan dia memiliki masa lalu seperti apa?" Clara tiba-tiba nimbrung di tengah obrolan para suster itu.


"Iya ya, kasihan juga dokter Satria. Menikah sama wanita yang sudah hamil anak kakaknya, padahal dokter Satria itu sempurna," ucap seorang suster nyinyir.


"Itu benar, mendingan sama dokter Clara deh." ucap suster tersenyum pada Clara.


"Ah kalian bisa aja deh," Clara hanya tersenyum mendengarnya.


Ya, memang kak Satria cocoknya sama aku. Bukan sama wanita hina itu.

__ADS_1


...----*****---...


__ADS_2