Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 240. Bayi kedua


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bram menangis ketika mendengar suara tangisan bayi terdengar dari dalam kamar. Dia jadi teringat tangisan Rey, anaknya sudah meninggal karena sakit.


Didalam sana, bayi yang baru lahir itu dimandikan terlebih dahulu oleh Nilam, lalu dipakaikanlah bedong pada tubuh mungilnya. Pasangan suami istri itu terlihat sangat bahagia dengan lahirnya buah hati mereka.


"Alhamdulillah sayang, terimakasih...anak kita telah lahir." Ucap Satria sambil mengecup kening Amayra yang banjir keringat dengan lembutnya.


"Alhamdulillah...haahhh..." Amayra menghela nafas, dia tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah Satria, bayinya laki-laki...dia mirip kamu." Nilam menunjukkan bayi mungil yang baru saja dimandikan itu pada ayahnya.


Satria menggendong anaknya dengan hati-hati. Kemudian dia mengadzani anaknya, tepat ke telinga sebelah kanan si bayi.


"Allahuakbar, Allahuakbar...Asyhadu allaa illaaha illallaah...Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah, Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah... Hayya ‘alashshalaah...Hayya ‘alashshalaah...Hayya ‘alalfalaah...Hayya ‘alalfalaah, Allahuakbar Allahuakbar...Laa ilaaha illallaah..."


Usai mengadzani putranya, Satria pun membacakan Iqamah ke telinga kiri si bayi. Setelahnya Satria menunjukkan pada Amayra wajah anaknya yang tampan dan berkulit putih persis seperti ibu dan ayahnya. "May sayang, terimakasih telah melahirkan anak kita yang tampan ini.. dia sangat tampan mirip papanya." Satria memuji anaknya yang tampan mirip dirinya.


"Kamu ini pede banget sih mas, pasti ada mirip mamanya juga dong!" Amayra tidak mau kalah dengan suaminya.


Satria dan Amayra saling melempar senyum bahagia saat melihat bayi mereka yang baru lahir itu. Tak lama kemudian Bram masuk ke dalam ruangan untuk melihat keponakannya.


"Kak Bram? Lihatlah anak kami sudah lahir," Satria menggendong anaknya, dia menunjukkannnya pada Bram.


Bram menatap bayi mungil itu, "Mirip kamu banget ,Sat."


"Tuh kan May, aku bilang juga apa? Mirip aku kan?" Satria merasa senang karena perkataan Bram bahwa anaknya sangat mirip dengannya.


"Hem...iya deh gimana mas aja." Amayra memilih mengalah, dia senang melihat Satria bahagia.


"May, kamu minum dulu ya... takutnya kamu kontraksi lagi yang kedua." Diana menyodorkan air minum yang ada sedotan disana. Amayra meminum air dari botol itu, dia masih berusaha mengatur nafasnya.


Disisi lain Bram meminta izin pada Satria untuk menggendong bayinya. Satria pun memberikan putranya pada Bram. Dengan hati-hati Presdir dari Calabria grup itu, menggendong si bayi. "Masya Allah, tampan sekali keponakan om Bram..." Bram menatap bayi itu sambil tersenyum haru.


Bram dan Nilam mengagumi bayi yang baru lahir itu. Kulitnya putih bersih, bayi itu terlihat tenang. "Dia tampan sekali, pembawaannya juga sangat tenang. Dia mirip dengan Satria waktu kecil, tenang dan diam...tidak rewel kayak kamu Bram," ucap Nilam sambil menatap Bram lalu tersenyum.


"Hehe iya ma, Bram kan waktu kecil nakal banget ya." Oceh Bram yang teringat masa kecilnya.


Ketika Nilam dan Bram sedang duduk di sofa bersama bayi itu. Amayra dan Satria masih berada di ranjang empuk, menunggu kelahiran anak kedua mereka. Belum ada tanda-tanda kontraksi lagi pada Amayra, nafasnya juga sudah mulai teratur.

__ADS_1


Diana menyarankan agar Amayra makan lebih dulu sekalian mengisi tenaga. Usai makan nasi bungkus, mereka masih menunggu kontraksi yang kedua. Tak terasa 2 jam berlalu, masih belum ada tanda-tanda dari anak kedua Satria dan Amayra.


"Kak Diana, apa bayi kembar emang kayak gini? Apa emang suka lama?" tanya Satria terheran-heran.


"Jangan heran Sat, malah ada yang kembar bedanya satu hari loh." ucap Diana memberitahu.


"Yang benar kak?" Satria setengah tak percaya dengan perkataan Diana.


"Iya, aku beberapa kali menangani kasus seperti ini." Diana tersenyum yakin.


******


Di tempat resepsi pernikahan Anna dan Ken. Setelah selesai acara resepsi pada sore itu, Ken dan Hans sedang mengurus masalah dengan polisi lalu lintas.


