
Ken kebingungan setelah melihat sosok Satria dengan pakaian metal yang tidak seperti biasanya. Gaya Satria yang biasa adalah memakai setelan kemeja dan rapi, tidak acak-acakan seperti yang dia lihat pada diri Bima. Wajar saja jika Ken mengira Bima adalah Satria, wajah mereka berdua amat mirip mungkin jika mereka disandingkan.
Ken melihat Amayra dan Anna yang sedang duduk duduk di kursi depan kelas. Kelas mereka belum dimulai, mulainya agak siang. Ken menyapa kedua wanita itu dengan ramah dan salam yang sopan.
"Assalamualaikum, Anna..Amayra." ucap Ken sopan.
"Waalaikumsalam Ken," jawab Anna dan Amayra kompak.
"Kalian belum masuk kelas?" tanya Ken pada dua wanita itu.
"Kelasku baru mulai 15 menit lagi, jadi aku sama Anna disini dulu." jawab Amayra sambil melihat ke arah Anna.
"Oh gitu ya. By the way kalian diantar sama siapa?" tanya Ken kepo.
"Diantar sama om Satria, kenapa?" Anna menjawab sekaligus bertanya pada Ken.
"Oh gitu... oh ya May, apa pak dokter punya selera musik metal?" tanya Ken pada Amayra. Dia masih penasaran dengan sosok Satria yang beberapa saat lalu bertemu dengannya, namun dengan tampilan yang berbeda dengan Satria si dokter bedah itu.
"Musik metal?" Anna dan Amayra saling melirik dengan kening yang berkerut. Beberapa detik kemudian, mereka tertawa. "PFut...hahaha.."
"Musik metal? Gak mungkin lah, suamiku malah paling gak suka musik metal." Amayra tersenyum.
"Iya benar, waktu aku gak sengaja setel musik rock di kamarku...om Satria langsung marah-marah. Dia gak suka keributan, semua yang ada didalam hidupnya pasti tertata rapi dan bersih." jelas Anna membeberkan tentang omnya.
Amayra mengangguk setuju, dia juga tau suaminya seperti apa yang diucapkan oleh Anna. Satria adalah orang yang rapi dan bersih dalam segala hal, tidak heran dia adalah seorang dokter bedah. Selera musiknya juga adalah pop romansa bukan rock metal.
Ken mendengarkan ucapan kedua wanita itu dengan kening berkerut. Dia merasa aneh karena Satria yang tadi dilihatnya seperti Satria yang berbeda.
"Apa mungkin dia memiliki kepribadian ganda?" gumam Ken pelan. "Atau aku salah lihat?"
"Ken? Kamu ngomong apa sih?" tanya Anna yang tidak mendengar ucapan Ken dengan jelas.
"Gue gak apa-apa." Ken menjawab dengan cepat.
Ah...aku pasti salah lihat.
Anna masuk ke kelas bersama Ken setelah Sandy datang untuk mengawal Amayra. Wanita hamil itu tak luput dari penjagaan Sandy. Bahkan sampai masuk ke toilet pun, Sandy mengawalnya di luar toilet.
Terkadang Amayra merasa seperti bayi karena dia diawasi terus. Tapi dia juga bahagia Satria melakukan ini karena dia sayang pada Amayra dan bayinya.
Orang-orang yang disuruh Clara untuk mencelakai Amayra juga selalu gagal mendekati wanita hamil itu. Banyaknya penjagaan untuk Amayra dan bayinya, belum lagi bertambah sosok Bima yang ikut menjaganya.
*****
Di rumah sakit tempat Clara bekerja.
Clara terlihat sedang berada di balkon rumah sakit, dia menelpon seseorang dengan wajah marah. "Apa kamu bilang? Kamu gagal lagi? Masa kamu gak bisa mendekati wanita lemah itu?"
"Maafkan saya Bu, tapi disekitar wanita itu banyak sekali yang menjaga. Kami bahkan tidak bisa mendekat apalagi untuk mencelakainya."
"Heh! Dasar tidak berguna!" Clara mendesis kesal.
Rencana kemarin kemarin gagal, rencana tadi pagi juga gagal, rencana sekarang juga gagal. Menyusupkan seseorang kedalam rumah itu, aku juga gagal. Mengapa selalu saja ada yang melindungi wanita itu?