"Terimakasih ya pak, bapak sudah menjadi saksi pernikahan saya dan istri saya." Ken tersenyum ramah pada pak polisi. Begitu pula dengan Hans yang


"Iya sama-sama, tapi hukum tetap berlaku pak! Bapak sudah melanggar peraturan lalu lintas bersama teman bapak," ucap polisi itu tegas.


"Haha, tentu saja pak polisi. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kami pasti akan mengikuti hukum yang berlaku pak!" kata Ken pada polisi.


Setelah menyelesaikan urusan dengan polisi, Anna menghampiri suaminya. "Gimana? Udah beres urusannya sama polisi?" tanya Anna.


"Udah dong sayang," jawab Ken dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Kamu cemas sama aku ya? Takut gak jadi nikah ya?" Ken menggoda istrinya itu.


"Ish kamu ini!" Anna tersenyum manis.


Cakra menghampiri mereka berdua, "Anna, Ken...ayo kita pergi lihat bayi Amayra dan Satria!" anak Cakra pada cucu dan cucu menantunya itu.


"Bayi Tante Amayra? Apa maksudnya opa?" Anna dan Ken terlihat bingung, kening mereka berkerut.


"Tante kamu lahiran, An." Cakra memberitahu.


"Apa?!" Anna dan Ken tersentak kaget mendengarnya.


Mereka bertiga segera menuju ke kamar hotel tempat Amayra melahirkan. Mereka melihat Bram dan Nilam berdiri didepan sebuah kamar hotel. Bram menggendong bayi di gendongannya, dia sedang menimang-nimang bayi itu.


"Papa? Lihat pa! Cucu kita sudah lahir!" Nilam tersenyum bahagia ketika sang suami menghampirinya.

__ADS_1


"Ini cucu kita, Ma?" Cakra menatap bayi yang digendong Bram dengan mata berbinar-binar penuh rasa haru. "Masya Allah, tampannya cucu opa. Sini Bram, papa mau gendong!" Cakra merentangkan kedua tangannya, dia tidak sabar ingin menggendong cucu laki-lakinya itu.


"Bentar dulu dong pa, aku juga baru bentar gendongnya." Bram enggan menyerahkan bayi yang belum diberi nama itu pada papanya.


Rey, ini adik kamu...kamu lihat kan?. Batin Bram teringat Rey, matanya berkaca-kaca melihat anak itu.


"Aduh Bram, kok kamu pelit banget sih sama papa. Mau gendong cucu papa aja gak boleh!" gerutu Cakra sebal.


"Alhamdulillah tante May udah melahirkan, terus mana om Satria, Tante Diana sama Tante Mayra?" tanya Anna yang tidak melihat tiga orang itu ada disana.


"Amayra dia masih-"


Ketika Nilam akan bicara pada Anna, terdengar suara teriakan dari dalam kamar hotel itu.


"AAAaaaaaaaaaaaahhhh......"


"Ayo May, kamu bisa sayang, aduh..." Satria merintih kesakitan, rambutnya dijambak jambak oleh istrinya yang sedang mengeden.


Kenapa Amayra gak kalem kayak tadi? Kenapa dia heboh sekarang?. Diana yang melihatnya keheranan karena saat melahirkan anak pertama mereka, Amayra terlihat tenang tapi ketika akan melakukan anak kedua, Amayra heboh.


"Aaahhhhhhhhh... Mas....ini anakmu mas, anakmu..." Amayra bicara melantur, disaat dirinya kesakitan.


"Iya sayang, ini anakku.. anak kita... istighfar ya May,"


Amayra menarik lagi rambut Satria dengan keras, "As...tagfirullahal...adzim...." wanita itu mengejan sekuat tenaga, beberapa kali dia diam untuk mengambil nafas.


"Aa-aduh....duh..." Kepala Satria tertarik kesana kemari. Namun dia tetap setia dan sabar menikmati proses yang luar biasa itu.


"Ayo May...dikit lagi, ayo! Dalam sekali tarikan nafas May!" Diana masih memandu prosesi kelahiran bayi kembar Amayra dan Satria.


"Aaaaaahhhhhhh....." Amayra menarik rambut Satria dengan keras, dia mengejan dengan kuat sekuat tenaganya.


"Astagfirullah, Gusti!" pekik Satria menahan rasa sakit di kepalanya. "Ayo sayang... bismillah kamu bisa." Satria menyemangati istrinya.


Tak lama kemudian, suara yang dinanti-nantikan semua orang terdengar. "Owaaaa.... Owaaa..."


Semua orang yang berada di luar ruangan itu tersenyum bahagia. Satria juga bernafas lega karena dirinya lepas dari cengkraman Amayra, terlihat dirinya yang kacau. Baju, rambut dan wajah Satria tampak berantakan. Dia juga berkeringat.


"Alhamdulillah ya Allah..." Satria terduduk di lantai, dengan nafas terengah-engah. Benar-benar sebuah perjuangan besar untuk proses kelahiran si kembar yang kedua ini.

__ADS_1


Diana mengangkat bayi itu dan menggendongnya. "Alhamdulillah Satria, Amayra, bayinya perempuan."


...****...


__ADS_2