"Baiklah, jika di sekitar wanita itu banyak penjaga. Bagaimana dengan suaminya? Apa dia memiliki penjaga juga?" tanya Clara beralih pada Satria. Entah apa lagi yang akan Clara lakukan pada Satria dan Amayra.
"Tidak ada siapapun di sekitarnya. Dokter Satria hanya sendirian." jelas si pria yang sedang bicara dengan Clara di telepon itu.
__ADS_1
Jika mendekati wanita kampung itu sangat sulit. Maka...
Clara tersenyum menyeringai, "Kita ganti targetnya menjadi dokter Satria!" ucap Clara tegas.
"Baik bu. Apa yang harus saya lakukan dengan dokter itu?" tanya si pria.
Clara tersenyum sinis, "Celakai dia! Sampai mati!"
Tampaknya kebencian Clara telah mendarah daging didalam dirinya pada Satria dan Amayra. Sakit hati ditolak cinta dan Candra yang dipenjara telah membutakan hatinya sangat dalam. Perasaan benci itu berubah menjadi dendam, dengki, dia tidak rela dengan kebahagiaan Amayra dan keluarganya.
"Jangan kalian berharap kebahagiaan, selama aku masih ada disini. Kalian tidak akan bisa," ucap Clara sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.
Setelah bicara dengan pria suruhannya, Clara kembali bekerja seperti biasa. "Dokter Clara? Darimana saja kamu?" tanya seorang dokter di rumah sakit itu.
"Maafkan saya dokter, saya habis dari toilet. Perut saya sakit,"
"Mau saya periksa?" tanya dokter wanita itu terlihat cemas pada Clara.
"Tidak perlu dokter, saya tidak apa-apa. Ini hanya keram perut karena datang bulan. Terimakasih atas perhatian dokter Sherly." jawab Clara sambil memegang perutnya. Dia tersenyum pada dokter Sherly.
Sherly melihat Clara dengan iba. Semua orang membicarakan Clara yang malang. Di mata mereka Clara adalah gadis yang baik dan pekerja keras. Tidak jahat seperti rumor yang beredar. Bahkan Clara selalu membantu suster maupun dokter yang kesulitan disana, walau pekerjaannya tidak terlalu bagus.
Clara berhasil membangun citra baik ditempat kerja barunya itu, hingga orang-orang Bram tidak curiga kepadanya.
*****
Setelah selesai kelas, Amayra dan Lisa keluar dari kelas bersamaan. Mereka membicarakan tentang acara kemah perkumpulan mahasiswa ke Bogor. "Ah.. aku pengen ikut,"
"Emangnya suami kamu bakal kasih izin? Pasti dia cemas sama kamu apalagi kamu lagi hamil May." kata Lisa yakin.
"Iya juga ya. Kalau aku suruh dia ikut, dia pasti gak bisa. Soalnya mas Satria sibuk kerja di rumah sakit. Tapi aku ingin ikut.." Amayra bicara dengan bibir mengerucut.
Kruuuukkkk...
"Eh, suara apa itu?"
Kruuuukkkk...
Suara itu membuat Sandy dan Lisa menahan tawa saat mendengarnya. "Jangan ketawa! Pak Sandy, Lisa!" kata Amayra sambil melihat ke arah Sandy dan Lisa yang akan tertawa.
"Dede bayi lapar ya? Gimana kalau kita makan dulu?" tanya Lisa sambil mengajak sahabatnya itu makan bersama.
"Boleh, kita makan di restoran tempat Fania bekerja ya! Kan gak jauh tuh dari sini," Amayra tersenyum begitu dia teringat dengan Fania yang bekerja di restoran dan dia sudah lama tidak datang kesana.
"Fania itu teman SMA kamu sama Anna, kan?" tanya Lisa.
"Iya, kita kesana yuk! Pak Sandy, sebelum pulang kita kesana dulu ya." Amayra mengajak pak Sandy juga untuk ikut dengannya dan Lisa.
"Baik nona," jawab Sandy patuh.
Asik, pak Sandy juga ikut. Lisa kegirangan didalam hati.
"No-nona...bisa tunggu sebentar?" Sandy memegang perutnya.
"Ya? Pak Sandy kenapa?" tanya Amayra cemas.
"Saya mau ke toilet sebentar, tunggu ya." jawab Sandy sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Amayra patuh.
"Non sama non Lisa jangan kemana-mana ya!" pesan Sandy pada kedua wanita itu.
Sandy pergi ke toilet pria, sementara Amayra dan Lisa menunggu si bodyguard di kursi yang berada didepan kampus. Mereka mengobrol sambil makan eskrim.
Tanpa mereka sadari, pria bermasker dan seorang pria berpakaian hitam-hitam berada di seberang jalan. Mereka terlihat memperhatikan Amayra.
"Jack!"
"Ya bos Bim?" sahut pria bernama Jack itu pada bosnya.
"Menurutmu apa yang disukai adikku dari wanita itu? Dia sama sekali tidak terlihat menarik," ucap Bima yang tatapannya masih mengarah pada Amayra.
"Tidak menarik ya bos? Tapi menurut saya adik ipar bos Bim sangat cantik kok,"
Sampai bos Bima berada disini terus untuk memperhatikan wajahnya dengan alasan penasaran.
"Cantik aja tidak cukup, aku dan adikku kan memiliki gen tampan yang luar biasa. Kenapa dia harus menikah muda sih? Dia kan masih bisa memilih wanita lain sebagai istrinya, bukan wanita kampungan seperti itu."
"Ehem, maaf bos Bim. Tapi sepertinya adik ipar bos ini sangat baik."
"Baiknya darimana?" Bima masih belum menemukan bagian mana yang membuat Satria jatuh cinta pada istrinya yang terlihat biasa saja baginya itu. Dia juga tak tahu alasan kenapa Satria menikah muda.
"Dia pakai hijab, menutupi auratnya, bukankah itu salah satu ciri wanita baik? Dan bukankah selama dua hari ini bos selalu memperhatikannya, adik ipar bos Bim rajin beribadah." kata Jack menjelaskan.
"Siapa juga yang memperhatikannya? Aku hanya penasaran saja," ucap Bima sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Iya sih benar juga apa kata si Jack, kebanyakan wanita zaman sekarang memakai pakaian terbuka. Tidak seperti dirinya yang memakai pakaian tertutup. Baguslah kalau wanita itu adalah wanita yang baik untuk Satria.
Bima kembali melihat Amayra, wanita itu sudah berada di tengah jalan. Disaat kendaraan sedang berlalu lalang. "Hey! Awas!" Jack panik melihat wanita itu berada ditengah jalan.
"May!" teriak Lisa memanggil Amayra yang sudah berada di tengah jalan.
TiiiNN....TINNN...
Suara klakson berbunyi kencang.
Bima berlari secepat mungkin, dia menarik Amayra ke pinggir jalan dengan cepat. Amayra memegang kucing di tangannya.
"Astagfirullah! May, kamu tuh bisa hati-hati gak sih?" Lisa ikut terkejut melihat temannya yang hampir tertabrak mobil. Lisa memegang dadanya, dia hampir jantungan karena Amayra berada di tengah jalan.
"Kamu bego apa gimana hah? Atau kamu buta?" Bima bicara dengan sarkas pada wanita itu.
"Ma-maaf, aku cuma mau nolong kucing yang menyebrang jalan." ucap Amayra tergagap. Dia juga kaget dengan apa yang baru saja hampir terjadi padanya. "Kucingnya... Alhamdulillah gak apa-apa." Amayra melihat ke arah kucing oranye yang ditolongnya itu.
"Kamu masih memikirkan kucing?!" Bima terperangah kesal. Wanita yang ditolongnya ternyata hanya memikirkan kucing.
Kenapa Satria bisa suka sama cewek lemah begini?
"Mas juga kenapa sih marah-marah sama saya? Kalau mas gak ikhlas nolong saya, ya udah biarin aja! Kenapa malah marah-marah?" Amayra tidak terima dibentak oleh Bima.
"Heh! Udah salah, kamu nyolot ya? Bukannya bilang makasih." Kata Bima keheranan sambil mendesah kesal
Amayra menatap ke mata Bima, dia merasakan ada sesuatu yang familiar dengan matanya. Apalagi saat mendengar suara Bima.
Kenapa mata itu.. dan suaranya aku seperti kenal ya?. Amayra penasaran dengan pria yang wajahnya ditutupi masker itu.
__ADS_1
...----****----...